Kerinduan
Hardho Sayoko SPB
Berulang kali mencoba retas bentangan sepi
tetapi selalu gagal setiap terengah menyibaknya
gelisah demi gelisah luruh bersama titik embun
tak pupus walau angin suka rela menghapus
nyatak peduli matahari yang kelu ikut membakarnya
Mencari jejakmu di antara warna bayang tak
jemu betapa keterbatasan memasung juga
padahal betapa keinginan selalu ingin menjamah
mengapa selalu ganggang dan ikan mendahuluinya?
Berulang kali menyingkap tabir yang tergerai
tetapi selalu saja enggan berlipat di luar hendak
padahal kesendirian selalu tak henti gapai
menghapus bercak lewat larik-larik noktah
yang rakus melahap jalinan mimpi-mimpinya
Kedunggalar, 20 Nopember 2009
Tampilkan postingan dengan label Hardho Sayoko SPB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hardho Sayoko SPB. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Februari 2011
Puisi Tentang Kerinduan | Hardho Sayoko SPB
Kuncup Daun | Puisi Karya Hardho Sayoko SPB
Kuncup Daun
Hardho Sayoko SPB
Selembar daun bergetar di ujung ranting
saat angin bukit berlari menuju hutan cemara
di pelataran sekubang air masih
beriak
ketika bayang-bayang mencoba mengaca
di likat lumpur setengah berjelaga
"Berilah daku kesempatan menimang waktu,"
ajuknya setelah puas menyerahkan
kehijauannya
dan semikan putik-putik penanda jejaknya
sebelum lewati perjalanan busurnya
Selembar daun bergetar seperti berdansa
sebelum dari jauh terdengar gemuruh suara
dan mentari sore yang letih
tersangkut di jendela
ketika sebait sajak meluncur dari arasyNya
serta sangsai pelahan menguraikan belitannya
Kedunggalar, 20 Nopember 2009
Ketika Merenda Bianglala | Puisi Hardho Sayoko SPB
Ketika Merenda Bianglala
Hardho Sayoko SPB
Waktu demi waktu pergi entah ke mana
setelah terekam sebagian perjalanannya
di pergelangan tangan yang lemah
berdetak
tanpa suara tanpa kata
sekadar sapa
Kau masih saja setia meniup kelopak puisi
setiap angin menggoyang daun-daun di pepohonan
katamu biar nenek yang meniup canting tidak kesepian
setelah kucing yang selama ini mengaku karib
ternyata diam-diam meninggalkan
rembulan
Di pergelangan tangan yang lemah
berdetak
kau masih saja terekam menggiring
waktumeski tanpa suara tanpa kata
atau sekadar sapa
pada bianglala ada bayang meongnya
Kedunggalar, 6 Juni 2008
Menatap Lengkungan | Hardho Sayoko SPB
Menatap Lengkungan
Hardho Sayoko SPB
Akhir sujud ketika keluh telah menjelma uap
yang berterbangan ke celah-celah langit
kalian masih saja mencoba meretasnya
lewat kesiur serapah yang sengau
memantul di tebing sunyi
gagal jadi sebait katayang rintih janin doa
Kedunggalar, 20 Nopember 2009
Suatu Sore di Antara Sisa Gerimis
Suatu Sore di Antara Sisa Gerimis
Hardho Sayoko SPB
Bocah-bocah kecil berlarian dikejar bayangnya
yang tak juga lelah meski genangan air
dan lumpur berulangkali menyergapnya
masih saja digulung canda
Mimpi apa saat bianglala sandar di kaki langit?
setelah layang-layang tinggal kerangka di kawat telepon
yang sudah tidak sanggup lagi menari-nari
setiap angin dengan beringas melepas syahwatnya
Bocah-bocah kecil berlarian dikejar bayangnya
yang tak juga lelah meski genangan air
dan lumpur berulangkali menyergapnya
masih saja digulung canda
Kedunggalar, 3 Juni 2008