UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Tema Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Bencana. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2013

Puisi Gempa Sumbar dan Jambi | Rudi Setiawan


GEMPA SUMBAR Dan JAMBI
Rudi Setiawan

Rembulan pucat pasi
Langit muram meredam sunyi
Desir angin seolah berhenti
Amarah laut ditelan Bumi
Ratusan orang terkapar mati
Wajah-wajah tersaput duka hati
Hanya pada-Mu kami berserah diri

Doha, 02 October 2009
http://oase.kompas.com/read/2010/02/16/21371676/Puisi-puisi.Rudi.Setiawan

Sabtu, 01 Desember 2012

Puisi Tuhan, Jaga Hati Kami Agar Tak Tergoda

sumber gbr : foto.detik.com


TUHAN, JAGA HATI KAMI AGAR TAK TERGODA
odi shalahuddin

telah terbukti
tak perlu disangsikan lagi
bangsa ini memiliki solidaritas tinggi

pada berbagai kasus saudara kita mengalami derita
atau terhempas kehidupannya akibat bencana
(gelap catatan bagi korban akibat konflik bersenjata)
maka berbondong-bondong orang menggunakan berbagai cara.
sejak menghimpun barang hingga menggalang dana,
turun langsung sebagai relawan ataupun pembawa berita
semua seirama
dalam semangat menghapus segenap duka
menciptakan percepatan menjadi suka cita

tapi tak diingkari tingkah banyak kepala
berbagai kemungkinan memang serba terbuka
setiap jejak kaki menapak penuh sapa
ada lambaian-lambaian serasa menggoda
bila tak siap sedia, maka kita akan torehkan noda
Ah, memang, siapa bisa tahu hati dan rasa?

bantuan adalah amanah yang terbangun atas rasa percaya
tak usahlah bersungut terima barang-barang tak berguna
yang tak mungkin disalurkan, bisa dianggap menghina
tak usahlah terlalu gembira terima barang-barang mempesona
lantaran itu tentulah bukan hak milik kita
biasa-biasa sajalah, tersenyum sajalah
agar rasa tersiram sejuknya air surga

sudah terlalu banyak catatan terkabarkan dalam berita
baik tersebar dalam bisik-bisik, gosip ataupun terbuka
kisah-kisah sedih atas pengkhianatan terhadap korban bencana
pelakunya, bisa siapapun juga, termasuk kita

marilah kita senantiasa berdoa
kepada Tuhan agar diberi keteguhan jiwa
agar semangat tak melarut, tetap terjaga
saling mengingatkan agar luput dari goda
tetap riang bekerja bersama korban bencana
menyisihkan segala duka, harap bahagia dapat tercipta

satu jalan pilihannya
memberikan pertanggungjawaban secara terbuka

Yogyakarta, 14 Desember 2010

NB: Terinspirasi komentar dari seorang kawan (Bustanul ”Bokir” Arifin) pada perbincangan malam. Katanya:Tuhan, jagalah kami agar tak tergoda oleh bantuan bermutu tinggi. 

http://odishalahuddin.wordpress.com

Senin, 27 Februari 2012

Puisi Banjir | Lautan Jakarta



Lautan Jakarta
Alex R.Nainggolan

jakarta jadi laut
memungut air hujan
ngalir menggapai tubuh
rumah dan kesedihan
orang-orang bertahan dalam getir
apakah takdir atau mimpi buruk?

lautan jakarta
mimpi-mimpi mengapung
coklat air yang ngalir
tak surut-surut
memasuki lorong-lorong derita

kini semuanya memanggul larat
merapal doa
semoga tak menjadi kaum nuh
yang durhaka

kapan lagi hujan turun?
langit mendung
puluhan ribu tatapan murung

di sisi jakarta
luka kembali pecah

semuanya tenggelam!

Jakarta, 3 Februari 2007

Puisi Bencana Alam Banjir | Terjebak Air Banjir

Terjebak Air Banjir
- Hammad Ramadhan
Alex R.Nainggolan

engkau terjebak air banjir
berdiri menunggu dua malam
di ketinggian
tapi langit tak lagi biru
cuma mendung yang menggantung
aroma dingin menebar
matahari mati suri

berapa lama lagi air akan surut?
sebelum segalanya menyisa
bersama tumpukan lelah dan lumpur

engkau terjebak air banjir
ditikam kesunyian
tanpa komunikasi
listrik yang mati
telepon genggam yang mati

hujan mengguyur lagi
entah apa yang sedang kauperbuat sekarang?
sementara nyeri dingin air melulu tumbuh
berenang ke tepian hatimu
menyumbat ingatanku yang panjang padamu

ah, mengapa belum juga ada kabar darimu?

Jakarta, 3 Februari 2007

Rabu, 13 April 2011

Puisi Gempa Bumi Padang | Puisi Karya SBY

Dalam Duka, Kami Bangkit
Karya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tanah Minang pernah terguncang di senja gulita
oleh bencana yang tak terduga
Kuingat jerit dan tangis
membelah sudut-sudut kota dalam kelam dan duka

Di bumi ini, ribuan anak negeri
tiba-tiba pergi ke Hadirat Illahi
Di kota ini
Ratusan syuhada berpulang ke alam baka atas takdir Yang Maha Kuasa

Ya Allah, meski hati kami tergores lara mengenang mereka yang kucinta
Kami bersujud dalam tawakkal ikhlas menerima cobaan
Tetapi, Ya Robbana kami tak pernah menyerah dalam pasrah
dan bukankah dalam musibah selalu ada berkah
yang menuntun kami terus berkarya dan beribadah.

Kami semua telah bangkit dengan tekad dan cita-cita
untuk membangun kota ini memajukan negeri kami
dalam cahaya iman dan rahmatMu

29-9-2010
sumber : kompas.com


Sabtu, 18 September 2010

Sajak Bencana | Puisi Bertema Bencana Alam


Bencana
Hendy CH Bangun

selalu kukira
aku mengenalmu
tapi ternyata belum

ketika kurasa kau tidur
gedung runtuh mendadak
surau dan sekolah terbelah
ketika kau gerakkan tangan
untuk sekadar menggeliat
dan ribuan orang berlarian
ke sawah dan bebukitan
bayi menangis, ibu menjerit

aku kerap merasa
bisa memahamimu
tapi kukira tidak

ketika kau menguap
gemuruh bergelora
air tinggi bergulung-gulung
lalu berayun-ayun perahu
menghempas pantai dan batang kelapa
menenggelamkan pasir
merendam jalan-jalan tepian

kini kutahu
aku harus terus membacamu
tiap-tiap huruf dalam buku
serta hela nafas dan gerakmu
karena kami bukan apa-apa
:sebatas debu dalam gurunmu

Palmerah Barat, 1 Oktober 2009

Minggu, 29 Agustus 2010

Puisi Tentang Banjir | Ajaibnya Banjir

Ajaibnya Banjir

ya – jambatan itu hampir roboh ketika banjir besar, alangkah ajaibnya banjir itu bertukar kepada selendang sutera, gumamku di tengah-tengah menghadap alam maya berteleku meratib ketakjuban, inilah pengantara yang telah azali antara yang terang dan yang tersembunyi. saat keajaiban membawaku terbang lebih akrab dalam awan jernih memandang jambatan tegak tegap diulit selendang sutera menggantikan samudera.


Kumpulan Puisi:Kembali di Lahad Rahsia
HASYUDA ABADI
Pustaka Iqbal Nazim
Kota Kinabalu, Sabah.
8 Rabiulawal 1429H


Kamis, 24 Juni 2010

Puisi Tema Bencana Alam | Ladang Batu Sulaiman Juned

LADANG BATU
Karya: Sulaiman Juned

terlambat
mengeja tasbih di bibir
angkuh. Menyekap jejak tubuh
zikir-pikir meluruh Balai Losa berladang batu

terlambat
mengeja jiwa terluka di ujung
bulan. Kemana sembunyikan getir
durinya tertancap kulit-daging-hati rakyat PasieLaweh
Balai Losa jadi ladang batu-air dan lumpur.


terlambat
mengeja nama-Mu. Saksikan Balai Losa jadi ladang batu
pekik-tangis menyatu dalam gemuruh lahar dingin merapi
aku hanya mampu mengantar mawar biar sempurna segala kisah
Itulah kami ya Allah yang angkuh dan pongah
sering lupa jika sedang dirundung bahagia
hilang ingat jika sedang berpesta. Tak tahu diri
jika sedang berkuasa alpa melaut di sajadah
menjenguk wajah-Mu. Sekali lagi maafkanlah
(kita hanya debu ditelunjuk Alllah ya Allah).

Batusangkar, 5 April 2009


Catatan: Balai Losa (Bahasa Minang = Pekan Selasa).
Merupakan sebuah pasar tradisional yang berada di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar yang sekarang di timbun oleh pasca longsor.



Rabu, 16 Juni 2010

Kumpulan Puisi Bencana Alam | Puisi Tentang Tsunami Aceh

TSUNAMI 1
Arafat Nur

Seharusnya kubuat kapal besar
di puncak gedung bertingkat itu
tapi sebelumnya tak ada pertanda
juga isyarat lainnya

badai gelombang itu datang tiba-tiba
bahkan sesudah gempa
tak ada senggang waktu untuk mengira

aku hanya bisa berharap
ada kapal besar yang lewat
tapi sudah lama sekali
kapal Nuh tidak berlayar lagi

Lhokseumawe, 07 Januari 2005



TSUNAMI 2
Arafat Nur

seusai badai gelombang
di pantai itu aku menemui
seorang lelaki tua
Khidir namanya

lantas kakek kurus itu bercerita
muatan perahu Nuh sudah penuh
ia hanya sebentar singgah di sini
membawa beberapa anak dan orang dewasa
berlabuh ke surga
sayang, jumlahnya sedikit saja


Lhokseumawe, 07 Januari 2005


Kumpulan Puisi Arafat Nur (Lagu Kelu - Puisi Penyair Aceh)


Minggu, 02 Mei 2010

Pembangunan Melenggang

PEMBANGUNAN MELENGGANG
Idris Pasaribu

sejuta mata memandang
sekejap sirna tertelan tsunami
aceh pun meregang

kenapa pembangunan jalannya melenggang
bagai bebek pulang petang?


Puisi Korban Tsunami | Pusara Dinda

PUSARA DINDA
Idris Pasaribu :

- kekasih korban tsunami

adinda,
aku datang dengan sejuta bunga
sejuta aneka warna dan aroma, untukmu
kemana aku harus meletak
sementara pusaramu aku tak tahu
hanya kusaksikan dari teve
alat-alat berat, buangkan jasadmu
sebuah lubang besar
menganga

adinda,
nisanmu tak kutemukan
lelah aku mencari entah di mana
kubangun sebuah nisan abadi
di hatiku
di sini!

2005

Puisi Gempa Bumi dan Tsunami | Lonceng Nias

LONCENG NIAS*)
Idris Pasaribu:

baru saja lonceng gerejamu berdentang
kau nyanyikan kidung agung, atas lahirnya Isa
kau gilirkan hosti.
inilah darahku, darah perdamaian
Inilah tubuhku, tubuh menyelematkan.
dentang lonceng menggemuruh, bukan oleh tarikan tangan
Di guncang dan di ambingkan oleh gempa
kau berseru, berhentilah…
tiba-tiba air menggerumuh
sapukan seluruh tubuh, jiwa, ruh
entah ke mana
raib.
tahun lalu, banjir menghabiskan segala.
dua bulan lalu, api menjilat semua yang ada
kini tsunami menyapu seluruh
bersama kau dengan saudaramu di Aceh
kini gempa datang lagi
tubuhmu tak habis di landa tsunami dalam berbagai versi

2005

*) pulau Nias di Sumatera Utara


Puisi Bencana Tsunami | Kita Harus Melawan Meutia

KITA HARUS MELAWAN MEUTIA
Idris Pasaribu :

I
Ketika tsunami portugis menghempasmu meutia,
Kau gagah menantang dan melawan
Kau dirikan pelabuhan tua meurehom daya*)
Kau hitung semua biji pala, cengkeh dan merica
Kau tantang dengan darah merah, kau usir mereka.
Kau melawan meutia.

II
Ketika tsunami belanda menghempasmu meutia, kau gagah
Angkat senjata
Kau hunuskan rencong mengacung ke angkasa.
Kau derapkan langkah
Kau perempuan perkasa
Kau bangunkan kerkhooft*)
Jenderal pun kau kubur di sana
Tak sejengkal tanahmu dengan nyaman di injak olehnya.
Kau melawan meutia.

III
begitu banyak tsunami kau hadapi meutia, sayangku.
begitu gagah kau menghadang dengan darah dan airmata.
dengan doa pada bentang sajadah

IV
akhir desember 2004
tsunami gemuruh hancurkan semua dalam lara
dalam sejarah panjangnu, kau tak henti di landa tsunami
berbagai rupa
kita harus melawannya meutia
mari singsingkan lengan baju, hapuslah kucuran airmata
kucurkan keringat baru, membangun rumah baru

2005

*) nama kerajaan kecil masa lalu sekitar kota Lamno kab. Aceh jaya
*) komplek kuburan serdadu Belanda yang tewas di Aceh

ACEHKU SAYANG, ACEHKU MALANG | Puisi Idris Pasaribu

ACEHKU SAYANG, ACEHKU MALANG
Idris Pasaribu :

Deru air bersama angin melaju
Derak pepohonan dan rumah tumbang
Dalam gerak singkat
Dalam detik
Sirna
Acehku sayang…
Tak habis di rundung malang
Acehku malang…
Bawa ribuan jiwa melayang
Bersama Tsunami ruh mengawang

2005