Menanti Kau Kembali
Ita Friedrich
Ku termangu dalam temaram malam
Menunggu sebuah hati yang tlah berjanji tuk datang
Menatap gemerlap bintang gumintang di atas sana
Berpendar mengurai di kedalaman rasa
Menyelusup bersama di heningnya asa yang ada
Serasa berbiduk terombang ambing di tengah badai
Antara keraguan dan harapan dirimu kembali
Mengusik hampa dan resah yang mengulana
Menghampar di belantara kerinduan yang mengembara
Menyayat mengiris luka yang terpana
Senja ini tujuh purnama ku menanti
Di sepinya temaram yang hening kau berdiri
Harum mawar kerinduan kau selipkan di hati
Janji tuk datang kembali kini kau genapi
Bersama berdua wujudkan mimpi yang terlewati
Leonberg, 23.6.2012
Tampilkan postingan dengan label Ita Friedrich. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ita Friedrich. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 23 Juni 2012
Puisi Menanti Kau Kembali | Ita Friedrich
Senin, 11 Juni 2012
Puisi Rindu Terlarang | Rasa Terlarang Kita
Rasa Terlarang Kita
Puisi Ita Friedrich
Sesak rasa di dada kian menghimpit hati
Serasa tiada bisa menembus lembutnya tirai
Riak riak kehampaan mengusik rindu yang menghampiri
Ku ingin teriakkan kesyahduan sekencang badai
Dan terlepas melayang tinggi bagai awan putih
Mungkinkah kau juga rasakan rindu yang sama
Serasa ngilu yang menggigit saat bayangmu datang menggoda
Entah sudah berapa purnama kau berlalu dan menghilang
Hanyalah secuil senyum kau berikan saat kita berpisah
Dan sekilas lembut bibirmu yang menghampiri rona sebuah rasa
Ku ingin lumatkan semua rasa yang ada padamu
Dan hanya untuk menjadi sebuah kenangan rindu
Tiada saling menyakiti di semua relung kalbu
Namun lupakan rindu terlarang antara kau dan aku tiada ku mampu
Hanya waktu kan menjawab semua rasa rindu yang membelenggu
Leonberg, 11.6.2012
sumber : fiksi.kompasiana.com
Jumat, 30 Maret 2012
Puisi Misteri Keangkuhan Cintamu | Ita Friedrich
Misteri Keangkuhan Cintamu
Ita Friedrich
Ketika lelah menyergah resahnya jiwa
Saat kisah indah tanpa nafas asmara di dalamnya
Dan senandung riang tiada menyentuh dinding relung hati
Kerinduanpun kian tenggelam dalam keraguan samudera duka
Ketulusan hanya jadi pemanis tipisnya nurani
Batu karang yang kokoh itulah kekerasan hatimu
Walau tlah ku bisikkan dengan lembut di kalbumu
Lewat angin malam dan bias bintang gumintang
Dirimu tetap bertahan dalam keangkuhan cinta
Semua menjadi sebuah misteri berbalutkan tirai menghampar
Kabut kebimbangan menghiasi sinar matamu
Namun dirimu seolah tiada pernah bukakan jendela hatimu
Ada rahasia yang menyelimutimu dalam selasar cinta
Kuingin mengetuknya walau kian terengah engah ku meminta
Ku cari dan terus kucari jalan temukan butiran lembut kasihmu
Sekian lama ku tlah menunggu terbukanya relung hatimu
Hingga kelelahan dan luka menganga kian membuatku tertunduk
Dalam penat kian menghimpit kurasakan uluran lembut tanganmu
Mengajakku tuk bangkit dari semua kegalauan sebuah asa menghilang
Lengkung senyummu tlah membukakan semua misteri cinta yang ada
Leonberg, 27.2.2012
sumber : fiksi.kompasiana.com
Senin, 26 Maret 2012
Puisi Menjelang Malam | Kala Malam Menjelang
Kala Malam Menjelang
Ita Friedrich
Lembar demi lembar tlah terisi bait kerinduan
Tertulis dengan tinta emas bertaburan indahnya kata
Terukir dengan seluruh nuansa syahdu yang menggebu
Bersama desah mesra mengalun merdu menggugah kalbu
Tujuh purnama kita tlah lalui dalam kebersamaan
Kau hiasi malamku dengan canda dan rayu menggoda
Bercengkerama dan bertutur kata dalam suka dan duka
Kau habiskan waktumu tuk bergelut asmara membara
Senja temaram kian datang mengintip
Dalam belaian mimpi yang indah mengusik desah
Kuterbangun saat ku ingat kau kan hadir menemani
Ku percantik diri dengan polesan gincu warna yang kau suka
Kutelah jatuh hati padamu kekasihku
Kau bangkitkan diriku dari rasa sepi yang mencekam
Kau isi hidupku dengan ragam kata yang tiada bosan
Sungguh ku mencintaimu walau kau hanya ada di dunia mayaku
Leonberg, 12.2.2012



