UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Djunaedi Tjunti Agus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Djunaedi Tjunti Agus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juni 2012

Puisi Di Pantai Itu | Djunaedi Tjunti Agus


Di Pantai Itu
Djunaedi Tjunti Agus

Di pinggir pantai itu
Dulu kita bercengkerama
Kupandangi dirimu
Ombak terus berirama
Mengiringi sapa kita

Kucium ku belai
Kuelus dengan lembut
Kau hanya menyeringai
Kau tak menolak, menurut

Sekitar tak peduli, membisu
Bahkan mendorong aku
meremas, menusukmu
Aku tak tega, tak mau

Di bangku itu, dulu
Aku memandangmu
Melihat penggemarmu
Hatiku berkecamuk, cemburu

Oh, aku tak tega menyantapmu
Karena kau harus dilindungi

Telur penyu
Hingga kini kau terus diburu
Di pantai itu kau dipaksa menunggu
Padahal kau harus dibantu
Maafkan aku tak mampu
Menyelamatkanmu
Dari para pengganggu

Telur penyu
Semoga ada yang peduli
Merawat, menjagamu
Jangan bosan menanti

Muaro Padang, 2 Mei 2012

Puisi Pembonceng Reformasi | Djunaedi Tjunti Agus


Pembonceng Reformasi
Djunaedi Tjunti Agus

Dulu kau mengaku setia
Pembela sang paduka
Tetapi begitu reformasi tiba
Kau membelot, menghindar
Menyelamatkan diri, keluar

Kau hanya tikus got
Pembonceng reformasi
Menimbun harta, ngotot
Meski harus korupsi

Kini kau berlindung
Di balik penguasa
Meski harus menjunjung
Menjilat, melata

Kau hanya pembonceng
Penjilat bak anjing geladak
Tak peduli coreng moreng
Mengabdi pada penguasa
Meski harus menyalak
Kau hanya pembonceng
Koruptor mencari selamat

(Untuk para pembonceng reformasi,
pengkhianat yang mengaku reformis)

Jakarta, 21 Mei 2012

Selasa, 19 Juni 2012

Puisi Apa yang Kau Kejar? | Djunaedi Tjunti Agus


Apa yang Kau Kejar?
Djunaedi Tjunti Agus

Berbelok tajam
Ban pun berderit
Trotoar pun dihantam
Di lampu merah berkelit

Apa yang kau kejar?
Penyeberang menyumpah
Nenek kakek menyingkir
Kau makin tak terarah
Meludah dan mencibir

Apa yang kau kejar?
Nyawa manusia
tak bisa dibayar
Kawan, berhentilah
Cobalah hargai hidup
Jangan cepat goyah
Jika ingin tetap hidup

Sabarlah kawan
Ada yang menantimu
Begitu pun pengguna jalan
Juga kepada yang lain
ada yang menunggu
di rumah

Hargailah nyawamu
Hargai orang lain
Hargai hidupmu dan mereka
Hargai kotamu

Apa yang kau kejar?
Jangan kau diperbudak
harta
setoran
dan nafsu setan

Kebayoran Baru, 23 Mei 2012