UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Kategori Puisi Campuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategori Puisi Campuran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

Puisi Benang Takdir | Pratiwi Purnama Sari

Benang Takdir
Pratiwi Purnama Sari

Matahari berlumpur sumpah
Sunyi malam berbalut lumpur asa
Ku cari harap di tiang tanah
Perpegang harap di langit jingga

Ku basuh malam dengan caci
Ku siram siang dengan dendam


Pulau takdir, 9 April 2013


Kamis, 07 Maret 2013

Puisi Ayam "Ayam Mengokokkan Tangan Ibu" | Laura Rafti

Ayam
Laura Rafti

Aku tertidur. Ayam mengokokkan tangan ibu yang dirapatkan ke kening.
Saat aku kembali meninggalkanmu. Mata perasaanmu mengintip, secepat
mungkin  kuseka airmata.

Rindu menyusup pilu pengorbananmu. “ibu aku merindumu!”.
“Nak, jangan rindu nanti sakit,  dik di sana menuntut ilmu”.
 Seketika  menanamkan bom. Meledak pada sajak kusut selesai mati sesaat.

Pekanbaru, 13/20 Oktober 2012

Senin, 04 Maret 2013

Puisi Kepompong Waktu | Samsul

Kepompong Waktu
Samsul

Terbelenggu sesak nan menggasak
Setelah menghitung detik dalam sutra
Lalu bergelayut di pohon rindu
Kapan kau menjelma kupu-kupu?

2013

Minggu, 03 Maret 2013

Puisi Jalan Yang Tak Bercelah | Pratiwi Purnama Sari

Jalan Yang Tak Bercelah
Pratiwi Purnama Sari

Kala hati tak lagi bisa mengecup kepedihan
Sang raja bayangan menjadi nyata
Untuk hati yang tak memiliki tuan
Untuk mata yang tak ada jalan

Kenyataan hanyalah sebuah ilusi
Ilusi hanyalah sebuah bayangan
Bayangan yang menutupi kesucian jiwa
Yang tak sanggup terbang untuk kepedihan
Sebuah rantai untuk kesadaran
Yang dibelenggu di jalan yang tak bercelah

24 Februari 2013


Sabtu, 02 Maret 2013

Puisi Lumpur "Lumpur Yang Menggusur Dengkur Tidur" | Eko Roesbiantono

LUMPUR
Eko Roesbiantono

Sawah-sawah itu, ladang-ladang itu, rumah-rumah itu, kampung halaman itu,
terhampar lagi dalam ingatan, tempat kami dilahirkan, hidup dan kembali
seperti nenek moyang kami yang gugur menghalau para penjajah.
Namun sekarang tanah itu tak ada lagi.

Asal mula adalah lumpur menyembur, lalu menggenangi sawah,
ladang, jalanan, kampung dan kuburan. Lumpur yang menggusur dengkur tidur.
O dari manakah lumpur itu menyembur? Apakah dari deru panas dada atau dubur?
Apa dari busuk keserakahan perut yang menyembur?

Kuburan yang tenggelam, bangkit dalam kenangan. Moyang kami dulu berjuang
melawan penjajah berhati lumpur. Kelak mungkin seseorang akan bercerita
sebuah legenda tentang terbentuknya sebuah telaga. Di dasarnya ada sawah,
rumah-rumah, sekolah, dan kuburan tempat nenek moyang mereka bermukim.

Sawah-sawah itu, ladang-ladang itu, rumah-rumah itu terhampar lagi
dalam ingatan
hanya dalam ingatan

Surabaya, 2008

Puisi Secangkir Kopi | Adi Nugroho

Secangkir Kopi
Adi Nugroho

Tuangkan segelas kopi hitam,legam,juga malammalam. Taburkan beberapa butir gulagula, yang membuat kita gila sebab memilih bersama. Aduklah dengan perlahan seperti dulu aku mendekatimu, berhentilah disaat kau rasa cukup. Sebab gula tak patut larut seluruhnya, biarkan kita menengok kembali apa yang telah kita lakukan. Berbekaskah ia? begitu juga kita pada cinta, mengejar cinta tidak bisa selamanya, sampai kita larut habis, mati tak bersisa kita. Sebab cinta bermukim pada batasbatas yang tak mudah dilihat, rasakan ia dengan hati. Seperti mengaduk kopi yang kau rasa perlu sudahi dan tibalah waktu kau seduh di bibir gemburmu.

Ku aduk segelas kopi
bercampur ragu bertabur gula batu
kuaduk berputar dalam ruang waktu,
lalu
kehampaan ada dalam tiap putaran itu...
Gula melarut air memanis..
Terangkat sendok besi,memanja gelas kaca,
relung kaca yang kelindan
Mata air air mata yang sedusedan
larut dalam kedipan bersama gula

Secangkir kopi, merangkum elegi berbulirbulir pasir. kau hanya mengenal kopi pekat, yang sedianya kau pesan dan siapkan: lewat sandiwara kita dari meja makan ke meja makan. Dan kau bilang “Cinta kita bermula dari meja makan, yang sewaktuwaktu perlu kita singgahi untuk membicarakan aku, kau, dan cinta” sebab itu Kau pilihkan aku kopi hitam pekat, yang membuatku terjaga dan terikat padamu. Mata yang terjaga membaca buah ceri merah di bawah hidungmu.

Pada secangkir kopi, kita sepakati perjalanan hari. Pada segelas kopi yang ketas, kita berjanji bahwa semua selesai, ketika ada cinta. Pada deras panas gelas kopi, kita mencatat tentang halhal yang akan menjadi rahasia kenangan. Sebab hidup adalah memilah kenangan. Meski nanti, resah saat segalanya pergi dan tak kembali. Dan secangkir kopi, membuat kita terjaga pada cinta.

Tak perlu kita habiskan kopi
Sebab nanti
Kita akan kembali ke sini
Meski sekadar mengusap air mata yang tertumpah
Pada meja makan tua ini

Jumat, 01 Maret 2013

Puisi Beranda Gerimis | Samsul

Beranda Gerimis
Samsul

Di beranda gerimis, aku memaku pandang
Pada tiang-tiang basah yang ditelanjangi hari
Semua sepi, hanya riak riuh hujan sesekali terdengar, lalu hilang
Bayangmu yang dulu berlagak di tiang itu,
kini melebur dalam gerimis yang memasuki pori-pori waktu
Ah, masih kutunggu bayangmu setelah gerimis ini,
setelah mentari menggambarmu lagi

2013

Puisi Alamat Berdarah | Eko Roesbiantono

ALAMAT BERDARAH
Eko Roesbiantono

Laut telah larut
Siapa berangkat malam ini
lampu-lampu pelabuhan
menyimpan perih
rembulan begitu muram
pada layar-layar perahu
Siapa berangkat malam ini
Berlayar tanpa angin tanpa suara
ke laut tak di ketahui namanya

Laut telah larut
Siapa menikamkan jerit
palung sunyi hati
menggaris tanda di langit
Laut telah larut
terlalu gelap untuk menebak
sebuah pelabuhan
menetes di peta

”Aku bukan malin kundang!”
Jeritan itu memanjang
dan ditelan ombak lengang

Surabaya, 2013

Puisi Ketuban Jalang | Samsul

Ketuban Jalang
Samsul

Ketuban ketumpah ketimpah
Dalam rahim jelata yang meronta
Sehabis mengulum janji
Ketuban ketimpah ketumpah
Bersimpah simpuh di kemauan diri
Setelah janji tak di tepati

2013

Kamis, 28 Februari 2013

Puisi Nyanyian Meja Makan | Eko Roesbiantono

NYANYIAN MEJA MAKAN
Eko Roesbiantono


Dengarlah rintih dari meja makan ini
fried chicken diantara saos tomat berdarah
Ayam berkeok-keok meneriakkan hidup
teraniaya dalam siksa mutasi gen dan aneka racun
Lihatlah yang kaukunyah-kunyah itu
Ah sebenarnya matamu meneteskan air mata
tapi mulutmu yang mengalir gairah liur tak peduli
Lihatlah raksasa bertaring mengaum

Surabaya, 2013

Jumat, 22 Februari 2013

Puisi Kau Yang Belia, Pendaras Kitab Yang Setia | Dody Kristianto

kau yang belia, pendaras kitab yang setia
Dody Kristianto

tidak sia-sia jika jawara tua itu
menghardik namamu dengan lantang
sembari menunjukkan tiga ancangan
menghajar

agar kau yang muda senantiasa berjaga
dan menerka mana jurus yang kelak
dapat kau ikat dalam raga

dia guru dan seteru yang sempurna
persiapkan dirimu
sebab kau akan tahu
bagaimana cakaran elang
kehilangan koyakannya
atau ketenangan siasat ular
tak berdaya di depan kekangannya
berjagalah, buat tatapanmu siaga
dan menerka kuda-kuda apa
yang ia tunjukkan

mungkin ancangan ekor naga
gerak gelebat gesit liat
yang tak mudah dibebat
meski tombak terpanjang
mengancam di hadapan
ia sungguh tak dapat diredam
dan diredakan
gerak yang sungguh tangguh
yang dipungkasi dengan sekian
rangkai tinju

bisa juga, ia membimbingmu
dengan kekukuhan tapak beruang
geraknya yang lambat, yang amat
mengingat langkah dengan cermat
percayalah, segala pukulan tak berdaya
di depan tubuh mahakuat,
dengan urat-uratnya yang tegap
yang sanggup melumpuhkan
tindakan segerombolan penyerang

tak akan lengkap jika tak kau tangkap
satu jurus pamungkas: tingkah lihai kera
yang tangkas dan sukar ditebak
kau tak akan tahu dengan cara apa
tiba-tiba dia mengelak
kemudian tanpa duga melakukan hentak
kau tak akan mengira, sebab inilah siasat
yang mahir menyimpan segala gamparan,
tendangan, atau pitingan
kala cecunguk yang sesumbar
mencoba menyerang, menusukmu
dengan sebilah kelewang

(2012)

Puisi Kereta "Pergi Lalu Kembali" | Mentari Media

KERETA
Mentari Media

sakitakaningatan-ingatanmasalalumu
adalahkereta di peronstasiun.
pergilalukembali.
lagidanlagi.

danakuialahbangkutunggu
di peronitu.
selalu di situ, menunggu
meskiberdebudanselaluditinggalkan.

Jakarta, 14 April, 2012

Senin, 18 Februari 2013

Puisi Kutuk Buah | Putu Gede Pradipta

Kutuk Buah
Putu Gede Pradipta

terpukat taring
habis tersesapi
terendap kulai
sendiri bersepi
dan bara nyawa
sekibasan angin
segantung bijih
hanya kilas isi
belumlah puisi

2012

Puisi Dik 2 | Edu Badrus Shaleh

DIK 2
Edu Badrus Shaleh

Hadza min fadhli rabbi, Langit bumi tercipta. Hiduplah makhluk selanjutnya. Berjubaku, beritus jenta, benda-benda terlahir. Ini bukan sihir, oi, tetapi takdir
Masa berderat selesat pacuan badai. Menghimpun waktu. Zat berkelebat bergerak cepat. Gumpalan petala dan magma menyipta halimun, menempati kamar-kamar kerja.
Ruang-waktu bagi manusia tercinta. Akal dan ahati berjumuk, jantung-nafas bersiuk, dengar dan kata menerobos di sela-sela lempengan debu dan detakan siber. Atasykur, hai manusia?
Seakan kita punya halilintar sendiri untuk menjatuhkan hujan. Seakan kita yang telah membuat langit dan bumi serta menghip-matikan manusia. Kemudian kita coba-coba menghakimi tuhan dengan meragukan kebenaran?

Rembang 2008

Puisi Menerung Di Maqbarah | Edu Badrus Shaleh

MENERUNG DI MAQBARAH
Edu Badrus Shaleh

Dalam gentar, sepasang tangan dungu mengukus lepasan hujan
Mencubit-cubit kenakalan senyum masa lalu

Rembang 2008

Puisi Bunyi "Mempelajari Bunyi Kebohongan" | El Nugraheni

BUNYI
El Nugraheni

bunyi
kata katamu tak terlawan

"aku benar menjaga mu bukan?"

aku mengangguk rawan
memainkan segemerincing anak kunci di tangan kanan

: m e m p e l a j a r i b u n y i k e b o h o n g a n

Puisi Lamar "Setelah Suka, Kami Mestilah Menikah" | Sobih Adnan

LAMAR
Sobih Adnan

Inilah perjalanan kayu menuju abu,
Serat-serat ketulusan biarlah membakar,
Seusai pesta, Cahaya adalah sumpah.

Sudikah kau mengantarkanku –ibu,
Bunga-bunga cinta telah mekar,

2012

Puisi Ilir "Pertahankan Dunia Dengan Syair!" | Edu Badrus Shaleh

ILIR
Edu Badrus Shaleh

Kerikil-kerikil membentur dinding pikir
Kerikil-kerikil bertulis batu takdir
Melesak ia ke jantung ketir
Menyisir semesta jiwa
Menembus lubuk terdalam bergetar menyelir zikir

Udara bersemilir meriuhi seribu pujangga
Pertahankan dunia dengan syair!” Mulut langit berseru
Bagai tatangar badai

Kerikil kerikil menghujan dari antah
Bagai peluru Ababil memusnahkan tentara fil
“Tapi tak ada sekepak burung pun.” Sahut lautan.
“Ada apa ini?” bumi menganga.

Rembang, 2008

Jumat, 15 Februari 2013

Puisi Kontemplasi Batu | Putu Gede Pradipta

Kontemplasi Batu
Putu Gede Pradipta

berdiam seutuh
mengukuhi bisu
sepatut berpaut
meruapkan tuah
mewujud si besi
meredam ketuk
yang sunyi nyali
capai nyanyi hati
berakhir ia puisi

2012

Puisi Lagu Sahutan | Nancy Meinintha Brahmana

LAGU SAHUTAN
Nancy Meinintha Brahmana

+
malam menjemput suram pada kilau penghasut perang kelam
pelukan dinda mengajakku terbang meski di ujung pedang,
sungguh diriku tak ingin berlalu bagai bulan berbulan

-
kejarlah malam yang bersiul menantang, kanda
gada kebenaran akan menjadi perisai bagi kesuraman
tiada jenjang tak melewati tangga kehidupan,
demikianpun cinta kita
yang bersahut-sahutan

+
wahai dinda pembuluh jiwa
getar kakanda menguat dalam berjuang
pada tatapan keteduhan kebenaran
dindalah meruap kata yang bersinggah
menguak misteri hati yang terpanah!

+-
apakah dirasa memberat awan terlihat badai menerjang?
kitalah bertaut meski pedih menantang
jangan biarkan hari kita mengejang,
wahai cinta, demikianlah kuat kita mengerang
menembus dunia yang kita sandang

-
abadilah cinta kita kekasih

+
abadilah cinta kita kekasih