UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Mohammad Diponegoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mohammad Diponegoro. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Juli 2010

Puitisasi Terjemahan Juz ’Amma | Yang Merengut


YANG MERENGUT


Demi mereka yang merengut kuat-kuat
Dan yang berpindah-pindah gembira
Dan yang mencabut dengan perlahan
Lalu mendahului jauh di muka
Lalu mendahului jauh di depan
Di hari kapan gempa bergoncang
Lalu akibatnya menyusul datang
Hari itu semua hati gemetar gundah
Pandangan pun merunduk ke bawah

Mereka berkata, "Benarkah kami dipulihkan pada
dininya keadaan?
Meskipun sudah menjadi tulang yang lapuk begini?"
Mereka berkata, "Jika demikian, ini pemulihan yang
merugikan!"
Hanya dengan teriakan satu kali
Seketika mereka pun muncul di muka bumi
Sudahkah sampai padamu kisah Nabi Musa
Ketika Tuhannya memanggil dia di lembah suci Tuwa?

"Pergilah kepada Fir'aun! Ia sudah durhaka!
Lalu katakan, "Maukah kau menyucikan diri?
Aku akan membawamu kepada Tuhanmu supaya kau
jadi gentar pada-Nya nanti."
Lalu Musa menampakkan padanya tanda yang besar
Namun Fir'aun menolak dan berontak
Kemudian membelakang berusaha menentang
Maka ia menghimpun dan memanggil kaumnya
"Akulah tuhanmu yang mahatinggi!" katanya

Maka Allah pun mencekaunya dengan siksa di akhirat dan di dunia
Sesungguhnya di sini berpaut pelajaran bagi orang yang takut
Apakah engkau ataukah langit yang terciptanya lebih sulit?
Langit sudah terbina
la meningkatkan ketinggiannya lalu membuatnya sempurna
Dan la membuat malamnya gelap dan waktu paginya tersingkap
Dan sesudah itu bumi pun tergelar
Dari padanya air memancar dan rerumputan tumbuh
Dan gunung-gunung terpancang kokoh
Inilah perbekalan bagimu dan hewan ternakmu

Tapi bila tiba maha-malapetaka
Di hari kapan manusia teringat apa yang telah diperbuat
Dan neraka dipertontonkan pada siapa yang melihat
Maka siapa yang durhaka
Dan mengutamakan kehidupan dunia
Neraka itulah tempat tinggalnya!
Sedang orang yang gentar menghadap Tuhannya dan
suka menahan diri dari hawa nafsunya
Maka surgalah tempat tinggalnya!

Mereka bertanya padamu tentang saatnya, "Kapan tiba?"
Kenapa kau yang akan menyebutkannya!
Pada Tuhanmulah terserah kesudahannya
Kau hanya juru pengingat belaka bagi siapa yang gentar padanya
Pada hari ketika mereka melihatnya mereka merasa
seakan baru satu sore atau satu pagi saja di dunia



Surat An-Nazi’at : 1-46
Diturunkan di Makkah

”Pekabaran” Puitisasi Terjemahan Juz ’Amma
Mohammad Diponegoro


Share


Selasa, 13 Juli 2010

Puisi Islami | Yang Merungut

Yang Merungut

la merungut dan memalingkan muka
Karena padanya datang seorang buta
Apakah kau mengerti barangkali ia mau menyucikan diri?
Atau mengalap ajaran sampai bisa berguna baginya?
Sedang orang yang tak perlu apa-apa
Justru engkau melayaninya
Padahal kau pun takkan ternoda
Bila ia tak menyucikan dirinya

Sedang orang yang datang padamu dengan tergopoh
Dan ia takut juga pada Allah
Malahan tidak kaupedulikan
0, jangan! Sungguh, itu suatu peringatan
Maka siapa suka, biar memperhatikannya

Di dalam kitab-kitab yang mulia
Yang diagungkan, yang disucikan
Di tangan para pencatat
Yang terhormat dan taat
Terkutuklah manusia! Betapa kafir dia!
Coba, dari apa Allah membuat dia?
Dari nutfah! Allah menciptanya lalu memastikannya
Kemudian membukakan jalan gampang baginya
Lalu membuatnya mati dan menentukan kuburnya
Dan menghidupkannya lagi bila la berkenan

0, tapi manusia tak menjalankan apa yang diperintahkan
Maka suruh dia memperhatikan makanannya
Betapa Kami curahkan air berlimpah
Lalu Kami belah bumi terpecah-pecah
Dan Kami tumbuhkan di dalamnya ji-bijian
Dan anggur dan pohon sayur
Dan zaitun dan palma korma
Dan kebun-kebun yang rimbun
Dan uah-buahan dan put-rumputan
Perbekalan bagimu dan hewan ternakmu
Tapi bila tiba teriak yang membuat pekak
Pada hari kapan manusia lari meninggalkan saudaranya
Dan ibu dan bapaknya
Dan isteri dan anaknya

Hari itu setiap orang repot sendiri
Pada yang lain tidak peduli
Hari itu wajah-wajah berseri
Tertawa, gembira
Dan hari itu banyak wajah berdebu
Kegelapan melintup
Itulah orang-orang yang kafir dan durhaka


Surat ‘Abasa : 1-42
Diturunkan di Makkah

”Pekabaran” Puitisasi Terjemahan Juz ’Amma
Mohammad Diponegoro


Biografi MOHAMMAD DIPONEGORO

MOHAMMAD DIPONEGORO

LAHIR di Yogyakarta, 28 Juni 1928, dan wafat di Yogyakarta, 9 Mei 1982. Ia menulis puisi, cerita pendek, novel, drama dan naskah sandiwara radio. Ada kalanva ia menggunakan nama pena Ben Hashem. la juga menyadur drama-drama asing, di antaranya karya Tennessee Williams, Lionel Abel dan Saki. Selain itu, ia pun membuat lukisan batik. Pernah kuliah di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, berhenti pada 1955 sebelum tamat. Pernah pula belajar di Nippon Bunka Gakuin, Jepang, pada 1964. Pada zaman perang, ikut aktif dalam TRI (Tentara Rakyat Indonesia) Batalyon 25, Resimen 22, dari 1945 hingga 1947, kemudian dalam Resimen Ontowiryo dengan pangkat Letnan II. Pernah menjadi guru sekolah menengah pertama di Bandung. Pernah pula bekerja di Jefferson Library, Yogyakarta, dari 1956 hingga 1965. Sempat menjadi Wakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah dari 1975 hingga 1982, juga pernah menjadi pengasuh siaran cerita pendek di Radio Australia. la mendirikan Teater Muslim pada 1961, dan menjadi ketuanya dari 1961 hingga 1971. Karangan-karangannya dimuat dalam berbagai surat kabar dan majalah, seperti Budaja Djaja, Indonesia, Budaya, Horison, Kisah, Gajah Mada, Suara Muharnmadiyah, Suara Ummat dan Konipas. Novelnya, Siklus, memenangkan Hadiah Penghargaan dalam sayembara mengarang roman yang diselenggarakan oleh Panitia Tahun Buku Internasional 1972, DKI Jakarta. Karya-karyanya antara lain Manifestasi (kumpulan puisi bersama karya penyair lain, 1963), Siklus (novel, 1975), Kabar Wigati dari Kerajaan (puitisasi terjemahan AlQur'an, 1977), Iblis (drama, 1983), Surat pada Gubernur (drama), Duta Islam untuk Dunia Modern (bersama Ahmad Syafii Maarif, 1983), Percik--Percik Pemikiran Igbal (1983), Siasat (1984), Yuk, Nuliss Cerpen, Yuk (panduan penulisan cerpen,1985), Odah dan Cerita Lainnya (kumpulan cerpen, 1986). Pekabaran adalah karyanya yang menyajikan puitisasi terjemahan Juz 'Amma.

Kumpulan Puisi Islam | Pekabaran - Mohammad Diponegoro

Pekabaran

Tentang apa mereka saling bertanya?
Saling bertanya tentang datangnya kabar wigati
Tentang kabar mereka masih sih-selisih
O, mereka nanti bakal mengerti sendiri
Pasti mereka bakal mengerti sendiri
Tidakkah Kami jadikan bumi tempat berpijak
Dan gunung terhunjam jadi pasak-pasak
Dan kalian pasangan joli-sejoli
Dan waktu tidurmu tempat kalian berhenti
Dan malam-malam terbebar jadi pakaian gebar
Dan siang-siang terang jadi ruang kehidupan
Dan Kami susun kokoh di atasmu langit lapis tujuh
Dan senyala dian berbinar-binar
Dari awan Kami ruahkan air berlimpah
Lalu Kami bersilkan ji-bijian dan buh-tumbuhan
Dan kebun-kebun yang subur merimbun?

Benarlah Hari Keputusan sudah pasti akan datang
Bila nafiri ditiup dan kalian datang berbondongan
Dan langit terbuka jadi pintu-pintu ternganga
Dan gunung berlalangan menjadi bayang-bayang
Benarlah Jahanam sudah terbuka menanti
Para pelanggar batas untuk pulang kembali
Tetahunan mereka di dalamnya jadi penghuni
Tiada mengecap sejuk atau mencicip minum
Kecuali air mendidih dan getah daging
Suatu pembalasan atas dosa yang sebanding
Mereka tidak takut pada Hari Perhitungan
Mendustakan ayat Kami dengan dusta bukan kepalang
Lalu Kami rekam setiap perkara dalam buku catatan
"Ah, rasai kini! Rasai! Kami takkan menambah selain
dera pada kalian!"

Para pematuh patih yang akan menuai hasil
Taman-taman dan kebun-kebun anggur
Dan bida-bida muda sepadan
Dan piala kaca penuh minuman
Mereka tak mendengar di sana omong kosong atau dusta

Suatu balasan Tuhan, anugerah pada sepadan
Penyempurna langit dan buana dan segala dalam
kolongnya Sang Pengasih,
tak siapa juga kuasa membuka mulut pada-Nya
Pada hari kapan Ruh bangkit. Bersama malaikat banjar
berderet. Semuanya bungkam! Kecuali siapa
diizinkan Tuhan Sang Pengasih. Dan berkata
tentang kebenaran

Inilah Hari Sebenar Hari. Maka siapa suka, mari
kembali berlindung pada Tuhannya
Benarlah Kami ingatkan kalian pada siksa hampir tiba,
kapan insan jadi saksi segala kerja tangannya
sendiri. Dan berkatalah si kafir mengesah, "Ah!
Sekiranya saja aku kembali jadi tanah!"

Surat An-Naba’ : 1-40
Di Turunkan di Makkah

”Pekabaran” Puitisasi Terjemahan Juz ’Amma
Mohammad Diponegoro

Puisi Agama Islam | Pembukaan

Pembukaan

Dengan nama Allah, Penuh Kasih Penuh Sayang
Puja dan puji bagi Allah sendiri
Penyempurna segala alam perujudan
Penuh Kasih Penuh Sayang
Raja Hari Keputusan
Cuma pada-Mu kami semua sembah
menghadap
Cuma pada-Mu kami semua palingkan
harap
Bimbinglah kami ke lebuh lempang
Menjejaki siapa yang telah Kauberi hati
Bukan yang Kaudera dengan kemurkaan
Bukan pula yang hilang jalan

Surat Al-Fatihah 1-7
Diturunkan di Makkah

”Pekabaran” Puitisasi Terjemahan Juz ’Amma
Mohammad Diponegoro