UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Hendy CH Bangun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hendy CH Bangun. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 September 2010

Sajak Taman Sastra (3) Hendy CH Bangun


Sajak Taman Sastra (3)
Hendy CH Bangun

Setelah puluhan tahun tak bertemu
Berubahkan mata indah yang kau puja dulu?

Lebih baik menerka-nerka
Lewat suara renyah
Pilihan kata-kata bodoh
Dan olok-olok yang kau tahu bohong

Sebaiknya kau berpikir
Lagu yang kau pilih
Untuk ilustrasi mengiringi
Kotak cinta yang kau buka lagi
Hits Chrisye yang populer kembali
Atau Ebiet G Ade yang bicara tentang sunyi
Seperti janji yang berlari tanpa permisi?

Siapa salah tak lagi masalah
Akuilah
Dulu kita pergi selagi marah

Masihkah merekah si senyum manis?
Ah, lebih baik tetap begini
Tak ada yang seindah imaji

Palmerah Barat, 13 Maret 2009

Sajak Taman Sastra (2)


Sajak Taman Sastra (2)
Hendy CH Bangun

Jangan campakkan ke kali
Edelweiss yang kupetik
Dari Lembah Suryakencana kemarin

Ribuan langkahkuTetes deras keringatku
Dari Cimacan sampai ke Puncak
Melewati Kandang Badak
Lalu turun di Pasar Cipanas
Menjiwai bunga cantik itu

Lihatlah lembut putihnya
Usaplah rambut-rambut halusnya
Kau akan merasakan
Cintaku bersamanya
Hiruplah harum tanahnya
Kau akan kenali hasrat
Yang mengalir dari ruapnya

Namun sore itu kau terpaku
Di depan professor yang membuka pintu
"Dia sedang keluar, tidak ada di rumah"
Lalu kau permisi dengan wajah merah

Platonis yang sempurna


Palmerah Barat, 13 Maret 2009

Sajak Taman Sastra


Sajak Taman Sastra
Hendy CH Bangun

: untuk sebuah nama

Terhimpit di sepi selasar
Dan merah cahaya senja
Kau cuma bisa menyumpah
Haruskah cinta melulu luka?
Haruskah semua kotak teka teki silang
Terisi penuh agar kudapat hadiah?

Di antara cemara berjajar di halaman belakang
Koral-koral mengurung langkah sepatumu
Rumput meranggas bukan tempat mengadu
Kata-kata itu kembali bergemuruh
"Kasih pun perlu kepastian
Semacam ijazah atau uang muka sebuah rumah"

Riuh burung gereja
Membuatmu nyaris tertawa
Buku, catatan, map yang lusuh
Tidak beda dengan senandung
Kesetiaan Shinta pada Rama
Yang kerap kau jadikan kidung merayu
Tidak laku, bung

Cinta bukan dongeng masa kecil yang selalu happy end
Seperti pangeran dan putri
ciptaan Hans Christian Andersen
Yang dulu kadang dibacakan ibumu
Sambil terkantuk-kantuk
Dan sibuk mengusir gigitan nyamuk

Ini bukan waktunya menangis
Seperti gelembung perment karet yang meletus
Kau bisa meniupnya lagi
Bahkan seribu kali kalau kau mau
Takkan ada air mata
Yang menetes dari matahari
Yang kau tatap dari lantai
tiga asrama setiap pagi

Palmerah, 13 Maret 2009

Aku Ingin | Hendy CH Bangun

Aku Ingin
Hendy CH Bangun

Sekali dua
Aku ingin tanpa cahaya
Supaya biasa
Meraba dalam gelap
Tanpa perlu menutup mata

Aku bisa menangis tanpa terlihat
Tepekur tanpa merasa malu
Berkerut tanpa ditanya
Memaki tanpa ditegur
Lalu aku bisa terantuk dan jatuh
Dan bangun
Sambil kesal atau tersenyum

Satu dua kali
Aku ingin tanpa suara dalam pekat
Menguji mata
Apa masih bisa melihat sinar
Barang setitik
Agar hatiku bisa membuang amarah
Tanpa kata-kata
Atau juga melepaskan panah benci
Ke pemilik langit
Walau tak berani meyakini
Dia akan mati

Sesekali
Aku ingin sendiri
Di ruang jelaga
Tanpa suara
Beku Dihimpit bumi
Supaya bisa mengatur nafas
Walau selubang pori
Menjejaki tapak para sufi
Ke ruang abadi

Aku ingin sekali
Tapi begitu keras
Hati ini
Tangan ini
Kaki ini
Kembali seperti biasa
Berkeluarga
Bekerja
Bertetangga
Bersedekah
Ke mesjid
Lalu bergunjingMencibir
Mencuri Memuji diri

Aku ingin sekali
Aku ingin sekali

Palmerah, 6 Mei 2009

Sajak Kampung | Karya Hendy CH Bangun


Kampung
Hendy CH Bangun

ada rindu bertalu-talu
pada sawah dan gunung
kerabat dan kampung
lenguh lembu dan cicit burung
saat waktu menandai umur

seperti baru saja
kau lompati pematang dan ladang
mengejar capung dan kupu-kupu
menarik benang layang-layang
atau main kejar-kejaran di lapangan
lalu mandi sampai sore di sungai berbatu
yang menjadi pembatas desa

seperti baru sekejap
sambil senandung kau petik jeruk dan biji kopi
atau ke hutan menguliti kayu manis
lalu sembunyi dan tertidur di rimbun kembang sepatu
dielus kicauan burung-burung

seperti masih terasa
tiupan dingin angin gunung dan lembah
dan kau menatap cemas lampu minyak
berdoa dia tak padam supaya kau tidak dicekik gelap
sementara di jalanberbatu di luar rumah
berjajar keranjang sayur menunggu dibawa tengkulak ke kota

seperti baru kemarin
dan waktu menciptakan kerut
kala menjadikan lupa

kapan pulang?
kian beku dibekap sibuk
atau tak lagi percaya
masih ada surga di sana

Palmerah Barat, 27 Agustus 2009


Elegi Batukarang


Elegi Batukarang
Hendy CH Bangun

Waktu seperti berhenti di sini
Meski rambut telah beruban
Nenek dan bapak sudah
di kuburan
Pohon kenangan tak lagi berdiri

Orang-orangan penjaga padi
Masih setia mengisi di pematang dan tepi
Mengusir burung lewat tali-tali
Yang dulu kau tarik ulur tiap hari

Aspal masih terkelupas
Membuncah batu dan tanah
Mengaduk kereta kerbauYang membawa pupuk dan cangkul
Atau sekadar makan siang

Bunga-bunga matahari mekar
Kuning, membakar semangat
Berjajar di tepi parit
Melambai diterpa angin
Kadang menyentuh jemari
Waktu dan bus berselisih

Nun tinggi di kanan
Berkilau belerang di bibir Sinabung
Meleleh di antara awan putih
Sambil kau bayangkan
Rimbun yang kian menipis
Ketika pohon menjadi kebun dan ladang

Kau takkan tersesat
Rumah-rumah masih bernomor sama
Hanya pintu jendela berganti warna
Kusam dan berlubang karena rayap
Tiang kian rapuh, penyangga mau rubuh
Seng di atap menjadi coklat, bahkan berlumut
Wajah di balik tingkap
Seperti tak ada bedanya tiga puluh tahun silam
: melulu derita di balik tawa
Zaman orla, orba, atau reformasi
Tanah kenangan terantuk-antuk tersisih
Dulu ditinggal penuh janji
Kini dilupakan si malin
Tak kembali Uang panen padi
Keringat bunda menyabitka ani-ani
Batuk ayah membajak sawah

Simpang tiga kian mati
Masih kau temui
Ceceran kotoran anjing
Dan liur daun sirih
Satu dua lelaki bersarung
Ibu-ibu bertudung
Berbincang atau duduk
Menghabiskan hari di kedai kopi
Tanpa tranksaksi berarti
Seperti pernah kau ingat dulu

Lapangan bola makin melalang
Tepi kali dulu kau mandi
Terban tak terurus
Titian kecil tempat memancing
Tinggal separuh
Pelataran tempat bermain
Tak lagi berbentuk
Nafas tinggal sedikit
Tapi aku tak yakin
Ingin menitip umur di sini

Jakarta 2007

Sajak Bencana | Puisi Bertema Bencana Alam


Bencana
Hendy CH Bangun

selalu kukira
aku mengenalmu
tapi ternyata belum

ketika kurasa kau tidur
gedung runtuh mendadak
surau dan sekolah terbelah
ketika kau gerakkan tangan
untuk sekadar menggeliat
dan ribuan orang berlarian
ke sawah dan bebukitan
bayi menangis, ibu menjerit

aku kerap merasa
bisa memahamimu
tapi kukira tidak

ketika kau menguap
gemuruh bergelora
air tinggi bergulung-gulung
lalu berayun-ayun perahu
menghempas pantai dan batang kelapa
menenggelamkan pasir
merendam jalan-jalan tepian

kini kutahu
aku harus terus membacamu
tiap-tiap huruf dalam buku
serta hela nafas dan gerakmu
karena kami bukan apa-apa
:sebatas debu dalam gurunmu

Palmerah Barat, 1 Oktober 2009

Puisi Tema Puasa | Karya Hendy CH Bangun

Puasa
Hendy CH Bangun

Bukan hanya gemetar dan rasa lapar
Terus membelit impian-impian liar
Mengingatkan pada amsal ular
Yang membuat
Adam dari surga terlempar


Bahkan saat kau dirikan
Tiang-tiang utama bangunan iman
Masih bertebaran
lumpur dan bau asam
Di setiap gerakan badan
Kumatikan pun semua indera
Tetap saja dia menyusup
Lewat aorta dan vena
Ke jantung yang berdegup


Betapa lemah
Betapa rendah
Bahkan tanpa digoda
Kau sudah mau menyerah


Saat Berbuka Puasa
Di tengah desah syukur
Dan sayup adzan melantun
Setan-setan berebut
Menyorongkan tangan ke mulut
Sampai kau tak sanggup


Empat belas jam bertarung
Kau nyaris kalah
di detik-detik terakhir
Diaduk silau hidangan
di atas meja
Yang diputarkan
iklan televisi setiap kali
Ada yang bilang itu biasa
Seperti menyerobot
antrian dan lampu merah
Atau mengantongi uang
tanda terima kasih
Lalu buat apakah
Kau menahan nafsu dan dahaga
Sambil berzikir?


Ingin kaupejamkan mata
Mengunjungi lagi
danau penuh teratai
Atau temaram senja
menenggelamkan
matahari di pantai
Terus terang
tak mudah menahan goda


Sehabis Berbuka Puasa
Jam berapa?
Lalu kau merasa
Cukuplah berdoa sendiri saja
Sambil mengeluhkan perut kenyang
Dan bising suara
anak-anak di mesjid
Saat shalat tarawih


Betapa berat menggulir
bola-bola tasbih
Ketika terdengar dialog
dan suara televisi
Menusuk kuping
Lalu kau bayangkan
gadis-gadis cantik
Dan komedi lucu
yang kau tonton rutin


Padahal padamu dijanjikan
Berlimpah bonus dan pahala
Yang belum tentu
kau temui ramadhan depan
Yang kau hitung
dengan kalkulator apapun
Hasilnya hanyalah
untung dan untung
Rahmat apalagi
Yang kau ingkari?

Masih tersisa sedikit malam
Untuk jam karet dan kantukmu
Segerakanlah

Palmerah Barat, 25 Agustus 2009