PENYAIR DI UJUNG SENJAIn Memoriam Owiek Sanuri MwDaman SurachmanTinggal kenangan saja:Perjuangan membela nurani dan harga diriBagai bintang iaIkut setia menghiasi angkasaLaksana mutiara kata-katanyaBertebaran di jiwanyaO, ia mengigauDan bermimpi dalam bayangsilauTentang istana yang belum rampung dibangunnyaTentang lagu yang belum lengkap disenandungkannyaIsyarat bergerak di antara jari-jemarinyaDan hasrat hanya bermain dibola matanyaYa masalalu tak akan kembaliBagai istana berdindingan lembar-lembar puisiPenyair di ujung senjaLaut gelap lampu-lampu gemerlapSinar mercusuar dilahap badaiKapal oleng tanpa kendaliO, sunyi menegur puisiAdakah esok matahari bersinar kembali?Semoga kematiannya kelak dirindukan firdausi!Sint Carolus, 1983
Tampilkan postingan dengan label Tema Penyair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Penyair. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Februari 2013
Puisi Penyair Di Ujung Senja | Daman Surachman
Selasa, 01 Januari 2013
Puisi Janganlah Jadi Penyair | Daman Surachman
JANGANLAH JADI PENYAIRDaman SurachmanSungguh berat nanti kau jadi sesatMendewakan aurat seni kataMengumpatBahkan kadang Tuhan tak kau butuhkanJanganlah kau jadi penyairJika hanya nyinyir pandai memutar balikan lidahJanganlah kau jadi penyairJika tidak punya pendirian – plinplanSeperti kulihat kau di menara gadingMemahat-mahat kataKau bagaikan layak dewaYang selalu membuat legendaSeperti kulihat kauBerenang-renang di lautan arakTerbahak-bahakBagaikan penyelam menggengam mutiaraJangan, janganlah kau jadi penyairJika perbuatan tidak sesuaiDengan yang kau ucapkanJika tidak kenal pencipta rahasiaAllah Yang Maha Kuasa!Cikini, Desember 2002
Selasa, 24 Agustus 2010
Penyair yang Tak Mencari Puisi
Penyair yang Tak Mencari Puisi
Hasan Aspahani
orang-orang pergi meninggalkan puisi,
hendak kemana? "kami mau berburu puisi!"
orang-orang rakus membongkar kamus
mencari apa? "kami sedang menjebak puisi!"
orang-orang lompat-lompat merenggut kalimat
mau dapat apa? "kami ingin meringkus puisi!"
wah! orang-orang menelanjangi tubuh sendiri!
ketemu apa? "sial, kami malah kehilanganpuisi!"
penyair itu, "oh, tolong janganlah aku disebut-sebut."
nah! lihat, di puisi ini pun dia tak mau terlibat.
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Penyair dan Tiga Puisi yang Tak Jadi
Penyair dan Tiga Puisi yang Tak Jadi
Hasan Aspahani
(dengan tiga bait puisi tak jadi, penyair itu diringkus
sepi. Sungguh ia tak bisa membela diri)
bait 1: kekasih yang pergi, salahkah bila kuratapi?
bait 2: rindu yang sunguh, bodohkan bila kukeluh?
bait 3: cinta yang gagal, bolehkah bila kusesal?
(dengan tiga bait puisi tak jadi, penyair itu ditelikung
sunyi. Sungguh ia tak bisa lagi menyelesaikan itu puisi.
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Jumat, 20 Agustus 2010
Kata Penyair Tua
Kata Penyair Tua
Hasan Aspahani
"di mana bisa kutemui
puisi malam ini?" katanya
(dia rindu sekali)
kata penyair tua:
"jumpai ia di atas kuburan..."
tapi, tak ada
tak ada, di sana
cuma ada bulan.
des2002
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Kamis, 06 Mei 2010
FATWA PENYAIR
FATWA PENYAIR
T. Tjoet Soufjan
Terlalu sunyi jadi penyair
Seluruh kata terpantul dari sekali rasa
Kadang nada harus putus, pupus dan tandus
Kadang bicara ikut menangis
Lunturkan pupus muka enggan berkata
Terlalu sunyi dalam bersyair
Berkelana mencari nada dengan dada luka
Biasa terhempas, terkubur laju dengan irama
Berkeputihan mata, juga cari penawar
Tiada yang datang, tiada yang mau lagi
Di perlombaan ini, tertancap pedang
Satu-satunya guna tanda bagi orang-orang datang
Di depan tidak akan ada sebutir air
Cuma ada airmata pelepas dahaga, bawalah
Sehingga rintihan terputus di ujung tangis
Banda Aceh, 1993