UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Edu Badrus Shaleh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edu Badrus Shaleh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Februari 2013

Puisi Bunga Emosi | Edu Badrus Shaleh

BUNGA EMOSI
Edu Badrus Shaleh

Bakarlah kesepian karena detik ini aku tak pernah menunggu
Aku sedang berlayar di langit
Kau terbanglah di lautan
Kini, suaramu bukan suaraku
Kata-kata yang diam sama saja dengan api
Panas nyeri berteriak sama saja dengan api
Sampai kita terbakar ambisi sendiri

Rembang, 2008

Senin, 18 Februari 2013

Puisi Dik 2 | Edu Badrus Shaleh

DIK 2
Edu Badrus Shaleh

Hadza min fadhli rabbi, Langit bumi tercipta. Hiduplah makhluk selanjutnya. Berjubaku, beritus jenta, benda-benda terlahir. Ini bukan sihir, oi, tetapi takdir
Masa berderat selesat pacuan badai. Menghimpun waktu. Zat berkelebat bergerak cepat. Gumpalan petala dan magma menyipta halimun, menempati kamar-kamar kerja.
Ruang-waktu bagi manusia tercinta. Akal dan ahati berjumuk, jantung-nafas bersiuk, dengar dan kata menerobos di sela-sela lempengan debu dan detakan siber. Atasykur, hai manusia?
Seakan kita punya halilintar sendiri untuk menjatuhkan hujan. Seakan kita yang telah membuat langit dan bumi serta menghip-matikan manusia. Kemudian kita coba-coba menghakimi tuhan dengan meragukan kebenaran?

Rembang 2008

Puisi Menerung Di Maqbarah | Edu Badrus Shaleh

MENERUNG DI MAQBARAH
Edu Badrus Shaleh

Dalam gentar, sepasang tangan dungu mengukus lepasan hujan
Mencubit-cubit kenakalan senyum masa lalu

Rembang 2008

Puisi Ilir "Pertahankan Dunia Dengan Syair!" | Edu Badrus Shaleh

ILIR
Edu Badrus Shaleh

Kerikil-kerikil membentur dinding pikir
Kerikil-kerikil bertulis batu takdir
Melesak ia ke jantung ketir
Menyisir semesta jiwa
Menembus lubuk terdalam bergetar menyelir zikir

Udara bersemilir meriuhi seribu pujangga
“Pertahankan dunia dengan syair!” Mulut langit berseru
Bagai tatangar badai

Kerikil kerikil menghujan dari antah
Bagai peluru Ababil memusnahkan tentara fil
“Tapi tak ada sekepak burung pun.” Sahut lautan.
“Ada apa ini?” bumi menganga.

Rembang, 2008

Kamis, 14 Februari 2013

Puisi Dik "Aku Sekeping Sampah Jauh Berlari Menangkup Sepi"

DIK
Edu Badrus Shaleh

Jangan, katamu
Seperti tercekik hujan
Dalam badai yang tak membuat orang menangis
Dalam pelukmu yang tak mencipta ruang haru

Jangan, katamu lagi
Mencipta suara retak di telinga
Bagai kambangan sampan yang terkoyak
(dan aku adalah lautan yang mengaramkan kisah-kisah ke dalam dada)

Rembang, 2008

Senin, 14 Januari 2013

Puisi Lora | "Tak Ada yang Hidup Abadi Selain Waktu"

LORA
Edu Badrus Shaleh

Tak usah menunggu langit merah
Atau matahari bersinar darah
Sorban sejarah akan jatuh ke kepalamu
Ruang berputar, waktu bergelar

Walau berjalan ke arah malam
Walau bersusur ke jarah siang
Ia takkan berhenti memerbali kepalamu

Sebab ia tak kemana-mana, ia senantiasa ada
Mengikuti gerak kalbu.

Di padang hampa, kau boleh berkata selaksa terompa
Tapi di sini, ruang menggugurkan sumbu zaman.
Sebab sepi melacuri kesejatian naluri.
Dan kau akan berdesah,
“Malam ini panjang sekali”

Tak usah menunggu bumi terguncang
Denyut jantung akan merobohkan setiap riwayat perjalanan
Dan kau akan terbirit di dalam remang ruang
Sambil berzikir sesal
Menorehi melodi kegetiran

Rembang, 2008

Rabu, 09 Januari 2013

Puisi Di Hadapan Mbah Mun | Edu Badrus Shaleh

DI HADAPAN MBAH MUN
Edu Badrus Shaleh

1
Di jantungku yang basah, berdegub dingin nan pasrah
Kibas sorbanmu memoles jiwa
Keringlah sejarah kelam yang terkapar deru hujan
Mengkhatamkan pasal perih dan murung nazam
E, co! dadi wong iku kudu duwi kelambi jobo lan kelambi jeru, ujar engkau.
Aku sunyi, seperti jantungku.

2
Takkan usai malam mengisahkan percakapanku ini, Mbah
Antara sepi dan keramaian, antara letih dan kekuatan
Tawa dan airmata, henti dan lari
Juang dan pasrah, rindu dan dendam
Cinta dan benci, kobar dan api
Atau apa-apa
Antara baqa dan fana

Ataukah antara barisan airmata di halaman sendumu
Aku masih tertawa-tawa tentang lampias luka lalu?
Sedangkan uban alis tebalmu mengipas-ngipas wajahku
Bagai sorban embun
Aku berharap engkaulah jembatan nafas ini
Meniti derap langkahku kepada Lailaha illallah…

Rembang, 2008

Puisi Ayat Matahari | Edu Badrus Shaleh

AYAT MATAHARI
Edu Badrus Shaleh

Kudaki gunung-gunung hingga puncaknya
Kuselami lautan hingga dasarnya
Kukitari gulungan bumi sampai hilang katulistiwa
Hingga lepas dua kutubnya
Tetapi di langit cita-cita
Terasa senja masih jauh
Dan aku senantiasa…

Rembang, 2008

Puisi "Angin" | Edu Badrus Shaleh

ANGIN
Edu Badrus Shaleh

Entah geliat angin mana telah mengirim silir berbeda, seumpama ia dapat bersuara, kesiurnya meraung-raung di tenggorokan dan dada. Ia hanya mengisyaratkan satu nama, nama yang selalu ragu kuterima sebagai sebuah ketetapan yang sesungguhnya telah membongkar ingatanku tentang hidup, nama itu bahkan menyala-nyala dengan sendirinya tanpa kuhidupkan terlebih dahulu.
Angin manakah yang telah mengirimkan nama dirimu ke dalam ruangku yang pengap?
Saat ini aku akan menyatakan kegelisahan yang nikmat seutuhnya, walau tak pernah kulihat wajahmu seujung pangkal rambutpun. Aku merasa hilang di dalam diri.

Rembang, 2008

Selasa, 01 Januari 2013

Puisi Catatan Langgar Peteng | Edu Badrus Shaleh

CATATAN LANGGAR PETENG
Edu Badrus Shaleh

Bukan kampus megah
Lantai kaca dengan mesin udara
Tempat kami mengeja huruf waktu
Dan jejak cahaya
Mengaji air mata
Mengeja kitab-kitab tua
Yang tergadai dari kisah-kisah menjelang malam
Bertelungkup sakit, melumpuh di atas dampar sempit

Rembang, 2008
http://oase.kompas.com/read/2012/07/31/20270023/Puisi-puisi.Edu.Badrus.Shaleh

Senin, 24 Desember 2012

Puisi Dialog Remang Di Surut Jendela

DIALOG REMANG DI SURUT JENDELA
Edu Badrus Shaleh

Adakah sejauh ini kita biarkan hujan
Jatuh begitu saja? Dan senantiasa kita
beradu kabut di kubang malam
Sembari menukar empun mimpi
menyadap silam matahari?

Psst… jangan katakan itu lagi
Aku tak ingin merah muda itu sirna dari pipimu
Larik cinta yang kutoreh berkecup khusyuk
Komedi dan elegi yang mengatup rindu yang mabuk

Saat ini kita tak memiliki sehelai sepi
Di antara runtuh dedaunan dan gigil ilalang
Di antara gempa berkepanjangan dan letus senapan
Kita hanya punya sebaris angin dari serakan syair

Hujan mengetuk pintu-pintu jantung yang perlahan retak
Gundah mengasah legenda setangkai edelwis
Serasa elu Laila mengaum di dada
mengamini jarum jam usia bergusaran dalam nyenyak tidurku

Oh, jangan biarkan merah kenangan memadam bara dalam dekapan
Langkah kaki kita masih butuh kata pada ruang waktu

Hanya mataku menatap hitam rambutmu sepenjuru malam
Mengingatkan murung purnama yang menyaksikan Dewi Shinta yang menjerit
Menggedor-gedor pintu langit

Rembang, Januari 2008
http://oase.kompas.com/read/2012/07/31/20270023/Puisi-puisi.Edu.Badrus.Shaleh

Selasa, 04 Desember 2012

Puisi Penyair Sepi | Sehingga Kau Pun Tahu


SEHINGGA KAU PUN TAHU
Edu Badrus Shaleh

Hanyalah ngangaku yang lebur
Menyahut batu-batu rindu bergugur
Sorban mencatat cerita lama
Mendekam—memaksa mataku menapuk lesung waktu
Pistol plastik dan cermin baja, berpasangan akik dan zamrud
Sehingga kaupun tahu

Rembang, 2008
http://oase.kompas.com/read/2012/07/31/20270023/Puisi-puisi.Edu.Badrus.Shaleh

Kamis, 29 November 2012

Puisi Aku Berharap | Edu Badrus Shaleh


AKU BERHARAP
Edu Badrus Shaleh

Tenang wajahmu takkan menyesatkanku sebagai pemburu bayang-bayang
Karena cinta takkan hina tatkala kau menangis atasnama rindu

Rembang 2008
http://oase.kompas.com/read/2012/07/31/20270023/Puisi-puisi.Edu.Badrus.Shaleh

Kamis, 22 November 2012

Puisi Wahai Matahari | Edu Badrus Shaleh


WAHAI MATAHARI
Edu Badrus Shaleh

Kutitipkan rindu dan sajak
Meski berat sungguh
Terbakar dadaku oleh gemuruh
Di antara himpitan besi dan bebatuan
Kucoba menahan serangan
Di antara resah yang berdetak
Kupertahankan cinta dan kata-kata
Padamu wahai langit cahya
Kupasrahkan seluruhnya
Hamparan hatiku
Bersama kubit gemintang

Rembang, 2008
http://oase.kompas.com/read/2012/07/31/20270023/Puisi-puisi.Edu.Badrus.Shaleh