Kuncup Daun
Hardho Sayoko SPB
Selembar daun bergetar di ujung ranting
saat angin bukit berlari menuju hutan cemara
di pelataran sekubang air masih
beriak
ketika bayang-bayang mencoba mengaca
di likat lumpur setengah berjelaga
"Berilah daku kesempatan menimang waktu,"
ajuknya setelah puas menyerahkan
kehijauannya
dan semikan putik-putik penanda jejaknya
sebelum lewati perjalanan busurnya
Selembar daun bergetar seperti berdansa
sebelum dari jauh terdengar gemuruh suara
dan mentari sore yang letih
tersangkut di jendela
ketika sebait sajak meluncur dari arasyNya
serta sangsai pelahan menguraikan belitannya
Kedunggalar, 20 Nopember 2009
Tampilkan postingan dengan label Tema Daun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Daun. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Februari 2011
Kuncup Daun | Puisi Karya Hardho Sayoko SPB
Rabu, 28 Juli 2010
CATATAN PADA DAUN
CATATAN PADA DAUN
LK Ara
Kau mencatat pada daun
Sebuah pesan
Ketika langit sangat biru
Tanpa awan
Setelah kau pergi
Jauh
Ku baca pesanmu
Lalu kusimpan
Jauh
Dalam diriku
Kini pesan itu
Mengalir dalam darahku
Dan bila aku mati
Ia kusimpan di syair sunyi
Jakarta, Februari 1986
Kamis, 17 Juni 2010
DOA SEHELAI DAUN KERING | Namun bertasbih kepadaMu
DOA SEHELAI DAUN KERING
Oleh : Emha Ainun Nadjib
Janganku suaraku, ya 'Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maĆshum dan aku bergelimang hawaĆ
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu
Jakarta 11 Pebruari 1999
Rabu, 16 Juni 2010
Puisi Hatiku Selembar Daun
HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh : sapardi Djoko Damono
hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Selasa, 18 Mei 2010
ADA DAUN GUGUR | Puisi Isbedy Stiawan ZS
ADA DAUN GUGUR
Isbedy Stiawan ZS
ada daun gugur
dekat pintu rumahku
dan warna kuningnya
mengabarkan dunia yang pecah
lewat tanah-tanah
hatiku gemetar
memandang namaku
yang mencari-cari rumah
akhirku
ada daun gugur
dekat jendela kamarku
dan warna terbakarnya
memandangku dingin
Surabaya 1994
Selasa, 04 Mei 2010
Puisi Bunga-bunga Daun Luruh | Korrie Layun Rampan
Bunga-bunga Daun Luruh
Korrie Layun Rampan
Bunga-bunga daun luruh
Halaman ditinggal adzan
jalanan senyap lubuk terpendam
Ke ujung tangisan
Suara menyapa dalam luruhan
Beranda sunyi menatap halaman
Apakah engkau apakah bosan
Yang setia berdiri di sisi kesepian
Bunga-bunga daun luruh
Halaman itu sunyi ditinggal diam
Pelangi mencium lubuk dan kolam
Kita pun di sini ngungun dalam gerimis duka jatuh
Menghitung-hitung sukma hari-had dekat dan jauh
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"