UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Jumat, 20 Agustus 2010

Yang Tak Ditanyakan Kepada Finalis Miss World

Yang Tak Ditanyakan Kepada Finalis Miss World


/1/

senja usiakukah?
ataukah ranum subuhmu...
nona, mana yang lebih tabah
menjadi penanda saat
pengabadi isyarat:

dunia kita yang penat?

/2/

dunia yang telanjang di tubuhmu
mata yang tertantang ke tubuhmu
tanya yang terbentang pada tubuhmu

: ini sandiwara yang sempurna

sejak kapan kita perlu menobatkan
seorang nona dengan mahkota?
di dada dara? di dusta mata?
di buhul pinggul?
di redam senyum? di pusat pesona ?

/3/

ini harapankah? atau jebakan...
ini kebebasankah? atau ikatan...

nona, siapa yang ingat jawaban
jika kau balas dengan sebuah
bius senyuman?

/4/

apa yang masih tinggal di balik bikini, nona?
apa yang masih tersimpan di tangkup bra, nona?

di pantai
di kolam renang
di panggung
di depan jutaan pasang mata,
engkau menjawab elok
seringan lenggok:

" tak ada,
tak ada lagi
sisa rahasia..."


Des2002

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com



Puisi yang Terancam Hukuman Mati

Puisi yang Terancam Hukuman Mati

1. Puisi yang tak Pernah Selesai

bahkan saat mulai
menuliskannya, pun
tangan angan sudah
lumpuh terkulai...


2. Puisi yang tak Ingin Ditulis


empat baris kosong
si penyair cuma bisa
bengong, katanya:

"ah tak mau lagi
aku berbohong."


3. Puisi dalam Tanda Kurung

mana yang lebih dahulu kau
tuliskan? tanda kurungkah?
atau bait puisi di dalamnya?

"bukan keduanya! kau
salah! sebab yang pertama
kutulis adalah judul
puisinya."


4. Puisi yang Bukan Puisi

buat apa kau tulis puisi, kalau
kemudian kau hanya ingin
bertanya padanya, "kau ini, puisi
atau bukan?"



5. Puisi yang Teracam Hukuman Mati

bahkan puisi pun telah jadi tersangka
"ada bukti-buikti yang mengarah dan
menguatkan dugaan itu," kata
seorang, mungkin ia anggota tim
investigasi yang terlalu banyak bicara.

bukti? ah begitu samar, begitu sumir,
bukankah, katamu, si penyair telah
lama mati? lalu siapa yang jadi
saksi kunci?. "masalahnya aku tertidur
lelap ketika debat menghangat
mengulas soal persiapan upacara
pemakaman ini."


bahkan puisi pun terkait jaringan
masa lalu, dalam daftar interogasi
kau baca: siapa yang memprovokasi? siapa
yang memerintahkan makna? siapa yang
mengajak kata terlibat dalam bait-bait yang
meledak dalam sebuah klub diskusi.

bahkan puisipun terancam hukuman mati
tapi, biar saja, semua toh ada
di tangan kuasamu, setelah membaca
kau hendak mengutuk? atau memuja-muja?
bilang ini buruk? atau wah luar biasa?
puisi bisa hidup dan mati, berulang kali
dan aku terus saja ngidam, hamil,
melahirkan puisi, sambil menyanyi
lagu yang enak dan merdu sekali.


Nop, 2002.

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com



Kita pun Telanjang

Kita pun Telanjang

kita pun telanjang
tanggal bayang-bayang

menggenang kenang
tinggal bayang-bayang.


Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com



9 Sajak Kosong, untuk Desain Kaus Oblong

9 Sajak Kosong, untuk Desain Kaus Oblong

Ini sajak kosong. Jika ada yang menemukan sesuatu dalam kekosongan
itu berarti suatu keberuntungan. Ambil saja. Saya sendiri membayangkan
sajak-sajak ini hanya akan berarti ketika di cetak di kaus oblong dan
kemudian dipakai oleh seseorang. Tabik!


/1/

aku berpakaian
maka aku ada

menurutmu,
apakah yang tiada?

/2/

di dalam tubuh yang sehat,
di luar t-shirt yang hebat!

di antaranya, apa yang kau lihat?

/3/

di suatu tempat, sayang
harus kutanggalkan pakaian ini
dan kau? harus kubantu?
atau kau lakukan saja sendiri

untukku?


/4/

tuan bukan Tuhan, bukan?
tunggu sebentar
saya pakai baju dulu...

/5/

engkaulah yang menyapaku,
"hei, kausmu bagus sekali!"

sejak itu, aku tak pernah
mengenakan kaus ini lagi

sampai hari ini, ketika
kupakai lagi kaus ini

dan kau pun berseru
"hei, rasanya aku pernah
melihat kaus seperti ini!"


/6/

kalau kelak engkau bertemu
seseorang dengan kaus seperti
yang membungkus tubuhku ini,
belum tentu engkau saat itu
bertemu dengan aku, sebab
bisa saja...

/7/

kaus ini sebenarnya, hanyalah
sebuah kaus biasa saja, aku
membelinya di sebuah kios
kaki lima, harganya pun tak
terlalu istimewa, artinya
terjangkau oleh kantung siapa saja

di bagian depan kau baca ada
tulisan - DATANG TAMPAK MUKA -
dan di bagian belakang bisa
kau baca - PERGI TAMPAK PUNGGUNG -

masalahnya aku sering lupa, dan
kerapkali bingung menentukan
mana bagian depan, mana belakangnya

meskipun tentu saja aku selalu
ingat, mana punggunggu dan mana muka

tapi, ah! kenapa aku tak pernah
bisa menegaskan, aku ini sedang
datang ataukah tengah pergi?


* inilah sajak ke-8 dan ke-9 yang
saya janjikan di www.cybersastra.net


/8/

dia hendak membeli kaus di sebuah
kios, dia memilih-milih, sebab
banyak sekalu yang bisa ia pilih, ada
kaus bergambar che guavara, ada
yang bergambar bob marley, ada
yang gambarnya slank, eh sinchan
juga ada, smurf juga, donald bebek,
megawati, asterixz & obelix, VW kodok,
dewa 19, dora emon, iwan fals, winnie
the pooh, gus dur, nirvana, converse,
britney spears, amien rais, limp
bizkits,... dia terus saja memilih
sampai pemilik kios itu bertanya, " Anda,
mau cari kaus seperti apa sebenarnya?

"oh! oh! saya mencari kaus polos saja,
biar bisa kugambar wajahku sendiri,
saudara..."


/9/

inilah kaus yang kau berikan
padaku dulu, "kenakan
saja, sebagai pengganti diriku,"
katamu

aku tahu, di suatu tempat
kau tersenyum, melihat
aku memakai kaus ini.
"lihat! kau terperangkap
dalam diriku," katamu.

des2002

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com


Kata Penyair Tua

Kata Penyair Tua
Hasan Aspahani

"di mana bisa kutemui
puisi malam ini?" katanya

(dia rindu sekali)

kata penyair tua:
"jumpai ia di atas kuburan..."

tapi, tak ada
tak ada, di sana
cuma ada bulan.

des2002

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com

Lalu Kusebut Puisi, Mau Apa

Lalu Kusebut Puisi, Mau Apa

meskipun tak kutulis apa-apa
di bait-bait puisi ini, lalu kusebut
ia sebagai puisi,

"kau mau apa?"

des2002

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com



Yang Lebih Entah dari Semesta Puisi

Yang Lebih Entah dari Semesta Puisi

: bagi nanang, pinang, moyank


apa yang lebih resah dari sejuta puisi?

tak ada, tapi hei, siapa kata itu, kata
yang mendesak di dalam lidah, kata yang
tak pernah bisa melafal bibir darah?

apa yang lebih entah dari semesta puisi?

tak ada, sebab siapa kini yang sudah
dan hendak berlelah-lelah mencari kata
mengasuh setiap ucap seperti sabda?

apa yang lebih nanah dari sedusta puisi?

tak ada, dan kau, penyair! tolong
jangan kau sebut lagi aku dalam puisimu
jika hanya memperparah luka Kata

apa yang lebih indah dari sebunga puisi?

tak ada, tak ada, di luar taman
terhambur kelopak-kelopak kata,
yang baru saja mekar disambar murka


des2002

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com