sebelum melukis bulanSlem ReogHanya ada aku dan kamu yang mencoba melukis bayang-banyang yang tumbug di dasar danau mengajak semuanya merampungkan lagi permainan petak umpet atau kejar-kejaran di belakang langgar yang berhalaman panjang. Kupanggili kau kacong untuk kunjungi mimpi yang pernah ku umpet di lapangan kerapan sapi sebelum kau benar-benar faham melukis bulansekarang kau tumbuh besar sebesar mawar yang ku siram di halaman, warnanya memerah menawan wanginyapun semerbak serupa bau misik hadiah pak haji ketika pulang dari tanah suci. Pelan-pelan kauberanjak dari ranjang berkaki empat membuaka tirai yang lusung sebab angin mempolesinyaBandung, 07-01-2-13
*penulisi lahir di desa lesong daya batumarmar pamekasan madura, sekarang tinggal di bandung STSI sekolah tinggi seni indonesia di jurusan seni teater.
Tampilkan postingan dengan label Tema Bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Bulan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 Januari 2013
Puisi Sebelum Melukis Bulan | Slem Reog
Senin, 18 Juni 2012
Puisi Tentang Bulanku | Linda Sarmili
Tentang Bulanku
Linda Sarmili
bulan pun tertinggal di belakang
ketika anak anakku
masih terkantuk
mendekap kemanguan
bersama hari-hariku yang celaka
menjadikan setiap tangisnya
bagi hari-hariku
adalah keasingan
yang sempurna
keasingan yang mengiringi
kembali lusuhku
bertahta di atas
bakal lahirnya
sebuah perjanjian
untuk anak-anakku
hai... anakjika hari ini
kamu bertanya
tentang ibumu
"Bukalah nak"
lembaran sajak basiku
pada halaman 13
di sana tertulis
"bulanku, istriku dan anakku
adalah bayang-bayang
kelabu dalam sajakku".
Jakarta. Maret 2011
Minggu, 25 Maret 2012
Puisi Rembulanpun Tak Lagi Tersenyum Padaku | Fauziah Humaira
Rembulanpun Tak Lagi Tersenyum Padaku
Puisi Fauziah Humaira
Semilir angin malam menusuk tulang
Aku mendongak ke langit
Gumpalan awan hitam kelam menyelimuti malam
Tak ada kerdipan bintang
Langit begitu gelap
Keindahan purnama tenggelam ditelan gumpalan awan
Gemerlap cahaya bintang dikulum malam
Keindahan malam tak kunjung datang
Aku mengharap pada angin
Ku bisikkan padanya untuk menggeserkan awan kelam itu
Bisikan lembut itu membuat angin luluh
Awan gelap telah pergi
Dengan mata berkaca
Aku kembali menatap langit
Mengharap rembulan bisa tersenyum
Dan bintang menyapa malam ini
Gelap …
Tak ada pertanda rembulan datang
Awan hitam tidak pernah ingkar
Dia kembali datang memenuhi janji pada Tuhannya
Egoku menikmati sinar rembulan
Rembulan mendengar bisik rumput liar
Yang sekian lama tidak menikmati hujan
Hanya bisikan kelembutan
Aku iri pada rembulan
Sangat taat dengan aturan Tuhan
Kelembutan sinar yang menaklukkan hati
Selalu memberi tak harap kembali
Aku tak pernah mendengar bulan menuntut bumi
Memberikan keindahan seperti sinarnya rembulan
Aku mengharap tuhan menepati janji
Tapi aku tak pernah dekat dan menghampiriNya
18 September 2011
sumber : fiksi.kompasiana.com
Minggu, 17 April 2011
Puisi Bulan Sabit | Mega Vristian
BULAN SABIT
Mega Vristian
bulan sabit turun dari angkasa
ke atap-atap musim bunga
seperti kau, kekasih
yang selalu datang
menjemput dan menunggu
menyertaiku di detik-detik peristiwa
pahit dan manis tanpa meminta
ketulusan ini jugalah
tanah hitam subur
di mana kesetiaan bertunas
cinta mengembang
mengalahkan musim
bulan sabit turun dari angkasa
ke atap-atap musim bunga
di biru langit hidupku
kasihmu purnama malam
fajar penyulut siang
tak kuucapkan memang
sadar kepekaan cinta
bermata elang
(Hong Kong, April 2004)
Kamis, 14 April 2011
Puisi Bulan Cemara | Musthofa Aldo
Bulan Cemara
Puisi Musthofa Aldo
Ada gemerisik nilai di pucuk-pucuk cemara
Ketika semak-semak yang basah mendesahkan bulan
Dan kangkah kita yang tak kekal
Mencari bongkahan-bongkahan mimpi di balik bantal
Bulan
Cemara
Di sebuah telaga
Tempat seekor burung mencuci sayapnya yang luka
Kutemukan darah mimpi anak cucuku yang merah
Telah ditanam di ladang doa dan airmata.
Bulan
Cemara
Kelak di ladang inilah kunantikan
Anak cucuku membawa beras bergantang-gantang.
2009
Minggu, 03 April 2011
Sabtu, 22 Januari 2011
Puisi Malam Bulan | Wing Kardjo
Malam Bulan
Wing Kardjo
Ketika bangun sudah bertahun-tahun tahu
bahwa kembara tak kan pernah jauh
berkelana di bawah bulan dua-dua
makin larut malam, makin
dingin untuk cinta, di urat-urat tubuh,
ditulang sumsum, di jari-jari, di tiap
kecup dan cium. Telah retak-retak
bulan, tahun jernih tak kan pulih.
Jiwa merasuk dalam rimba kelam, jasmani
tersesat di pintu hotel tua, memandang
perempuan bagai barang sewaan
Berlomba-lomba hawa penasaran menggapai lagi
angan-angan hilang dalam musim terlambat
matang, matahari terlalu cepat datang.
Sumber :
La chair, helas
Fragmen Malam Setumpuk Soneta (Pustaka Jaya)
Tag : Biografi Wing Kardjo, Surat atas Bulan, Sajak dalam Angin
Senin, 30 Agustus 2010
Puisi Sembilan Putaran Rembulan | TS Pinang
Sembilan Putaran Rembulan
: Kidung Hayumatari Laras Kinanthi
sembilan putaran rembulan, o anak, menyempurnakan doa ibu-bapamu di setiap belai lembut dan titik airmata di sela tangis dan tawa dan kata-kata yang kau ciptakan dari dunia cahaya. kami masih tertatih mengeja huruf-hurufmu, sebab mata kami masih rabun tertabir kabut cuaca yang begitu gampang berubah. sebab itu ijinkanlah kami bercermin pada danau matamu yang kemilau sejuk dan dalam, dan menimba kebijaksanaan semesta yang dititipkan di dasar palungnya.
kami hanyalah kanak-kanak yang sembunyi di balik topeng usia. dan kepadamulah kami belajar memahami cinta, lebih dari sekedar yang terungkap oleh kata.
Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 01 Agustus 2010
TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com
Sabtu, 14 Agustus 2010
KENING BULAN | Bersinar oleh cahaya iman
KENING BULAN
LK Ara
Kening bulan
Bagai perak berkilau
Bersinar oleh cahaya iman
Yang selalu melekat
Di sajadah
Kening bulan
Bagai perak berkilau
Mendekatlah
Kepada angin kembara
Yang nestapa
Yang mencari
Dan mengembara
Di belantara dunia
Mendekatlah
O kening bulan
Angin kembara
Ingin mengecupnya
Untuk melepas risaunya
Jakarta, 1986
Rabu, 28 Juli 2010
Masih Kulihat Rembulan Di Antara Sihir Lampu Kota
MASIH KULIHAT REMBULAN DI ANTARA SIHIR LAMPU KOTA
buat: kunthi hastorini
masih kulihat rembulan, cahayanya yang kuning keemasan, menggoda ingatanku, kepadamu. di antara lampu-lampu merkuri dan sorot kendaraan, aku takjub memandang langit, rembulan yang terang cahayanya. aku ingat engkau sayangku, dan ribuan kata-kata berloncatan ingin menjelma puisi.
puisi menjelma dari sepotong film animasi. dunia kanak-kanak yang menjadi kenangan. bayangkan kita memandang rembulan dan mengaung, sebagai serigala, yang menggetarkan langit dengan jerit yang teramat sedih. mungkin rindu. pada kekasih di langit yang jauh. di negeri yang jauh. di angan yang rapuh.
malam ini, sayangku, aku ingin kau tatap rembulan, terang cahayanya. seterang cinta kita yang menerang langit. demikian purnama.
Guntur 18 Deseember 2002, Malabar 19 Desember 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Rabu, 21 Juli 2010
Puisi Rembulan Bersinar Terang
REMBULAN BERSINAR TERANG
Ku Lihat Wajah Mu
Di Percik Api
Tertakjub Dalam Kesunyian
Terpesona Memukau
Kini Lembayung Daun
Telah Musnah
Berdesah Tercampur
Tanah Liat
Seingat Kasih
Tiada Pernah Bertepi
Jeritan… Elok Wajah…
Bahkan Manis Senyum Mu
Selalu Tampak Jelas
Di Rinai Kegaluan Hidup
Sampai Kapan…
Tanpa Kepastian
Tanpa Ujung
Gelap Berlinang Bintang
Terus Terbesit
Sekian Hanya
Tercurah Padamu
Selesai Tertimpahkan
Untuk Ucapmu
Kaulah Rembulan
Bersinar Terang
PUISI BUKU 1 Karya 1104 dan NOEL
www.eryyuliana.co.cc
Rabu, 30 Juni 2010
Puisi Terang Bulan | Puisi Bertema Terang Bulan
Terang Bulan
Faisal Muhctar Al Khaufi
sesungguhnya lelaki itu berjalan antara pekatnya dupa, malam kian ramah
kerigatnya didinginkan angin lalu duduk menghitung sisa – sisa harapan
lantas bercumbu dengan nikotin karena tak ada lagi anggur yang bisa
menghangatkan dada
ajaib, ia pun berdiri “terima kasih tuhan” parau suaranya bergema antara
kesunyian dan lelapnya mimpi, di bawah lampu jalan yang setia, seperti
puisi yang ditukil dari kitab – kitab getir
aku menyaksikannya berasama salak anjing dan ringkik tawa parfum
kupu – kupu malam di sebrang jalan yang tak pernah mau jujur pada kenyataan
Karawang 2005
Kamis, 24 Juni 2010
TARIAN BULAN - Sulaiman Juned
TARIAN BULAN
Sulaiman Juned
langit menangis
renyah. Galau bulan
mandi di danau. Gerimis menari-nari
angin jalang memekatkan jiwa
rupa hilang dalam kelam waktu.
langit menangis
rinai .Risau bulan
mengeram di danau. Tarian sukma
memabukkan bintang selepas bertarung menempuh
badai, aku sempatkan menjenguk rumah
(Tuhan, senyap-sepi dalam keramaian)
-Malalo, 2009-
Kamis, 06 Mei 2010
EPILOG BULAN | Puisi Tentang Bulan
EPILOG BULAN
Wina. SW1
bulan, matahari, angin di atas satu meja
percakapan tanpa kata:
lautku,
izinkan kuterima tanda cintamu
Kyoto-Japan, 5 Januari 2005

