PEMUJA MALAM
Gita Nuari
seusai kita bernyanyi bumi mengental dalam waktu yang basah botol-
botol menyimpan napas kita yang busuk di antara teriakan para pemuja
malam siapa di antara kita yang tak pernah pulang? rumah telah menjadi
terumbu karang dihuni ganggang laut meradang di tengah gelombang
seusai kita bernyanyi burung-burung membatu di langit. imajinasi
lumpuh kita terdampar di antara kepak kelelawar meneguk getah mawar.
Tampilkan postingan dengan label Gita Nuari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gita Nuari. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 September 2010
PEMUJA MALAM
Puisi Tahun Baru Karya Gita Nuari
TAHUN BARU
Gita Nuari
sebutir telur mata sapi di atas sepiring nasi kedai 24 jam mengulum
asap dapur. suara motor, suara terompet, sorak-sorai anak-anak bangsa
di atas truk terbuka, mencari ujung malam di sebuah tanah lapang,
tenda-tenda mengelopak suara radio, gitar yang dipetik. desah anak abg
yang baru pertama kali tercium bibirnya oleh sang pacar, anak seorang
lurah, smu kelas III yang sedang belajar jadi arjuna lalu, seorang
anak yang tersisih dari peradaban menancapkan obor pada detik-detik
pergantian tahun di atas kuburan. setelah banyak nonton sinetron horor
ia jadi terbiasa melihat kuburan dan asap. ia ajak para setan untuk
turut merayakan pergantian tahun dengan membaur di antara manusiaaku
dengan sebutir telur mata sapi merasa risih dan gamang, saat kembang
api menyeruak ke langit tepat pukul nol nol. ada apa dengan tahun?
apakah tahun berakhlak baik sehingga banyak orang berhara pada kebai
kan di tahun baru? ada apa dengan tahun lama? bukankah tahun bertahun-
tahun selalu dengan isi yang sama? ada bencana alam, krisis ekonomi,
teror bom, musibah, kawin cerai dan kematian? aku dengan sebutir telur
mata sapi, setuju bahwa tahun baru ibarat tubuh yang berganti pakaian
dengan ukuran yang sama tapi tetap sempit dan panas ketika dikenakan!
Puisi Ikrar Gita Nuari
IKRAR
Gita Nuari
berulangkali cemara bergoyang
mencorat-coret
cakrawala di benak
kupu-kupu lintas,
belah pandangan
di kaca jendela.
cinta telah senja?
sepagi ini kau membatu
di simpang ragujanin
kata-kata membisu
madu jadi empedu
aku tuang lima sloki
pertanyaan ke telingamuk
apan cinta jadi cincin kata?
(aku tunggu jawab di bawah kitab)
Depok, 2010
Kamis, 23 September 2010
LAGU SENDU Gita Nuari
LAGU SENDU
Gita Nuari
tanganmu menyentuh
dingin telaga
seketika bayang kita
pecah di sana
bunga kamboja lepas dari tangkai
didorong angun melata ke dalam debar
hati meruncing. kalimat memar
dimana gerangan
penyejuk api?
ini lagu tak kunjung usai
merintih sampai kamar
Depok, 2010
Puisi Minuman | Puisi Tentang Minuman
MINUMAN
Gita Nuari
kita seharian minum
bergelas-gelas keraguan
pergi menuju entah
pulang lupa arah
kita seharian makan
berpiring-piring kepalsuan
pikiran ke kiri
langkah ke kanan
jangan saling tikam
jika jalan penuh tikungan
ambil kompas
mari berlayar di lautan lepas
Depok, 2010
SEBATAS KEPAK
SEBATAS KEPAK
Gita Nuari
diterang paling derang
langkahmu terbaca mataku
tapi di ujung kelokan
kau hilang di rimbun hutan dua ekor capung
bersenggama di atas danau
di ujung paling mendung, kau muncul
menjelma gelang-gelang airah, baru kali ini
rindu bersayap gelap
terbang sebatas kepak
singgah karena lelah
Depok, 2010
Puisi NOL Karya Gita Nuari
NOL
Gita Nuari
baiklah, kau telah menulis sunyi di batu itu
yang kemudian kau biarkan digauni lumut dan semut
aku tak menduga ada kabar bahwa menara
yang kau bangun dengan airmata, terbakar tadi malam
orang-orang memadamkannya dengan bersorak
kejam, katamu. keji, kataku
sudah kuhallo berulang kali ponselmu
tapi kesunyian yang kuterima
kau sengaja mencuri suaraku
tapi kau sembunyikan
gairahmu
kosong, katamu. hampa, kataku
Depok, 2010
KAKU | Puisi Gita Nuari
KAKU
Gita Nuari
diterik paling rawan, aku dingin melihatmumembiarkanmu jadi bulan-bulanan waktutak ada jembatan kau langkahi, tak adabukit terjal kau tapaki. hidupmu layaknyakayu yang dimakan rayap. pohon yang meranggas dimamah cuaca. kakimu selaluterbenam di lumpur paling kental, tanganmudiborgol kerangkeng kehidupan. ada apitapi kau tak membakarnya, ada arustapi kau tak mengayuhnya ke arah yang benardunia apa yang sedang kau bangun, saudaraku?kau lihat, laut kian mengecilkan daratan!
Depok, 2010
Puisi KABAR Gita Nuari
KABAR
Gita Nuari
kabarmu sekarang ada di benua birutiap pagi kotamu diguyur badai salju burung-burung sangat malas berkicau cuaca mengukung dan mengurungkau sendiri merasa hidup dalam tempurung dari jendela kau hanya bisa melihat duniamu hilang warna, memutih seperti timbunan kapas. kulitmu bersisik karena dingin yang menggigit. ingatkan bahwa di lembang aku juga merasakan hatimu?
indonesia negeri kita, tanah air moyang kita. seburuk apapun negeri ini, aku akan beranak pinak di sini. menuai kehidupan dengan kepala tegak. merajut mimpi-mimpidengan cahaya keyakinan dan kepercayaan.
Depok, 2010
Puisi Taman Gita Nuari
TAMAN
Gita Nuari
di taman ini burung-burung bersayap besi bunga-bunga membusuk di tong sampah ada jejak berdarah di dalam tas, aromanya menyebar di seantero jamban. cinta lumpuh digerus kegelapan sepanjang tahun ada rindu mengering di ujung jembatan orang-orang saling bertepuk tangan orang-orang saling mengucap salam tapi dimatamu, lagi-lagi matahari meledak, jadi serpihan yang mengganggu langkah menuju peradaban.
Depok, 2010
RUMPUT Karya : Gita Nuari
RUMPUT
Gita Nuari
rumput-rumput setiap hari menyimpan jejak orang yang menginjaknya. hujan hanya membasuh, tak bisa mengasuh maka ketika kita butuh sinar surya, rumput-rumput menyulapnya jadi duri dipunggung dan dikaki kita
seseorang menulis namanya di batu berharap ada yang mengenalinya sebagai pejantan yang tak pernah kalah. tetapi di dalam saku hatimu, pejantan itu, tak lebih hanya sebuah kepompong yang tak punya ruang
Depok, 2010
RENCANA | Puisi Gita Nuari
RENCANA
Gita Nuari
sudah kau semir sepatumu. tapi diluarhujan akan melunturkan semua lapisan semu kenapa harus ketemu jam 9 pagi? bukankah lebih baik jam segitu ada dibalik meja kerja merenungkan masa depan yang monoton lalu merubahnya dengan menu kerja yang lebih baik. lalu kita berdemo di sepanjang kota, menyumbat perekonomian para pelipat nasib kita?
anak-anak kita rajin mengacungkan tangan di kelas, menuding gurunya malas tersenyum mereka merasa kepalanya dijejali tumpukan cita-cita sebuah masa depan yang belum jelas, bisa terbang seperti pesawat. ah, anak-anak kita adalah simbol kehidupan. akar rumah tangga yang spesifik. kenapa harus kita kenakan mereka baju perang di dalam rumah?
Depok, 2010