UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label LK Ara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LK Ara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Agustus 2010

Puisi Sinar By : LK Ara

SINAR
LK Ara

Tuhan
Aku perlu matahari
Sinar yang kau hamparkan
Bagi umat semesta
Tapi aku perlu juga
Sinar mata kekasih
Sinar mata yang menggorek dosa
Dan menggantinya
Dengan amal dan iman

Lamprik, 9 Agustus 1986

UNTUK DO KARIM | Puisi Dalam Mawar

UNTUK DO KARIM
LK Ara


Pagi ini
Seperti ada yang menitik ke bumi
Barangkali embun
Atau gerimis sunyi
Atau desah syair sepi

Pagi ini
Seperti ada yang bergumam di bumi
Barangkali suaramu
Atau jerit luka
Atau tusukan syairmu
Ke hulu hati

Pagi ini
Seperti terdengar kersik angin
Atau percik keringat bumi
Mengguratkan namamu
Di pualam abadi

Sigli, 20 Juli 1986

DI TANGSE | Kumpulan Puisi Dalam Mawar

DI TANGSE
LK Ara

Siapa yang masih mendengar suara
Yang bangkit dari rumput
Siapa yang masih mendengar suara
Yang mengalir dari air
Siapa yang masih mendengar suara
Yang menjerit dari tanah
Dari daun
Dari pohon
Dari duri
Dihutan Tangse ini
Suara serak parau
Suara wanita
Yang berkata
Jangan sentuh aku
Jangan
Meski aku haus
Dan kau tawarkan air minum
Jangan sentuh aku
Meski lukaku menganga
Dan kau ingin membalutnya
Jangan
Jangan sentuh kulitku
Kerena kau kafir
Musuhku

Banda Aceh, 2 Agustus 1986

MENCARI JEJAK | LK Ara

MENCARI JEJAK
LK Ara

Malam itu
Aku
Seperti terlempar
Di kotamu

Aku memang tidak punya apa-apa
Dan tak mencari siapa-siapa
Jendela dan pintu
Telah tertutup untuk ku

Angin dengan leluasa
Merubuhkan tubuhku
Di emper-emper toko
Dan got jalanan

Tapi mimpiku mengalir
Bersama sunyi
Mencari jejakmu
Sampai dini hari

Penayung, 8 Agustus 1986

BILA KELAK | Rindu kita akan tetap mengalir

BILA KELAK
LK Ara

Wahai
Bila kelak
Kau berangkat
Memetik bunga
Dan menari
Sepanjang jalan raya
Lemparkan aku di pasir

Aku akan tinggal di pasir
Aku akan berumah dipasir
Aku akan tidur di pasir
Aku akan mengutip nyanyianmu di pasir
Aku akan meraba kasihmu di pasir
Di pasir
Rindu kita akan tetap mengalir

Jakarta, 1986

PERJALANAN MALAM | Puisi Tentang Perjalanan Rindu

PERJALANAN MALAM
LK Ara

Seperti awan
Menjamah punggung bukit di jauhan
Begitu jemariku
Penuh kasih
Penuh rindu

Sebuah perjalanan malam
Sudah kita lalui
Perjalanan rindu
Antara awan dan bukit
Antara kau dan aku

Jakarta, 1986

KENING BULAN | Bersinar oleh cahaya iman

KENING BULAN
LK Ara

Kening bulan
Bagai perak berkilau
Bersinar oleh cahaya iman
Yang selalu melekat
Di sajadah

Kening bulan
Bagai perak berkilau
Mendekatlah
Kepada angin kembara
Yang nestapa
Yang mencari
Dan mengembara
Di belantara dunia

Mendekatlah
O kening bulan
Angin kembara
Ingin mengecupnya
Untuk melepas risaunya

Jakarta, 1986

KASUR | Puisi Puisi LK Ara

KASUR
LK Ara

Kau rajut daun
Dengan benang kasih
Kau susun pasir
Dengan nada rindu
Menyiapkan kasurku
Untuk tergolek tidur
Dan mimpi
Di sampingmu

Ujung Bate, 1986

LAUT SIGLI | Semua risau kubenam kelaut mu

LAUT SIGLI
LK Ara

Semua keluh kukirim kepadamu
Semua risau kubenam kelaut mu
Rasa kesal dan benci kusampaikan kepadamu
Rasa kawatir dan takut kuceritakan padamu
O, laut Sigli

Semua derita ku tumpahkan kepadamu
Semua rindu kunyanyikan untukmu
Rasa sunyi dan nyeri kukirim padamu
Rasa takluk dan menyerah rubuh kepangkuanmu
O, laut Sigli
Izinkan aku memanggilmu
Ibu

Sigli, 21 Juli 1986

BANDA ACEH | Puisi LK Ara

BANDA ACEH
LK Ara

Yang masih ku ingat tentang dirimu
Adalah pahatan sejarah di batu
Dalam goresan bisu
Yang kuraba dengan rindu

Ujung Bate, 8 Agustus 1986

WANITA DARI LAMPADANG | Puisi Tentang Wanita Dari Lampadang

WANITA DARI LAMPADANG
LK Ara

Ada seorang wanita dari Lampadang
Rumah dan kampungnya dibakar
Lalu ia menyingkir ke hutan rimba

Ketika remaja
Ia bukan gadis manja
Ringan tangannya
Bergunjing ia tak suka
Tak sombong ia
Tekun belajar agama

Langit bersih
Udara nyaman
Ketika itu
Tiba-tiba pasukan Belanda
Menyulut nyala
Membakar Mesjid Baiturrahman
Api marak tak tertahan

Wanita dari Lampadang itu
Keluar rumah buru-buru
Matanya merah
Menatap kobar api
Lalu menjerit
Wahai rakyat Aceh yang beriman
Lihat sendiri
Rumah suci
Mereka bakar dengan api
Nama Allah
Mereka cemarkan
Masikah kita
Mau jadi budak Belanda ?

Lalu
Semua orang
Keluar rumah
Pedang dan rencong
Dicabut dari sarong
Semua mereka berseru
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Seketika pucuk rumput berdarah
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Kolam-kolam berwarna merah
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Langit berwarna merah
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar

Orang Belanda
Kohler namanya
Jenderal pangkatnya
Tewas saat itu juga

Wanita dari Lampadang
Menyapu keringat di keningnya
Perlahan tersenyum ia
Melihat Belanda mundur
Surut bertempur

Jakarta, 1985

Rabu, 28 Juli 2010

ADA DOA - Puisi Penyair Aceh LK Ara

ADA DOA
LK Ara

Di Sibaganding
Ada batu gamping
Batu coklat
Bergaris putih
Berpercik pijar
Batu keras
Kristal zaman lalu
Air mata nenek moyangku

Di Sihusapi Dolok
Ada pasir debu
Pasir kelabu
Bekas keluh
Semangat berpeluh
Nenek moyangku

Di Tomok
Ada tufa
Batu bersih
Hampir putih
Tergurat peta
Nasip nenek moyangku

Di Deli Tua
Ada andesit
Batu terhimpit
Batu diam
Berwarna kelam
Runcing tajam
Tempat semadi diam
Zikir moyangku
Kepada – Mu

Medan, Februari 1986

AKAR TUA DI MUSEUM | Puisi LK ARA

AKAR TUA DI MUSEUM
LK Ara

Akar tua rapuh dan terpotong
Disimpan dalam kotak kaca
Disebuah museum tua

Tiba – tiba akar tua itu bergetar
Seperti ingin menjalar
Kedalam hujan renyai
Ke dalam angin membadai

Ia seperti ingin kembali
Memberi hijau pada daun
Warna-warni pada bunga
Dan sosok muda
Pada pohonan

Ia seperti ingin
Mengalahkan angin
Mengalahkan musim

Akar tua rapuh dan terpotong
Disimpan dalam kotak kaca
Disebuah museum tua

Medan, Februari 1986

SETELAH KITA

SETELAH KITA
LK Ara

Setelah kita
Siapa lagi akan kesana
Memesan nasi dan sop ayam
Dan lalap kesukaan
Sambil duduk
Minum air jeruk

Air dari ketinggian berdesir
Mengalir ke kolam kecil
Aku suka warna ikan itu, katamu
Aku mengangguk
Aku suka percikan air gunung itu, kataku
Kubayangkan kau mengangguk

Sambil makan
Dengan rasa nyaman
Kita melihat hijau rumputan
Kita mendengar musik
Gemericik dalam tasik
Dan kilatan ikan
Bagai dalam lukisan
Yang kau goreskan

Masihkah kita
Suatu kali ke sana
Meski dalam usia renta
Melihat gemercik dalam tasik
Dan ikan yang kau goreskan
Dalam lukisan

Jakarta, 17 Februari 1986

KUTOREH | Puisi Sajak LK Ara

KUTOREH
Lk Ara


Kutoreh puisiku
Mencantumkan nama mu
Biar perih syairku
Melukiskan deritamu
O, negeriku

1985

DOA UNTUK PENARI SEPI

DOA UNTUK PENARI SEPI
LK Ara

Tuhan
Telah Kau ciptakan
Tari sunyi
Dengan gerak beku
Musik kelu

Tuhan
Kami antar penari sepi
Kerumahnya yang baru
Beratap langit biru
Ia hamba – Mu

Tuhan
Izinkan kami
Berharap dan meminta
Sambil menitikkan air mata
Beri kepada penari sepi
Kasih – Mu yang abadi

1985

Puisi Biarlah | LK Ara

BIARLAH
Lk Ara

Biarlah aku menulis puisi
Untuk kita
Biarlah nyanyianmu kusimpan di sana
Biarlah senyumanmu mengelopak disana

Biarlah aku menulis puisi
Untuk kita
Biarlah perihku merintih disana
Biarlah lukaku mengaduh disana

Biarlah aku menulis puisi
Untuk kita
Biarlah tarianmu terpahat disana
Biarlah kemudaanmu kemilau disana

Biarlah aku menulis puisi
Untuk kita
Tempat doaku mengalir disana
Doa musafir kembara
Yang selalu mencari kasih Nya

MENASAH KECIL

MENASAH KECIL
LK Ara

Ketika usia semakin menua
Dan hidup disibukkan kota jelaga
Tiba-tiba aku ingin berada
Di desa kecil desaku dulu
Yang ketika masih kanak-kanak
Shalat di atas tikar tua
Dengan dinding sebagian terbuka

Yang aku ingin sekali
Mengambil air wuduk dikali
Kaliku dulu
Airnya jernih selalu
Ya aku ingin sekali
Melekapkan kening ini
Pada tikar lusuh
Pada menasah kecilku
Mendekatkan diri pada - Mu

Dari kota jelaga
Yang keringatan dan terluka
Aku benar-benar ingat padamu
Desa kecil desaku dulu
Menasah kecil menasahku dulu
Tempat mula aku belajar
Membaca dan menghafal alif – Mu

Menasah kecil menasah kekasih
Kini engkau berdiri putih
Dalam cermin yang bersih
Cermin yang salih

MIHRAB TUA

MIHRAB TUA
LK Ara

Tubuh tua
Terpupus sudah warna-warna
Tapi kaligrafi ini
Terpatri
O mataku yang buta
Telinga ku yang tuli
Kaligrafi ini
Terpatri
Mengalir dalam sunyi
Zikir dalam sunyi
Ya Rabbi, Ya Rabbi

Sigli, Januari 1986

LEWAT EMBUN | Puisi LK Ara

LEWAT EMBUN
LK Ara

Lewat embun
Lewat sunyi
Suara azan subuh itu
Menyelinap kamarku

Lewat embun
Lewat sunyi
Air wuduk yang dingin
Membersihkan diriku

Lewat embun
Lewat sunyi
Aku sujud
Sujud
Kepada Mu
Hanya kepada Mu

Takengon – Medan, 1986