Sajak untuk Kawan
Widzar Alghifary
jika malam ini aku sedih
sungguh, itu bukan bersedih karenamu
kesedihan, dia seperti musim
menyerbu kita tanpa pernah bisa kita melawan
jika malam ini aku bahagia
sungguh, itu bukan berbahagia karenamu
kebahagiaan, dia seperti cuaca
memaksa kita menerimanya begitu saja
dan malam ini, aku tidak sedang sedih atau bahagia
aku hanya ingin melihatmu tertawa
2008
Tampilkan postingan dengan label Tema Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Sajak. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Mei 2011
Sajak untuk Kawan | Widzar Alghifary
Kamis, 14 April 2011
Puisi Api Unggun di Atas Sajakmu | Musthofa Aldo
Api Unggun di Atas Sajakmu
Oleh: Musthofa Aldo
Di sepanjang via dolorosa
Para demonstran membuat api unggun diatas sajakmu
Dan langit pun kehilangan warna
Dan sajak-sajakmu kehilangan kata-kata.
Lalu, bercak-bercak darah bercipratan
Bersama hujan yang gundah sepanjang malam
Menyirami jejak-jejak huruf yang tinggal puing
Menghayutkan perih pada liang luka berkeping-keping
Malam itu kusaksikan
Seorang musafir memanggang puisi
Diatas api unggun itu.
2009
Kamis, 31 Maret 2011
Secekat Sajak dalam Gerimis Sebuah Pagi
SECEKAT SAJAK DALAM GERIMIS, SEBUAH PAGI
Fati Soewandi
secekat sajak mendesirkan lenguhnya
dalam Gerimis busung, sebuah pagi yang dikandaskan lungkrah Terik
abjad-abjad direnggut setakik pukaunya
tak ada yang mencatat jejak Sabit, gusur Langit,
dan gemetar rindu dalam satu nafas.
di kulum embun pasi
daun-daun muda berkaca: o, kebermulaan senantiasa menagih erang
dan mengakrabi ketidakpastian
berapa benih air mampu menderaskan Hati paling kering
di gigil Janji, secekat sajak mendesaukan seresah dekap
menghunjam rasa benci pada seluruh waktu dan musim
yang tak usai datang dan pergi menjadi Abu
: kata-kata memberi nafas kesunyian yang pernah dikumpulkan
Surabaya 2007
sumber: kompas.com
Minggu, 23 Januari 2011
Sajak Hitam | Karya Fernando
Sajak Hitam
Fernando Marco
Kesunyian ialah sekumpulan kelelawar
yang memecah kesendirian dalam bisu
melawan setiap kesaksian tak berbatas
tanpa penghalang tembok bernama satu
aku tak ingin menjelajah lagi dalam gelap
walau aku tahu tembok itu ada dihadapan
sangat jelas hitam dan putih ada di sana
bahkan mampu melenyapkan langit
yang tiap pagi kuhela
apa semua ini hal yang sama di tiap sepi
sebuah kesepian apa selalu akan begini
saat pikiran itu adalah sekumpulan kelelawar
itulah sunyi
Padang, Mei 2009
Sabtu, 18 September 2010
Sajak Taman Sastra (3) Hendy CH Bangun
Sajak Taman Sastra (3)
Hendy CH Bangun
Setelah puluhan tahun tak bertemu
Berubahkan mata indah yang kau puja dulu?
Lebih baik menerka-nerka
Lewat suara renyah
Pilihan kata-kata bodoh
Dan olok-olok yang kau tahu bohong
Sebaiknya kau berpikir
Lagu yang kau pilih
Untuk ilustrasi mengiringi
Kotak cinta yang kau buka lagi
Hits Chrisye yang populer kembali
Atau Ebiet G Ade yang bicara tentang sunyi
Seperti janji yang berlari tanpa permisi?
Siapa salah tak lagi masalah
Akuilah
Dulu kita pergi selagi marah
Masihkah merekah si senyum manis?
Ah, lebih baik tetap begini
Tak ada yang seindah imaji
Palmerah Barat, 13 Maret 2009
Sajak Taman Sastra (2)
Sajak Taman Sastra (2)
Hendy CH Bangun
Jangan campakkan ke kali
Edelweiss yang kupetik
Dari Lembah Suryakencana kemarin
Ribuan langkahkuTetes deras keringatku
Dari Cimacan sampai ke Puncak
Melewati Kandang Badak
Lalu turun di Pasar Cipanas
Menjiwai bunga cantik itu
Lihatlah lembut putihnya
Usaplah rambut-rambut halusnya
Kau akan merasakan
Cintaku bersamanya
Hiruplah harum tanahnya
Kau akan kenali hasrat
Yang mengalir dari ruapnya
Namun sore itu kau terpaku
Di depan professor yang membuka pintu
"Dia sedang keluar, tidak ada di rumah"
Lalu kau permisi dengan wajah merah
Platonis yang sempurna
Palmerah Barat, 13 Maret 2009
Sajak Taman Sastra
Sajak Taman Sastra
Hendy CH Bangun
: untuk sebuah nama
Terhimpit di sepi selasar
Dan merah cahaya senja
Kau cuma bisa menyumpah
Haruskah cinta melulu luka?
Haruskah semua kotak teka teki silang
Terisi penuh agar kudapat hadiah?
Di antara cemara berjajar di halaman belakang
Koral-koral mengurung langkah sepatumu
Rumput meranggas bukan tempat mengadu
Kata-kata itu kembali bergemuruh
"Kasih pun perlu kepastian
Semacam ijazah atau uang muka sebuah rumah"
Riuh burung gereja
Membuatmu nyaris tertawa
Buku, catatan, map yang lusuh
Tidak beda dengan senandung
Kesetiaan Shinta pada Rama
Yang kerap kau jadikan kidung merayu
Tidak laku, bung
Cinta bukan dongeng masa kecil yang selalu happy end
Seperti pangeran dan putri
ciptaan Hans Christian Andersen
Yang dulu kadang dibacakan ibumu
Sambil terkantuk-kantuk
Dan sibuk mengusir gigitan nyamuk
Ini bukan waktunya menangis
Seperti gelembung perment karet yang meletus
Kau bisa meniupnya lagi
Bahkan seribu kali kalau kau mau
Takkan ada air mata
Yang menetes dari matahari
Yang kau tatap dari lantai
tiga asrama setiap pagi
Palmerah, 13 Maret 2009
Senin, 30 Agustus 2010
Sajak 17 Mei
Sajak 17 Mei
: Rosalia Hening Wijayanti
satu lingkar tahun kembali tergores di penampang pohon jati yang kami semai. musim yang merontokkan daun-daun dari ranting pokok jati itu selalu mengingatkan kami untuk waspada: kemarau bisa lama, atau absen dari ramalan cuaca. batang jati kami tumbuh semakin kukuh dan besar, bertunas pula seperti menegaskan harapan kami yang kukuh dan besar. di usia yang begitu muda, pohon kami sering bertaruh dengan angin yang sering berubah haluan, sedangkan kami terlalu sibuk menebak arah buritan. kami berharap pohon kami semakin perkasa dan berwibawa dengan gurat lingkar tahun yang semakin berirama, dan galih menghitam di tengahnya semakin keras oleh usia, oleh cinta yang kian beraroma seperti anggur tua terperam ribuan lingkar cuaca.
TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com
Selasa, 24 Agustus 2010
Dalam Sajak Cinta | Puisi Sajak Tentang Cinta
Dalam Sajak Cinta
Samsul Bachri
Pada lorong-lorong ini saat senja
Aku seperti terbuai akan sebuah lantunan sajak cinta
Syair-syair merdu itu seakan ingin ikut bersamaku dalam kegembiraan ini
Sajak cinta yang bercerita akan indahnya hidup
Dengan sejuta hasrat agar selalu ingin bersama
Sajak cinta akan Rabb yang selalu setia menjaga dan mengingatkan
Dalam syair-syair itu aku seperti yakin akan pilihanku
Dalam cinta yang tumbuh hanyalah rasa
Dalam kasih yang berkembang adalah jiwa
Dalam sajak cinta ini aku seperti manusia yang baru tersadar
Bahwa indahnya dunia ini bukan hanya untuk dinikmati seorang
Ikatlah jiwa lain dalam jiwamu untuk lebih indah
251199
Sajak Tipe 21
Sajak Tipe 21
Hasan Aspahani
1. Telah kusuling
seluruh kata
jadi sajak yang
sangat sederhana
hmm, kenapa masih juga
kau tanya: ini artinya apa?
2. Bunga yang mekar tadi pagi
akan begitu lekas layu, katamu
luruh, selembar demi selembar.
Begitulah, tak juga kau sadar
dalam sajak yang sederhana ini
telah diajarkan oleh mawar
membalas budi kepada tanah dan akar.
Feb 2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Senin, 23 Agustus 2010
Kali Ini, di Sajakku Ada Ular
Kali Ini, di Sajakku Ada Ular
Hasan Aspahani
akulah telah belajar pada marah ular
melapis mengelupas lapar ngejar liar
rahangku perangkap, rahang gelap ular
kata kulahap, akh! maki kutuk kutebar
di darahku mengalir racun seribu ular
di setiap lukaku tumbuh taring ular
kuburu Entah pada semak paling belukar
kutemu Engkau pada mangsa menggelapar
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Jumat, 20 Agustus 2010
9 Sajak Kosong, untuk Desain Kaus Oblong
9 Sajak Kosong, untuk Desain Kaus Oblong
Ini sajak kosong. Jika ada yang menemukan sesuatu dalam kekosongan
itu berarti suatu keberuntungan. Ambil saja. Saya sendiri membayangkan
sajak-sajak ini hanya akan berarti ketika di cetak di kaus oblong dan
kemudian dipakai oleh seseorang. Tabik!
/1/
aku berpakaian
maka aku ada
menurutmu,
apakah yang tiada?
/2/
di dalam tubuh yang sehat,
di luar t-shirt yang hebat!
di antaranya, apa yang kau lihat?
/3/
di suatu tempat, sayang
harus kutanggalkan pakaian ini
dan kau? harus kubantu?
atau kau lakukan saja sendiri
untukku?
/4/
tuan bukan Tuhan, bukan?
tunggu sebentar
saya pakai baju dulu...
/5/
engkaulah yang menyapaku,
"hei, kausmu bagus sekali!"
sejak itu, aku tak pernah
mengenakan kaus ini lagi
sampai hari ini, ketika
kupakai lagi kaus ini
dan kau pun berseru
"hei, rasanya aku pernah
melihat kaus seperti ini!"
/6/
kalau kelak engkau bertemu
seseorang dengan kaus seperti
yang membungkus tubuhku ini,
belum tentu engkau saat itu
bertemu dengan aku, sebab
bisa saja...
/7/
kaus ini sebenarnya, hanyalah
sebuah kaus biasa saja, aku
membelinya di sebuah kios
kaki lima, harganya pun tak
terlalu istimewa, artinya
terjangkau oleh kantung siapa saja
di bagian depan kau baca ada
tulisan - DATANG TAMPAK MUKA -
dan di bagian belakang bisa
kau baca - PERGI TAMPAK PUNGGUNG -
masalahnya aku sering lupa, dan
kerapkali bingung menentukan
mana bagian depan, mana belakangnya
meskipun tentu saja aku selalu
ingat, mana punggunggu dan mana muka
tapi, ah! kenapa aku tak pernah
bisa menegaskan, aku ini sedang
datang ataukah tengah pergi?
* inilah sajak ke-8 dan ke-9 yang
saya janjikan di www.cybersastra.net
/8/
dia hendak membeli kaus di sebuah
kios, dia memilih-milih, sebab
banyak sekalu yang bisa ia pilih, ada
kaus bergambar che guavara, ada
yang bergambar bob marley, ada
yang gambarnya slank, eh sinchan
juga ada, smurf juga, donald bebek,
megawati, asterixz & obelix, VW kodok,
dewa 19, dora emon, iwan fals, winnie
the pooh, gus dur, nirvana, converse,
britney spears, amien rais, limp
bizkits,... dia terus saja memilih
sampai pemilik kios itu bertanya, " Anda,
mau cari kaus seperti apa sebenarnya?
"oh! oh! saya mencari kaus polos saja,
biar bisa kugambar wajahku sendiri,
saudara..."
/9/
inilah kaus yang kau berikan
padaku dulu, "kenakan
saja, sebagai pengganti diriku,"
katamu
aku tahu, di suatu tempat
kau tersenyum, melihat
aku memakai kaus ini.
"lihat! kau terperangkap
dalam diriku," katamu.
des2002
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Beginikah Mestinya Cinta Disajakkan?
Beginikah Mestinya Cinta Disajakkan?
cinta ini sayang, menyebab jagaku rusuh tidurku resah, maka
sayangku, tanpa setahumu, aku telah membaca
beribu-ribu sajak cinta, tapi hingga kini, aku tak bisa
juga temukan itu keyakinan, aku, wahai sayangku
justru semakin dirundung ragu, dikepung gamang itu
: memang beginikah mestinya cinta disajakkan?
karena, wahai sayangku, rasanya cintaku padamu
tak akan pernah bisa puas terwakilkan
dengan seindah apapun sajak, tersebab itu
sayangku, apakah ada cara lainnya agar
cintaku ini, padamu sempurna sampainya
jan2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Sajak yang Ditulis di Lampu Merah
Sajak yang Ditulis di Lampu Merah
Hasan Aspahani
tak ada, tak
ada
(sebab baru saja
kutemu sekata
lampu hijau menyala)
ah, bodohnya
hidup kok mau-maunya
diatur oleh
warna-warna.
jan2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Rabu, 28 Juli 2010
DI DEDAHAN SAJAK
DI DEDAHAN SAJAK
Nanang Suryadi
di dedahan sajak beburung jiwa singgah
istirah melepas lelah
penempuhan adalah jejalan panjang
berliku dalam pusaran waktu
di dedahan sajak beburung jiwa menyanyi
nyanyi rindu kekasih diri
demikian cinta memanggil panggil
mendebarkan jejantung hati
di dedahan sajak beburung jiwa melagulagu
mengetuk paruh pada pepohon irama kata
pepohon hidup menari-nari
dipeluk dipagut sepoi hembus berangangin
di dedahan sajak beburung jiwaku singgah
istirah melepas lelah
Depok, 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Senin, 05 Juli 2010
Sajak Cinta | Sajak Tentang Cinta Pranita Dewi
Sajak Cinta
: bagi kita
sempat pula kumerenung
jika suatu nanti angin mendung
tak lagi berkabung
kita bersuami-istri
di sisi kita ada cinta
rumah kecil kita
walau gubug reyot
tapi ada cinta
tempat tidur dipan kita
walau keras
namun ada cinta
lantai tanah kita
walau kasar
tetap ada cinta
kita tak punya tv berwarna
masih kita punya cinta
kita mewarna dalam cinta
sebab kita tumbuh dari cinta
cinta untuk bercinta
mawar sudah tak lagi dijamah
edelweis di sebelah kita merekah
di halaman cinta kita
hati kita diteduhi cinta
kita tak habis mencinta
2003
Sumber : Kumpulan Puisi "Pelacur Para Dewa"
Pranita Dewi
Rabu, 30 Juni 2010
Puisi Tentang Buruh | Sajak Buruh
Sajak Buruh
Faisal Muchtar Al Khaufi
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
anak – anak negeri berjalan pergi
menyisir waktu dan ruang
tubuhnya di beli hatinya terkunci
oleh singa-singa industri
seperti melacur….
seperti robot-robot bernyawa…
darahnya mengental keringat mengkristal
dalam panas yang menggumpal
deru mesin-mesin pecahkan telinga
bersama lapar yang menganga
memuja tembaga….
memuja mesin-mesin…..
seperti berhala….
kemanakah nasib buruh negeri ini
kalau upahnya dikebiri
kemanakah nasib buruh negeri ini
kalau hak-haknya dicuri
buruh…bersatulah
Karawang, 2008
Sajak Tahun Tuhan | Faisal Muhctar Al Khaufi
Sajak Tahun Tuhan
Faisal Muhctar Al Khaufi
tahun-tahun bermunajat
saat doa-doa disepuh alim ulama
melulu batu-batu disepuh ayat suci
dan nafas para sifi mengetuk pintu langit
menguak tabir pada hati yang kecemasan
tahun-tahun menangis
di dasar hati yang terkikis
namun rindu tak terhapus
oleh cinta yang mulai pupus
tahun-tahun menelan dzikir
di sepertiga malam yang getir
dan rindu pun menyauh
di atas sajadah lusuh
orang-orang pun menari layaknya
mulana menari di depan tuhan
aku juga menari
ya disini
di dasar batin ini
Tasikmalaya 2003
Aku Tulis Sajak ini Dengan Air Mata
Aku Tulis Sajak ini Dengan Air Mata
Faisal Muhctar Al Khaufi
mengapa harus rumah itu
kenapa tidak kita saja yang dikorbankan
guci-guci tua, lukisa-lukisan tanpa nama
bantal guling yang bersaksi lahirnya kita
tali pusar yang terbungkus kapas putih
burung nuri yang riang setiap hari
foto-foto masa kecil yang jenaka
tak hanya itu yang kita punya
mengapa harus rumah itu
kenapa tidak kita saja yang dikorbankan
sungai ceotan yang mengalir dengan tenang
gagahnya gunung kapur di depan rumah
masjid tua warisan abah kita
dan taman kanak-kanak tempat kita sekolah dulu
terasa begitu berat meninggalkannya
bisingnya pabrik peleburan kapur
dentuman dinamit pemeceh karang
dan betapa riangnya bermain
di bawah rindang sang pohon jambu
sambil menunggu ayah pulang
semua itu masih melekat dalam ingatanku
wajah desa dipagi hari
betapa sejuknya udara gunung
hangatnya matahari menyentuh kepala
juga langit yang acap kali menaburkan
serbuk hujan adalah nyata
nyata bagi kita
mengapa harus rumah itu
kenapa tidak kita saja yang dikorbankan
duhai Allah yang maha bijaksana
begitu mulia ibu merawat tiga anaknya
hingga saat menjelang tidur pun
ibu menyanyikan lagu syahdu untuk kita
lagu yang membawa kesurga paling indah, milik kita
yang tak pernah terlupakan ketika mata kita terbuka
ibu sudah tiada
rambutnya tertata rapih dengan senyum di bibirnya
bahu yang penuh kehangatan memeluk kita bertiga
sementara matanya tertutup dengan damai
ingatlah sebuah nisan putih
bertuliskan nama yang tak asing
nama yang tak hancur di terpa jaman
meski ada yang menggantikannya
dan itu semua terjadi di rumahku
rumah mu rumah kita.
Karawang 2005
Kamis, 24 Juni 2010
Kenangan | Sajak Ulang Tahun Yunis Kartika
KENANGAN
(Sajak Ulang Tahun Buat Sobatku Santi)
Yunis Kartika
Mentari belum lagi bersinar
belum lagi panasnya membakar
bukan syarat tuk memulai
seperti keyakinan
seperti tangan kita berpegangan
seperti saat mata bertatapan
tidak diperlukan kata "mulai"
1998