UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Ari Saptaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ari Saptaji. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Mei 2010

BERSANDAR PADA ANGIN

Ari Saptaji

tanaman gandum itu bertanya kepada angin:
"bagaimana aku tahu, ke mana engkau hendak menggoyangku?"

"aku adalah yang tak terduga," jawab angin. dan ia tidak pongah.
"aku bertiup ke mana aku mau. ikutlah aku!"

keinginan memberontak bergumpal dalam perutnya.
betapa sering rasanya, ia ingin berubah jadi manusia:
yang tetap bisa berjalan ke kanan,
ketika angin bertiup ke kiri.

"tapi, sayang, aku tidak akan mematahkanmu," bisik angin
seperti menggeledah isi hatinya, menelusupi ketiak-ketiak daunnya.

Yogya, 1997




KEMBALI PADA KATA

Ari Saptaji

aku bersujud dalam pasir pesisir
ke arahmu, ya pencipta langit dan laut
atas debur demi debur
meluncur gelora perkataanmu
: betapa menggentarkan!

kata-katamu, ya penjaga malam
bukankah itu tata bintang
yang memeta tiap nelayan
menghayati angin dan gelombangmu?

diarunginya arus malam
dinantinya sabda dan cahaya: bintang fajar
di atas cakrawala pengharapannya
pelipur hati, penjawab damba

aku bersuka
kembali ke dalam aliran puisimu
dengan gemetar kuhirup
dan kucintai ucapan hayatmu

Yogya, 1997




KUTINGGALKAN PUISI

Ari Saptaji

kutinggalkan puisi, kalau tak juga sanggup
kutafsirkan isyarat manik matamu
solilokui tanpa tepi: berbalut sunyi, kapan sampai
di rumah kediamanmu

kutinggalkan puisi, kalau kata-kata itu
tak juga menjelma jiwa, membantah atau membela
: bukankah hidup ini perlu kawan bicara?
karena kauhembusi tanah liat itu dengan napas hayat
ia menggeliat, lalu kautuntun ke dalam taman

kutinggalkan puisi, kalau ia tak ubahnya
dunia pelarian -- setelah telanjang dan malu
bagaimana mungkin kami hidup
tersaruk-saruk di bawah langit tembaga
dan kebisuanmu? adapun lembah gurun ini
menguras keringat dan berdebu

kutinggalkan puisi, kalau ia bukan jejak pertemuan
dengan darah percikan dan luka-luka tubuhmu....

Yogya, 1996




CATATAN KANGEN

CATATAN KANGEN
Ari Saptaji

hanya dengan engkau: angin yang ketawa ketika kawanan gelatik
memecah di hamparan sawah lepas panen. sungai kecil
membicarakannya dengan sepasang kepiting batu: matahari
sudah semakin emas, berkas-berkas hangatnya memijarkan
isyarat rindu dendam, hasrat yang awal dan purba.

ruang sekian petak ini kelak berubah: kunang-kunang yang gelisah
di rumput pematang ketika siluet gedung-gedung begitu diam. bisik-bisik
antara tembok dan lampu taman membuatnya kian asing. sedang rembulan,
di langit yang lapang, cuma tampil seiris. dan di sepanjang jalan, dengarlah,
dendang pengembara itu: jiwa yang melekat, terkepung, namun tak henti-henti
mengejarmu.

ingin kembali ke sana: ketika terang tanah, uap embun dan kilaunya mengusik
ayat-ayat dan nyanyian, bangkit dari tidur. menghirup kehangatan kopi dengan
damba: bunyi tekukur, dan panen di ladang-ladang kita. sedang kanak-kanak
berlari dengan telanjang kaki, sudah pecah putik bunga: hanya kepada engkau,
yang kukenal dari aroma!

Yogya, 1996

DOA SEBELUM TIDUR | Puisi Ari Saptaji

DOA SEBELUM TIDUR
Ari Saptaji

sebuah syafaat buat yogya

bulan meradang di atas kaliurang, bulan kedinginan
ceritakanlah kabut: mengetuk-ngetuk jendela ruang tidur
dengan sejuta dongeng dari pojok-pojok bimasakti
purba sekali -- melintas antara kawah merapi dan
tugu, tugu dan keraton, keraton dan laut kidul

dan tarianmu, kekasih, selendang seputih melati
berkelebat seharum mur dan cendana, kakimu menghentak
turun dari bukit rempah-rempah: beringin kurung itu --
alun-alun utara menunggu aroma kemenyanmu, dalam sunyi
seusai riuh pikuk jathilan dan kesurupan

kami berdoa agar rohmu: sebuah jagat rohani
medan pentas kaum urban -- lebih jembar dari kelir wayang
dan engkau blencong-nya, dan engkau sukma, penghayatan
dalam sabetan sang dalang: siapakah kami
boleh ambil bagian pada babak akhir lakon ini?

usai nanti gara-gara, kutunggu kau
di gemilang lintang panjer rina

Yogya, 1996

ADA YANG LANGGENG DI PESISIR INI | Puisi Ari Saptaji

ADA YANG LANGGENG DI PESISIR INI
Ari Saptaji

ada yang langgeng di pesisir ini
bukan hamparan pasir yang setiap hari dibasuh ombak
bukan celoteh camar yang setiap senja berubah nadanya
bukan pula rumput laut yang setiap hari amisnya berlainan

ada yang langgeng di pesisir ini
mungkin rahim laut yang mengasuh koloni kerang pembentuk mutiara
barangkali tata bintang yang menuntun perahu berlayar malam
atau boleh jadi isyarat, terus-menerus bergetar di degup jantung kita

seperti nyanyian purba - siapa tahu ini sebuah mantera? -
ketika mencermati larik-lariknya kita diseret ke sebuah masa depan
tempat cakrawala mendekapi laut pada tepiannya:
alamat surat-suratmu yang susah kutebak titimangsanya
kapan kujumpa, kapan kau 'kan muncul dari pulau seberang sana

kuikat perjanjian dengan batu karang yang telah melewati pasang kesejuta
telah dibedakannya percumbuan kepiting dan sihir cahaya rembulan
telah dihapalnya bau musim gelombang dan musim sampah
di dadanya - begitu rapi, dan begitu tua - tersimpan bisikan malam:
seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan

ada yang langgeng di pesisir ini - kautangkapkah isyarat itu?

Yogya, 1996

LANGGAM SEDERHANA

LANGGAM SEDERHANA
Ari Saptaji

ingin kutuliskan lirik keroncong, sederhana saja
rumput-rumput sudut kentungan sudah mahir menembangkannya
ciumlah, aromanya musim semi narnia

pertengkaran-pertengkaran dahulu sudah lewat
mendadak kita sampai ke pelabuhan tak terduga
bangkit dari mimpi ketika fajar menyemburat
ah, kita punya penerjemah nan luar biasa
kilas mata menjelma kata-kata

benua-benua, ajaib, dalam satu pagi menjadi begitu dekat
apa lagi yang bakal merintang
kalau napasnya mengembangkan layar kita?
kita akan menjelajah!
kita akan mencapai ujung timur dunia
tempat lili menghampar sepanjang cakrawala

Yogya, 1995

TIBA DI PERSIMPANGAN YANG BERNAMA KOTA: JAKARTA

Ari Saptaji

foto-foto candid

aku capek membayarmu: rahang-rahang jalan tol, bougenville
di bawah flyover, billboard-billboard masif, dan selokan kental.
kapankah sabat di lipatan atmosfirmu? dari kaum berdasi sampai
gelandangan, langit abu-abu dan seiris dangdut cinta. "di manakah
kasih setiamu, sayang?"

engkau mabuk darah. namamu di kening.

siapakah yang menyadari ketuaanmu? wajahmu malih dalam setiap
labirin peradaban, dan kini - apakah yang terjadi dengan
jalananmu? - menjebak dalam kemacetan lalu lintas. pintu
ditutup. lift melaju naik. bagaimana kita tahu akan dibawa
ke rembulan atau matahari? tarifmu betul-betul berantakan.

destination unknown.

kucari taman-taman dengan tepi kolam tempat bercengkerama sambil
memandang sepasang angsa. apakah engkau masih percaya akan
kekuatan doa? dan bertanya: mengapa hidup juga dan bernafas
di hiruk-pikuk ini? bawa, bawalah dalam mimpi....

Yogya, 1994

Puisi Dialog | Ari Saptaji

DIALOG
Ari Saptaji

Aku suka kata-kata cinta yang sederhana
Dan perumpamaan-perumpamaan yang pasti
Namun kusadar, tidak jarang kau berkelit juga
Bukan untuk menyesatkan, melainkan menantang hatiku
Hatiku padamu, Kekasih

Kesederhanaan pun sering menyedotku
Kepada kedalaman yang mencengangkan
Atau kau sembunyi dalam gelap
Lantas menjebakku dengan terang
Yang membutakan mata

Kaubiarkan aku lapar akan kelaparan
Kaubiarkan aku haus akan kehausan
Supaya setitik perkataanmu
Menjadi selaut susu-madu

Aku suka kata-kata cinta yang sederhana
Mendekapmu
Dan mendengarkan detak jantungmu

Yogya, 1994

SEBUAH JUDUL DI TOKO BUKU: GENESIS 34

Ari Saptaji

potret hitam putih jalanan oleh kilas mata Dinah
dan etalase toko buku ini berkaca-kaca gelisah
: hei, berhenti! pejamkanlah matamu
kalau gelap terang yang ada padamu, betapa gelapkah
kegelapan itu?

traffic lights berkedip-kedip
langit menyergap abu-abu

sudah malam, Dinah, dan sudah jauh
engkau pergi dari kesuntukan ayahmu
catatlah: dingin dan bisu rak-rak pajang ini
berita-berita, iklan-iklan, gambar-gambar postcard
betapa magis!
gambar-gambar yang molek menyelipkan sebilah dakwaan
seorang penyair terkekeh mengerikan - berbau seperti dewa!

traffics lights berkedip-kedip
tangismu pilu kerna mengadu

malam kian jauh
lalu dendam berkawan dengan pedang terhunus
dua orang kakak, anak-anak ibumu
dan sebuah buku berdarah: Pembunuhan atas Sikhem

langit menyergap abu-abu

Yogya, 1994



Puisi Persahabatan Cinta | Surat Pada Sahabat Lama

SURAT PADA SAHABAT LAMA
Ari Saptaji

kota yang luas, langit yang membentang ini
mestikah seorang saja kunikmati?
sedang engkau tak kujumpa lagi

karena tak bisa kita saling mencinta
sehingga Kain menegakkan dagunya
dan langit tembaga dibentaknya
"Apakah aku penjaga saudaraku?"

daun-daun menggigil, dan putus dari rantingnya
angin rembang mendesah, nyelinap ke relung gua
jagat raya luruh jadi padang gurun dan kembara
requim demi requim, amis darah baunya

kota, demikianlah aku menamainya
gelegak perang, demikianlah denyut jantungnya

sejarah mencatat dari Sinear sampai Golgota
gagak-gagak berkelebat jadi konfeti satu warna
jantera bumi, betapa uzur dan usang
pada punggungnya zaman demi zaman melempari mati
para nabi yang bersaksi dengan berani
menantang aku meninggalkan dunia ini

kaukirimkan padaku, perkamen-perkamen berdarah
sejak Habel sampai Isa
"Dunia ini tidak layak bagi mereka!"

kota yang luas, langit yang membentang ini
mestikah seorang saja kunikmati?
sedang engkau mulai kurindukan lagi

(P.S. aku termangu mengingat kartu posmu
"Sahabat, kalau sunyi ini tak lagi tertahankan
beranikanlah membangun cinta di awan-awan!")

Yogya, 1994

JAM KERJA

Ari Saptaji

masih bau malam. embun gugur
dari arah kabut subuh
yang berkarat

kita tak nikmati pagi
dan harum kopi
terciprat di pinggir
cangkir porselin

kegegasan yang tak sempat dicatat
kita bosan dengan keringat
dan selalu debu
mendekilkan kerah baju

sajakmu lusuh

manusia massa. delapan sampai lima
seperti lukisan Dali
jam di neon-neon pasi

tak menghasilkan apa-apa
selain sekon-sekon dan ilusi

memajang diri di kaca
melepas dasi
undangan pesta yang sering kita singkiri
joli hari sabat menanti. menanti

Yogya, 1994




PULANG: VARIASI DALAM SATU TEMA

Ari Saptaji

1.
kalau pulang, aku ingin mencelupkan kaki
di sungai yang dingin dan bening itu
menggigiti batang rumput yang manis
bunganya serbuk-serbuk putih

2.
kalau pulang, aku ingin perjamuan matahari
di pematang sawah
bulir-bulir yang menguning
dan bunyi tekukur di kejauhan

3.
kalau pulang, aku jadi rumah bagimu
kaumiliki setiap sudutnya, setiap lekuknya
napasnya bau tanah yang basah dan segar
mimpinya tembang panen yang esok menjelang

4.
kalau pulang, aku pulang padamu!

Yogya, 1993



DOA MALAM | Puisi Doa Malam

DOA MALAM
Ari Saptaji

seekor kunangkunang berkelebat di antara bilahbilah
daun padi
angin mengangkat bau pematang
menyejukkan mataku yang tersengat
oleh kartunkartun tayangan televisi

iklaniklan dengan berani telah menculik
sepotong rembulan
bayangnya bergetaran di genangan air teras depan
merenung di loteng: dingin dan sunyi jadi sangat berarti
bayangkan! malammalam terus saja hirukpikuk
oleh film seri dan lagu pop yang cair
di ruang tengah rumah, doadoa berantakan

kularikan seiris langit dan sunyi yang berkelit
: hidupkanlah hurufhurufmu!

Yogya, 1993

Puisi Tentang Hutan : Sebuah Cerita yang Purba

Hutan : Sebuah Cerita yang Purba
Ari Saptaji

selamat tinggal, adam, dan masuklah ke dalam hutan:
roh yang sekarat, dengan segenap indera
dia menjadi belantara solilokui berkepanjangan
bergumul dengan kayukayu, jamur dan onak
sedang ular mendesis di batangbatangnya

"hutan, bayang rahim persembunyian yang purba
sewaktu kita mengira bisa meloloskan diri
dari teguran yang membekukan syaraf: di manakah engkau?"

menghadapi hutan adalah mengadapi ketelanjangan
yang mendadak jadi memalukan dan dengan geram
dibabatnya: digusurlah hutan menjadi ladangladang,
kotakota, padang rumput dan fatamorgana
sedang benua tidak juga menyembuyikan keriput dosa

"ingin kupelihara hutan ini, pohonpohon
yang mengingatkan pada kemurnian taman semula
tetapi tanganku hanya tahu baik dan jahat
dan hatiku telah asing dan terbuang
sedang pohonpohon tidak jarang menjadi raksasa gelap
yang menggentarkan aku dan menonjok kelelakianku"

mengelupasi prasati lama pada selaput dalam
kulitkulit kayu, pakaian sunyi yang segera terkoyak
tidak memadai untuk ketelanjangan yang terus diburu
kutuk dan keringat: "ah, adam yang terengah
memimpikan pohon hayat di puncak hutan"

Yogya, 1992

TEMBANG RUWATAN

Ari Saptaji

kudengar lambungmu -- lambung itu adalah kawah
tengah mencerna, terus mencerna
di bawah bumi -- di laut sana?
debur ombakmu jumbuh pada langit gunung
: abu-abu kota, asap yang mengambang
seperti tembang tlutur

seperti silsilah yang lindap --
karena haruskah aku percaya pada udara?
ia telah ada, namun tidak ada
dan akan ada: jagad beredar di sekelilingnya
dengan penduduk dapat sepenggal cerita

(aku melihat tahta dan biasan kuda
yang meliar): mereka menelan tanpa merasa
memandang dan kehilangan ujung pangkalnya
bumi yang kelak diguncangkan

mereka tetap bernapas dalam udara kota
: tugu tetap tegak diam menjulang

almanak lepas, gunungan bergetar lamban
seperti tertangkap lakonnya
seperti tak tertancap pengharapannya
-- wayang-wayang berderaian di embun malam
atmosfir yang menerima tanpa menjadi serupa

di pusat alun-alun aku berdiri
merobek mimpi rongga-rongga malammu
dan menuturkan sasmita kanda bawana
dalam gemetar langit subuh
yang menyimpan lintang panjer rina

Yogya, 1992

POSTCARD BAGI YUDI

Ari Saptaji

(kausembunyikan air terjun
di lipat lembah - berdentum)

kita sama-sama mesti jalani
hawa beruap tepian ladang wortel
dingin kadang menyekap
keberanian kita buat bertikai
dan malam yang berdiang tanpa aku-engkau
seperti ditelan dongeng-dongeng:
betapa sebuah percakapan!

tidurnya pun tiada mimpi. aku terbangun
dengan ingin menuliskan yang lain
kabut-matahari, perahu-telaga dan remah roti
berderaian seperti nyanyimu. kita terus berjejak
dan membacai papan nama: bahwa rumah ini
tak senantiasa puisi

(kita naik. menyetapaki
kelokan demi kelokan)

Yogya, 1992



JEJAK KITA DI SINI

Ari Saptaji

apa yang ditaburkan hujan siang itu, noer?
memerangkap kita: lengkung langit dan ingatan
pada kisi-kisi jendela kamar membingkai mendung.

satu-satu kita berjejak di tanah berpasir
kota ini. dan udara mengalirkan kita ke tempat-tempat
yang barangkali kita sendiri tidak sampai.

tidak mustahil toh. selama kita senantiasa
memandang ke atas. selama napas
menjadi doa. selama langkah dan tawa kita.

(angin lepas, noer. menggoda ke batas cakrawala!)

baiklah. kita akan berjejak di sini. kita akan.
akan ada rumah dan halaman rumput
yang merekam derai hujan siang ini.

Yogya, 1992




KAUHADIRKAN AKU DI SINI

Ari Saptaji

kauhadirkan dingin dan nostalgia sore ini -
kenangan yang tidak digelayutkan pada pokok beringin
begitu saja berderaian dalam benang-benang gerimis
riwayat yang tidak ditorehkan pada tugu kota
begitu saja menggeletar dalam keharuman uap tanah
dan aku tersekap - aroma, nuansa, warna-warna
mengatmosfir dalam kekinian yang lirih bergumam:
mengapa engkau mengizinkan kami kembali mengecapnya?

melintasi batas kota, jembatan, dan kaki lima -
belajar menghargai sepotong masa silam dan gurat namamu
pada lembar coklatnya: sebuah alur cerita yang tersusun
menuju pengharapan, dulu kaunapaskan ketika kita
berjabatan. hari-hari hendak lengkap dengan rincian
jejak kaki, percakapan, dan barangkali juga pertikaian
- sebuah kanvas yang tergulung waktu tempat kita
menggambarkan kabut dan awan, hujan dan matahari:
sebuah warta atas kota yang kelak kita tinggalkan ini.

Yogya, 1991




MATAHARI DI LANGIT JAKARTA, SUATU SORE

MATAHARI DI LANGIT JAKARTA, SUATU SORE
Ari Saptaji

matahari menggantung capek di langit Jakarta
yang kelabu: tak kutangkap jiwamu
kota yang lesu oleh sibuk dan riuh

matahari, lingkaran yang besar dan merah
hilang gairah mencatat derunya. udara berasap
dan langit menyadap debu malam
yang membayang jatuh

lantas menyalalah: lampu-lampu yang menyedot itu,
gedung-gedung yang menelan itu - tak juga penuh

kota, ah, kota, kutahu hatimu:
semangkuk kacang yang menggerakkan liur Esau
dan memuntahkan air dari lubuk keakuannya

Jakarta, 1991