UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Kerinduan yang Terpendam

Kerinduan yang Terpendam | Brak bruk brak… semua persiapan untuk bertemu dengan sang pujaan hati tengah dipersiapakan layaknya persiapan perang. Mulai dari baju, sepatu, tas, asesoris yang mau dipakai, hingga perawatan rambut, kuku, dan luluran. Tik tok tik tok… jam dinding terasa berputar lebih cepat hingga membuat darah mengalir lebih kencang. Dag dig dug… detak jantung bagaikan genderang perang. Namun saat kudengar suara tawa dia dibalik telepon, terasa begitu damai dihati, detak jantung ini mulai berirama, walau rasa kangen semakin menjadi-jadi buatku ingin cepat bertemu. Ingin kutatap matanya, kugenggam erat tangannya, dan ingin kudipeluknya. Seketika sukmaku melambung. Angan mulai terlukis didinding benakku. Tak lupa akupun berdoa biar hari itu menjadi hari bahagiaku, hari bahagia yang telah lama hilang.
Sampailah aku dikampus, hampir jam 4 sore, padahal janji kumpul jam 2. Hufffff ingin rasanya berteriak dan kupentokkan kepalaku ketembok hingga waktu bisa kuulang, karena itu artinya jamku untuk bersamanya sudah berkurang hampir 2 jam. Aku menyesal.
Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku. Aku bahagia banget bisa melihat dia lagi, menatap matanya, mencubitnya, mendengar suaranya, dan tentunya kena ejekan-ejekan dia yang kadang bikin aku tersipu malu. Canda tawa kami berlima di sebuah pelataran sevel dikawasan Jakarta Pusat mengantarkan pada malam yang makin larut, time to go home… sedih rasanya harus berpisah lagi karena aku ga tau kapan lagi bisa bertemu dengannya. Rasa rindu mulai menyelimuti dadaku biarpun dia masih duduk disampingku, alunan lagu Iwan Fals yang aku pilih dimobilnya mengingatkanku akan masa-masa bersamanya. Diapun menyanyikan sebuah lagu yang pernah dia nyanyikan untukku dulu, perasaan ini makin tak karuan. Yang ada dalam pikiranku, aku ingin berteriak “berhenti” dan aku tarik tangannya keluar dari mobil dan memeluk erat sang pujaan hati.  Namun semua tak kulakukan, karena aku merasa dia bukan milikku. Dia tak mencintaiku.
Sesampainya dirumah, air mata yang tak terbendung ini pun mengalir, kerinduanku yang terpendam sekian lama tak mampu terobati dalam sehari, sakit rasanya hatiku, campur aduk perasaanku, goncang jiwaku, luluh lantak emosiku, layaknya gado-gado yang dijual dipinggiran jalan yang ga tau apa rasanya.
Tak berapa lama ayam jantan berkokok, sang mentari mulai menampakan sinarnya melalui celah-celah jendela kamarku. Berat rasanya membuka mata karena aku tau dia tak lagi disampingku, walau aroma tubuhnya masih memenuhi nafasku. Dan aku hanya mampu berdoa, Tuhan pertemukan aku lagi dengannya, aku merindukannya, aku menyayanginya, aku mencintainya.

Penulis : April : http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2012/06/18/kerinduan-yang-terpendam/

Cerita Cinta SMA: Surat Terakhir

Cerita Cinta SMA: Surat Terakhir - Bila mengingatmu, dik.  Saat terakhir kita bersama dengan pakaian putih abu-abu. Saat hari terakhir aku mengenakannya sepulang sekolah di SMA dahulu. Saat kukatakan padamu bahwa aku harus meninggalkan kota kecil ini, untuk sebuah cita-cita dan masa depan seperti banyak orang impikan. Jakarta.

“Aku pergi untuk sementara dik Ayu, berat memang. Tapi kadang kita harus melakukan hal yang memberatkan hati kita, untuk sebuah cita-cita yang lebih besar. Bukan berarti cinta nggak lebih penting, bukan. Cinta biarlah berjalan meski dipisahkan oleh tempat dan waktu.”
“Tapi mas.. bisakah kita bertahan sampai waktu itu tiba ? ” jawabmu lirih, dengan nafas tertahan. Aku tak kuasa mengucapkan kalimat lebih banyak lagi.
“Semoga, kita akan berusaha, dik.”  jawabku mencoba membesarkan hatimu.
Saat bus malam yang kutumpangi melaju dari kota kecil kita dahulu. Lewat hembusan angin yang semakin menjauhkan aku dengan dirimu, kutitipkan pesan “Maafkan dik, aku harus meninggalkanmu. Kuharap ini tak kan lama, kita akan bersama lagi untuk kisah kasih yang sempat tertunda. Aku harus merengkuh cita-citaku di kota Jakarta”. Aku yakin bibirmu pasti tersenyum getir sebab harus menanti beberapa tahun untuk kepastian berlabuhnya cinta kita di pelaminan.
Waktu demi waktu berlalu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Tak terasa kau telah tumbuh menjadi gadis dewasa, dan kota kecil kita yang tak memberi harapan untuk masa depan, membuatmu mengikuti jejakku mengadu nasib di kota pahlawan, Surabaya. Aku tak mengerti mengapa engkau harus terdampar di kota itu. Mengapa sebuah cinta yang dulu subur di hati kita, sulit untuk bertemu dan menyatu, menjadi impian setiap pasangan kaum adam dan hawa.
Masih kuingat saat hari raya kau telah siapkan kue-kue lebaran untuk menyambut kepulanganku, tapi semua itu tak sampai kita nikmati bersama. Kota Jakarta terlalu membelengguku dengan segala hiruk pikuknya. Bukan karena aku telah memiliki penggantimu, juga bukan karena telah memudarnya cintaku. Tapi karena ketakutanku saat kemendengar ibumu ingin aku segera melamarmu. Sementara cita-citaku masih tergantung tinggi di awang-awang. Aku belum siap untuk sebuah biduk rumah tangga. Hingga suatu saat kau berpamitan kepadaku. “Mas, rasanya kita tak harus sampai ke mimpi kita. Ibuku sudah ingin menimang cucu, setelah kupertimbangkan masak-masak, dengan berat hati kita harus menyudahi hubungan kita. Ibu sudah menjodohkan aku dengan pilihannya. Aku khawatir dengan kondisi ibu yang sudah mulai sakit-sakitan Aku ingin berbakti kepadanya, selagi aku bisa. Termasuk mengorbankan rasa cintaku pada mas.”
Membaca sepucuk surat terakhirmu,  seribu macam perasaan campur aduk menggemuruh di dadaku. Kecewa, getir, galau , resah, gundah, tapi tak kuasa untuk memberi jawaban yang bisa menjadi alasan untuk menyelamatkan sebuah cinta yang semakin lama kurasakan sulit untuk disatukan. Jarak,  waktu, cita-cita dan kehidupan ibukota telah menjadikannya terpisah jauh.
Surat terakhirmu kulipat dan kusimpan. Kupandangi nyala lampu 5 watt pengantar tidur di kamarku, tempat yang indah saat-saat aku sering membaca surat-suratmu. Tapi kini kutak akan membacanya lagi, aku telah pasrahkan semuanya kepada Tuhan, bahwa sebuah cinta kadang seperti sebuah keinginan yang tak selalu harus menjadi satu. Cinta hanyalah perasaan alamiah saat kita mengalami hal-hal yang sama, dan suatu saat bisa saja menjadi tinggal kenangan. Sebuah proses alamiah dua makhluk berlainan jenis, yang nasibnya pun kita tak pernah bisa menduga. Seperti sering kudengar nasehat bijak, jodoh , rejeki dan ajal kita tak akan pernah tahu.
Dik Ayu, jika itu pilihan terbaikmu, mas tak bisa dan tak punya alasan untuk mencegahmu. Aku memahami perasaan dan apa yang menjadi pilihan hidupmu. Begitu juga mas, rasanya tak mungkin kita mempertahankan jalinan cinta ini. Selamat menempuh lembaran hidupmu yang baru, aku bahagia jika kelak kau pun bahagia.  Kenangan bersama di antara kita, semoga tak mengganggu jalan hidup kita masing-masing, cukuplah hanya menjadi bunga-bunga masa lalu. Meskipun Tuhan tak mewujudkan keinginan kita untuk bersama, tapi aku yakin kita akan diberi-Nya yang terbaik. “
Sebuah paragraf perpisahan kutuliskan di surat teakhirku. Kucoba tak membasahinya dengan  air mata, karena yakin bahwa tak ada yang harus disesali. Perjalanan hidup manusia tak selalu lapang dan mulus, tinggal keikhlasan menerima segala hal yang tak selalu sesuai dengan kehendak diri.
Kini 22 tahun sudah berlalu. Aku telah hidup berbahagia dengan pasanganku yang cantik dan baik hati. Yang telah memberiku dua jagoan kecil dan satu gadis remaja yang cantik pula, dan  kini sudah menginjak bangku SMP. Kehidupan yang sangat membahagiakan. Doaku semoga adik berbahagia pula, meski aku tak pernah ingin tahu keberadaanmu saat ini. Biarlah cerita masa lalu menguap bersama waktu, dan saat ini adalah cerita nyata dalam lembaran hidup masing-masing.
**
Penulis : Heri Purnomo : http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2012/04/18/cerita-cinta-sma-surat-terakhir/

Jumat, 16 Maret 2012

UPDATE CERPEN LUCU TERBARU 2012


CERPEN LUCU - LAUT SAMADENGAN ISTIRAHAT
Pak Ujang adalah salah satu warga kota Bandung yang kini tinggal di kota Surabaya. Selama delapan tahun ini dia tinggal di Surabaya bersama sang istri tercinta yang kebetulan asli orang Surabaya.

Seperti pada hari-hari sebelumnya, dia melewati aktifitas hariannya dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang terletak di Surabaya Timur. Sampai suatu sore dia mengalami kejadian yang menggelikan karena selama delapan tahun tinggal di Surabaya dia baru tahu kalau laut (bahasa jawa), dalam bahasa Indonesia berarti istirahat.

Jam dinding telah menunjuk pukul 4 sore, waktunya Pak Ujang beserta karyawan yang lain untuk pulang dari tempatnya bekerja. Sesampainya didepan pintu gerbang perusahaan, ia dihampiri seorang pemuda yang mencoba bertanya kepadanya. “Permisi Pak, nderek tangglet, satpame sampun laut to pak?, tanya pemuda tadi yang diketahui bernama Jono. (Dalam bahasa Indonesia berarti “Permisi Pak, mau tanya, apakah satpamnya sudah beristirahat?”).

“Sanes Mas, satpame sakeng angkatan darat”, jawab Pak Ujang. (Artinya “Bukan Mas, satpamnya berasal dari angkatan darat”, karena mengira kalau arti dari pertanyaan Si Jono adalah “Permisi Pak, mau tanya, apakah satpamnya dari angkatan laut?”).

Mendengar jawaban tersebut, Jono menjadi bingung. Dalam benaknya Jono berfikir mungkin suaranya kurang lantang sehingga Bapak tersebut kurang mendengar pertanyaannya. Kemudian dia kembali bertanya “Satpame wes laut to Pak?”. (Dalam bahasa Indonesia berarti “Apakah satpamnya sudah beristirahat?”).

Pak Ujang kembali menjawab, “Sanes Mas, Satpame ndugi angkatan darat”. (Yang artinya “Bukan Mas, Satpamnya dari angkatan darat”).

Mendengar jawaban itu Jono merasa sedikit kesal, kemudian dia memutuskan kembali bertanya dengan memakai Bahasa Indonesia. “Paak...!, apakah satpam di sini sedang beristirahat?”, tanya si Jono.

“Ya..., bener Mas. Satpam disini sedang beristirahat. Memangnya Mas ada perlu apa?”, jawab Pak Ujang yang kembali bertanya kepada Jono.

“Paman saya, namanya Pak Arif adalah salah satu satpam di perusahaan ini. Saya ingin menemuinya karena ada keperluan keluarga yang sangat penting yang ingin saya sampaikan kepadanya”, jawab Jono.

“Anda langsung aja ke bagian informasi yang terletak di gedung A lantai satu”, tutur Pak Ujang sambil menunjuk salah satu gedung yang berwarna biru.

“Terima kasih atas bantuannya Pak”, lanjut si Jono sambil melangkahkan kaki ke gedung A. Pak Ujang pun kembali menghidupkan motornya dan lansung tancap gas menuju rumah.

Sesampainya di rumah, Pak Ujang langsung menceritakan peristiwa tadi kepada istrinya. Spontan saja istrinya tertawa mendengar cerita dari sang suami. Lalu si istri bilang sama sang suami “Mas iku yo’opo seh..., lek dek bahasa Indonesia, laut iku...., artine istirahat”. (Dalam bahasa Indonesia berarti “Mas itu gimana sih..., kalau di Bahasa Indonesia, laut itu artinya istirahat”).

Spontan aja Pak Ujang tersenyum menahan malu mendengar penjelasan dari sang istri. Dalam hatinya dia berkata “Saya ini sudah delapan tahun di Surabaya, kok saya baru tahu kalau laut itu berarti istirahat”.

CERPEN LUCU - INTERISTI SEJATI
Karena tidak mempunyai tiket untuk menonton pertandingan secara langsung, seorang interisti, julukan bagi suporter fanatik Inter Milan mencoba memasuki stadion dengan cara memanjat tembok stadion Geusepe Meaza untuk melihat derbi klasik antara AC Milan vs Inter Milan. Setelah berhasil memasuki stadion, dia melihat satu tempat duduk belum terisi dan disebelahnya duduk seorang Kakek yang dengan tenang menunggu dimulainya derbi itu. Interisti yang belakangan diketahui bernama Francisco Tapanuli itu kemudian mendatangi si Kakek dan bertanya kepadanya, “Permisi Kek, apakah tempat duduk di sebelah anda ini memang kosong atau ada orang lain yang akan menempatinnya tetapi belum datang kesini?”.

Kakek yang memakai kaos bermotif garis biru hitam, (Seragam tim Inter Milan) lengkap dengan syal bertuliskan Internazionale Milano itu menjawab, “Tempat duduk ini memang kosong!. Kalau mau anda boleh menempatinya!”.

“Terima kasih Kek!”, jawab Fransisco sambil duduk di sebelah Kakek itu. “Ngomong-ngomong, kenapa anda menonton pertandingan ini sendirian?”, lanjut Francisco.

“Selama lebih dari 20 tahun, saya bersama istri saya tak pernah sekalipun melewatkan derbi antara Inter Milan vs AC Milan, dan biasanya dia duduk di tempat duduk yang sedang anda tempati sekarang”, jawab si Kakek.

“Terus, dimana istri anda sekarang Kek?”, tanya Francisco dengan penasaran.

Dengan memandang ke wajah Fancisco Kakek menjawab, “Dia sudah meninggal dunia!”.

Mendengar jawaban Kakek, Francisco berkata, “Oh... Maaf Kek. Saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya istri anda”.

“Terima kasih!”, tutur si Kakek.

Francisco dan Kakek terdiam.

Beberapa saat kemudian Francisco kembali bertanya kepada si Kakek, “Kenapa anda tidak mengajak kerabat yang lain untuk menonton pertandingan ini?”.

“Sekarang mereka semua sedang sibuk!”, jawab Kakek.

“Sibuk apa mereka Kek?”, Francisco bertanya lagi.

Dengan tenang si Kakek menjawab, “Mereka sedang menghadiri pemakaman istri saya”.

Francisco, “...!!!”, (dalam hati dia berkata, “Bener-bener Interisti Sejati”).

CERPEN LUCU - GAPNET
Suatu hari Bu Evi, guru Bahasa Inggris di SMU Harapan Makmur, memberi tugas siswa kelas sepuluh IPA untuk mencari sebuah artikel di internet yang membahas tentang flora dan fauna. Tugas itu dikerjakan secara berkelompok dan setiap kelompok akan dipilih secara acak. Setelah dilakukan pengacakan terbentuklah beberapa kelompok dan setiap kelompoknya terdiri dari 3 orang.

Salah satu kelompok dari beberapa kelompok yang ada adalah kelompok III yang terdiri dari Novi, Ani dan Ria. Mereka bertiga sepakat berbagi tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas dari Bu Evi. Secara kebetulan Novi bertugas untuk mencari artikel di internet, Ani bertugas menterjemahkan artikel kedalam bahasa Indonesia dan Ria bertugas untuk mengetik, mencetak dan mengumpulkan artikel tersebut ke Bu Evi.

Sepulang sekolah, mereka bertiga berjalan bersama. “Nov..., jangan lupa yach..., kamu cari artikel di internet!”, tutur Ani kepada Novi.

“Tenang aja, semua pasti beres!”, jawab Novi dengan meyakinkan. Tetapi dalam hati dia sangat bingung. Jangankan internet, komputer saja Novi masih belum mahir mengoperasikannya.

Karena terpaksa, sore itu Novi memberanikan diri untuk pergi ke warnet untuk melaksanakan tugasnya. Sesampainya di warnet, dia langsung duduk menghadap sebuah komputer dan mengotak-atiknya.

Satu jam telah berlalu, keringat dingin telah membasahi Novi, karena selama itu dia belum lakukan apa-apa, hanya otak atik mouse dan keyboard. Dengan menahan rasa malu, Novi memberanikan diri untuk bertanya kepada Mbak yang sedang jaga warnet. “Permisi Mbak..., boleh tanya!. Gimana ya... cara membuka internet itu?”.

“Lho... selama satu jam itu kamu ngapain aja?”, Mbak itu balik bertanya kepada Novi.

“Aku cuman otak atik mouse ama keyboard aja, nggak ada yang lain!”, jawab Novi sembari menahan rasa malu yang semakin besar.

Mendengar jawaban tersebut, Mbak itu terkejut dan sambil menahan tawa dia berkata, “Ya sudahlah..., nggak apa-apa, nanti kuajarin bagaimana caranya!”.

Seketika wajah Novi nampak lega karena ada yang mau berbaik hati mengajari bagaimana cara berinternet.

Singkat cerita, Mbak penjaga warnet tersebut beralih profesi menjadi guru kursus kilat belajar internet.

Esoknya Novi bertemu Ani dan Ria di sekolah. Kemudian Novi menceritakan pengalamannya di warnet kemarin. Setelah mendengar cerita tersebut, spontan saja mereka berdua tertawa. Tiba-tiba saja Ani menyahut, “Bentar-bentar..., aku mau ngomong nih. Jujur aja yach..., waktu pembagian tugas kemarin, aku berharap enggak kebagian tugas mencari artikel di internet, soalnya aku juga gapnet alias gagap internet, ha... ha... ha..”.

Spontan saja Novi bertanya, “Hah..., An... kamu juga gapnet ta?, kalau kamu Ria?”.

Sambil menahan tawa dan menundukkan kepala Ria menjawab, “Aku juga gapnet!”.

“ha.. hhaa... hhhaaa...!.”.

CERPEN LUCU - NAIK LIFT
Icha adalah salah satu karyawan hotel berbintang lima di Surabaya. Suatu hari dia mendapat telepon dari Fitri, teman masa kecilnya dan merekapun terlarut dalam obrolan hangat. Setelah beberapa lama mengobrol, mereka mempunyai ide untuk bertatap muka secara langsung guna melepas kerinduan diantara mereka. Karena Icha sangat sibuk dengan pekerjaanya dan tak bis meninggalkannya sedetikpun, mereka memutuskan untuk bertemu di tempat Icha bekerja yaitu di hotel Saturnus lantai 10 blok 01.

Singkat cerita, Fitri menuju hotel Saturnus. Sesampainya di lantai satu, Fitri kembali menelepon Icha.

Fitri : Hallo... Cha... sekarang aku sudah berada di lantai satu, tolong jemput aku yach!

Icha : Kamu langsung naik aja ke lantai sepuluh, liftnya disebelah resepsionis.

Fitri : Aku gak berani naik sendirian, aku kan orang asing di hotel ini, entar aku dikira orang jahat lagi!. Jemput aku dong, please...

Icha : Ya... okelah!. Tunggu bentar, jangan kemana-mana!.

Setelah beberapa saat menunggu, batang hidung Icha muncul juga dan Icha mengajak temannya itu untuk naik ke lantai sepuluh.

Icha : Aku heran sama kamu sekarang!.

Fitri : Emang kenapa dengan aku Cha?.

Icha : Dulu, waktu di sekolah, kamu kan cewek paling pemberani diantara yang lain, sampai-sampai kamu dijuluki cewek superman. Kok sekarang mau nemui aku aja minta dijemput segala!.

Fitri : (sambil berbisik dan sedikit menahan tawa), Jujur aja Cha..., sebenarnya aku itu gak tau cara menggunakan lift...!.

Icha : Hah....!!!???


4.5

Cerpen Lucu : Anak dalam Celana


ANAK DALAM CELANA
Cerpen NN

Suatu ketika di pemberhentian sebuah Bis, naiklah seorang Ibu muda yang tengah hamil kurang lebih 5 bulan...

Namun Ibu muda ini merasa agak kesal setelah naik Bis tsb. karena Bis telah penuh...namun tiba2 ia punya ide >gmna klo dia minta kursi sama seorang Pemuda tanggung yg ada di dekatnya<

kemudian ia berkata kepada pemuda tsb.

" Boleh ga saya minta tempat duduknya Mas? kalo cuma saya sih ga apa2, tapi Anak dalam perut nie kasihan!!" katanya dengan agak manja dan sedikit memelas...

"Ehhhmmm" gumam si Pemuda tsb sambil berdiri memberikan tempat duduknya kepada si Ibu muda
tak lama kemudian Pemuda ini sambil berdiri dekat Si ibu muda menyalakan rokoknya. alhasil perbuatannya menuai protes dari si ibu muda

"Boleh ga Rokoknya dimatikan? kalo cuma saya sih ga apa2, tapi Anak dalam perut nie kasihan!!"

Dengan muka masam Pemuda tsb kembali memenuhi permintaan Si ibu muda ini sambil menggerutu dalam hati (uuuuggh sudah dikasih tempat duduk, ngelarang orang ngerokok lagi)gumamnya.

Tiba-tiba bis berhenti mendadak berhenti membuat seluruh penumpang tersentak & kaget termasuk Pemuda dan ibu muda yg sedang dalam cerita ini, gkgkgkgk

Saking tersentaknya si ibu muda tersebut sampai2 Daster yang ia pakai tersingkap hingga bagian pangkal pahanya. si pemuda meliat hal itu sebagai ajang balas dendam dengan berkata

Mbak, boleh gak tuh paha ditutupin!kalo cuma saya sih ga apa2, tapi Anak dalam celana nie kasihan!!"

[source :http://www.lokerseni.web.id]
4.5

Cerpen Lucu : Alhamdulillah Namanya


ALHAMDULILLAH NAMANYA
Cerpen NN

Alkisah pada tahun 2000, di kota malang ada seseorang yang memelihara kuda mulai kecil. Nama kuda itu adalah alhamdulilah, kuda itu sangat penurut, apa bila di panggil langsung datang, kalau di suruh berjalan , tinggal ucab alahamdulilah langsung tancap, kalo mau berhenti tinggal ucap astaufirloh,langsung berhenti. mungkin karna di rawat sejak kecil dan latihan yang rutin. pada saat di taman bunga di daerah tretes, dia bertemu dengan temannya.
" askum.... gmn kabarnya, kudanya bagus bangeeet.."?
"baik... ia nie kuda penurut, tinggal ucab hamdalah dia akan berangkat, dan kalau mau berhenti tingal ucab istifar".
" aku boleh nyobak gak"
" ohh.. monggo..."

Sang teman mulai mengucabkan hamdalah untuk menjalankannya. "alhamdulilah berangkatlah kuda" dia merasa bosan karna kudanya jalannya terlalu pelan, dia memukul kuda supaya berjalan lebih cepat ,tapi belum brhasil juga, sampai sampai dia memukul dan mengucapkan alhamdullah dengan keras. "PLAK..... ALHAMDULLLIILAHH......"

Kuda itu berjalan dengan cepat ,sampai-sampai orang itu tidak bisa mengendalikanya, di depan terlihatlah jurang yang sangat dalam , karna sangat gugub orang itu lupa kata-kata untuk memberhentikannya, semua kata-kata keluar dari mulutnya. "ALLAH'.kuda belum berhenti. "ROSULALLAH." kuda itu masih belum bisa berhenti. " INALILAH." kuda itu masih tak mau behenti.

Dia sudah putus asa , dia mengucapkan istifar untuk yang terakhir kalinya. " ASTAUFIRLOH." Tiba-tiba kuda itu berhenti pas di depan jurang itu, orang itu sangat senang, dia mengucapkan puji syukur kepada Allah. "Alhamdulilah ya Allah kau masih menolongku". karna ucapanya itu, kuda tiba-tiba berjalan dan....dan ,,.. pembaca pasti tau apa kelanjutanya? AYO APA???

4.5

CERPEN CINTA - Berjudul Cinta Bisu Yang Bicara

CERPEN CINTA -
* CINTA BISU YANG BICARA *

Digenggamnya jemari indah itu. Terasa kaku dan dingin. Perasaannya tiba-tiba tak enak. Sepertinya ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

Lembayung di langit sore itu terlihat muram. Awan
yang berarak suram berkejaran di atas sana. Tampak sesosok tubuh pemuda duduk terpaku di depan gundukan tanah warna merah. Wajahnya tampak mendung. Tangannya lembut menaburkan bunga di atas pekuburan itu, kemudian
menyiramnya dengan air bening.

“Semoga engkau tenang di alam sana.” Lirih
suaranya. Nafasnya terdengar berat, sepertinya sesal yang menghimpitnya begitu erat. Sorot matanya menerawang jauh ke angkasa. Gadis tertunduk. Malu. Wajahnya merona. Beberapa detik lalu pemuda pujaannya membisikkan sesuatu yang membuat hatinya melayang.
“Kau cantik sekali hari ini.”
“Ah, benarkah aku cantik? Tapi mengapa dia lebih memilih gadis lain?” Gadis itu terlihat muram. 
Namun hal itu tetap tidak mengurangi keanggunannya. Matanya yang sendu, kulit putihnya yang bersih, hidung bangirnya, bibirnya yang merekah, serta rambutnya yang hitam berkilau, mampu membuat tiap mata yang memandang enggan berpaling.

Gadis melangkah pergi. Kaki kecilnya menuju pada
satu ruang perkuliahan. Hari ini tak ada kuliah. Gadis hanya sendiri di sana. Dia duduk pada salah satu bangku di ruangan itu. Jemari lentiknya lincah memainkan pena di atas kertas.

Tempatkan aku di hatimu
Satu sudut saja dari empat bilik jantungmu
Lalu gamit aku di jiwamu
Dengan penuh kasih selalu

Tempatkan aku di ingatanmu
Satu sel saja dari ribuan sarafmu
Kan kuwarnai harimu
Dengan wangi madu

Duhai tambatan hati . . .
Akankah kau mau mengerti
Suara kalbu yang terus menggema
Sampai sukma ini lepas dari raga

Dibukanya lagi lembar demi lembar buku diary itu. Di sana sudah tertulis ratusan bait puisi yang senada.

Kristal bening dari pelupuk matanya pecah dan
butiran-butiran itu jatuh ke bumi. Pemuda dambaannya datang.

“Kau kenapa?” tanya si pemuda cemas.
“Aku... aku... tidak apa-apa,” jawab gadis itu
gugup.

“Apa kau sakit? Wajahmu pucat,”
Gadis hanya menggeleng.

“Da, kita jadi pergi tidak?”
suara nyaring dari arah pintu itu sedikit membakar api cemburu dalam dada si gadis. Diperhatikannya pemilik suara itu dengan teliti. Rambutnya lurus terurai, matanya begitu bening, dan tubuhnya sangat indah.

“Sorry, Dis, aku pergi dulu ya....”
Pemuda dambaannya melangkah keluar bersama wanita yang baru saja menghampirinya, bunyi dua pasang sepatu itu terdengar buru-buru.

“Tadi siapamu?”
“Kakak ini apa-apaan sich” jawab si pemuda sedikit malu, tapi sang kakak berhasil menangkap kilau pelangi pada bola mata pemuda itu.

“Kamu itu cowok. Tapi sama cewek nyalinya ciut. Udah, ngaku aja... mbok ya kalau suka, ngomong. Kalau menurut Kakak sich dia cocok buat kamu.”
“Tapi, Kak, dia begitu anggun. Cewek seperti itu
pasti sudah punya pacar.”
“Sudah pernah nanya belum? Atau ngeliat dia jalan bareng cowok misalnya?”
Si pemuda menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
“Kamu itu cowok yang qualified untuk dijadikan
pacar. Tampan, pintar, kaya, baik hati lagi. Masih ngerasa kurang apa lagi sich?”

“Aku masih kurang berani, Kak....” Tapi suara itu hanya terucap di hati. Si pemuda tampak rapi hari ini. Celana panjang warna krem
serta kemeja biru magenta membalut tubuh atletisnya.

Wangi parfum maskulin tercium di sekitarnya.
Di kampus biru, seseorang yang dicarinya tak ada. Padahal pemuda itu ingin mengungkapkan segala isi hatinya. Dicarinya gadis tersebut ke kos-kosan.

Tok... tok... tok....
Tak ada jawaban. Sunyi. “Gadis, di mana kau?”
Diketuk lagi pintu itu. Tapi tetap saja hening.
Wanita setengah baya keluar dari rumah sebelah.
“Nyari siapa, Mas?”
“Itu, Bu, gadis yang tinggal di sini.”
“Oh, tadi pagi dia dibawa ke rumah sakit.”
Rumah sakit! Wajah pemuda itu berubah pias. “Gadis, kau
kenapa? Sejak minggu lalu kau terlihat pucat tapi aku tidak berbuat apa-apa. Maafkan aku, Dis....”
“Di rumah sakit mana Gadis dirawat, Bu?”
Setelah mendapat informasi dari wanita itu, si pemuda buru-buru membawa motornya membelah jalan menuju rumah sakit tempat gadis berada.
Di bangsal flamboyan itu tubuh Gadis terbaring lemah.
Wajahnya sewarna kapas. Selang infus menempel pada lengan kirinya. Sedang tangan kanannya menggenggam sebuah buku.
Pemuda itu mendekati si gadis. Digenggamnya
jemari indah itu. Terasa kaku dan dingin. Perasaannya tiba-tiba tak enak. Sepertinya ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Dis, bangun! Ini aku....”
Tapi tubuh yang dipanggilnya itu diam. Mungkin gadis tertidur. Dipanggil lagi nama itu lembut. Tetap tak ada reaksi. Ketakutan dan kecemasan kini bercampur menjadi satu, keringat dingin meleleh di badan, jantung pemuda itu berdegup amat kencang.

“Dok... Dokter...!!!” teriak si pemuda.
Dokter pun datang. Diperiksanya tubuh si gadis dengan beberapa alat medis.
Dan beberapa menit kemudian....

“Bagaimana, Dok?”

Dokter itu menggeleng, kemudian berucap, “Kami hanya berusaha. Tabahkan hatimu, Nak!”
Seperti ada petir yang menyambar. Hati pemuda itu teriris, kosong, dan terpukul. Matanya kini terasa panas. Tapi sekuat tenaga dibendungnya agar telaga – bening itu tidak tumpah.
.
4.5