SABBATH
--chongt jz
Dina Oktaviani
kuberikan engkau hati
pada pertemuan yang tak memukau lagi
ruangan yang sama, tubuh kenal lama
ciuman dan percakapan yang tertata sebelumnya
tak ada mimpi di sini
engkau murung, ketika menyadari
cinta tak semeyakinkan waktu muda
dan tahu, tak ada lagi yang menunggunya
kita telah hidup di antara ketinggian kaca
gedung-gedung melumpuhkan angin
mikropon mengubah semuanya tak saling sapa
setiap datang sabbath, kata engkau
“seharusnya kita berdoa”
tetapi kita tak punya gereja
dan telah kehilangan hari libur
atau apa pun untuk diberikan
aku telah belajar memuja engkau
dan engkau membagikan luka cuma-cuma
maka kuberikan engkau hati
sebab milikmu telah engkau berikan
kepada yang lain
Tampilkan postingan dengan label Dina Oktaviani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dina Oktaviani. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Juli 2010
SABBATH - Puisi Dina Oktaviani
Puisi Indah | SOLITAIRE - Dina Oktaviani
SOLITAIRE
--alexander supartono
Dina Oktaviani
bertahanlah
aku akan memejamkanmu, kedua mata yang parau
dan mengikatkan seluruh kegelisahan sepatumu
pada kota ini
engkau telah tak mampu mengemas airmata
menjadi cinta atau hujan saja
: sepi telah lama kehilangan pedihnya
bayang teman perempuan, bayang seluruh kawan
senja dan kabut yang hendak kauadukan
kepada jalan-jalan, kepada ruh-ruh kendaraan
kepada kelelahan, yang tak bisa kausimpan
atau sedekahkan
sedang angin bertahan; tak menjadi malam atau siang
memasuki dirimu, dan kerap engkau menyebutnya kata hati
lantas engkau mengikuti, lantas terlantar lagi
lantas mencoba percaya pada kangen dan kenangan
tetapi semuanya cuma perkiraan
yang tak bisa menjelaskan atau memberimu kepastian
: engkau dikhianati atau ditidurkan
engkau yang selesai atau ditangguhkan
tetapi jika engkau bertahan
pejamlah kedua mata yang parau
dan seluruh kegelisahan sepatumu
kelak menjadi lecut paling indah di punggungmu sendiri
HUJAN - Puisi Puisi Dina Oktaviani
HUJAN
Dina Oktaviani
malam ini ia datang
dan kau berjanji akan menembusnya
meletakkan jejak-jejak percuma
dan tak pernah berusaha mengenangnya
kami bersama tak saling tahu
ia mengalir dari tempat yang jauh
tak jelas menangis ataukah luruh
kami mencinta tak tahu cara
memelukku ia menyakitiku
menghangatkannya aku membunuhnya
daun-daun telah memilihnya sebagai kekasih
dan anginnya menyisirku jauh-jauh
akhirnya kami berpisah
setelah aku sakit dan ia musnah
kemudian aku bermimpi
melihatnya mengalir di balik jendela
aku tahu ia bukan luruh
meski kami tak lagi saling sentuh
PIGURA SEPASANG SAUDARI | lidya safitri
PIGURA SEPASANG SAUDARI
--lidya safitri
Dina Oktaviani
aku tak akan lupa cara meninggalkan waktu remaja
langkah perempuan di atas airmata perempuan
cahaya yang siap diredupkan
sebelum seluruh saudara saling meninggalkan
bunga-bunga tumbuh ketika kita kecil
matahari indah sebelum usia belasan
hujan berkesan, daun-daun jatuh menyentuh
kupu-kupu mati abadi
mimpi datang setiap hari—mungkin selalu sama
berbaring di sebelah kamar ibu+bapak
pintu terkunci, momok tinggi di atas almari
kita ketakutan, abang menjadi pedang
sekarang semua mesti menjadi pedang
kamar ibu tak sama dengan bapak
momok semakin tinggi meski pintu terbuka
ada yang lari mengejar bintang
yang lain menyerah terkurung di atap orang
sisanya tak peduli dan rumah sepi
aku sudah mengubur bonekaku
juga kerang putih di pigura
di jendela, senja merah kuning
angin kering, kangen asing
pantai jauh, langit sepuh
di rumah baru kita menunggu cerita lama
menyuburkan sawang untuk dikenang
sedang di depan tumbuh perang
kurusetra menjelma apa saja
ada yang memilih jadi drupadi
yang lain jadi matapanah, sisanya menolak sejarah
kehilangan setiap arjuna setiap bisma
setiap cinta setiap keluarga setiap silsilah
tapi aku tak akan lupa cara meninggalkan masa remaja
sebelum waktu kecil sempurna