Ketika Azalika di Perut Ibunya
Kurniawan Junaedhie
waktu kamu umur empat bulan
aku suka pasang kuping di perut ibumu
dan kukira, di dalam sana pun kamu ikut
pasang kuping
sembari tertawa sendiri
melihatku menangis dan meringis silih berganti
waktu kamu umur lima bulan
waktu kami mulai sibuk mencari nama
waktu kami suka senyum-senyum sendiri
karena merasa bakal momong anak,
kamu mungkin akan heran,
dunia orang dewasa ternyata norak dan kampungan
tapi aku memang tak sabar menunggumu
mungkin ini perlu kamu tahu:
ketika malam menjadi paripurna di bar
ketika aku sedang stres karena pekerjaan kantor
ketika aku jauh dari rumah
hanya kamu yang kuingat
juga ketika bangun pagi hari
ketika nonton televisi
ketika melihat gambar bagus di kaos anak-anak
aku merasa diriku seperti ayah-ayah yang lain
yang janji untuk menyayangi anak-anaknya
meski mereka nakal dan bengal
dan angka rapotnya kebakaran
harap kamu tahu,
kamulah yang bikin aku tambah sayang
pada pepohonan, tanaman, binatang, desir hujan
kamu juga yang bikin umurku terus bertambah
dan hidup tambah bergairah
Juli 1995/ 2009
Tampilkan postingan dengan label Kurniawan Junaedhie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurniawan Junaedhie. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Juli 2011
Ketika Azalika di Perut Ibunya | Kurniawan Junaedhie
Sabtu, 07 Mei 2011
Puisi Pada Suatu Subuh | Kurniawan Junaedhie
Pada Suatu Subuh
Kurniawan Junaedhie
setelah satu demi satu kalender tanggal,
aku makin yakin,
aku merasa tak pernah mengenalmu:
siapa gerangan namamu?
di mana alamatmu?
sungguh, aku tak pernah melihatmu sebelumnya
aku mememang pernah melihat orang berjalan
tapi dia menjauh sejam kemudian
dan dia diam, dan hanya melipat tangan
apakah itu engkau?
apakah itu engkau?
aku memang pernah melihat
orang masuk ke dalam mimpiku sekali dua kali
tapi dia menjauh sejam kemudian
dan dia diam, dan hanya melipat tangan
aku memang pernah mendengar
suara angin menggelepar
apakah kau yang sembunyi di situ?
apakah yang kauharap dari hidupku?
bagaimana mungkin kau kini mengenalku?
pernahkah kita berjabatan tangan?
dengan siapa selama ini aku berjalan?
dengan siapa selama ini aku bersapaan?
semakin banyak tahun menggelosor pergi
aku pun semakin yakin,
kita memang tak pernah berkenalan.
semua habis.
pengharapan habis
suara burung habis
sajak-sajak telah lama tak kutulis
masa laluku tak ubahnya orang yang kehabisan karcis,
melenting jauh ke arah bintang,
dan kini nungging di bumi sendiri
kini kuingat diriku yang tak punya teman
sementara jakarta hanya diam
dengan mata terpejam.
Ciputat, 19 Juni 1994/ 2009