UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Tema Angin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Angin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2013

Puisi Sebelum Angin | Slem Reog

SEBELUM ANGIN
Oleh: Slem Reog*


jika semuanya harus benar-benar usai pada pelupuk malam
atau pada hujan yang belum kita saksikan
biarlah puisi mengelanai warung-warung kopi dan mensumbui tentang kehangatan yang mulai remang karena angin dan kebisingan mengerai ombak-ombak pada keragu-raguan


entah kenapa begitu gampang bulan jatuh dan tenggelam pada dasar laut mati
karena cerita yang serupa kau ceritakan kala hujan antarkan salam
salamnya sederhana;
hanya diam dan pekatmu yang dia sampaikan
bising dan dan hening sudah tak berupa dalam malam yang kadang aroma terbang menjemput kesepianku. memaksakan kehendak angan berlayar jauh ke pulau hatimu yang kering oleh garam-garam dan ilalang.


sudah dua puluh subuh tak ada doa
yang ada hanya selembar sajak dan kebolan asap dupa.sekalian ku hantarkan mantra-mantra angin meski telah nyinyir menjadi kenangan pasir-pasir
untuk ketahui sepenggal sajak yang kau tulis diam dalam keculasan.


dua lembar pelukan berperang batin antara badan saling hantam
memasung diri dan mengecup ilahi.
masih kelana memanjang pada pintu-pntu yang sengaja kau sumbat dengan runcing garis keris yang membesit luka pada bagian dada: gugur tak berarima


sebenarnya aku tidak pernah berani mengecup bulan yang pelan-pelan jatuh dan berdiam menikmati penggalan-penggalan puisi yang rimbun di lesung pipimu atau merenangi kesepianmu lantaran malam dan hujan sebrang pulau-pulau rindu yang kau gali dalam-dalam hingga menetas mawar yang aromanya hilang tertelan bulan.


jadinya tak berjung serupa cerita cinta yang alur dan baitnya mengubur diri memikul mimpi dan mencangkul duri-duru yang siap panen di lading mawar kita atau serupa upacara kematian yang kafan dan pelayannya saling berpeluk mesra dengan ketakutan.
Pelan-pelan semuanya hanyut pada sungai panjang yang memanjang pada hatimu sebelum angin mengantarkan risalah suci tentang kematian mawar ini
; sebelum angina tau setelahnya.

Bandung,23-24.11.2012

*Penulis asal dari Madura sekarang tinggal di buah Batu STSI Bandung, menulis dan main Teater di Teater Payung Hitam.

Rabu, 09 Januari 2013

Puisi "Angin" | Edu Badrus Shaleh

ANGIN
Edu Badrus Shaleh

Entah geliat angin mana telah mengirim silir berbeda, seumpama ia dapat bersuara, kesiurnya meraung-raung di tenggorokan dan dada. Ia hanya mengisyaratkan satu nama, nama yang selalu ragu kuterima sebagai sebuah ketetapan yang sesungguhnya telah membongkar ingatanku tentang hidup, nama itu bahkan menyala-nyala dengan sendirinya tanpa kuhidupkan terlebih dahulu.
Angin manakah yang telah mengirimkan nama dirimu ke dalam ruangku yang pengap?
Saat ini aku akan menyatakan kegelisahan yang nikmat seutuhnya, walau tak pernah kulihat wajahmu seujung pangkal rambutpun. Aku merasa hilang di dalam diri.

Rembang, 2008

Selasa, 18 Desember 2012

Puisi Angin Melambai-lambai | Muhammad Zakaria

Angin Melambai-lambai
Muhammad Zakaria

Hembusannya yang perlahan-lahan memberi kesejukan
Bunga ikut menari-nari
Tumbuhanpun mengikuti iramanya

Seakan-akan ada suara yang membisik ditelinga
Bagaikan berkata Nikmatilah hari
Dengan penuh kebahagiaan dan kesejukan
Bak angin yang tak henti-hentinya memberi kesegaran

Kesejukan hati akan memberikan ketenangan
Maka kita akan selalu bahagia
Keceriaan yang akan menghiasi hari-harimu
Dengan semerbak Warna nan Indah dan tenang

14-Aug-2012
www.kabarindonesia.com


Senin, 16 Mei 2011

Puisi Anjangsana Angin | Sunardi KS

Anjangsana Angin
Sunardi KS

barangkali wajah kita jadi
kian asing
waktu seperti gasing
dicerca hari-hari dan beban jaman
tak ada sapa
saling melupa dalam jumpa
tak sengaja sia-sia
atau barangkali hanya
klakson atau lampu
menghapus cemburu

ada saja yang jadi guru
di setiap waktu
kita percaya pada ujung jari
tak perlu repot mencari
perjumpaan hilangnya kesempatan

(batu-batu kepergok
berbenturan memercikkan api)

barangkali wajah kita jadi kian asing
waktu seperti gasing
dunia menyempit dalam saku

- jangan terlalu sederhana!


Jepara, Januari 2010

Minggu, 12 September 2010

Angin Telah Kembali

Angin Telah Kembali
-kepada ketut suwidja-

Wayan Sunarta

kemana kini arah angin bertiup
entah sampai dimana lelayang sanggup terbang
tak tahu gerimis telah mewarnai hari
usai sudah segala mimpi masa kanak
tak satu pun mampu direguk dari bumbung waktu

suara sunari makin menjauh
usai pula percakapan di bawah temaram bulan
walau kau masih rindu melantunkan selarik sajak
irama dalam jiwa telah mati rasa
dan kau hanya termangu di ujung lorong malam
jadi baiknya kita sudahi permainan
angin telah kembali ke dalam jiwa semesta


Februari 2009


Wayan Sunarta (Jengki)
Sumber : www.Jengki.Com

Jumat, 02 Juli 2010

Puisi Angin Hutan Cemara | LK Ara

ANGIN HUTAN CEMARA
L.K.ARA

Angin hutan cemara
Ditegur fajar
Buru-buru bangkit
Menyongsong petani
Yang bergegas naik
Ke lamping gunung
Ke ladang luas
Dimana harapan berkecambah hijau
Semakin hijau

Angin hutan cemara
Siang-siang
Mengantar harum bunga
Ke tiap tangga dengan kipasnya riuh
Mengibas panah surya
Yang terpacak di punggung pekerja
Melegakan dada
Untuk nyanyi – nyanyi kecil
Di selang seling ayunan cangkul

Angin hutan cemara
Sore hari
Habis perjalanan jauh
Walau lelah
Masih sempat
Melipur mengambil kayu
Atau nelayan di sungai
Dan pengembala di padang-padang hijau
Meringankan langkah mereka
Menuju rumah dan rumah tangga

Angin hutan cemara
Biasanya gemersik
Hanya sesekali menderu
Tapi kian kalinya mengingatkan
Enam puluh ribu hektar
Cemara menderai
Tak jemu – jemu menderai
Minta diolah
Namun tak pernah diacuhkan
Walau dua puluh tahun lebih
Kita merdeka

Angin hutan cemara
Ceramah namun ramah
Menawarkan bagia
Bagi tiap orang
Yang ingin mencicipinya

Sajak - ANGIN DANAU | LK-ARA

ANGIN DANAU
L.K.ARA

Pengembara udara danau
Bisikkan daku resiamu mengatur ombak
Hingga perahu berlayar atas desahmu
Ikan berenangan di bawah lenganmu

Pengembara udara danau
Kisahkan daku peri perkasa tebing-tebing curam
Batu-batu bergantungan sunyi
Cemara menyanyi
Di tepian yang sabar menanti

Sahabat
Kuakkan kabut
Lepas caya sepenuhnya
Menimpa paras pagi tersipu
Agar pondok terkejut bangun
Dan manusia bangkit buru-buru

Nanti bila warna senja bergayutan
O, pengembara gelisah
Rebahlah sekejap
Biar limpur gundah bundaku
Dalam senyap yang labuhkan

DENGAN SETIA YANG MARAK

Biar perjalanan jauh masih
Dan badan terkulai lungai
Namun hasrat jati di hati
Tetap marak pada tujuan

Kemboja di dalam taman
Menaungi jasad kejang dan dingin
Tergeletak diam pada lahirnya
Pada batinnya meneruskan perjalanan
Sungguh teramat jauh ujung
Oleh ramai onak di pangkal jalan
Tapi relai sakit dan senang
Di jalanan Ia tentukan

Langkah barulah berarti dilangkahkan
Dengan setia yang marak kepada-Mu, Tuhan

Rabu, 16 Juni 2010

Puisi Tema Angin | Sapardi Djoko Damono

ANGIN 2
Oleh : sapardi Djoko Damono

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api
yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua
yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu
tiba-tiba berair kembali.

Puisi Angin | Puisi Tentang Angin : Sapardi Djoko Damono

ANGIN 1
Oleh : sapardi Djoko Damono

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak
dari sudut ke sudut dunia ini
pernah pada suatu hari berhenti
ketika mendengar suara nabi kita Adam
menyapa istrinya untuk pertama kali,
"hei siapa ini yang mendadak di depanku?"
angin itu tersentak kembali
ketika kemudian terdengar jerit wanita
untuk pertama kali,
sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona
sebab tiba-tiba merasa scorang diri
di tengah bising-bising ini tanpa Hawa

Puisi Berjudul Angin | Sapardi Djoko Damono

ANGIN 3
Oleh : sapardi Djoko Damono

"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku
tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.