TUAN, TAK KUJUAL BANGSA INI
Karya : Dian Hartati
Negeri ini tuan, tak akan kugadaikan
Hanya demi sejarah yang bungkam
Peristiwa demi peristiwa ganas
Telah banyak melecutkan pengorbanan
Jiwa-jiwa banal penuh semangat
Deras katakan takkan sisakan amarah
Tuan, dengarlah
Aku tak akan menjual sebentuk kenangan
Karena pertiwi adalah jiwaku
Mengakar di hati
Seumpama rundukan padi
yang kini terendam air mata
Kilasan itu tentu saja menjengahkan
Badai datang silih berganti
Meminang nasib sang negeri
Duhai tuan,
Betapa licik dan picik jalan pikiranmu
Membungkus semua dalam keping-keping mata uang
Bunyi gemerincing yang pilukan hati
Jangan pernah lupa
Di sini, tuan lahir dan dibesarkan
Di tanah ini tuan meninggalkan jejak petilasan
Ayo tuan,
Ikutlah denganku
Kita bergegas meninggalkan batas
Ketaksadaran
Tampilkan postingan dengan label Dian Hartati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dian Hartati. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Mei 2011
Tuan, Tak Kujual Bangsa Ini | Puisi Nasionalisme
Selasa, 17 Mei 2011
Contoh Puisi Tema Pendidikan | Apa Kabar Pendidikan Negeriku
APA KABAR PENDIDIKAN NEGERIKU
Karya : Dian Hartati
Sampai kini aku tak tahu
Apakah titel sarjana yang dibangga-banggakan ayahku dulu
Dapat menyambung lambungku, istriku dan anak-anakku
Tujuh belas tahun sudah segudang uang di lumbung keringat ayah-ibuku
Kuhabiskan di meja pendidikan
Namun aku tetap tak mampu memberi anak-anakku sesuap makan
Tujuh belas tahun sudah kuhabiskan waktuku di ruang gerah sekolah dan kuliah
Namun tak memberiku otak brilian dan keterampilan yang sepadan
Aku hanya terampil menyontek garapan temanku
Aku hanya terampil membajak dan menjiplak karya negeri orang
Aku terampil mencuri ide-ide, bukannya mencipta
Apa kabar pendidikan negeriku,
Adakah kini kau sudah berbenah
Sehingga anak cucuku akan dapat merasai sekolah yang indah
Dan masa depan yang cerah?
Puisi Rencana Sepuluh Hari Ke Depan | Dian Hartati
RENCANA SEPULUH HARI KE DEPAN
Karya : Dian Hartati
Ketika bijak berbicara
Apa yang hendak kau sampaikan
Mengenai amarah alam
Yang tak juga hentikan setiap luapan
Daratan jadi lautan
Malam bertambah kelam
Sementara bisu kampung-kampung tak juga reda
Ini adalah serapah hari
Tanggul-tanggul pecah
Mulut telah lelah meminta petuah
Sampaikan pada penguasa langit
Apa rencana sepuluh hari kedepan
Ruang itu hilang sudah
Tenggelam bersama harapan
Petak kenangan yang tak mungkin hadir kembali
Ketika bijak berbicara
Apa yang hendak kau sampaikan
Mencari celah di setiap alir kerinduan
Masa kecilpun hilang
Sawah ladang raib dalam sekejap waktu
Di mana lagi tempat pijakku
Sementara tanah-tanah kini tak terlihat
Pohonan tinggal puncak yang ranggas
Bubungan begitu lindap di mata
Masih lekat dalam ingatan
Semburan itu mengawali segala kisah
Mengumpulkan segelintir orang
untuk merencanakan kerja
sepuluh hari ke depan