Kepada LautAdi Nugrohoperahu kecil, jala mungil, burungburung pelikan, senyapsenyap ikan, debur ombak, batu retak, aku dan mata kosong, menunggu: kepada laut. Aku melamun saja, bertanya pada angin, darimana angan ini, yang ingin dari dingin basah asin laut kecup bunga siput, sejak kau berlayar ke arah yang tak pernah kudengar, tak ada kabar, dan aku terkapar. Kepada laut: Aku berdiri saja, melipir ke dermaga pinggir, aku mencari kerang tak karang, adakah dia melihat jejakmu yang tersapu para pembajak. Kepada laut: aku masih menunggu kebaikan hatimu, sebab arusmu menghanyutku ke pulau rindu. Kepada laut: aku hanyutKepada kamu, kepada laut, kepada kita yang kalut. Boleh aku berlaut menjemputmu? mengejar kau, yang membuatku larut di harihari kusut. Biar aku memelukmu lagi, dan merasakan keras debar dada ini. Kerna Debar adalah lagu yang menghantarku pada bisik, jejak, dan merah pipimu. Seperti ombak dan deburnya, yang cepatnya pergi dan dekat kembali pada ujung jemari kaki. Itulah aku yang teguh, laut akan memperpendek keraguan. Cinta terbaik mestilah tak lama menuju janji mati. Dan kau pun segera tau, pada dada siapa harus bersandarlaut pasang malam larutentah aku atau bayangku yang terlebih dulu sampaikukirim dulu keinginankulewat nyanyian ombak, dan senja lautketahuilah: aku menjemputmudan kepada laut: jagalah dia di pelukanmusampai akuhilang rindu
Tampilkan postingan dengan label Tema Laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Laut. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Februari 2013
Puisi Kepada Laut | Adi Nugroho
Rabu, 22 Februari 2012
Puisi Dari Tepi Laut | Hery Firyansyah
Dari Tepi Laut
Hery Firyansyah
Laut biasanya dilalui kapal
tapi kali ini tidak
juga tak ada gitar dipetik
di bawah rindang nyiur
pasir jadi bara
di telapak kaki
dan mentari membakar apa saja
yang menentangnya
lambaian nyiur menggapai lunglai
melenggok hampa
kadang kadang segunduk ombak kecil
datang mengantar riak
kadang kadang pula sepi
yang datang mencekik
dari tengah laut
aku telah pulang
dan kembali lagi kemari
telah pula datang
mengurai mimpi mimpi
sebuah teluk tenang teduh
sebatang nyiur lapuk
setia menunggu
pasir berbercak bercak
putih memanjang menyilaukan
siang malam
riak air asin berlarian
O laut
bila kau ramah
kau buat aku terlena
tapi bila kau gila
O laut
aku tak mau
bertanya tentang kau lagi
Pelabuhan Ratu, 10122011
Sabtu, 14 Agustus 2010
LAUT SIGLI | Semua risau kubenam kelaut mu
LAUT SIGLI
LK Ara
Semua keluh kukirim kepadamu
Semua risau kubenam kelaut mu
Rasa kesal dan benci kusampaikan kepadamu
Rasa kawatir dan takut kuceritakan padamu
O, laut Sigli
Semua derita ku tumpahkan kepadamu
Semua rindu kunyanyikan untukmu
Rasa sunyi dan nyeri kukirim padamu
Rasa takluk dan menyerah rubuh kepangkuanmu
O, laut Sigli
Izinkan aku memanggilmu
Ibu
Sigli, 21 Juli 1986
Rabu, 28 Juli 2010
Ke Laut | Puisi pergi ke laut
KE LAUT
LK Ara
Ia pergi kelaut
Mencari ombak
Mencari kabut
Jutaan helai rambut
Gugur dari angkasa
Dari langit luka
Menerpa wajahnya
Ketika mengaduh
Sebelum rubuh
Jeritnya parau
Ombakpun risau
Menambah gembalau
Kini ia meniti kabut
Membubung bersama kabut
Kelangit yang kalut
Sigli, 31 Januari 1986
Jumat, 02 Juli 2010
Sajak | LAUT TAWARKU
LAUT TAWARKU
L.K.ARA
Di lereng-lereng gunung menujumu
Di atas bus yang menderu
Detak hati kian keras
Kuatir nasibmu
Sore itu
Parasmu diusap senja
Alangkah tenang
Salam sederhana kau ulurkan padaku
Tanpa iringan gelombang
Ataupun pikatan kecipak riak
Pertanda bulan akan mengambang
Dalam sunyi malam
Sebelum fajar
Perahu nelayan lesu
Pulang ke pangkalan
Setelah semalaman derendam dingin
Kulihat baju-baju lusuh
Dan mata diberati kantuk
Jalan yang meliku ke pangkuanmu
Wangi oleh kenangan lama
Kian terasa
Sentuhan riang riak-riakmu
Pada mukaku yang meminati
Jalan menurun ke jangtungmu
Lembut oleh siraman embun
Yang menetes teduh
Tanpa suara
Menjamah langkahku
Satu-satu
Kala kuturun ke tepian
Dengan debaran mesra di hati
Kamis, 24 Juni 2010
Sajak Isbedy Stiawan ZS | Laut Akhir
Laut Akhir
Isbedy Stiawan ZS
sebagaimana laut punya akhir: pantai atau muara
dan pada selangkangan bakau,
segala pusat risau
resah dan gelisah di sematkan
tapi bulan ini, yang katamu,
lebih mulia dari seribu purnama
akankah memiliki akhir
mengalahkan umur?
sudah 48 kali purnama!
getar doa
malam-malam ganjil
iktikaf yang gigil
halaman lambung
yang selalu kosong
(ada juga dahaga
yang selalu dijaga)
sepanjang siang
akankah punya akhir?
tapi orang-orang dari jauh
mengenakan pakaian lusuh
membikin kota penuh
berdatangan dengan
kedua tangan selalu menadah
seperti ia faham
di bulan, yang katamu,
lebih mulia dari seribu purnama
banyak orang murah tangan
melemparkan sedekah
dari setiap tubuhnya
mengalirkan laut
langit merestui
penghuni langit turun
bersama sayap-sayap berkilau
hendak meminangmu
dan getar doa
juga tangan yang menadah
akan pula dibawa terbang
kau tahu ke mana akhir
segala pengembaraan
kalau tak ke taman-taman
yang dulu sekali ditinggalkan?
beri salam pada malaikat
sebelum laut sampai ke tepian
akhir segala perjalanan:
pantai atau muara,
juga pada selangkangan bakau:
segala pusat risau
untuk dilelapkan….
lalu pantai atau muara
akan membuka halaman
bagi sujudmu selepas subuh
sebelum matahari di kepalamu
benar-benar meluruhkan ubanmu
demikian laut punya akhir
bulan yang memancarkan
kemuliaan seribu purnama
tak henti pada pantai atau muara,
bahkan di selangkangan bakau
kau akan mekar
cahayamu menguar
melebihi tahun-tahun usia
getar doa
selalu memanggil-manggil
september-oktober 2006
Isbedy Stiawan ZS
sebagaimana laut punya akhir: pantai atau muara
dan pada selangkangan bakau,
segala pusat risau
resah dan gelisah di sematkan
tapi bulan ini, yang katamu,
lebih mulia dari seribu purnama
akankah memiliki akhir
mengalahkan umur?
sudah 48 kali purnama!
getar doa
malam-malam ganjil
iktikaf yang gigil
halaman lambung
yang selalu kosong
(ada juga dahaga
yang selalu dijaga)
sepanjang siang
akankah punya akhir?
tapi orang-orang dari jauh
mengenakan pakaian lusuh
membikin kota penuh
berdatangan dengan
kedua tangan selalu menadah
seperti ia faham
di bulan, yang katamu,
lebih mulia dari seribu purnama
banyak orang murah tangan
melemparkan sedekah
dari setiap tubuhnya
mengalirkan laut
langit merestui
penghuni langit turun
bersama sayap-sayap berkilau
hendak meminangmu
dan getar doa
juga tangan yang menadah
akan pula dibawa terbang
kau tahu ke mana akhir
segala pengembaraan
kalau tak ke taman-taman
yang dulu sekali ditinggalkan?
beri salam pada malaikat
sebelum laut sampai ke tepian
akhir segala perjalanan:
pantai atau muara,
juga pada selangkangan bakau:
segala pusat risau
untuk dilelapkan….
lalu pantai atau muara
akan membuka halaman
bagi sujudmu selepas subuh
sebelum matahari di kepalamu
benar-benar meluruhkan ubanmu
demikian laut punya akhir
bulan yang memancarkan
kemuliaan seribu purnama
tak henti pada pantai atau muara,
bahkan di selangkangan bakau
kau akan mekar
cahayamu menguar
melebihi tahun-tahun usia
getar doa
selalu memanggil-manggil
september-oktober 2006
Rabu, 19 Mei 2010
DULU AKU MINTA MATI DI LAUT
DULU AKU MINTA MATI DI LAUT
Isbedy Stiawan ZS
aku ingin lari dari laut
sejak ia tak lagi
memberi kehangatan
dulu aku minta mati di laut
dalam gemuruh gelombang
dilempar ke pulau tak bernama
tapi kini aku berharap di ranjang
kuhabiskan hidupku
dikubur dengan namaku di nisan
aku bukan perenang ulung
sebab itu aku menolak
sewaktu kau mengajakku,
suatu sore kelabu,
dengan penuh rayu
di ranjang aku mau berenang,
kataku dengan rayuan pula,
biar matiku menyediakan
sejengkal tanah untuk nisan
yang menulis nama dan kenangan
lalu ilalang membuat cantik istanaku
juga wangi bunga yang selalu meruap
kau tertawa. di laut pun kita mati
ada nisan yang mengekalkan
nama, katamu. sebab karang
sudah lama pula rindu
pada nama-nama
maka marilah ke laut
berenang hingga ke lumut
aku akan menepis maut
jika datang memagut,
lanjutmu sambil melambai
tapi sayang, kumau
ranjang jadi lautan
aku berenang dan terkubur
di bawah nisan
mengekalkan ihwalku
23 November 2004
MATI DI LAUT MANA
Isbedy Stiawan ZS
di kamar gelap ini
kau menjelma jadi boneka
rebah di sudut ranjang
menatap langit-langit hitam
napasmu jadi lautan
menggelombang syahwat
mengantar kapal ke pelabuhan
dalam getar arloji
kukirimkan pula napasku
jadi gelombang
menggerakkan layar syahwat
memutarkan kelamin
menuju pelabuhan
sebentar. pantai serasa masih
di benak. tubuh masih
mengekalkan bau pasir. Aku
belum berani meninggalkan
bau sungai dan wangi tanah
gelap. kabut luruh. kamar
makin pekat, dan kau menjelma
jadi boneka di sudut ranjang
tapi, bukan aku di sisimu
bukan perahu ini
entah kau akan mati
di laut mana?
2003-11-10
di kamar gelap ini
kau menjelma jadi boneka
rebah di sudut ranjang
menatap langit-langit hitam
napasmu jadi lautan
menggelombang syahwat
mengantar kapal ke pelabuhan
dalam getar arloji
kukirimkan pula napasku
jadi gelombang
menggerakkan layar syahwat
memutarkan kelamin
menuju pelabuhan
sebentar. pantai serasa masih
di benak. tubuh masih
mengekalkan bau pasir. Aku
belum berani meninggalkan
bau sungai dan wangi tanah
gelap. kabut luruh. kamar
makin pekat, dan kau menjelma
jadi boneka di sudut ranjang
tapi, bukan aku di sisimu
bukan perahu ini
entah kau akan mati
di laut mana?
2003-11-10
Senin, 17 Mei 2010
LAUT MEMBAWA JASADKU
LAUT MEMBAWA JASADKU
Isbedy Stiawan ZS
laut membawa jasadku
ke malam-malam pekat. ke makam-makam sunyi
ditanamkan, menyimpan riuh jam
tanah pun basah, melumpurkan langkah
yang berhenti pada gerbang-Mu
kau pun tersedu. hujan turun
mengabarkan ketajaman pisau padaku, dan
laut tak henti membawa jasadku
ke makam-makam sunyi-Mu untuk ditanamkan!
o aku sendiri dalam kematian ini
di semesta sempurna ketiadaanku
1987
DI TEPI LAUT | Puisi Penantian
DI TEPI LAUT
Isbedy Stiawan ZS
kita pernah bermain layang-layang di sini
rambutmu yang tersibak angin adalah benangnya
aku ulur kau biar terbang menyilang cakrawala
tapi kendali tak sudi kulepaskan. Tak sudi
betapa bodohnya aku, benang di tangan putus
kulihat kau terbang sendiri
tanpa bisa kuraih kembali. Tanpa bisa
di tepi laut ini
kunanti layang-layangku yang putus
kunanti kau hadir kembali menemaniku
bercakap-cakap pada karang
1984/1985
Minggu, 16 Mei 2010
Puisi Alam | Kumpulan Puisi Tentang Alam
Puisi Alam atau puisi tentang Alam, ini diambil dari judul-judul puisi yang berhubungan dengan puisi bertema Alam. Masih banyak puisi-puisi lainnya di Blog ini yang bertemakan Puisi tentang alam. Sahabat bisa mencari di kategori Judul/Tema Puisi. Berikut ini adalah beberapa puisi yang bertemakan alam, antara lain. Cikuray, Mount Rhapsodia, Angin Laut, Laut, Laut Yang Ramai dan Pemandangan di Que-Lin.CIKURAY, MOUNT RHAPSODIAJun NizamiMelewati dadamu, jalan setapak penuh debu. puncak bayangan, dan hutan-hutan yang kupuja menjelma rahasia-rahasia suram. Tiada mata air, meski dingin terus mengalir, ke jantungku.Sampai di puncakmu, kabut terurai. Edelweis barangkali penawar, bagi sehimpun kelelahan. Dan kepuasan pendaki, barangkali tersimpan, pada sunrise atau sekerat bulan yang manis.Sampai di puncakmu, cikuray, aku yang gelisah tak henti membaca bintang untuk menentu arah. Sebab jurang-jurang terus menganga, seperti dari dunia dalam hidup yang terluka. Di mana cinta menjelma satu-satunya pelita, juga unggun, atau perapian-perapian yang menyakitkan bagi seseorang dalam kembara.Cikuray, kediaman di atas awan. Nestapa terbuka, dan bumi seolah-olah tenggelam. Lantas aku, merasa menjadi seorang penumpang:dari kapal nuh yang diturunkandan ditugaskandan dibangunkan,untuk membangun sebuah peradaban.2011http://www.kabar-priangan.com/news/detail/1255ANGIN LAUTKuntowijoyoPerahu yang membawamutelah kembalientah ke manaangin laut mendorongnya ke ujung duniaEngkau tidak mengerti jugaDuduklahOmbak yang selalupulang dan pergi.Seperti engkaumereka berdiri di pantaimenantikanbarangkaliseseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.LAUTKuntowijoyoSiapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.Tidak. Di pagi hari kautemukan bahwa engkaudi sini. Segar bugar. Kita punya tangandari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadipemenang. Dan engkau berjalan ke sana.Menerjang ombak yang memukul dadamu.Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.Sang kerdil yang berdiri di atas buih ituadalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu.Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kitayang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.Sebentar kemudian, sebuah deburgelombang yang jauh menghiburmu.Saksikanlah.Tidak ada batasnya bukan?LAUT YANG RAMAIAyi JufridarLaut mendadak ramaideburan ombak terseret anginke tengah samudera itusedang di bibir pantaiorang saja menari-nariLaut mengundang sehamparan gunung samuderadatanglah dari penjuru segalamelihat kami menarimenjelang akhir sodorkan airketika tubuh bermandi peluhtapi jangan suguhkan seudati*)sebab ia sudah matiDatang,datanglah dari penjuru segalaramaikan laut kami yang sepidengan lagumu yang sarat cintaLhokseumawe, Juni 2005*) nama tarian terkenal AcehPEMANDANGAN DI QUE-LINHusseyn Umargunung-gunung dan bukit-bukit hitamtinggi dan tajammenjulang menusuk-nusuk awanair sungai Li berkelok-kelokbermain-main di celah kaki-kakinyabilakah sebenarnyadewa-dewa telah turun dari langitsempat-sempatnya membuatpahatan alam yang begini cantik!1994Tag : Puisi Sunda Tentang Alam
