Ini Catatan Ringan Tentang Ketidaksengajaan: Khairi Esa AnwarAnis Yuliana SamaraAh, tibatiba kau memelankan suarabahkan kata demi kata yang kau lafadzkanterkesan lirih dan kian lirihlalu, aku tahu berpasangpasang mata seksamapun terkesima menatap dua bola matamuaku bungkam, diam, tenggelam.Kau sihir aku dengan tutur sahajamubarangkali ini kali pertama aku bersua dengan penyair sepertimuya, pertama kali.Seketika,aku merenung, murung;tak tik tuk taktak tik tuk takwaktuku terpasungketika kau tembangkan satu puisi tentang ibu(liang telingaku sudah tak asing lagi)komatkamit bibirmu,uh, ada rahasia apa?—(kau berlayar sendirimengarungi ilusimu, imajinasimu dengan perahu puisimu)kau sebut namanama penyair;ada yang kutahu, beberapa tak kutahu(tahukah kamu,semakin aku memaku kakumengutuki nasibku sendiri)Kau, pantaskah aku mengenalmu?—di suatu entah, ketika kubisa mendaras puisipuisimukan kutulis apresiasi puisi untukmudan kulakonkan diksidiksi ciptaanmu.Disengaja atau tidak,itu bukan urusanku, demikian bukan urusanmu. Bukan.(Tuhan telah menitahkan untukku sebuah pesan ringandan aku tertatihtatih menuju cahaya katakatayang berpendar, berpijar di satu puisimu memburuderapderap nafasku)Kau ajarkan padaku mengeja cerita masa belia—(Ibu yang ‘semula’ tak kuingat lekat. Ayah yang tak mengalah pada lelah. Kini semula kujelma ‘setia’)Kusimpulkan;“Aku tak pernah sendirilantaran puisi ialah sunyi.Sedangkan antara aku, sendiri, puisi, sunyimerupakan empat kosakata yang belum sempurna kutafsirkan.”@PerpustakaanKecil/21.10.12http://oase.kompas.com/read/2012/10/30/2019455/Puisi-puisi.Anis.Yuliana.Samara
Tampilkan postingan dengan label Anis Yuliana Samara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anis Yuliana Samara. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Desember 2012
Puisi Ini Catatan Ringan Tentang Ketidaksengajaan
Minggu, 23 Desember 2012
Puisi Sekuntum Mawar Mekar | Anis Yuliana Samara
Sekuntum Mawar Mekar: Mahar PerkawinanAnis Yuliana SamaraAduhai Ma, cermin memantulkan ayu rupaku. Kukedipkan mata, seketika eye shadow mengingatkanku pada pesta perkawinanmu tempo dulu. Kau bilang, hidungku mancung seperti aktris-aktris luar negeri di televisi. Mascara untuk menebalkan bulu-bulu mata. Jangan lupa tipiskan tepian bibirku dengan pencil cosmetic dan beri sentuhan lip ice. Tahun berapa ini Ma, seorang laki-laki mengawiniku dengan sekuntum mawar mekar sebagai mahar. Benarkah? Aduhai Ma, jika jodoh, pasti berjodoh. Tapi kata Mama, pasrah itu berarti kalah. Sebagaimana penyair laki-laki ingin mengawini seorang perempuan dengan mahar puisi—apakah ia kalah jika benar-benar tidak ada perempuan yang tertawar? Barangkali ini bukan soal pasrah atau kalah Ma. Puisi melampaui resepsi perkawinan Ma.2012http://oase.kompas.com/read/2012/10/30/2019455/Puisi-puisi.Anis.Yuliana.Samara
Minggu, 25 November 2012
Elegi Dan Puisi | Anis Yuliana Samara
Elegi dan Puisi“Kau,meminangku dengan puisi-puisi ciptaanmu sendiri.”Anis Yuliana Samarabulan mengapung di matamupendarpendar cahaya menggantung di dagumuaku memaku, membeku, lalu memelukmujika kau tak mampu membunuh sepiyang menjangkitijiwa dan ragaku ini—yakini diksi-diksi dalam puisi ialah do’a-do’a mustajab;ketika dini hari terjerembab di ujung sajadahmuyang basah oleh taubatmukadangkala menyesatkankumenuju jalan-jalan raya—di antara ilalang kota-kota tuadimana ayah dan ibuku bermukim—di kaki bumi kuberpijakdan mimpi-mimpi semalamkuhentak-hentak tanpa salamYogya, 2012http://oase.kompas.com/read/2012/10/30/2019455/Puisi-puisi.Anis.Yuliana.Samara

