RUMAH*
Syair Rabindranath Tagore
Melangkah sendiri aku di jalan itu, di seberang
padang padi, matahari di sana sedang tenggelam
bagai si kikir menyembunyi kilauan emas terakhir.
Terang siang tenggelam dalam dan lebih dalam
ke peluk gelap, dan panen telah dipungut dari ladang,
menjanda ditinggal petani, ia terhampar menyepi.
Tiba-tiba ada lengking suara bocah nyaring, menuding
ke langit. Tak tampak mata dilintasnya gelap angkasa,
lihat jejak nada lagunya, memintasi diamnya malam.
Kampung halamannya ada di sana, di ujung lahan kosong,
di antara ladang tebu, tersembunyi di antara bayang
pisang dan lampai pinang, pohon kelapa, dan nangka
hijau tua.
Aku sejenak menjeda langkah, diam sendiri di sinar bintang,
dan menebar pandang ke belakang, bumi mengelam,
mengepungkan gelap dengan lengan-lengannya, rumah
tak terbilang berperkakas buaian dan ranjang nyaman,
hati ibu dan lentera malam, dan hidup mula yang gembira
dengan kegirangan yang tak pernah tahu betapa bernilainya
dia bagi dunia.
* Dari The Home, syair pertama dari rangkaia 40 syair
dalam The Crescent Moon.
Tampilkan postingan dengan label Rabindranath Tagore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rabindranath Tagore. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Agustus 2010
Begitulah Bayi
Begitulah Bayi
Syair Rabindranath Tagore
Jika memang dia inginkan, bayi dapat
melesat terbang ke surga, saat ini juga.
Bukan tanpa alasan, dia tak meninggalkan kita.
Bayi teramat cinta merebahkan kepalanya
di dada ibunya, dan ia juga tak tahan
bila ia kehilangan tatap pandangan ibunya.
Bayi tahu seluruh makna kata bijaksana,
kata yang hanya sedikit orang di bumi
yang bisa memahami arti sebenar-benarnya.
Bukan tanpa sebab, dia tak ingin bicara.
Satu-satunya yang ingin ia pelajari adalah
kata-kata ibunya, kata yang terucap dari bibir
ibunya. Sebab itu, ia seakan tak tahu apa-apa.
Bayi punya setimbun emas dan mutiara, tapi
dia datang ke bumi ini seperti pengemis kedana.
Bukan tanpa karena, dia datang seperti menyaru.
Pengemis kecil ini hanya berpura tak berdaya,
agar bisa memohon kekayaan cinta ibunya.
Di negeri kecil bulan sabit, bayi
teramat bebas dari segala belenggu.
Bukan tanpa apa-apa, dia pasrahkan kebebasannya.
Dia tahu, ada ruang bagi kegirangan tak habis-habis
di sudut kecil hati ibu, dan terperangkap dalam
dekapan lengan, jauh lebih manis dari kebebasan.
Bayi sesungguhnya tak pernah tahu tangisan.
Dia tinggal di negeri berlimpah kebahagiaan.
Bukan tanpa dalih, dia mencucurkan air mata.
Sebab dengan senyum di wajah ramahnya,
dia memikat rasa kasih ibu padanya,
dan tangis kecilnya menjalin
dua ikatan: belas kasihan dan cinta.
* Dari Baby's Way, syair ke-4 dari rangkaian
The Crescent Moon.
Syair Rabindranath Tagore
Jika memang dia inginkan, bayi dapat
melesat terbang ke surga, saat ini juga.
Bukan tanpa alasan, dia tak meninggalkan kita.
Bayi teramat cinta merebahkan kepalanya
di dada ibunya, dan ia juga tak tahan
bila ia kehilangan tatap pandangan ibunya.
Bayi tahu seluruh makna kata bijaksana,
kata yang hanya sedikit orang di bumi
yang bisa memahami arti sebenar-benarnya.
Bukan tanpa sebab, dia tak ingin bicara.
Satu-satunya yang ingin ia pelajari adalah
kata-kata ibunya, kata yang terucap dari bibir
ibunya. Sebab itu, ia seakan tak tahu apa-apa.
Bayi punya setimbun emas dan mutiara, tapi
dia datang ke bumi ini seperti pengemis kedana.
Bukan tanpa karena, dia datang seperti menyaru.
Pengemis kecil ini hanya berpura tak berdaya,
agar bisa memohon kekayaan cinta ibunya.
Di negeri kecil bulan sabit, bayi
teramat bebas dari segala belenggu.
Bukan tanpa apa-apa, dia pasrahkan kebebasannya.
Dia tahu, ada ruang bagi kegirangan tak habis-habis
di sudut kecil hati ibu, dan terperangkap dalam
dekapan lengan, jauh lebih manis dari kebebasan.
Bayi sesungguhnya tak pernah tahu tangisan.
Dia tinggal di negeri berlimpah kebahagiaan.
Bukan tanpa dalih, dia mencucurkan air mata.
Sebab dengan senyum di wajah ramahnya,
dia memikat rasa kasih ibu padanya,
dan tangis kecilnya menjalin
dua ikatan: belas kasihan dan cinta.
* Dari Baby's Way, syair ke-4 dari rangkaian
The Crescent Moon.
Tanah Pengasingan
Tanah Pengasingan
Sajak Rabindranath Tagore
Ibu, ada cahaya jadi kelabu di langit; tapi
sekarang sudah pukul berapa, aku tak tahu.
Permainanku tak asyik lagi, maka biar saja aku
datang padamu. Ini hari Sabtu, liburnya kita.
Tinggalkan dulu kerjamu, ibu, duduk di sini
bersisi jendela lalu ceritakan padaku di mana
padang pasir Tepantar dalam dongeng itu?
Bayang-bayang hujan itu menutupi rapat
mendekap hari dari akhir hingga akhir.
Halilintar menyambar mencakar langit
dengan tajam jari-jari di tangannya.
Ketika awan gaduh dan hari dikepung badai
aku suka takut di hatiku, berpeluk padamu.
Ketika lebat hujan berderai berbilang jam
di daun-daun bambu, dan jendela rumah kita
berguncang, tersebab kencang hembus angin,
aku suka duduk sendiri di kamar, ibu, denganmu,
dan menyimak ceritamu: tentang padang
pasir Tepantar dalam dongeng itu.
Di manakah gurun itu, ibu? Di pantai laut apakah?
Di kaki bukit apakah? Di kerajaan siapa rajanya?
Tak ada pagar yang menanda batas ladang, tak
ada jalan setapak supaya orang desa bisa pulang
ketika sudah tiba malam, atau perempuan
dari hutan memikul kayu bakar ke pasar. Ada
petak-petak rumput kuning di pasir dan hanya
sebatang pohon di mana sepasang burung tua
membuat sarangnya, di padang pasir Tepantar.
Tak bisa kukhayalkan, bagaimana di hari
mendung itu putra belia raja memacu kuda
abu-abu, sendiri menempuhi gurun, mencari
putri yang terkurung di istana gergasi, di
seberang bentangan air yang entah.
Ketika kabut hujan datang dari langit jauh,
dan halilintar mulai menyambar bagai sakit
yang tiba-tiba terasa, ingatkah dia pada
ibunya yang gundah, ditinggalkan raja,
menyapu kandang lembu, dan menyeka
air matanya, sementara dia sang putra
memacu kuda di padang pasir Tepantar?
Lihatlah, ibu, hari nyaris gelap nyaris malam,
tak lagi ada musafir nun di jalan pedusunan.
Bocah gembala pulang lekas dari padang rumput,
dan lelaki meninggalkan ladang pulang, lalu duduk
beralas tikar di gubuk, melihat awan merengut.
Ibu, sudah kusimpan semua buku pelajaran di rak,
jangan dulu menyuruhku belajar lagi sekarang ini.
Nanti kalau aku besar seperti ayah, aku akan
pelajari semua yang memang harus dipelajari.
Tapi, mohon untuk hari ini saja, beri tahu aku,
ibu, di mana gurun Tepantar dalam dongeng itu?
* Syair ke-17 dari The Crescent Moon.
Sajak Rabindranath Tagore
Ibu, ada cahaya jadi kelabu di langit; tapi
sekarang sudah pukul berapa, aku tak tahu.
Permainanku tak asyik lagi, maka biar saja aku
datang padamu. Ini hari Sabtu, liburnya kita.
Tinggalkan dulu kerjamu, ibu, duduk di sini
bersisi jendela lalu ceritakan padaku di mana
padang pasir Tepantar dalam dongeng itu?
Bayang-bayang hujan itu menutupi rapat
mendekap hari dari akhir hingga akhir.
Halilintar menyambar mencakar langit
dengan tajam jari-jari di tangannya.
Ketika awan gaduh dan hari dikepung badai
aku suka takut di hatiku, berpeluk padamu.
Ketika lebat hujan berderai berbilang jam
di daun-daun bambu, dan jendela rumah kita
berguncang, tersebab kencang hembus angin,
aku suka duduk sendiri di kamar, ibu, denganmu,
dan menyimak ceritamu: tentang padang
pasir Tepantar dalam dongeng itu.
Di manakah gurun itu, ibu? Di pantai laut apakah?
Di kaki bukit apakah? Di kerajaan siapa rajanya?
Tak ada pagar yang menanda batas ladang, tak
ada jalan setapak supaya orang desa bisa pulang
ketika sudah tiba malam, atau perempuan
dari hutan memikul kayu bakar ke pasar. Ada
petak-petak rumput kuning di pasir dan hanya
sebatang pohon di mana sepasang burung tua
membuat sarangnya, di padang pasir Tepantar.
Tak bisa kukhayalkan, bagaimana di hari
mendung itu putra belia raja memacu kuda
abu-abu, sendiri menempuhi gurun, mencari
putri yang terkurung di istana gergasi, di
seberang bentangan air yang entah.
Ketika kabut hujan datang dari langit jauh,
dan halilintar mulai menyambar bagai sakit
yang tiba-tiba terasa, ingatkah dia pada
ibunya yang gundah, ditinggalkan raja,
menyapu kandang lembu, dan menyeka
air matanya, sementara dia sang putra
memacu kuda di padang pasir Tepantar?
Lihatlah, ibu, hari nyaris gelap nyaris malam,
tak lagi ada musafir nun di jalan pedusunan.
Bocah gembala pulang lekas dari padang rumput,
dan lelaki meninggalkan ladang pulang, lalu duduk
beralas tikar di gubuk, melihat awan merengut.
Ibu, sudah kusimpan semua buku pelajaran di rak,
jangan dulu menyuruhku belajar lagi sekarang ini.
Nanti kalau aku besar seperti ayah, aku akan
pelajari semua yang memang harus dipelajari.
Tapi, mohon untuk hari ini saja, beri tahu aku,
ibu, di mana gurun Tepantar dalam dongeng itu?
* Syair ke-17 dari The Crescent Moon.
Sang Saudagar
Sang Saudagar *
Syair Rabindranath Tagore
Bayangkan, ibu, bayangkan engkau tinggal di rumah,
dan aku bepergian jauh nun ke negeri-negeri asing.
Bayangkanlah, ibu, perahuku siap tambat sarat muat.
Dan sekarang coba sungguh pikirkan, ibu apa yang
engkau hendak aku bawakan bila kelak aku datang.
Ibu, maukah engkau kuberi emas bertimbun-timbun?
Di sana, di tepi arus sungai keemasan, ada ladang
penuh tumbuh, tanaman memberi panenan emas.
Dan di teduh jalan setapak, di tengah hutan, juga
ada bunga champa keemasan ke dasar berjatuhan.
Hendak kukumpulkan untukmu bunga itu, kubawa
dalam beratus-ratus keranjang. Ibu, maukah engkau
mutiara, butirnya bagai tetes-tetes hujan musim semi?
Lalu kuarungi lagi latu, ke pantai pulau mutiara. Di pagi
yang teramat awal, gigil cahaya mutiara di bunga-bunga
padang rumput, ada butir yang jatuh, ada butir berkilauan
di pasir, direnjis percik ombak dari yang tak hendak jinak.
Sepasang kuda bersayap, saudaraku kelak punya,
agar kami bisa menembus terbang di antara mega.
Dan untuk ayah, kubawakan pena ajaib untuknya
pena yang bisa menulis sendiri, tanpa setahunya.
Dan untukmu, ibu, aku mesti membawakanmu
berpeti-peti permata, senilai kekayaan tujuh raja.
* Syair ke-23 dari rangkaian 40 syair The Crescent Moon.
Syair Rabindranath Tagore
Bayangkan, ibu, bayangkan engkau tinggal di rumah,
dan aku bepergian jauh nun ke negeri-negeri asing.
Bayangkanlah, ibu, perahuku siap tambat sarat muat.
Dan sekarang coba sungguh pikirkan, ibu apa yang
engkau hendak aku bawakan bila kelak aku datang.
Ibu, maukah engkau kuberi emas bertimbun-timbun?
Di sana, di tepi arus sungai keemasan, ada ladang
penuh tumbuh, tanaman memberi panenan emas.
Dan di teduh jalan setapak, di tengah hutan, juga
ada bunga champa keemasan ke dasar berjatuhan.
Hendak kukumpulkan untukmu bunga itu, kubawa
dalam beratus-ratus keranjang. Ibu, maukah engkau
mutiara, butirnya bagai tetes-tetes hujan musim semi?
Lalu kuarungi lagi latu, ke pantai pulau mutiara. Di pagi
yang teramat awal, gigil cahaya mutiara di bunga-bunga
padang rumput, ada butir yang jatuh, ada butir berkilauan
di pasir, direnjis percik ombak dari yang tak hendak jinak.
Sepasang kuda bersayap, saudaraku kelak punya,
agar kami bisa menembus terbang di antara mega.
Dan untuk ayah, kubawakan pena ajaib untuknya
pena yang bisa menulis sendiri, tanpa setahunya.
Dan untukmu, ibu, aku mesti membawakanmu
berpeti-peti permata, senilai kekayaan tujuh raja.
* Syair ke-23 dari rangkaian 40 syair The Crescent Moon.
Sang Pengarung Samudera
Sang Pengarung Samudera *
Syair Rabindranath Tagore
Madhu si juru perahu, perahunya
ditambatkan di dermaga Rajgunj.
Perahunya dimuati rami, sia-sia
sebab perahunya sudah lama ada
tertambat di sana, tak kemana.
Kalau saja, dia pinjamkan perahunya,
akan kupasangi dengan seratus dayung,
kubentang layar, lima atau tujuh tiang.
Aku tak kan pernah mengemudikannya
untuk singgahi pasar-pasar bodoh saja.
Aku harus melayari tujuh samudera,
dan tiga belas sungai di negeri mimpi.
Tapi, ibu, jangan tangisi aku di sudut itu.
Aku tidak pergi ke hutan seperti Ramachandra,
untuk balik setelah hanya empat belas tahun.
Kelak aku akan jadi pangeran dalam dongeng,
dan mengisi perahuku apa saja yang kumau.
Akan kuajak Ashu, sahabatku. Lalu kami
berlayar bersuka cita, mengarungi tujuh samudera
dan tiga belas sungai di negeri mimpi.
Lalu kami memasang layar di pagi dini hari.
Bila naik pasang malam, engkau mandi di kolam,
kami saat itu ada di negeri asing, raja yang asing.
Kami mengarungi samudera Tirpuni, dan
di belakang kami, padang pasir Tepantar.
Bila kami kembali, hari mulai gelap, maka
kukisahkan padamu, apa yang kami temu.
Aku telah menyeberangi tujuh samudera, dan
tiga belas arus sungai di negeri mimpi.
* Syair ke-20 dalam rangkaan 40 syair The Crescent Moon.
Syair Rabindranath Tagore
Madhu si juru perahu, perahunya
ditambatkan di dermaga Rajgunj.
Perahunya dimuati rami, sia-sia
sebab perahunya sudah lama ada
tertambat di sana, tak kemana.
Kalau saja, dia pinjamkan perahunya,
akan kupasangi dengan seratus dayung,
kubentang layar, lima atau tujuh tiang.
Aku tak kan pernah mengemudikannya
untuk singgahi pasar-pasar bodoh saja.
Aku harus melayari tujuh samudera,
dan tiga belas sungai di negeri mimpi.
Tapi, ibu, jangan tangisi aku di sudut itu.
Aku tidak pergi ke hutan seperti Ramachandra,
untuk balik setelah hanya empat belas tahun.
Kelak aku akan jadi pangeran dalam dongeng,
dan mengisi perahuku apa saja yang kumau.
Akan kuajak Ashu, sahabatku. Lalu kami
berlayar bersuka cita, mengarungi tujuh samudera
dan tiga belas sungai di negeri mimpi.
Lalu kami memasang layar di pagi dini hari.
Bila naik pasang malam, engkau mandi di kolam,
kami saat itu ada di negeri asing, raja yang asing.
Kami mengarungi samudera Tirpuni, dan
di belakang kami, padang pasir Tepantar.
Bila kami kembali, hari mulai gelap, maka
kukisahkan padamu, apa yang kami temu.
Aku telah menyeberangi tujuh samudera, dan
tiga belas arus sungai di negeri mimpi.
* Syair ke-20 dalam rangkaan 40 syair The Crescent Moon.
Bunga Champa | Kumpulan Syair Puisi R Tagore
Bunga Champa*
Syair Rabindranath Tagore
Katakan saja aku menjelma jadi bunga champa,
ini sekadar kelakar, tapi akulah bunga yang tumbuh
di dahan pohon tinggi, berayun lambai di lalu angin,
tertawa dan menari di atas pucuk-pucuk daunan,
tahukah kau adalah itu aku, ibu?
Kau akan berseru, "Sayangku, dimana kau, anakku?"
Aha, aku tergelak sendiri tapi tetap diam sembunyi.
Aku akan memekarkan mahkotaku, perlahan tersipu,
dan menyaksikan engkau, ibu, sibuk dengan kerjamu.
Usai mandi, rambutmu basah terurai di bahumu,
kau melangkah di bawah bayang pohon champa,
ke sudut halaman di mana kau lafalkan doa-doa,
kau nikmati aroma bunga, wangiku yang tak kau tahu.
Lalu setelah makan tengah hari berlalu, kau duduk
di jendela membaca Ramayana, dan tedung bayang
pohon menyentuh rambut dan pangkuanmu, musti
kujatuhkan juga mungil bayanganku di halaman
bukumu, pada huruf-huruf halaman yang kau baca.
Kau duga, ibu? Bayang kecil itu bocah cilikmu?
Lalu di malam hari, kau menengok kandang sapi,
di tanganmu nyala lentera, aku tiba-tiba menjatuhkan
diri ke bumi, dan menjelma kembali bocah kecilmu,
dan memohon engkau mendongengkan cerita.
"Dari mana saja, kau anak nakal?"
"Aha, tak akan kuberi tahu, ibu." Begitulah kataku
dan begitulah juga katamu, kelak kemudian, kan?
* Syair ke-15 dari rangkaian 40 Syair The Crescent Moon.
Pohon Banyan | Puisi Tentang Pohon
Pohon Banyan*
Syair Rabindranath Tagore
O, kau pohon banyan bertajuk kusut
bertegak diri di bantaran tepian danau,
sudahkah kau lupakan dia: bocah kecil,
bagai burung-burung mungil yang pernah
bersarang di cabangmu, lalu pergilah ia?
Tidak ingatkah kau? Dia di bingkai jendela
mengagumi liuk akarmu menembus bumi?
Para perempuan datang ke danau, menimba
air, mengisi kendi-kendi, dan bayanganmu
- besar dan hitam - bergeliat di muka air
bagai tidur yang hendak dibangunkan.
Sinar matahari menari dari riak ke riak kecil,
serabut kecil, tak letih menenun tapestri.
Dua bebek berenangan, batas rumpun rumput,
di keteduhanmu, bocah duduk nerawang diam.
Dia rindu: jadi angin hembus di kelidan cabangmu,
ingin jadi bayang memanjang bersama lalu siang,
ingin jadi burung hinggap di ranting paling pucukmu,
ingin terapung bagai bebek, di sela rumput & bayang.
* Syair ke-35, The Crescent Moon.
Permainan | Rabindranath Tagore
Permainan*
Syair Rabindranath Tagore
Alangkah riang bahagianya engkau, Nak, duduk di tanah
penuh debu, sepanjang pagi itu, bermain patahan ranting.
Aku tersenyum melihat engkau, bermain patahan ranting.
Saat itu, aku disibukkan hitungan, menjumlah bilangan.
Mungkin saja saat itu, engkau mengilaskan pandang
ke padaku, dan berfikir, "Mau-maunya, sepagi ini
waktu dihabiskan dengan permainan bodoh itu."
Aku sudah lupa, nak, bagaiamanakah cara menikmati
seni bermain dengan tongkat-tongkat dan kue lumpur.
Aku mencari permainan yang mahal-mahal, dan
mengumpul bongkah-bongkah emas dan perak.
Dengan apa saja kau jumpai, kau cipta permainan,
kau buat kegembiraan, sementara aku habis waktu
habis pula tenaga mencari yang tak terdapatkan.
Dengan kanu rapuh, hendak kulawan laut keinginan,
Terlupa: permainan, yang mestinya menggembirakan.
* Syair ke-12 The Crescent Moon.
Syair Rabindranath Tagore
Alangkah riang bahagianya engkau, Nak, duduk di tanah
penuh debu, sepanjang pagi itu, bermain patahan ranting.
Aku tersenyum melihat engkau, bermain patahan ranting.
Saat itu, aku disibukkan hitungan, menjumlah bilangan.
Mungkin saja saat itu, engkau mengilaskan pandang
ke padaku, dan berfikir, "Mau-maunya, sepagi ini
waktu dihabiskan dengan permainan bodoh itu."
Aku sudah lupa, nak, bagaiamanakah cara menikmati
seni bermain dengan tongkat-tongkat dan kue lumpur.
Aku mencari permainan yang mahal-mahal, dan
mengumpul bongkah-bongkah emas dan perak.
Dengan apa saja kau jumpai, kau cipta permainan,
kau buat kegembiraan, sementara aku habis waktu
habis pula tenaga mencari yang tak terdapatkan.
Dengan kanu rapuh, hendak kulawan laut keinginan,
Terlupa: permainan, yang mestinya menggembirakan.
* Syair ke-12 The Crescent Moon.
Senin, 05 Juli 2010
Contoh Syair Rabindranath Tagore | Negeri Dongeng
Negeri Dongeng
Syair Rabindranath Tagore
Jikalau ada yang datang bertanya, ingin tahu
istana rajaku di mana, jawabnya: dia menghilang
lenyap bersembunyi ke dalam udara.
Dinding-dindingnya adalah warna putih perak
dan bubungnya adalah kemilau sinar emas.
Sang Ratu tinggal di dalam istana dengan tujuh
bentang halamannya, dan dia mengenakan
permata seharga seluruh harta tujuh kerajaan.
Tapi biarkan kuberita tahu engkau, Ibu, dalam
bisik saja dimanakah dia istana rajaku berada.
Dia ada di pojok beranda rumah kita, di mana
perdu tanaman tulsi tegak berada di sana.
Sang Putri berbaring, terlelap di pantai jauh
pantai dari tujuh samudera yang tak terlayari.
Tak ada, tak siapapun juga bisa menemuinya
di sana, kecuali aku saja yang bisa.
Dia memakai gelang di lengannya dan beruntai
mutiaran di telinganya; rambutnya menyentuh lantai.
Dia akan terjaga bila kusentuh dia dengan tongkat
ajaib, dan permata akan berlepasan dari bibirnya
bila ada tersungging senyum di sana.
Tapi biarkan aku berbisik di telingamu, Ibu; dia
ada di sudut beranda rumah kita, dimana perdu
tanaman tulis tegak berada di sana.
Bila tiba waktunya engkau mandi turun ke sungai,
mendekatlah ke beranda di bawah atap rumah kita.
Aku duduk di sudut di mana bayangan dinding bertemu.
Hanya kucing yang boleh datang, karena dia tahu
dimana si tukang cukur dalam dongeng itu berada.
Tapi biarkan aku berbisik, Ibu, di telingamu, di mana
si tukang cukur dalam dongeng itu berada.
Dia ada di sudut beranda rumah kita, di mana
pot perdu tulsi tegak berada di sana.