SURAT GIBRAN KEPADA MAY ZIADAH
Salah satu halaman dalam edisi Bahasa Arab, menunjukkan surat dari Gibran kepada kekasihnya, May Ziadah.Dari Gibran Kepada May Ziadah
May sayang,
Aku berutang untuk segala yang kusebut "Aku" terhadap wanita, sejak aku kecil. Wanitalah yang membuka jendela-jendela mataku dan pintu-pintu jiwaku. Kalau saja bukan karena ibu, saudara perempuan dan teman wanita, tentulah aku masih tidur lelap bersama orang-orang yang mencari ketenangan dunia dengan dengkur mereka.
... Aku telah menemukan kesenangan dalam sakit. Kesenangan ini dengan segala pengaruhnya, berbeda dari segala kesenangan yang lain. Aku telah menemukan semacam ketenteraman yang membuat aku mencintai sakitku. Orang sakit itu selamat dari persaingan manusia, tuntutan, kencan dan janji, pembicaraan yang ngelantur serta dering telepon. Aku telah menemukan kenikmatan yang lain lewat sakit ini yang lebih penting dan tak ternilai. Aku menemukan diriku lebih dekat kepada hal-hal yang abstrak dalam sakitku ini daripada dalam sehat. Manakala aku meletakkan kepalaku di bantal dan menutup mataku dan melupakan segala urusan duniawi, aku menemukan diriku sedang melayang-layang laksana seekor burung menjelajahi lembah-lembah dan rimba raya yang tenteram, yang terbungkus dalam selubung yang lembut. Aku dapatkan diriku akrab dengan mereka yang aku cintai, seraya menyeru dan bercakap dengan mereka, tetapi tanpa rasa marah, dan dengan perasaan seperti yang mereka rasakan, dengan pikiran seperti yang mereka pikirkan. Kadang-kadang mereka meletakkan tangannya pada dahiku untuk memberkatiku.
... Aku ingin menjalani sakitku di Mesir atau di kampung halamanku, agar aku bisa dekat dengan orang-orang yang kucintai.* ) Tahukah kau, May, bahwa setiap pagi maupun senjahari aku merasa seolah diriku berada di sebuah rumah di Kairo, bersama engkau yang duduk di depanku membacakan artikel terakhir yang aku atau kautulis, yang belum diterbitkan.
...Tahukah kau, May, bahwa manakala aku, memikirkan tentang Keberangkatan yang disebut orang Kematian itu, aku merasakan kesenangan dalam memikirkan dan merindukan Keberangkatan itu. Lalu aku kembali pada diriku dan ingat bahwa ada sebuah kata yang mesti kukatakan sebelum keberangkatanku. Aku menjadi bingung di antara ketidakmampuanku dan keharusanku, lalu aku menyerah pada harapanku. Tidak, aku belum mengatakan kata itu, dan hanya asap yang keluar dari cahaya ini. Inilah yang membuat aku merasa bahwa menganggur itu lebih pahit daripada empedu. Kukatakan ini padamu, May, dan tidak kepada seorang lain pun. Jika aku tidak berangkat sebelum aku mengeja dan mengucapkan kataku itu, aku akan kembali untuk mengatakan kata itu, yang kini sedang menggantung laksana awan di lazuardi hatiku.
... Apakah hal ini terasa asing bagimu? Sesuatu yang paling asing adalah yang paling dekat pada kebenaran yang hakiki. Dalam hasrat manusia terdapat satu tenaga kerinduan yang mampu mengubah kabut dalam diri kita menjadi matahari.
Gibran
1928
*) Pada saat Gibran menulis surat ini, May tinggal di Kairo, Mesir.Share
Tampilkan postingan dengan label Surat Gibran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Gibran. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Juli 2010
Surat Cinta Kahlil Gibran Kepada May Ziadah
Selasa, 06 Juli 2010
Surat Kahlil Gibran kepada Amin Guraib
Surat Kahlil Gibran kepada Amin Guraib
Pada bulan Mei 1903, Amin Guraib, redaktur dan pemilik Al Muhajir, sebuah harian berbahasa Arab yang terbit di New York, mengunjungi Boston. Di antara orang-orang yang menerima Amin terdapat Kahlil Gibran yang masih muda, yang menarik perhatian wartawan itu dengan caranya yang lemah lembut serta kecerdasannya.
Esoknya, Gibran mengundang Guraib ke rumahnya. la memamerkan lukisan-lukisannya dan kepada tamunya, ia memberikan sebuah buku catatan tua yang berisi hasil-hasil pemikiran dan renungannya. Ketika Amin melihat lukisan-lukisan itu serta membaca puisi-puisi dalam buku catatan itu, ia menyadari bahwa ia telah menemukan seorang pelukis, penyair dan filsuf yang cemerlang.
Hal ini mendorong sang wartawan untuk menawarkan kepada Gibran sebuah jabatan sebagai kolumnis pada hariannya.
Demikianlah, Amin Guraib membawa Kahlil Gibran sejak ia kembali dari Boston dan memperkenalkannya kepada para pembaca Arab. "Koran ini sangat beruntung," tulis Guraib dalam salah satu tajuknya, "dapat menampilkan kepada dunia-berbahasa-Arab buah sastra pertama seorang pelukis yang lukisan-lukisannya dikagumi oleh publik Amerika. Orang muda itu ialah Kahlil Gibran dari Bsharre, kota terkenal orang-orang pemberani. Kita terbitkan esay ini tanpa komentar di bawah judul Tawa dan Air mata (Tears and Laughter), terserah kepada para pembaca untuk menilainya menurut citarasanya." Inilah saat pertama kali Gibran melihat namanya tercetak dalam sebuah harian berbahasa Arab.
Ketika Gibran menulis Jiwa yang Memberontak (Spirits Rebellious), buku yang berisi cerita tentang Rose El Hanie yang menyebabkan pengusiran Gibran dari Lebanon dan pemutusan hubungannya dengan gereja, Amin Guraib inilah yang menulis pengantar buku itu.
Seperti terungkap dalam surat berikut ini, cinta dan penghargaan Gibran terhadap Amin sangatlah mendalam.
Dari Gibran kepada Amin Guraib
Boston,
12 Februari 1908
Sahabatku Amin,
Hanya saudara perempuanku Miriana yang tahu tentang berita-berita yang hendak kuceritakan padamu, yang membuatmu serta para tetangaa agak bahagia: Aku hendak pergi ke Paris, ibukota seni rupa itu, pada akhir musim semi mendatang, dan akan tinggal di sana selama setahun penuh. Dua belas bulan yang akan kuhabiskan di Paris itu akan memainkan peranan penting dalam hidupku sehari-hari, karena saat-saat yang hendak kujalani di Kota Cahaya itu -- dengan pertolongan Tuhan - akan menjadi awal sebuah babak baru dalam cerita hidupku. Aku akan memasuki sebuah kelompok seniman besar di kota besar itu, dan bekerja di bawah pengawasan dan pengamatan mereka serta memanfaatkan kritik mereka di bidang seni rupa. Tidak jadi soal apakah mereka menguntungkan aku atau tidak, karena sekembalinya aku dari Paris menuju Amerika Serikat, lukisan-lukisanku akan menjadi lebih berwibawa, sehingga membuat orang-orang kaya yang bodoh membelinya lebih banyak, bukan karena keindahan artistiknya, tapi lantaran dilukis oleh seorang pelukis yang telah menghabiskan waktunya setahun penuh di Paris di antara para pelukis besar Eropa.
Aku tidak pernah membayangkan perjalanan ini sebelumnya, dan pikiran ke arah itu pun tak pernah menyelinap ke dalam hatiku karena tidak mungkin bagi orang seperti aku ini mendapatkan biaya buat perjalanan semacam itu. Tetapi sahabatku Amin, Tuhanlah yang telah menyusun rencana perjalananku dan membuka jalan bagiku ke Paris, di luar pengetahuanku. Aku akan menghabiskan satu putaran hidupku di sana atas biaya Tuhan, sumber dari segalanya.
Sekarang, sejak engkau mendengar ceriteraku ini, engkau tahu bahwa aku tinggal di Boston bukanlah karena mencintai kota ini, juga bukan lantaran aku membenci New York. Aku tinggal di sini karena adanya seorang wanita yang memberikan tunjangan keuangan padaku, yang mengantarkan aku ke masa depan yang indah serta meratakan jalan menuju keberhasilan intelektual dan finansial. Tetapi tak ada bedanya apakah aku tinggal di Boston atau di Paris, Al Muhajir akan tetap menjadi sorga tempat jiwaku berdiam dan menjadi pentas buat hatiku yang menari-nari. Perjalananku ke Paris merupakan kesempatan bagiku untuk menulis hal-hal yang tak dapat kutemukan dan bayangkan di negeri yang mekanis dan komersial ini, yang penuh dengan teriakan dan kebisingan. Aku akan diterangi oleh studi-studi kemasyarakatan yang akan kujalani di ibukota dari segala ibukota di dunia itu, tempat Rousseau, Lamartine dan Hugo tinggal, dan tempat orang mencintai seni seperti orang-orang Amerika memuja-muja "Dollar Yang Maha Kuasa".
Selama kau pergi aku akan terus menyumbangkan tulisan pada setiap terbitan Al Muhajir. Akan kutuangkan pada halaman-halamannya segala rasa cinta, harap dan cita-cita yang tersimpan dalam hati, jiwa dan pikiranku. Aku tidak mengharap imbalan apa pun darimu selain rasa persahabatan. Tapi jika kau bermaksud menambahkan hutang material kepada hutang-hutang budiku yang banyak kepadamu, silakan memerintahkan kepada staf redaksimu agar membantu peredaran bukuku Tawa dan Air-mata agar aku bisa menuai hasil panen kerjaku setelah bermalam-malam menulis buku itu. Suruhlah mereka membantuku menjual buku itu kepada pembaca-pembaca Arab dan kepada para pedagang di New York dan di negeri lain. Kau tahu, aku tak dapat mempromosikan buku itu tanpa bantuan Al Muhajir.
Semoga engkau senantiasa mendapatkan ketenangan serta kegembiraan bertemu keluarga dan menikmati pemandangan indah kota London. Engkau telah bekerja keras selama lima tahun terakhir ini, dan adalah sewajarnya jika engkau menikmati istirahat sejenak. Janganlah engkau terganggu dengan bayangan masa depan. Apa pun yang terjadi, Al Muhajir akan tetap senantiasa menjadi kebanggaan koran-koran berbahasa Arab. Sebuah pesan darimu, sebuah puisi dari Assad Rustum dan sebuah artikel Gibran setiap minggu akan cukup membuka mata dunia Arab dan mengarahkan perhatian mereka ke Washington Street Dua Satu.*)
Pengantarrnu untuk bukuku Jiwa Yang Memberontak (Spirits Rebellious) membuat aku bahagia karena jauh dari komentar pribadi. Sebuah artikel untuk Al Muhajir telah kukirimkan padamu hari Senin lalu; sudah diterimakah? Tulislah padaku sedikit balasan untuk surat ini. Beberapa surat lagi akan kutulis untukmu sebelum keberangkatanmu ke Lebanon. Aku berharap semoga perjalananmu selalu dalam kegairahan. Walau aku tak dapat melepas keberangkatanmu, namun aku selalu berharap agar kita tetap satu dalam pikiran dan semangat. Tujuh ribu mil jauhnya, namun terasa lebih dari satu mil saja, dan seribu tahun pun terasa dalam jiwa hanya setahun jua.
Miriana menyampaikan salam padamu dan mengharapkan suksesmu selalu, semoga Tuhan memberkatimu dan membawamu kembali padaku dengan selamat, serta melimpahkan padamu rahmat-kasih-Nya, sebanyak rasa cinta dan hormatku padamu .
Gibran
*) Alamat kantor redaksi dan tatausaha Al Muhajir.
Surat Kahlil Gibran kepada Jamil Malouf
Surat Kahlil Gibran kepada Jamil Malouf
Jamil Malouf, seorang penyair dan pengarang muda Libanon, sangat mengagumi Gibran. Dalam suratnya berikut ini, Gibran mengungkapkan kekagumannya dan keprihatinannya kepada penyair muda itu, yang meninggalkan Paris untuk tinggal di Sao Paulo, Brazilia. Gibran melukiskan sahabatnya Jamil ini sebagai "obor dari langit" yang menerangi jalan umat manusia, dan juga menyatakan keheranannya mendengar kepindahan sahabatnya itu. Dia mendesaknya agar memberikan alasan yang mendorongnya pergi ke Sao Paulo dan tinggal di antara "orang-orang mati yang hidup".
Dari Gibran kepada Jamil Malouf
1908
Saudaraku Jamil,
Ketika aku membaca surat-suratmu, aku merasa ada roh yang mempesona sedang bergerak-gerak dalam kamar ini -roh yang indah namun penuh kesedihan- yang menarikku dengan alunan gelombangnya dan membuatku melihatmu sebagai dua pribadi: yang satu menunggui kemanusiaan dengan sayapnya yang perkasa sama seperti sayap bidadari yang dilihat oleh Santo Johannes sedang berdiri di depan singgasana dengan tujuh lampu; yang lain terbelenggu pada sebuah batu karang raksasa laksana Promotheus, yang karena hendak memberikan obor api pertama kepada manusia merelakan dirinya dikutuk oleh dewa-dewa. Yang pertama menceriakan hatiku dan menyejukkan jiwaku karena ia berayun-ayun bersama cahaya matahari dan angin lembut yang ceria fajar pagi; sementara yang kedua membuat hatiku berdukacita karena ia terpenjara oleh perjalanan sang waktu...
Engkau telah dan masih akan senantiasa mampu menurunkan obor api itu dari langit untuk menerangi jalan umat manusia, tapi katakanlah padaku hukum atau kekuatan apakah yang membawamu ke Sao Paulo dan membelenggu tubuhmu dan menempatkan dirimu di antara orang-orang yang mati pada hari kelahirannya dan belum juga dikuburkan itu? Masihkah dewa-dewa Yunani menunjukkan kekuasaannya sekarang ini?
Aku telah mendengar engkau hendak kembali ke Paris dan tinggal di sana. Aku pun ingin pergi ke sana. Mungkinkah kita bertemu di kota seni itu? Apakah kita bertemu di "Jantung Dunia" itu dan mengunjungi Opera dan teater Prancis dan memperbincangkan sandiwara-sandiwara Racine, Corneille, Moliere, Hugo dan Sardon? Akankah kita bertemu di sana dan berjalan jalan bersama ke tempat benteng Bastille dibangun, dan kemudian kembali ke tempat tinggal kita untuk merasakan kelembutan jiwa Rousseau dan Voltair, dan menulis tentang Kebebasan dan Tirani, dan menghancurkan setiap "Bastille" yang berdiri di setiap kota di dunia Timur? Maukah kita pergi ke Louvre dan berdiri menatap lukisan-lukisan Raphael, da Vinci dan Carot, dan menulis tentang Keindahan dan Cinta serta pengaruhnya terhadap hati nurani manusia?
Saudara, aku merasakan lapar yang pedih dalam hatiku jika aku berbicara tentang karya-karya seni yang besar itu: aku pun sangat rindu akan ucapan-ucapan yang abadi; tetapi lapar dan kerinduan ini muncul dari suatu tenaga perkasa yang ada dalam lubuk hatiku - suatu tenaga yang ingin segera menyatakan dirinya tapi tak mau melakukannya karena waktunya belum tiba, dan orang-orang yang mati pada hari-kelahirannya masih berjalan jalan dan berdiri sebagai sebatang kayu palang pada jalan kehidupan.
Sebagaimana engkau tahu, kesehatanku ibarat sebuah biola di tangan seorang yang tak pandai memainkannya, sehingga hanyalah melodi yang sumbang yang dapat diperdengarkannya. Perasaanku bagaikan samudra dengan segala pasang-surutnya: jiwaku laksana seekor burung puyuh dengan sayap yang patah. la sangat menderita apabila melihat kawanan burung melayang-layang di angkasa, karena ia menyadari dirinya tak mampu berbuat seperti itu. Tetapi, seperti juga semua burung lain, ia pun menikmati keheningan sang Malam, datangnya sang Fajar, cahaya sang Matahari dan indahnya lembah-ngarai. Aku melukis dan menulis sekarang, juga nanti, dan di tengah melukis dan menulis, aku bagaikan sebuah perahu kecil yang berlayar di antara samudra tak berdasar dan langit yang tak berufuk - impian-impian yang asing, hasrat-hasrat yang agung, harapan-harapan besar, pikiran-pikiran yang terbanting dan perlu diperbaiki: dan di antara segalanya ini adalah sesuatu yang disebut oleh orang-orang sebagai Putus Harapan, dan aku menyebutnya Neraka.
Gibran
SURAT KAHLIL GIBRAN KEPADA AYAHNYA
SURAT KAHLIL GIBRAN KEPADA AYAHNYA
Gibran menulis surat ini kepada ayahnya di Bsharre untuk menenteramkan hatinya tentang kesehatan dua saudara perempuannya, Miriana dan Sultana. Salah seorang kerabatnya di Amerika Serikat telah menulis surat kepada ayah Gibran, menceritakan bahwa kedua puterinya itu sakit, dan orang tua itu menyatakan kekhawatirannya pada anaknya. Ayah Gibran rupanya tidak memperhatikan tanggal pada surat itu: tanggal 1 April, atau Hari Bercanda di bulan April.
Dari Gibran kepada Ayahnya
Beirut, April, 1904
Ayahanda tercinta,
Saya menerima surat Ayahanda yang mengungkapkan kekhawatiran tentang "berita duka yang tak diharapkan" itu. Jika saja saya tidak tahu maksud si penulis surat itu, pastilah saya juga mengalami perasaan seperti itu. Mereka (semoga Tuhan mengampuninya) menyatakan kepada ayahanda dalam surat itu bahwa salah seorang saudara saya sedang sakit gawat, dan mereka juga berkata bahwa penyakit itu membutuhkan biaya besar, sehingga akan sulitlah bagi saudara-saudara saya untuk mengirimkan uang kepada Ayahanda. Saya segera bisa menjelaskannya setelah memperhatikan bahwa surat itu ditulis pada tanggal 1 April. Bibi kami telah terbiasa dengan lelucon halus dan segar semacam itu. Ucapannya bahwa saudara perempuan saya jatuh sakit selama enam bulan adalah jauh dari kebenaran, sama jauhnya dengan saya dari penyakit itu. Selama tujuh bulan terakhir ini saya telah menerima lima surat dari Tuan Ray yang menjamin saya bahwa kedua saudara perempuan saya, Miriana dan Sultana, dalam keadaan sehat sejahtera. Dia memuji tabiat mereka yang baik, menghargai kehalusan sopan-santun Sultana, dan berbicara tentang kemiripan perawakan dan tabiat antara dia dan saya.
Kata-kata ini keluar dari seorang yang paling jujur yang pernah saya kenal; dari seorang yang membenci "Lelucon April" dan tidak menyukai pemalsuan yang membuat duka hati orang lain. Saya menjamin bahwa segalanya dalam keadaan baik-baik saja, dan saya mengharap tenang dan tenteramlah hati Ayahanda.
Saya masih di Beirut meskipun saya boleh meninggalkan rumah selama sebulan penuh untuk berkeliling Siria dan Palestina, atau Mesir dan Sudan bersama sebuah keluarga Amerika yang sangat saya hormati. Itulah sebabnya saya tidak tahu sampai berapa lama akan tinggal di Beirut. Tetapi saya berada di sini demi kepentingan saya sendiri yang membuat saya perlu tinggal di negeri ini sejenak, agar dapat menyenangkan hati orang-orang yang memikirkan masa depan saya. Ayahanda tidak usah meragukan keputusan saya tentang apa yang baik bagi saya dan tentang keselamatan dan kemajuan masa depan saya.
Sekianlah yang dapat saya ceritakan kepada Ayahanda - dengan segenap kasih sayang kepada segenap keluarga dan sahabat-sahabat tercinta, dan dengan segala hormat bagi mereka yang bertanya tentang diri saya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mengaruniai Ayahanda panjang usia serta perlindungan-Nya.
Hormat saya, Gibran