UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Sajak Pablo Neruda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak Pablo Neruda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Agustus 2010

Hari Rekah: Semua Masa Lalu Berlalu

Hari Rekah: Semua Masa Lalu Berlalu
Sajak Pablo Neruda

Hari rekah: semua masa lalu pergi berlalu
di antara jari-jari cahaya dan bola mata mimpi,
esok akan tiba juga, langkahlangkah kaki hijau:
tak ada yang menarik balik sungai fajar hari.

Tak ada yang menarik membalik sungai tanganmu,
bola mata mimpimu, kekasih terkasih hati.
Engkaulah gemetar waktu yang berlari laju
di antara cahaya terakhir dan mengelam matahari.

Dan langit mengatup sayapnya mendekapmu
menggendongmu dan membawamu ke lenganku
dengan sepenuh rasa hormat, yang tak kau tahu.

Aku nyanyikan lagu ini bagi hari, bagi bulan itu,
bagi laut, bagi segenap planet dan bagi waktu
bagi suara suara siangmu, tubuh malammu.

* Sajak ke 49 dari Cien Sonetos de Amor

Tanganmu Sajak Pablo Neruda

Tanganmu
Sajak Pablo Neruda

Ketika tanganmu menyambar
menyergap tanganku, Kasih,
lalu mengambang, apa
dibawanya untukku?
Kenapa tanganmu berhenti
di bibirku, teramat tiba-tiba,
kenapa aku mengenalinya,
seperti sekali sebelumnya,
lalu, sebelum ia ada,
tangan-tanganmu pelesir
ke dahiku, ke pinggangku?

Halusnya tanganmu tiba
mengepak sayap menembusi waktu,
melewati laut dan kabut asap,
melewati Musim Semi,
dan ketika kau rebahkan
tanganmu di dadaku,
aku jadi tahu sayap-sayap ini
adalah sayap emas merpati,
aku jadi tahu liat itu,
aku tahu warna bulir padi.

Tahun-tahun hidupku
adalah jalan panjang pencarian,
pendakian anak-anak tangga,
penyeberangan ke batu-batu karang.
Gerbong kereta melemparkanku ke muka
air menyeruku kembali,
pada kulit buah anggur
seperti aku menyentuhmu.
Hutan, dalam kesekejapan,
membuat persentuhan denganmu,
pohon almon memanggil datang
kelembutanmu tersembunyi,
hingga kedua tanganmu
terkatup di dadaku,
bagai sepasang sayap
menyudahi kepak terbangnya.

* Dari Your Hands dalam Versos del Capitan

Oda bagi Benda Rusak

Oda bagi Benda Rusak
Sajak Pablo Neruda

Banyak barang rusak
di rumah
rusak karena jatuh
terdorong tangan tak tampak,
memang kerja si pelabrak.
Tapi itu bukan tanganku
juga bukan tanganmu
Itu juga bukan para gadis
yang kuku-kuku jarinya keras
juga bukan gerak planet bumi.
Itu bukan seseorang, bukan sesuatu
Itu bukan angin
Itu juga bukan petang warna oranye
Atau malam mengepung bumi
Itu juga bukan hidung atau siku
Itu bukan pinggul yang membesar
atau tungkai kaki
atau udara.
Piring pecah, lampu jatuh
Semua pot bunga-bunga terjungkal
satu per satu. Pot itu
pot yang terluapi warna merah tua
pertengahan Oktober,
pot yang jemu bunga violeta
dan pot yang kosong
bergelinding, berputaran, berputaran
menembus musim salju
hingga hanya tersisa serbuk
debu pot bunga,
kenangan terluka, abu bercahaya.
Dan jam itu
yang tiktoknya
adalah
tiktok hidup kita,
benang rahasia
pekan-pekan kita,
yang membebaskan
satu per satu, berjam-jam waktu
untuk manis madu dan kebisuan
bagi banyak kelahiran dan pekerjaan,
jam itu juga yang
jatuh
dan lembut biru talinya
bergetaran
di antara gelas pecah
hatinya yang leluasa
tak terbebaskan.

Hidup berterusan, menggilas
gelas, berbaju hingga lusuh,
membuatnya terbagi
bentuk-bentuk
tak utuh lagi
dan apa yang di ujung waktu
seperti pulau di sebuah kapal di lautan,
yang lekas busuk
di sekitarnya bahaya dari barang mudah pecah
bahaya dari air tak kenal ampun
dan segala ancaman.

Mari letakkan harta benda kita bersama
-- jam, piring, mangkuk diretakkan dingin udara --
ke dalam karung masukkan semua,
bawa ke laut
dan biarkan milik kita tenggelam
ke dalam penghancur kekhawatiran
seperti sungai suaranya.
Mungkin apa saja yang rusak
bisa dibentuk lagi oleh laut
oleh pekerja di sepanjang pasang.
Banyak sekali barang tak berguna
tak ada yang merusaknya
lalu rusak sendiri, cara sendiri.

Hujan Lebat Sekali di Isla Negra

Hujan Lebat Sekali di Isla Negra*
Sajak Pablo Neruda

Di selatan, hujan lebat sekali mengguyur Isla Negra
bagai tetes yang bersendiri, lebat, tembus tatap mata:
lalu laut nengadahkan daun-daunnya sejuk menerima:
bumi belajar mengaji pada takdir basah cermin kaca.

Jiwaku, takluk pada bujuk rasa masin kecupanmu,
seperti air laut bulan ini, madu dari wilayah ini sendiri,
aroma wangi, dilembabkan berjuta bibir langit itu,
ketabahan hati laut, musim dingin ini, laut yang suci.

ada yang memanggil kita: semua pintu membuka,
percik air bercerita kisah hebat kepada kaca jendela,
dan langit menyentuh akar, menggelembang turun.

begitulah hari merajut dan merenggut jejaring angkasa
dengan waktu, asin garam, yang tumbuh, bisik suara,
setapak jalan, perempuan, lelaki. Bumi musim dingin.

* Soneta ke-67 dari Cien Sonetos de Amor.


September Tanggal 8 | Sajak Pablo Neruda

September, Tanggal 8
Sajak Pablo Neruda

Hari ini, Sekarang ini, gelas penuh terisi.
Hari ini, Sekarang ini, ombak membenam diri.
Hari ini, hari bagi segenap Bumi.

Hari ini, badai memandu arus laut
kita terjunjung dalam sekecup kecupan
kita tersanjung, lalu berguncang bergetaran
dalam sekilau sambar sinar halilintar
kita terikat satu, lalu rebah jatuh,
beruntuhan, tanpa lagi ada ikatan.

Hari ini tubuh-tubuh kita tumbuh
meraksasa hingga batas bumi jauh,
lalu mengorbit di sana, meluluh di sana,
bagai globa lilin, atau nyala ekor api meteor.

Ada pintu asing membuka, di antara kita,
dan seseorang, yang tak berwajah juga,
menunggu kita, di sana.

* Dari The Eigth of September dalam Versos del Capitan.

Serat Pinus Rambutmu

Serat Pinus Rambutmu*
Sajak Pablo Neruda

Dari gugus pulau, serat pinus rambutmu,
daging tubuhmu diramu ribuan abad waktu,
urat nadi yang tahu sesamudera kayu,
hujan darah, hijau, dari langit ke kenangku.

Tak ada yang mampu memerangkap hatiku,
sesat di akar-akar, dingin sekali matahari,
dalam didih air, cahayanya mengganda diri:
di sana hidup bayang, tak terpisah dariku.

Maka kau bangkit di Selatan bak pulau kecil,
memuncak, berbiak, bulu burung dan kayu,
dan kuinderai bebauan: hutan pengembaraan.

Kutemukan madu hitam, madu dari hutan,
kusentuh pinggulmu, kelopak-kelopak bayang
yang lahir mengembariku, membentuk jiwaku.


*Sajak ke-30 dalam "Cien Sonetos de Amor"