Di tengah HujanAdi NugrohoTubuhnya basah, kuyup dikukup hujan. Dan di seberang, seorang wanita masih berdiri pada tepian jalan. Tampak suntuk terkantuk, matanya sayu seperti pilas, dibelai angin dingin malam kota. Adakah yang dinanti? Rambutnya yang melambai, kisut awutawut disapuh buih. Wajahnya tampak sedih. Bagai menahan perih lukadukaHendak kemana ia? Rendarenda pakaian gugur dilipur. Seakan hujan adalah atap ketenangan. Seakan hujan, mereda kemarahan. Ia Menarinari tanpa ragu dalam ketukrintik hujan. Dari lalulalang lelah sampai kota basah, tak ada lagi yang bisa menyapanya. Sungguh penuh tanya, adakah rindu semadu menunggu hujan reda. Bila tak ada yang dirindukan, haruskah mencintai hujan. Berdiam diri hirau disapu hujan yang suaranya kian sengau. Senarai wajahnya yang lunglai menjadi jawab, hujan adalah kepasrahan. Hujan tak perlu dicintai, tapi menjadi milik orangoorang yang kadung disekap rindu. saat airmata mengucur, carilah hujan yang siap berbagi kerapuhan.Wanita itu masih kaku, dan semakin lugu di basah kota, yang lekang dari lalulalang. Kau memang sendiri, tapi pada hujan kau bisa dapatkan hilang sepi. Begitu mungkin pikirmu, dari kebas tanganmu yang mengembang. Wajahmu tengadah pasrah pada awan. Berharap hujan terus datang. Bahwa hidup boleh hampa, tapi pada hujan kau meramu rasa. Kau mengembang senyum juga, dari rimbun bulir air. Kemana lagi harus merindu, saat tak ada yang ditunggu, kecuali pada hujan. Meskikah mengutuk hujan, bila rintikrintiknya melantunkan lagu kerinduan. Dan hujan tanpa kenangan, adalah sepi paling tepi.Wanita itu pun hilang bersama hujan.Pada genang jalan, senyummu mengembang tenang.Penulis saat ini bergiat di Komunitas Langit Sastra dan Pendiri AADT. Bisa dihubungi @ijonkmuhammad dan ijonkmuhammad.tumblr.com. Tulisannya banyak dimuat media massa. Buku pertamanya saat ini berjudul “Belajar Merawat Indonesia”.
Tampilkan postingan dengan label Tema Hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Hujan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Februari 2013
Puisi Di tengah Hujan | Adi Nugroho
Sabtu, 26 Januari 2013
Puisi Tentang Hujan "Turun Hujan Tiada Henti" | Daman Surachman
HUJANDaman Surachmanhari ini tak ada senjasebab hujan menggilabagai beling kacajatuh diatas gentingdan bumi hadapkujadi purbajadi hutan rimbajadi hewan dan jadi mutiaradan suaraberwarna seribu iramadan malam-malam gluduk bertalu-talujadi cerita keluargaku di pagi butahari ini tak ada pagi jugatak ada senyum mentaritak adasebab hujan terus menggilahanya tahu itu senja itu pagi jam yang bicaradan kita tak usah kecewasebab Allah menunjukkan kekuasaanNyasebab Allah menunjukkan keberkahanNyahari iniair membumibanjir menantikita diuji untuk berhatiKemayoran,Jan 2013
Selasa, 01 Januari 2013
Puisi Cerita Hujan | Daman surachman
CERITA HUJANDaman surachmanHujan bercerita padaku.Betapa sedih melihatku kesepian menunggu bulan purnama dan kerling matamu yang syahdu. Makanya malam-malam ia singgah menemuiku, menyentuh atap dan jendela dan ia mengalir berpendar dan bercerita padaku tentang rindu pada dunia karena Allah semata.Mengapa kau bercerita saja hujan. Mengapa kau bersedih melihatku? Gerakan saja hatinya dan rindukan padaku.Ah, tak usah takut, kata hujan. Itu hanya menunggu waktu dan kesempatan. Hujan terus mendendangkan lagunya, sampai ke kalbu, dalam sangat dalam, sampai mataku terpejam. Tes,tes,tes…Penang, Juli 2003
Jumat, 28 Desember 2012
Puisi Mengenang Hujan | Agus Dwi Rusmianto
Mengenang Hujan: Pameta FilsabilaAgus Dwi Rusmiantohujan ituadalah ungkapan gerahsepanjang malioboro yang gelisahsebab ribuan kata dipalsukan imajinasi diampada lajur-lajur waktuberjalan cepat sehari sebelumnyahujan ituadalah Vredeburgditinggal peradaban menuju senjasementara di kepala pasar malam mulai menjalarberkoartawar menawarhujan ituadalah teh manis pinggir jalan;sebuah ruang perawan kesepian. mungkinlantas mengunyah jarakkilometer empat belas menuju puncakhujan ituadalah satu-satunya suaraberkejaran meniriskan usiapada jalan lengang tanpa tianghujan itusama-sama mengaduhserupa basah membuat teduhSleman, 12 - 13 Desember 2011http://oase.kompas.com/read/2012/09/04/22152173/Puisi-puisi.AD.Rusmianto
Puisi Fragmen Hujan | Putu Gede Pradipta
Fragmen HujanPutu Gede PradiptaSayu mata hujandikawal gerimismenembus kabutmenuju rerimbunrambut hitam itu.Seorang perempuanmembuka perlahanpayung hitamnyahendak berlindungdari kuyup hujanyang kian berusahamulai mengurung.2012http://oase.kompas.com/read/2012/07/27/22222431/Puisi-puisi.Putu.Gede.Pradipta
Sabtu, 22 Desember 2012
Puisi Elegi Hujan | Ebed JA
ELIGI HUJANEbed JAIbu hujan telah melahirkan anak hujanIbu hujan kembali mengandung anak hujanUsianya satu jam sembilan bulanDan siap menghujam jadi anak hujanMenenggelamkan mimpi seharianMelepas ikan ikan para nelayanSebab lautan tengah bernama badaiKemarin telah aku saksikanIbu hujan melahirkan anak hujan yang kembar siamHingga ibu hujan meninggal ditepian malam yang kelamNamun masih saja kusaksikan anak hujan berkeliaranWajahnya seamsal bulanYang tanggal di rerimbun hutanDan anak hujan menjerit ketakutanSebab ibu hujan belum meninnggalIbu hujan hanya menjemput keluarga hujanDi dermaga hujan281112
Jumat, 07 Desember 2012
Puisi Dalam Hujan | Bunyamin F Syarifudin
sumber gbr : fantasyartdesign.com Dalam HujanBunyamin F. Syarifudindalam Hujan, ku pasrahkan doa-doabersama riciknya yang mengalir ke selokan,ke sawah-sawah, lalu ke tempat-tempat yang menanti basahmungkin besok; padi-padi dan bunga-bungaserta cakrawala akan merekahakan mengibaskan sayap-sayapnya pada cuaca yang mengabutdalam Hujan, yang tetap terisak,ku pasrahkan segalanyapada yang Tak TerhinggaHu!2010http://www.pikiran-rakyat.com/node/144117?page=1
Jumat, 23 November 2012
Puisi Pendek Menyambut Hujan | Sobih Adnan
MENYAMBUT HUJANSobih AdnanBersiaplah;Segala haru kenangan akan lantang bercerita,Di mulai dari basah tanah pertama, yang dihembuskan udara.2012http://oase.kompas.com/read/2012/10/06/21185410/Puisi-puisi.Sobih.Adnan
Sabtu, 14 Mei 2011
Sabtu, 23 April 2011
Puisi Musim Hujan Tumbuh | Dody Kristianto
Musim Hujan Tumbuh
Puisi Dody Kristianto
musim hujan tumbuh
di atas kepalamu
bintang-bintang luka
dan hilang
kehendak daun lanjut usia
gugur
jatuh pada kerekahan
tanah resah
segera, mimpi akan berakhir
bagai bulan sabit mengawang
sepanjang gigil musim
sungaisungai akan terbelah
melayari duka yang tumbuh
dari setiap ayunan gerimis
di helai rambutmu
2009
Selasa, 29 Maret 2011
Senin, 14 Maret 2011
Puisi Bertema Hujan | Hujan Di Cengkareng
Hujan Di Cengkareng
Mariana Lewier P.
Hujan menikam bumi
pada aspal dan lampu bandara Cengkareng
senja ini
kuyup
seorang wanita asyik dengan bacaan
dan syal yang melilit leher
memanjang pada blus putihnya
dari jendela kaca Eva Airways
langit terlihat kelabu
sementara musik klasik terus mendengung,
penerbangan ini (akan segera) menerpa gerimis
tak ada yang menahan
wan kelabu bertabrakan
berlomba menyiram hujan (getar cair)
menggigiti angin
langit pun menahan kata
Aku belum lagi mengulum
(kepenuhan) hujan di Cengkareng
ketika pesawat telah mengangkasa
dan meninggalkan kekelabuan
berganti kecerahan biru
angkasa senja
Jkt 22 Nov-Taipei 23 Nov.2003
Jumat, 18 Februari 2011
Kendati Hujan Gerimis | Puisi Hujan Gerimis
Kendati Hujan Gerimis
Arsyad Indradi
: r.sehan.w
kendati hujan gerimis
membenahi senja
kau masih juga memandang
lewat kaca jendela
mengeja bayangbayang
tapi tahukah kau
bahwa sungai telah merisalahkan
rumahrumah lanting
dalam sempurnanya senja
sebab gerimis mengekalkan
luruhnya cakrawala
pada sebuah pandang mata
maka tutuplah jendela
sungai dalam dirimu
akan mulai pasangpindua
Banjarmasin, 1972
Sabtu, 05 Februari 2011
Suatu Sore di Antara Sisa Gerimis
Suatu Sore di Antara Sisa Gerimis
Hardho Sayoko SPB
Bocah-bocah kecil berlarian dikejar bayangnya
yang tak juga lelah meski genangan air
dan lumpur berulangkali menyergapnya
masih saja digulung canda
Mimpi apa saat bianglala sandar di kaki langit?
setelah layang-layang tinggal kerangka di kawat telepon
yang sudah tidak sanggup lagi menari-nari
setiap angin dengan beringas melepas syahwatnya
Bocah-bocah kecil berlarian dikejar bayangnya
yang tak juga lelah meski genangan air
dan lumpur berulangkali menyergapnya
masih saja digulung canda
Kedunggalar, 3 Juni 2008
Kamis, 03 Februari 2011
Hujan Februari | Puisi Tentang Hujan Bulan Februari
Hujan Februari
Alex R. Nainggolan
hujan februari mengusik nyali langit hitam angin bergulung
aku menggambar mimpi mungkin masih ada tempat singgah
teduh dari hujan yang penuh raung
hujan februari
menyemai takuttak bisa kuriangkan hati
untuk sembunyi dari kalut
nyatanya air begitu semaput
membuat kulit kaki keriput
dingin yang tak bisa jadi selimut
sampai tubuh mengkerut
semoga bukan sengkarut!
Jakarta, 1 Februari 2008
Senin, 13 September 2010
Gerimis Pagi Ini | Puisi Tentang Hujan Gerimis
Gerimis Pagi Ini
Korrie Layun Rampan
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis zaman
Ketika sekawanan burung luka
Mencakar tangkai jantung derita
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis insani
Karena rahang-rahang kemerdekaan
Disekap moncong-moncong pertikaian
Dan tersumpal luka yang tak kunjung tersembuhkan
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis kita
Karena di tengah kelu dan borok dunia
Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh cinta
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
Tag : Chairil Anwar, Kahlil Gibran Puisi, Ajip Rosidi, Puisi PenantianShare
Selasa, 17 Agustus 2010
Hujan Lebat Sekali di Isla Negra
Hujan Lebat Sekali di Isla Negra*
Sajak Pablo Neruda
Di selatan, hujan lebat sekali mengguyur Isla Negra
bagai tetes yang bersendiri, lebat, tembus tatap mata:
lalu laut nengadahkan daun-daunnya sejuk menerima:
bumi belajar mengaji pada takdir basah cermin kaca.
Jiwaku, takluk pada bujuk rasa masin kecupanmu,
seperti air laut bulan ini, madu dari wilayah ini sendiri,
aroma wangi, dilembabkan berjuta bibir langit itu,
ketabahan hati laut, musim dingin ini, laut yang suci.
ada yang memanggil kita: semua pintu membuka,
percik air bercerita kisah hebat kepada kaca jendela,
dan langit menyentuh akar, menggelembang turun.
begitulah hari merajut dan merenggut jejaring angkasa
dengan waktu, asin garam, yang tumbuh, bisik suara,
setapak jalan, perempuan, lelaki. Bumi musim dingin.
* Soneta ke-67 dari Cien Sonetos de Amor.
Minggu, 25 Juli 2010
HUJAN - Puisi Puisi Dina Oktaviani
HUJAN
Dina Oktaviani
malam ini ia datang
dan kau berjanji akan menembusnya
meletakkan jejak-jejak percuma
dan tak pernah berusaha mengenangnya
kami bersama tak saling tahu
ia mengalir dari tempat yang jauh
tak jelas menangis ataukah luruh
kami mencinta tak tahu cara
memelukku ia menyakitiku
menghangatkannya aku membunuhnya
daun-daun telah memilihnya sebagai kekasih
dan anginnya menyisirku jauh-jauh
akhirnya kami berpisah
setelah aku sakit dan ia musnah
kemudian aku bermimpi
melihatnya mengalir di balik jendela
aku tahu ia bukan luruh
meski kami tak lagi saling sentuh
Kamis, 24 Juni 2010
Sajak Hujan Pertama | Isbedy Stiawan
Hujan Pertama
Isbedy Stiawan ZS
hujan yang pertama luruh
setelah berbulan-bulan kemarau - panjang –
tak juga membuat kota ini basah
seperti bibirmu berwarna gincu
merayu ia untuk berenang - sejenak –
melupakan letih, menarikan musafir
kota yang dikelilingi laut
perahu-perahu sandar
di mana pula bandar?
rumah-rumah malam terang
namun sepanjang trotoar tetap remang
dan kau turun sebagai hujan
dari rambutmu memancur air
dari bibirmu tercipta anaksungai
agar ia berteduh
melepas lenguh
- di sini tak perlu keluh -
hanya dengan 200 ribu
kau dapat berlabuh
sekadar menyegarkan pembuluh
di dalam kota tumpah angin
laut, - layar kapal mengembang –
jika takut masuk angin
merapatlah semakin ingin
hanya dengan 200 ribu,
katamu, ia akan berlayar
menembus laut hitam
kota-kota legam
dalam waktu yang diam
meninggalkan riuh
melambai pada sepi!
(kota ini kembali membawa
padanya ingatan
tentang persahabatan
dan perpisahan
tahun-tahun silam)
dan kini ia susuri
setiap nama jalan, gang,
ataupun lorong: mengingat
nomor-nomor rumah
yang kiranya sudah banyak berubah
dan lenyap oleh cuaca
kemarau tahun ini lebih lama
hujan yang pertama luruh
tak membuat kota ini basah
terdengar desah
ia makin gelisah!
makasar 9/2006
Rabu, 16 Juni 2010
TAJAM HUJANMU | Kumpulan Puisi Hujan Sapardi Djoko Damono
TAJAM HUJANMU
Oleh : sapardi Djoko Damono
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu


