Dengan Perumpamaan
Dadang Ari Murti
dengan perumpamaan seperti apa aku bisa menyapamu
mendekat ke lekuk bibirmu, lesung pipitmu
dan sepasang mata coklat tua bening
seperti langit senja
seperti daun-daun mahony yang digugurkan angin
sebab segala kata telah tersesat di sebuah kelokan
menurun dekat rumahmu
dan tak ada yang pernah sampai
apalagi singgah
dan rasanya akupun tak perlu lagi mengingat sesuatu
yang pernah menelusup di balik rambutmu
seperti permen karet
guratan tahun yang membekas adalah cerita
tentang sudut-sudut pasar, deretan wisma pelacur
dan puluhan papan reklame, seperti komik
atau cerita bergambar yang senantiasa kita baca
walau tak pernah akui bahwa selalu ada yang
bisa membuat tertawa
sebab sudah ada uban disana, berteriak-teriak di antara
tumpukan sampah dan lumpur, juga seekor kutu
yang rajin menjilati luka dijidatmu, seperti hantu
“bukan, seekor drakula terbang dan tak kembali lagi, dulu”
bisikmu lirih, selirih degup jantung, atau rinai
di antara kakiku, saat lampu mulai dipadamkan
dan tak ada yang tersisa selain kukuk burung hantu
di wuwung
“apa yang akan kita lakukan?”
akan kunyalakan sebuah puisi untukmu, agar tidurmu
tidak digigit gelap
dan setelah itu, tak ada bisa sampai apalagi singgah
dengan perumpamaan seperti apapun.
Surabaya, 2008
Tampilkan postingan dengan label Dadang Ari Murti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dadang Ari Murti. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Februari 2012
Puisi Dengan Perumpamaan
Sebagai Puisi | Dadang Ari Murti
Sebagai Puisi
Dadang Ari Murti
secangkir sepi yang kau tawarkan untukku
semangkuk rindu yang kau suguhkan untukku
masih mengepul di atas meja makan
sebaris senyummu masih terlalu jauh
melambai di antara gerimis yang sempat singgah
di teras rumahmu
tak ada yang bisa kuartikan atau sekedar kuterjemahkan
sebagai puisi
getar serapahmu yang terlunta-lunta di sela-sela
nisan pekuburan ki ageng bungkul
serupa peziarah
yang dikelilingi melankoli
taburan bunga, isak tangis dan masa lalu
sekumpulan peminta-minta, penjual doa denga mata terpejam,
baju koko lusuh dan kitab koyak moyak,
memanjat senja yang mulai lelah
kemudian kau minta aku untuk tidak mengingat apa-apa
sebab kau ingin menjadi kupu-kupu
dan aku masih seekor ulat bulu
namun gemuruh yang datang tiba-tiba itu
membawa orang-orang baru
dengan fedora abu-abu, dan traktor-traktor raksasa
tumpukan semen, batu bata, juga beton, dan derap sepatu
boat yang menakutkan, mengganti ilalang dengan
deretan wc umum yang kakus-kakusnya lebih wangi
dari kamar kita
memaksamu pergi ke tempat yang aku tak tahu
sebelum sempat kukabarkan aku tak akan mampu
melupakanmu
dan tahun-tahun yang terbentang setelah itu
yang memisahkan aku dan kamu
adalah sepi
adalah rindu
yang membeku di ujung pena
namun tetap tak dapat kuartikan atau kuterjemahkan
sebagai puisi.
Surabaya, 2008
Puisi Bertema Telepon Umum | Dadang Ari Murti
Telepon Umum
Dadang Ari Murti
dari telepon umum ini membentang jalan yang jauh
berliku-liku sampai rumahmu, lorong-lorong gelap
tawar-menawar kelamin bekas, terigu atau tahu tempe
juga rencana unjuk rasa
dan ada rindu yang pernah kucecap disini
rindu semerah darah yang lahir dari urat lehermu
diantara kalung bambu dan tatoo kupu-kupu
“tidak akan ada lagi yang hinggap disini selain engkau”
waktu itu kutanam sepasang matahari dibibirmu
dan kulihat beberapa penyair melambaikan tangan,
serupa isyarat, yang tak dapat kuterjemahkan sampai
hari ini
ketika ingin kucecap rindu di jalan yang jauh
yang membentang dari telepon umum ini sampai rumahmu
sebab matahari tak jadi tumbuh, saat aku ikut
melambaikan tangan kepadamu
Surabaya, 2008
Senin, 13 Februari 2012
Biji Matahari | Dadang Ari Murti
Biji Matahari
Dadang Ari Murti
sekuntum matahari mekar di daun telingamu
meluruhkan serbuk sari di sekujur pipimu
kuning seperti cat tembok belakang kantin
tempat kita belajar merokok dan membaca puisi
ketika tubuh masih wangi, dilumuri lotion dan
pemutih kulit
deretan bakul berisi gorengan, plastik-plastik
penuh kerupuk, renyah seperti senyummu, yang
malu-malu kau sembulkan di bawah kacamata,
wajah tirus dan rambut ikal sebahu
“tidak ada yang lebih gagah dari gerimis” katamu
“dan matahari” sahutku
lalu sama-sama kita warnai bianglala
waktu itu gerimis masih perawan, dan matahari
belum berbiji
waktu itu tidak ada tindik di daun telingamu
waktu itu aku belum tahu bagaimana menyemai
matahari di daun telingamu
seperti kau tak tahu bagaimana cara
menunggu, memelihara rindu agar mekar dan
bersahaja
hingga aku tak perlu memecahkan cermin,
berteriak-teriak dan berjalan sambil
menangis pagi ini
Surabaya, 2008
Puisi Tentang Telur Mujair | Dadang Ari Murti
Telur Mujair
Dadang Ari Murti
beberapa mujair berenang di matamu
di antara gelambir seperti kulit martabak
bercak dan noda jerawat, tatahan peristiwa yang menumpuk
mengingatkanku pada sekumpulan tawon
di depan kebun binatang
penjual lumpia, penjual kondom yang membuatmu
tertawa sambil memandang celanaku
“mungkin suatu hari aku akan memakanmu”
tapi tawa dan tangis selalu bertemu di lubuk yang sama,
di balik eceng gondok dan guguran daun nangka
tempat beberapa mujair menyembunyikan telur-telurnya
dari burung pemangsa telur berparuh lumpia
“jangan takut, jangan pernah, akan kutetaskan
telur-telur ini di sarang paling hangat, di sana
diatas wangkal itu” bisikku di tengah kepulan
susu hangat yang kau suguhkan
“apalagi yang bisa hidup disana, selain kau dan
kawanan emprit, apalagi?”
saat itu gerimis turun, menghanyutkan semua telur
dari sarang diatas wangkal
Surabaya, 2008
Puisi Tentang Pemancing Tua | Dadang Ari Murti
Pemancing Tua
Dadang Ari Murti
pemancing tua dengan fedora putih, di tepi
kedung yang jauh
mungkin sedang mencatat ingatan
atau serpihan busa limbah pabrik, dan sisa cuci salju
nila-nila dengan sisik seperti kulit peladang tua
atau tukang becak dengan gigi ompong, malu-malu
mengintip dari gumpalan pembalut bekas,
dan bungkus kentang goreng.
salah satunya menghitung mata kail
memilih cara menuju lelehan mentega yang paling
hangat
aih, tak ada lagi mentega, kaleng-kaleng dipenuhi
sambat, tumpukan surat utang dan air mata yang membeku
di situlah setiap pagi tumbuh lumut halus, dan
dari tepian penuh karat, beberapa ekor kupu akan melilitkan
bianglala di fedora putih
mengikatkan tenung di leleran liur, lumut dan mata pancing
lalu waktu mengecipak di dalam bubu, asap rokok
dan tukang batagor berlomba memenuhi dada, dan
selalu ada pasir yang menyesakkan, yang sulit
diurai menjadi pondasi, menjadi tiang-tiang
atau batako
setelah itu, ikan-ikan akan menepi, menernakkan
sepi di dalam telinga pemancing tua itu
tapi tak ada alasan untuk menyerah, tak pernah ada
maka dia tertegun sendirian, di depan poster
beethoven di dinding kamarnya.
Surabaya, 2008