UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Anis Yuliana Samara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anis Yuliana Samara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

Puisi Ini Catatan Ringan Tentang Ketidaksengajaan

Ini Catatan Ringan Tentang Ketidaksengajaan
: Khairi Esa Anwar
Anis Yuliana Samara

Ah, tibatiba kau memelankan suara
bahkan kata demi kata yang kau lafadzkan
terkesan lirih dan kian lirih
lalu, aku tahu berpasangpasang mata seksama
pun terkesima menatap dua bola matamu
aku bungkam, diam, tenggelam.

Kau sihir aku dengan tutur sahajamu
barangkali ini kali pertama aku bersua dengan penyair sepertimu
ya, pertama kali.

Seketika,
aku merenung, murung;
tak tik tuk tak
tak tik tuk tak
waktuku terpasung
ketika kau tembangkan satu puisi tentang ibu
(liang telingaku sudah tak asing lagi)
komatkamit bibirmu,
uh, ada rahasia apa?—
(kau berlayar sendiri
mengarungi ilusimu, imajinasimu dengan perahu puisimu)
kau sebut namanama penyair;
ada yang kutahu, beberapa tak kutahu
(tahukah kamu,
semakin aku memaku kaku
mengutuki nasibku sendiri)

Kau, pantaskah aku mengenalmu?—
di suatu entah, ketika kubisa mendaras puisipuisimu
kan kutulis apresiasi puisi untukmu
dan kulakonkan diksidiksi ciptaanmu.

Disengaja atau tidak,
itu bukan urusanku, demikian bukan urusanmu. Bukan.
(Tuhan telah menitahkan untukku sebuah pesan ringan
dan aku tertatihtatih menuju cahaya katakata
yang berpendar, berpijar di satu puisimu memburu
derapderap nafasku)

Kau ajarkan padaku mengeja cerita masa belia—
(Ibu yang ‘semula’ tak kuingat lekat. Ayah yang tak mengalah pada lelah. Kini semula kujelma ‘setia’)
Kusimpulkan;
“Aku tak pernah sendiri
lantaran puisi ialah sunyi.
Sedangkan antara aku, sendiri, puisi, sunyi
merupakan empat kosakata yang belum sempurna kutafsirkan.”

@PerpustakaanKecil/21.10.12
http://oase.kompas.com/read/2012/10/30/2019455/Puisi-puisi.Anis.Yuliana.Samara

Minggu, 23 Desember 2012

Puisi Sekuntum Mawar Mekar | Anis Yuliana Samara


Sekuntum Mawar Mekar
: Mahar Perkawinan
Anis Yuliana Samara

Aduhai Ma, cermin memantulkan ayu rupaku. Kukedipkan mata, seketika eye shadow mengingatkanku pada pesta perkawinanmu tempo dulu. Kau bilang, hidungku mancung seperti aktris-aktris luar negeri di televisi. Mascara untuk menebalkan bulu-bulu mata. Jangan lupa tipiskan tepian bibirku dengan pencil cosmetic dan beri sentuhan lip ice. Tahun berapa ini Ma, seorang laki-laki mengawiniku dengan sekuntum mawar mekar sebagai mahar. Benarkah? Aduhai Ma, jika jodoh, pasti berjodoh. Tapi kata Mama, pasrah itu berarti kalah. Sebagaimana penyair laki-laki ingin mengawini seorang perempuan dengan mahar puisi—apakah ia kalah jika benar-benar tidak ada perempuan yang tertawar? Barangkali ini bukan soal pasrah atau kalah Ma. Puisi melampaui resepsi perkawinan Ma.

2012

http://oase.kompas.com/read/2012/10/30/2019455/Puisi-puisi.Anis.Yuliana.Samara

Minggu, 25 November 2012

Elegi Dan Puisi | Anis Yuliana Samara


Elegi dan Puisi
“Kau,meminangku dengan puisi-puisi ciptaanmu sendiri.”
 Anis Yuliana Samara

bulan mengapung di matamu
pendarpendar cahaya menggantung di dagumu
aku memaku, membeku, lalu memelukmu
jika kau tak mampu membunuh sepi
yang menjangkiti
jiwa dan ragaku ini—
yakini diksi-diksi dalam puisi ialah do’a-do’a mustajab;
ketika dini hari terjerembab di ujung sajadahmu
yang basah oleh taubatmu
kadangkala menyesatkanku
menuju jalan-jalan raya—
di antara ilalang kota-kota tua
dimana ayah dan ibuku bermukim—
di kaki bumi kuberpijak
dan mimpi-mimpi semalam
kuhentak-hentak tanpa salam

Yogya, 2012
http://oase.kompas.com/read/2012/10/30/2019455/Puisi-puisi.Anis.Yuliana.Samara