UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Eko Roesbiantono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eko Roesbiantono. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Maret 2013

Puisi Koruptor "Bersemangat Kerakusan Aku Siap Menghisap Darahmu"

KORUPTOR
Eko Roesbiantono

Engkau menyangka aku telah lenyap dari negrimu
maka engkau pun bersorak sorai kegirangan
dalam pesta-pesta dan karnaval yang melelahkan,
namun ketika engkau telah kelelahan dan mau tidur,
aku telah menunggu serupa jutaan nyamuk
di kegelapan bawah ranjang,
bersemangat kerakusan aku siap menghisap darahmu

Surabaya, 2013

Rabu, 06 Maret 2013

Puisi Senyap "Suara Tanpa Suara" | Eko Roesbiantono

SENYAP
Eko Roesbiantono

siapakah senyap menggigil seperti gemetar bibir
menghitung pasir
terbata mengeja desir
termenung merenung suwung
tak pernah benar mengerti senyap terapung-apung
dari gunung sampai hati yang wuwung
siapa senyap mengendap-endap di atap-atap rumah
dan turun mengetuk pintu ini
mungkinkah ia
kekasih yang telah lama menunggu
dari mimpi masa kanak-kanak yang jauh
pada akhirnya ingin kembali senyap
tempat segala bermula dan berakhir
gerak tanpa gerak
senyap dari fitnah dan persekongkolan dunia
yang menjulurkan lidah bercabang
senyap dari gelap keinginan dan kecemburuan

Pesisir tiba-tiba menggigil, dan di laut
layar-layar perahu menjelma alif
menunjuk langit

Surabaya, 2013

Senin, 04 Maret 2013

Puisi Kali "Aku Kali Yang Mengisi Samudra Tiada Henti"

KALI
Eko Roesbiantono

Jika aku ingin selalu mengalir di matamu
yang ingin mengisi gurun-gurun tak diingini?
Mungkin kata-kataku masih menyembunyikan mata air
yang mengalir dari sumber-sumber yang jauh di hatiku
Maka tak akan bisa kau tangkap air yang mengalir itu
mengangkut masa lalu ke ufuk biru jauh
Tak akan bisa kau tangkap air
yang mengalir dari hulu hatiku ke hilir rupaku
hanya basah sekejap
sebelum mengering
sebagai kenangan
Dan jika kau ingin mengalir menitinya
mengalir di mataku
kan kau temukan betapa sepi muara itu
dan kau tak akan pernah berlabuh
Dan perahu yang mengangkut biru makna itu
akan selalu terapung di antara cerah langit
dan gelap laut
Dan diantara keduanya kelak kan kujala biji matamu

Malang, 2013

Sabtu, 02 Maret 2013

Puisi Lumpur "Lumpur Yang Menggusur Dengkur Tidur" | Eko Roesbiantono

LUMPUR
Eko Roesbiantono

Sawah-sawah itu, ladang-ladang itu, rumah-rumah itu, kampung halaman itu,
terhampar lagi dalam ingatan, tempat kami dilahirkan, hidup dan kembali
seperti nenek moyang kami yang gugur menghalau para penjajah.
Namun sekarang tanah itu tak ada lagi.

Asal mula adalah lumpur menyembur, lalu menggenangi sawah,
ladang, jalanan, kampung dan kuburan. Lumpur yang menggusur dengkur tidur.
O dari manakah lumpur itu menyembur? Apakah dari deru panas dada atau dubur?
Apa dari busuk keserakahan perut yang menyembur?

Kuburan yang tenggelam, bangkit dalam kenangan. Moyang kami dulu berjuang
melawan penjajah berhati lumpur. Kelak mungkin seseorang akan bercerita
sebuah legenda tentang terbentuknya sebuah telaga. Di dasarnya ada sawah,
rumah-rumah, sekolah, dan kuburan tempat nenek moyang mereka bermukim.

Sawah-sawah itu, ladang-ladang itu, rumah-rumah itu terhampar lagi
dalam ingatan
hanya dalam ingatan

Surabaya, 2008

Jumat, 01 Maret 2013

Biografi Eko Roesbiantono

Biografi Eko Roesbiantono

Eko Roesbiantono, alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lahir di Surabaya, 11 April 1967, menulis cerpen dan puisi, pada 1990-an beberapa puisinya antara lain dimuat di Suara Karya, Suara Pembaruan, Surabaya Post, Berita Nasional, Yogya Post, SKM Swadesi, Suara Muhammadiyah, Kolong Budaya, dan Duta Swedish Student Association. Juga dimuat dalam Antologi Puisi “Biarkan Kami Bermain” (Editor; Emha Ainun Nadjib, Balairung UGM, 1987), Antologi Puisi  “Hijrah” (Editor: Rachmat Djoko Pradopo, Shalahudin UGM, 1988).  “Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010. Menjadi juara harapan II Lomba Cipta Puisi Darmaningsih Tahun 1990, dengan dewan juri: Dr Rahmat Djoko Pradopo, Dr Imran  T.  Abdullah, dan Dr Kuntowijoyo. Kini tinggal di Surabaya.

http://oase.kompas.com/read/2013/02/19/20482736/Puisi-puisi.Eko.Roesbiantono

Puisi Alamat Berdarah | Eko Roesbiantono

ALAMAT BERDARAH
Eko Roesbiantono

Laut telah larut
Siapa berangkat malam ini
lampu-lampu pelabuhan
menyimpan perih
rembulan begitu muram
pada layar-layar perahu
Siapa berangkat malam ini
Berlayar tanpa angin tanpa suara
ke laut tak di ketahui namanya

Laut telah larut
Siapa menikamkan jerit
palung sunyi hati
menggaris tanda di langit
Laut telah larut
terlalu gelap untuk menebak
sebuah pelabuhan
menetes di peta

”Aku bukan malin kundang!”
Jeritan itu memanjang
dan ditelan ombak lengang

Surabaya, 2013

Kamis, 28 Februari 2013

Puisi Nyanyian Meja Makan | Eko Roesbiantono

NYANYIAN MEJA MAKAN
Eko Roesbiantono


Dengarlah rintih dari meja makan ini
fried chicken diantara saos tomat berdarah
Ayam berkeok-keok meneriakkan hidup
teraniaya dalam siksa mutasi gen dan aneka racun
Lihatlah yang kaukunyah-kunyah itu
Ah sebenarnya matamu meneteskan air mata
tapi mulutmu yang mengalir gairah liur tak peduli
Lihatlah raksasa bertaring mengaum

Surabaya, 2013