recruiterpoet.com Perempuan Itu Akhirnya TahuMatroni el-MoezanySetelah berlama-lama bersembunyiDi balik tirai keangkuhandirimu menjadi ada ketika malamMembayangi cakrawalaPengok, 11 Mei 2010http://oase.kompas.com/read/2012/07/14/01050674/Sajak-Sajak.Matroni.el-Moezany
Tampilkan postingan dengan label Matroni el-Moezany. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matroni el-Moezany. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Desember 2012
Puisi Perempuan Itu Akhirnya Tahu | Matroni el-Moezany
Jumat, 30 November 2012
Puisi Januari Bisu | Matroni el-Moezany
Januari Bisu
Matroni el-Moezany
Banyak yang terlihat jelas
Tapi tidak mau mengakui dirinya terluka
dirimu kau lukai
negerimu kau curi
rumahmu kau kotori
mengapa seperti itu
membasahi bibir indah dengan minyak wangi
membasahi bibir di restoran mahal
dirimu kekenyangan
tapi jangan sampai habis makanan itu
aku akan mengambilnya
menjadikan rempah-rempah istimewa
dan di olah dengan perut lapar
sebelum matahari terbit
sisa itu akan kubagikan pada rakyat
agar bibir mereka mengalir sungai-sungai bening
dan mandi dengan senang
karena tak ada yang lebih istimewa
selain menunggu sisahmu
tak ada lain selain butir-butir
yang harus mereka makan
walau pun itu juga masih ada unsur kotoran
tapi tidak bagiku, uang itu milik kami, katanya
Yogyakarta, 2010
http://oase.kompas.com/read/2012/07/14/01050674/Sajak-Sajak.Matroni.el-Moezany
Selasa, 27 November 2012
Puisi Sketsa Sebuah Perjalanan | Matroni el-Moezany
Sketsa Sebuah PerjalananMatroni el-MoezanyKurangkai semua yang terbacaDalam kilasan surau-surau semestaKuserahkan kerinduan ituPada ikan-ikan di pagi hariPagi yang membuat aku pahamMakna persahabatan dan kesetiaanRindang malamTak serindang kata-kataKubertanya pada Liya“Sudah kau serahkan kesedihanmu pada ikan-ikan”“belum”Kesedihan tak membuatPenguasa lari,Biarkan mereka menikmati indahnya semestaMenikmati lumatan-lumatan rasaMenikmati luka-luka massaAgar Kesedihan semuKau harus biarkan bibirmu mengalir pada orang-orangAneh, kesedihan itu menjadi uang-uang bernilai di saku para raksasaKubakar semua kesemuan itu, tapiDengan apa aku harus membakarnyaApi, aku tak punyaBara, masih belum nyalaDarah, belum mengalirAku jadi bingung melihat ke(semu)an itu,kulihat ternyata kertas bermakna kekuasaankulihat kata-kata ternyata kosongkulihat senyum tenyata menyakitkanlalu, apa yang harus kulihat di masa depanulama, intelektual, budayawan, senimanmereka mencari pasar? Mereka mau, di bayarkemana aku harus melangkah dan mendamaikan jiwa ini?Kini semua menjadi pasarSegalanya bisa diuangkan,Kata-kata, pikiran, hati, jiwa, rasa karena uangTak kusangka ternyata haluan.Liku yang tak memiliki refleksiKeberlanjutan jalan ituBelum membuahkan keranumanHijau daun di pangkasDitudungi berjuta tubuh penguasaWalau panas hati kamiIni sketsa di tengah bangsaKuletih bersandar ke tiang pancasilaBudaya datang merayapDi tambah nyanyian maling-malingMengantuk karena kegelapanBangsa buruk di daerah kamiAtap langit bumi pun gersangTidur pulas tak mandi-mandiDi jalan pulang aku berjumpaMatahari meniduri bumiDimana hatiku takkan piluMandang kerakusanmuYogyakarta, 12 Mei 2010http://oase.kompas.com/read/2012/07/14/01050674/Sajak-Sajak.Matroni.el-Moezany

