UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Iyut Fitra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iyut Fitra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

Puisi Percintaan Hulu dan Muara | Iyut Fitra


PERCINTAAN HULU DAN MUARA
Iyut Fitra

jangan pernah kau ragukan. ini bukan sajak terakhirku, kekasih
sebagaimana hulu. ia selalu menyimpan rindu pada muara
sebuah pertemuan yang tak pernah. hanya tumpukan dari gelisah
lalu desir air. potongan-potongan ranting yang tersangkut
“sampaikan salam pada muara. aku hulu yang berkabung rindu!”
demikianlah senantiasa ia nyanyikan di senja-senja lembab
juga taring waktu yang runcing

kisah apa yang tak kuceritakan kepadamu. meski parasmu samar
dan aku hanya melukismu di tebing-tebing batu
kubayangkan seekor belibis putih membasuh paruhnya di tepi sungai
ikan-ikan menggoda. hari begitu saja menjadi penjadi petang
“bukan. aku hanya akar tua yang lapuk direndam musim!”
sesungguhnya suara yang tak ingin kudengar. kau akan berlari
di antara ilalang dan batang-batang

sajak ini akan terus kukirim untukmu, kekasih
meski ceritanya selalu saja tentang perih

Payakumbuh, 2011

Puisi Penari Piring | Iyut Fitra


PENARI PIRING
Iyut Fitra

aku telah datang sebelum jemari di sembahkan. mulai talempong
serta tambur yang diguguh di hampar kaca-kaca ruruh
kusambut senyum jambu muda sewarna baju kurung itu. menarilah!
sebelum malam jadi. dan puput batang padi yang kita sebut serunai
bertingkah berubah lengang. menarilah!
di panggung waktu yang terburu. cawan gelisah yang tersimpan di rumah
hentakan segala sampai derai.o, menarilah!

malam lalu
waktu begitu laju

cicin gemeretak di antara kaki yang menghentak
lingkaran usia. langit luas kehidupan
dari panggung ke panggung kampung halaman diusung
elok-elok manjek kemauniang, jang sampai dahannyo patah
elok-elok menari piriang, jang sampai piriangnyo pacah
dan di puncak ketika kaca-kaca berhamburan. saat dua piring pecah
ada luka yang tak bisa ia ceritakan

Payakumbuh, Juni 2011