UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Senin, 13 September 2010

Ajip Rosidi Sosok Sastrawan dan Budayawan Paripurna

Sosok Sastrawan dan Budayawan Paripurna

Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional.


Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya "pengultusan" terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global.


"Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa takabur," katanya.


Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia sastra, Rabu (28/5/03).


Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit memosisikan Ajip sebagai "orang langka" dengan kelebihan yang tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio Sastrowardoyo.


Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya, kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan tradisional.


Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti, Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda, Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama kali diluncurkan tahun 1988.


Ajip juga dikenal sebagai "juru bicara" yang fasih menyampaikan tentang Indonesia kepada dunia luar. Hal ini ia buktikan ketika bulan April 1981 ia dipercaya mengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Jepang, serta memberikan kuliah pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center.


Di Negeri Matahari Terbit itu, seminggu Ajip mengajar selama 18 jam dalam dua hari. Lima hari sisanya ia habiskan untuk membaca dan menulis. Ia mengaku, Jepang memberinya waktu menulis yang lebih banyak ketimbang Jakarta.


Maklum, ia tidak disibukkan mengurus kegiatan-kegiatan lain yang cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di Jepang.


Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan bacaan para dokter atau arsitektur.


Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia dini telah diperkenalkan dengan buku. "Anak kecil sejak umur dua hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku."


Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. " Harga majalah juga sama," katanya.
Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji. Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal.


Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa Jepang. "Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing, misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negara-negara asing," kata Ajip.
Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris.


Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshia-go Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun 1949.


Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60 mahasiswa di Tenri Daigaku.


"Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya Indonesia, dan Islam di Indonesia," kata Ajip. Beberapa muridnya kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.


Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang, perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat. "Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina," katanya Ajip.


Kendati telah menghabiskan sebagian hidupnya di negeri orang, Ajip tidak kehilangan pijakan pada kebudayaan daerah Indonesia. Hadiah Sastra Rancage yang lahir sejak tahun 1988 terus berjalan rutin setiap tahun.


"Saya mulai dengan serius, dan saya usahakan dengan serius. Ternyata banyak yang membantu. Orang mau membantu kalau (kegiatan yang dibantunya) dilaksanakan secara profesional," tuturnya mengenai ketaat-asasan Hadiah Sastra Rancage.


Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, Ajip menyimpan sebersit kekhawatiran mengenai nasib kebudayaan-kebudayaan daerah. Bagi dia, globalisasi lebih banyak mengorbankan budaya-budaya daerah. Hal ini terjadi karena serbuan budaya global sulit diimbangi kebudayaan daerah.
Budaya global didukung oleh modal kuat serta teknologi tinggi, sedangkan kebudayaan daerah hanya bisa bertahan secara tradisional karena tidak ada yang menyediakan modal. Menurut Ajip, hal itu merupakan suatu pertarungan yang tidak adil.


"Saya kira kita tidak mengharapkan bahwa (pemeliharaan kebudayaan daerah) itu harus dilakukan pemerintah. Pengalaman saya membuktikan bahwa tidak bisa mengharapkan pemerintah," ujar budayawan yang sudah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun.


Oleh karena itu, banyak sastrawan dan budayawan Indonesia menyambut dengan sukacita kedatangan Ajip ke Tanah Air. Ia pun telah merancang dengan sejumlah agenda menghidupkan kembali kebudayaan daerah agar tidak hanya mampu bertahan, melainkan juga bisa berkembang. Wujud konkretnya, antara lain dengan mendirikan Pusat Studi Sunda bersama para sastrawan dan budayawan Sunda pada hari Sabtu ini. Pusat Studi Sunda ini, salah satu programnya, akan menerbitkan jurnal ilmiah Sundalana.


Selain itu, Ajip masih tetap akan berkutat dengan kegiatan membaca dan menulis. Untuk itu, suami Hj Patimah ini pun berencana tinggal di Magelang, Jawa Tengah. "Saya berlindung kepada Allah, mudah-mudahan dijauhkan dari rasa takabur. Mudah-mudahan saya selalu diberi kesadaran bahwa apa yang saya lakukan hanyalah sebiji sawi."


Paripurna
Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional.
Pandangan para sastrawan tentang Ajip Rosidi ini terangkum dalam dialog yang bertema Meninjau Sosok dan Pemikiran Ajip Rosidi, yang digelar Rabu (28/5/03), di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran Bandung.


Dalam dialog yang berlangsung sekitar enam jam itu, tampil sebagai pembicara Abdullah Mustappa, Teddy AN Muhtadin, Ganjar Kurnia, Ignas Kleden, Faruk HT, serta Yus Rusyana. Selain itu, hadir pula beberapa sastrawan seperti Ramadhan KH, Sitor Situmorang, tokoh politik Deliar Noer serta puluhan mahasiswa dan pencinta sastra.


"Sunda menjadi menarik di tangan Pak Ajip karena bukan sesuatu yang baku," ujar pengamat sastra dari Universitas Gadjah Mada, Dr Faruk HT. Menurut dia, Ajip Rosidi mengalami polarisasi politik dan kultural sepanjang hidupnya. Faruk menganggap polarisasi politik dan kultural tersebut membuat karya-karya Ajip Rosidi terasa kaya makna, kritis, serta tidak terjebak hanya pada satu budaya dan ideologi.
Dia mencontohkan, ketika Ajip dielu-elukan sebagai orang yang berjasa dan terhormat dalam kehidupan sastra Sunda, Ajip justru menengok sastra Jawa dan sastra daerah lain. "Sulit mencari orang seperti Ajip dalam dunia sastra Indonesia," kata Faruk.


Sementara itu, menurut Direktur Pusat Pengkajian Indonesia Timur (PPIT) atau Center for East Indonesian Affairs (CEIA) Dr Ignas Kleden, Ajip merupakan tokoh penting dalam sastra Indonesia. Ajip, kata Kleden, tidak hanya memainkan peranan luas dalam kesusastraan saja, namun juga meninggalkan banyak jejak langkah dalam perkembangan kebudayaan daerah dan kebudayaan Indonesia.


"Sumbangan sastra dan kebudayaan Sunda kepada sastra dan kebudayaan Indonesia diwujudkan melalui penulisan kembali dalam bahasa Indonesia cerita-cerita sastra daerah," kata Kleden.


Sedangkan peneliti dari Pusat Dinamika Pembangunan Unpad, Dr Ganjar Kurnia, memandang sosok Ajip sebagai orang Sunda modern. Hal itu dapat dilihat dari perhatiannya terhadap sastra Sunda. Ganjar menilai Ajip memiliki perhatian sepenuhnya untuk melestarikan budaya Sunda, namun dia juga tidak melepaskan keindonesiaannya.


"Ajip Rosidi bukan orang yang etnocentris, provinsialis, atau sukuisme dalam arti sempit," kata Ganjar. Dia menambahkan, Ajip juga telah membawa budaya bangsa sampai kepada tingkat internasional. Selain itu, Ajip juga dinilai sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah kesundaan sehingga dapat dianggap sebagai "arsip hidup" paling lengkap.


"Dapatkah kita memiliki Ajip-Ajip yang lain di masa mendatang?" kata Faruk, di akhir ceramahnya.
Perkataan Faruk tersebut ternyata ditanggapi dengan kekhawatiran oleh Ajip Rosidi. Menurut Ajip, dia khawatir masyarakat akan mengultuskan dirinya. Padahal, kata Ajip, dia sangat tidak suka dipuji, apalagi dikultuskan. "Saya lebih suka dikritik daripada dipuji," kata Ajip.

Sastra "Rancage" dan Sastra Daerah
Hadiah Sastra "Rancage" sudah berlangsung sejak 1989. Semula Hadiah Sastra tahunan ini khusus untuk pengarang dalam sastra Sunda, namun mulai tahun 1994 diberikan juga kepada pengarang sastra Jawa. Empat tahun kemudian, 1998, Hadiah Sastra "Rancage" juga diperuntukkan bagi pengarang sastra Bali. Sejak itu, setiap tahun Yayasan Kebudayaan "Rancage" yang diketuai Ajip Rosidi selaku pemberi Hadiah Sastra "Rancage" menyediakan dua hadiah untuk setiap daerah tersebut, yakni satu untuk "karya sastra" dan satu lagi untuk kategori mereka yang ber-"jasa".


Seluruh suku bangsa di Indonesia saat ini merasa bahwa hidup matinya sastra daerah menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. Padahal sesungguhnya perkembangan sastra daerah menjadi tanggung jawab nasional yang harus dihadapi secara nasional pula.


"Pengembangan sastra dan bahasa daerah seakan-akan diserahkan kepada suku bangsa pemiliknya begitu saja, pemerintah seperti tak mau tahu," ujar sastrawan Ajip Rosidi, di Denpasar. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu berada di Bali dalam rangka menyerahkan Hadiah Sastra Rancage 1999 kepada para sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali.


Ajip Rosidi merasa prihatin atas keberadaan sastra dan bahasa daerah di Indonesia sekarang ini. Pemerintah nyaris tak memberi perhatian yang mamadai terhadap kehidupan sastra-sastra daerah tersebut. Padahal menurut konstitusi, hal itu termasuk tanggung jawab pemerintah.


"Masalah yang dihadapi daerah di mana-mana sama, masalah pendidikan dan penerbitan buku-buku," ujar Ajip Rosidi. Pada tahun 1998 lalu, terbit enam judul buku berbahasa Sunda, dua bahasa Jawa, dan tiga bahasa Bali.


*** Ensiklopedi Tokoh Indonesia, dari berbagai sumber terutama Kompas 31 dan 29 Mei 2003

Farewell WS Rendra, Poet, Playwright and Father of Indonesian Theater

Obituary: Farewell WS Rendra, Poet, Playwright and Father of Indonesian Theater

Bramantyo Prijosusilo | August 07, 2009


Poet, writer, dramatist, cultural activist and theater director, WS Rendra, died on Thursday night, approaching the age of 74, after battling heart and kidney problems for around a month. Indonesia has lost one of its most talented artists.

Rendra rose to fame as a poet in the 1950’s and remained the most influential poet in the country until his death. He is also credited as the man who brought modern Indonesian theater to its maturity through his experimental works with Bengkel Teater (Theater Workshop), which he founded in 1968. Before Rendra and his Bengkel Teater, modern Indonesian theater was simply a copy of that in the West, but Rendra brought traditional expressions into a modern context.

Born to a Roman Catholic family and baptized as Willibrordus Surendra Broto, he changed his name to Wahyu Sulaiman Rendra when he embraced Islam in 1970 on his second marriage to Sitoresmi Prabunigrat from the Yogyakarta palace. Rendra leaves behind eleven children from three marriages.

During the repressive New Order era, Rendra was one of the few creative people in this country who had the courage to express dissent. When the novelist Pramoedya Ananta Toer was returned from Indonesia’s gulag — the prison island of Buru — he said Rendra was “one man who has the courage to resist the power of Suharto, under his own name. If you cannot respect that, you should learn to.”

Rendra’s plays and poetry during the Suharto era were very critical of the ideology of development and his performances as a poet or with Bengkel Teater were often banned.

“I learned meditation and disciplines of the traditional Javanese poet from my mother who was a palace dancer. The idea of the Javanese poet is to be a guardian of the spirit of the nation,” Rendra once said. Because of his poetry readings and his sexy performances on the stage, he was dubbed “the Peacock” by the press.

In 1979, during a poetry reading critical of development in the Ismail Marzuki art center in Jakarta, Suharto’s military intelligence agents threw ammonia bombs on to the stage and arrested him. He was imprisoned in the notorious Guntur military prison for nine months, spending time in solitary confinement in a cell with a ceiling too low to stand up and only mosquitoes for company. When he was released, without ever having being charged, his body was covered with sores from mosquito bites.

His experience in Guntur prison inspired him to write the short poem: “Thunder beats and hammers/ Life is forged on stone/ Harsh thunder is my teacher / The sun always shines” and also the ballad “Paman Doblang” (“Uncle Doblang”), which was later set to music by the rock band Kantata Takwa. The ballad tells the story of Uncle Doblang, who is sent to a dark cell for voicing his conscience, and ends with the lines: “Conscience is the sun/ patience is the earth/ courage forms horizons/ and struggle is the implementation of words.”

After he was released from prison he was banned from performing poetry or drama until 1986, when he wrote, directed and starred in his eight hour long play “Panembahan Reso,” which discussed the issue of the succession of power that was a taboo at that time. Before the performance at the Senayan sports center, he told his cast of 40-something actors: “Pack your toiletries, because there is a chance that we might get arrested.” The play took six months to prepare and was performed for two nights. “Modern Indonesian theater has no infrastructure. We must create it ourselves,” he used to tell his performers.

Rendra studied at the American Academy of Dramatic Arts, the same school as Marlon Brando, but when he graduated, he chose to return to Indonesia and in 1968 founded Bengkel Teater in Yogyakarta. The group quickly fascinated audiences with works that were artistically experimental and politically critical.

In 1969 he created a series of dramas without any dialog where actors employed their bodies and simple sounds such as bip bop, zzzzz and rambate rate rata. The journalist poet Goenawan Mohamad dubbed these experimental performances as “mini-word theatre.” During the 1970’s, his plays such as “Mastodon and the Condors” and “The Struggle of the Naga Tribe” and “The Regional Secretary” were often banned because they openly criticized Suharto’s development programs that often alienated indigenous people and tended to side with multinational corporations.

Rendra was also a great admirer of Shakespeare and Bertolt Brecht, and he translated and performed Hamlet and Macbeth. A keen student of the traditional Indonesian martial art pencak silat, Rendra always looked a lot younger than his age and he played Hamlet when he was well into his sixties.

He translated and performed Brecht’s “Caucasian Chalk Circle,” as well as Sophocles’ Oedipus trilogy. In the process of embracing Islam, he translated and directed the traditional Islamic poems telling of the life of the prophet Muhammad, in his play comprising drums and poetry, “Qasidah Barjanzi.” His works have been translated into many languages and performed all over the world.

Rendra, who was born in Solo on Nov. 7, 1935, will be missed by creative communities all over Indonesia. He was a dedicated mentor who was always willing to help younger artists. He will be remembered for many things, especially by members of his Bengkel Teater. For them, he was a dear friend, a teacher and a father figure.

Bramantyo Prijosusilo is an artist, poet and organic farmer in Ngawi, East Java. He was a student of WS Rendra at Bengkel Teater.

www.thejakartaglobe.com

Renungan Indah W.S. Rendra

Renungan Indah W.S. Rendra

Jum'at, 07 Agustus 2009 | 07:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku???

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???...

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… “ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”


Renungan Indah
WS Rendra



Willibrordus Surendra Btoto, lebih akrab dipanggil Rendra atau WS Rendra, meninggal tadi malam. Semoga amal baiknya diterima Tuhan Yang Maha Esa. Banyak handai tolan merasa kehilangan budayawan dan penyair kondang itu.

Rendra kecil dilahirkan dari bibit seniman, kedua orangtuanya menekuni tari dan drama. Ketika memeluk Islam, nama panjangnya berganti Wahyu Sulaiman Rendra. Julukannya tetap WS Rendra. 'Si Burung Merak' itu pulang ke pangkuan Pemilik dirinya.

Lahir: Solo, Jawa Tengah, 9 November 1935
Ayah : R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo (seniman dan guru di Solo)
Ibu: Raden Ayu Catharina Ismadillah (penari keraton Surakarta)

Keluarga:
Menikah tiga kali:
-Istri pertama Sunarti Suwandi (cerai 1981) punya lima orang anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta.
-Istri kedua Bendoro Ayu Sitoresmi Prabuningrat (cerai 1979) punya empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
-Istri ketiga Ken Zuraida punya dua orang anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Keyakinan:
- Dari kecil hingga usia 35 tahun memeluk Katolik
- Mulai 12 Agustus 1970 masuk Islam, saat menikahi Sitoresmi.

Pendidikan:
-SR Santo Yosef, Solo (1948)
-SMP Santo Yosef, Solo (1951)
-SMA Santo Yosef, Solo (1954)
- Fakultas Santra Universitas Gadjah Mada
- Sekolah drama dan tari di Amerika
- Mendapat biasiswa American Academy of Dramatical Art

Karya dan Penghargaan:

- Kaki Palsu, drama pertamanya yang dipentaskan sewaktu SMP.
- Orang-Orang di Tikungan Jalan, drama pertamanya mendapat penghargaan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta.
- Hadiah Sastra Nasional (1956)
- Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1970)
- Anugerah Akademi Jakarta (1975)
- Penghargaan Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
- Penghargaan Adam Malik (1989)
- The S.E.A. Write Award (1996)
- Penghargaan Achmad Bakri (2006)
- Karya puisi dan syairnya diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Jerman, Belanda, dan Jepang.
- Karya itu seperti Blues untuk Bonnie, Pamphleten van een Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, dan Mencari Bapak.
- Pernah ditahan gara-gara mementaskan dramanya yang berjudul SEKDA pada 1977.
- Drama Mastodon dan Burung Kondor dilarang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

ELIK / dari berbagai sumber

Kepiawaian Ws Rendra Si Burung Merak

W.S. Rendra (1935-2009)

Kepiawaian Si Burung Merak


Sastrawan WS Rendra meninggal dunia di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis 6 Agustus 2009 pukul 22.10. Ia menderita penyakit jantung koroner. Dimakamkan setelah shalat Jumat 7 Agustus 2009 di TPU Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok.

Sebelumnya, ia dirawat di Rumah Sakit Cinere sejak 25 Juni. Namun, karena kondisinya tak kunjung membaik, Rendra lalu dirujuk dirawat di RS Harapan Kita di Jakarta Barat, sebelum akhirnya ke RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading.

***

Meski usianya 70-an tahun, kepak sayap si penyair berjuluk "Si Burung Merak" ini masih kuat dan tangkas. Suaranya masih lantang dan sangatlah mahir memainkan irama serta tempo. Kepiawaian pendiri Bengkel Teater, Yogyakarta, ini membacakan sajak serta melakonkan seseorang tokoh dalam dramanya membuatnya menjadi seorang bintang panggung yang dikenal oleh seluruh anak negeri hingga ke mancanegara.

WS Rendra mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Menekuni dunia sastra baginya memang bukanlah sesuatu yang kebetulan namun sudah menjadi cita-cita dan niatnya sejak dini. Hal tersebut dibuktikan ketika ia bertekad masuk ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada selepas menamatkan sekolahnya di SMA St.Josef, Solo. Setelah mendapat gelar Sarjana Muda, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di American Academy of Dramatical Art, New York, USA.

Sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tersebut, ia telah giat menulis cerpen dan essei di berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Di kemudian hari ia juga menulis puisi dan naskah drama. Sebelum berangkat ke Amerika, ia telah banyak menulis sajak maupun drama di antaranya, kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta serta Empat Kumpulan Sajak yang sangat digemari pembaca pada jaman tersebut. Bahkan salah satu drama hasil karyanya yang berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) berhasil mendapat penghargaan/hadiah dari Departemen P & K Yogyakarta.

Sekembalinya dari Amerika pada tahun 1967, pria tinggi besar berambut gondrong dengan suara khas ini mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Memimpin Bengkel Teater, menulis naskah, menyutradarai, dan memerankannya, dilakukannya dengan sangat baik.

Karya-karyanya yang berbau protes pada masa aksi para mahasiswa sangat aktif di tahun 1978, membuat pria bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra, ini pernah ditahan oleh pemerintah berkuasa saat itu. Demikian juga pementasannya, ketika itu tidak jarang dilarang dipentaskan. Seperti dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

Di samping karya berbau protes, dramawan kelahiran Solo, Nopember 1953, ini juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah seperti puisinya yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya.

Banyak lagi karya-karyanya yang sangat terkenal, seperti Blues untuk Bonnie, Pamphleten van een Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, Mencari Bapak. Bahkan di antara sajak-sajaknya ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Demikian juga naskah drama karyanya banyak yang telah dipentaskan, seperti Oedipus Rex, Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan lain sebagainya.

Sajaknya yang berjudul Mencari Bapak, pernah dibacakannya pada acara Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta. Ketika itu penampilannya mendapat perhatian dan sambutan yang sangat hangat dari para undangan. Demikianlah salah satu contohnya ia secara langsung telah berjasa memperkenalkan sastra Indonesia ke mata dunia internasional.

Beberapa waktu lalu, ia turut serta dalam acara penutupan Festival Ampel Internasional 2004 yang berlangsung di halaman Masjid Al Akbar, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 22 Juli 2004. Dalam acara itu, ia menyuguhkan dua puisi balada yang berkisah tentang penderitaan wanita di daerah konflik berjudul Jangan Takut Ibu dan kegalauan penyair terhadap sistem demokrasi dan pemerintahan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, lelaki yang akrab dipanggil Willy ini didampingi pengusaha Setiawan Djody membacakan puisi berjudul Menang karya Susilo Bambang Yudhoyono.

Prestasinya di dunia sastra dan drama selama ini juga telah ditunjukkan lewat banyaknya penghargaan yang telah diterimanya, seperti Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1957, Anugerah Seni dari Departemen P & K pada tahun 1969, Hadiah Seni dari Akademi Jakarta pada tahun 1975, dan lain sebagainya.

Menyinggung mengenai teori harmoni berkeseniannya, ia mengatakan bahwa mise en scene tak lebih sebagai elemen lain yang tidak bisa berdiri sendiri, dalam arti ia masih terikat oleh kepentingan harmoni dalam pertemuannya dengan elemen-elemen lain. Lebih jelasnya ia mengatakan, bahwa ia tidak memiliki kredo seni, yang ada adalah kredo kehidupan yaitu kredo yang berdasarkan filsafat keseniannya yang mengabdi kepada kebebasan, kejujuran dan harmoni.

Itulah Rendra, si bintang panggung yang selalu memukau para penontonnya setiap kali membaca sajaknya maupun melakoni dramanya. ►atur-juka

======================

Rendra dan Ajaran Kepedulian

DAHONO FITRIANTO

"Dengan rasa hormat dan perasaan yang tulus, saya ucapkan terima kasih kepada Freedom Institute dan Keluarga Bakrie, yang dengan khidmat meneruskan cita-cita dan laku kebajikan almarhum Bapak Achmad Bakrie. Selanjutnya, saya juga mengucapkan simpati yang dalam kepada Keluarga Bakrie yang lagi terlanda musibah karena, tanpa diketahuinya, telah terseret dalam kemelut yang diciptakan oleh PT Lapindo Brantas, yang telah melakukan kesalahan fatal di dalam operasi eksplorasi yang mengakibatkan banjir lumpur di Jawa Timur."

Itulah kutipan pidato yang disampaikan Rendra sesaat setelah menerima penghargaan Achmad Bakrie Award 2006 untuk Kesusastraan di Hotel Nikko Jakarta, Jakarta, Senin (14/8) malam. Selain Rendra, dua tokoh lainnya juga menerima penghargaan dan hadiah uang yang jumlahnya sama, Rp 100 juta, yakni Arief Budiman untuk kategori Pemikiran Sosial dan Iskandar Wahidiyat untuk kategori Kedokteran.

Pidato tersebut berbeda dengan naskah pidato resmi Rendra yang dicetak pada booklet acara malam itu, dan tentu saja membuat kaget seluruh hadirin. Bermacam-macam reaksi mengiringi kekagetan itu, ada yang tertawa ngakak, ada yang bertepuk tangan, tetapi ada juga yang diam saja.

Bukan Rendra apabila dia tidak nakal dan aktual. Sebuah pidato penerimaan penghargaan yang seharusnya resmi dibacakan dengan gaya membaca puisi-puisinya—suara menggelegar dan intonasi khusus pada kata- kata tertentu yang membuat orang tercekat. Isinya pun nakal, menyentil langsung sang pemberi penghargaan yang kebetulan adalah salah satu pemilik perusahaan penyebab tragedi banjir lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur, itu.

Semua orang tahu bencana itu adalah masalah besar paling aktual yang terjadi di dalam negeri saat ini. "Tiga desa telah tenggelam dan tidak bisa dihuni lagi. Lima belas pabrik yang mempekerjakan 1.736 karyawan terpaksa tutup dan menimbulkan masalah sosial ekonomi. Delta Sungai Brantas yang subur, yang proses pembentukannya berabad-abad melebihi usia peradaban manusia, hancur tertimbun lumpur untuk selamalamanya," papar Rendra puitis.

Sentilan terhadap kelambanan penanganan tragedi yang dramatis tersebut dilakukan dengan halus dalam bentuk harapan. "Tetap saya yakin bahwa Keluarga Bakrie tidak akan berpangku tangan dalam hal ini. Keluarga Bakrie pasti akan mengerahkan segenap usaha untuk bertanggung jawab atas kecerobohan pekerja dan orang-orang di PT Lapindo Brantas." Kata "pasti" diucapkan Rendra dengan penekanan dan suara menggelegar.

Itulah Rendra, penyair, sastrawan, aktor, dan sutradara teater kelahiran Solo, 7 November 1935. Dalam keterangan resmi Freedom Institute sebagai lembaga yang menyeleksi dan memutuskan penerima penghargaan ini, disebutkan bahwa Rendra terpilih sebagai penerima Achmad Bakrie Award 2006 karena dia telah menunjukkan jalan lain perpuisian Indonesia.

Rendra disebut telah membuat sebuah pengecualian dalam arus utama perpuisian Indonesia modern yang didominasi sajak-sajak liris. Puisi Rendra adalah puisi yang naratif, berkisah, dan menggali segi-segi yang terabaikan oleh dunia persajakan Indonesia. "Membuat ia menempati posisi yang begitu unik, hampir seperti satuan tersendiri, dalam ranah sastra Indonesia," demikian penggalan bunyi pernyataan tersebut.

Kepedulian terhadap dunia sekitarnya terekam dalam karya-karya Rendra. Simak beberapa karya besarnya, seperti puisi Sajak Sebatang Lisong (1978), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), dan Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta! (1970-an) atau karya-karya pementasan teater seperti Perjuangan Suku Naga (1975) dan Panembahan Reso (1986), sarat berisi kritik sosial terhadap berbagai hal yang terjadi di masyarakat pada waktu itu—yang kadang masih tetap relevan sampai sekarang.

Tumbuhnya kesadaran

Dalam pidato tertulis penerimaan Achmad Bakrie Award 2006, yang seharusnya ia bacakan, Rendra menuturkan, kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan di sekitarnya pertama kali dikenalkan kepada dirinya oleh seseorang bernama Janadi. "Mas Janadi menjadi guru pribadi saya sejak saya berumur 4,5 tahun," tutur penyair bernama asli Willybrordus Surendra Broto Rendra, mengenang masa kecilnya di Solo, Jawa Tengah.

Pelajaran yang diberikan Mas Janadi dirumuskan dalam kalimat "Manjing ing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi" yang artinya kurang lebih: "masuk ke dalam kontekstualitas, meraih kehendak Allah". "Masuk dalam kontekstualitas itu bekalnya rewes (kepedulian) dan sih katresnan (cinta kasih)," papar pria yang akrab dipanggil Willy ini.

Rendra juga diajarkan untuk menyadari landasan hubungan antarmanusia dalam konteks emansipasi individu yang digambarkan dalam kalimat "ananingsun marganira, ananira marganingsun" (aku ada karena kamu, kamu ada karena aku). Kalimat itu juga yang ia kutip malam itu untuk mengkritik Freedom Institute yang mendukung sistem perdagangan bebas.

"Emansipasi individu yang peduli akan kesetaraan hak hukum, hak sosial, dan hak politik antarsesama manusia harus dengan kesadaran bahwa kekuasaan modal, distribusi, dan energi, tidak boleh dimonopoli oleh satu pihak dengan kebebasan yang romantis dan cengeng. Sebab, itu akan mengganggu kemaslahatan orang banyak." (Kompas, Rabu, 16 Agustus 2006)

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

WS Rendra Meninggal Dunia

WS Rendra Meninggal Dunia
Moksa Hutasoit - detikNews

Jakarta
- Setelah sempat sakit-sakitan, akhirnya penyair WS Rendra (75 tahun) meninggal dunia. Budayawan tersebut meninggal setelah sempat keluar dari RS yang merawatnya. Rendra meninggal pada Kamis (6/8/2009) pukul 22.10 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

"Betul (meninggal dunia), tapi saya nggak bisa jawab apa-apa yah, mohon maaf, tanya ke yang lain saja" jawab salah satu putri Rendra, Mariam, saat dihubungi detikcom, Kamis (6/8/2009).

Gara-gara sakit, Rendra tidak bisa menghadiri prosesi pemakaman sahabat karibnya, Mbah Surip di Makam Bengkel Teater, miliknya, Selasa (4/8/2009) lalu.

Penyair bersuara serak ini sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading. Rendra masuk rumah sakit akibat jantung koroner yang dia alami.

Sebelumnya pria kelahiran Solo tahun 1935 itu sempat dirawat di RS Cinere sejak Kamis, 25 Juni. Namun karena kondisinya tidak membaik, Rendra lantas dirujuk ke RS Harapan Kita, lalu dirujuk lagi ke RS Mitra Keluarga.

Rendra sebenarnta sudah meninggalkan rumah sakit hanya beberapa saat setelah Mbah Surip meninggal dunia. Rendra bahkan sempat mengizinkan Mbah Surip dimakamkan di komplek pemakaman Bengkel Teater di Citayam, Depok.

Willibrordus Surendra Broto Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Pada perkembangannya Bengkel Teater dipindahkan Rendra di Depok. (mok/mok)

Sumber : DetikNews.com

Ernest Rutherford, Fisikawan Selandia Baru


Ernest Rutherford, 1st Baron Rutherford of Nelson (1871-1937) adalah seorang fisikawan kelahiran Selandia Baru yang bekerja sama meneliti atom dengan J.J. Thomson di Universitas Cambridge.

Rutherford berhasil menangkap adanya nukleus di dalam atom. Dengan dukungan dari Frederick Soddy, ia mengemukakan bahwa radioaktivitas berasal dari peluruhan atom-atom. Ia adalah orang pertama yang berhasil melakukan pembelahan atom di dalam laboratorium. Atas penelitiannya pada berbagai tipe radiasi, ia dinobatkan sebagai peraih hadiah Nobel Kimia pada tahun 1908.

Hasil penelitiannya tentang model atom rutherford dapat dilihat disini.


sumber: id.wikipedia

Gerimis Pagi Ini | Puisi Tentang Hujan Gerimis

Gerimis Pagi Ini
Korrie Layun Rampan

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis zaman
Ketika sekawanan burung luka
Mencakar tangkai jantung derita

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis insani
Karena rahang-rahang kemerdekaan
Disekap moncong-moncong pertikaian
Dan tersumpal luka yang tak kunjung tersembuhkan

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis kita
Karena di tengah kelu dan borok dunia
Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh cinta

1974

Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"

Tag : Chairil Anwar, Kahlil Gibran Puisi, Ajip Rosidi, Puisi Penantian

Share