HASAN ASPAHANI, Lahir di Sei Raden, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, 9 Maret 1971 pada sebuah keluarga sederhana petani kelapa.Sekolah di SMAN 2 Balikpapan, sambil jadi kartunis lepas di Surat Kabar Manuntung (Sekarang Kaltim Post). Lalu diundang lewat jalur PMDK di IPB, dan kuliah sambil diam-diam terus mencintai puisi.Setelah berupaya memberdayakan ijazah sarjana di beberapa perusahaan, lalu akhirnya kembali ke dunia tulis menulis lagi, maka sekarang bekerja sebagai Wakil Pemimpin Redaksi di BATAM POS. Di kota ini menjalani hidup bersama Dhiana (yang disapanya Na') dan Shiela dan Ikra (yang memanggilnya Abah).Beberapa puisinya pernah terbit di Jawa Pos (Surabaya), Riau Pos (Pekanbaru), Batam Pos (Batam), Sagang 2000 (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 200) Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (YMS, Jakarta 2002), dan Dian Sastro for President 2 #Reloaded (AKY, Yogyakarta, 2003). Puisi Huruf-huruf Hattaterpilih sebagai salah satu dari 10 puisi terbaik lomba puisi 100 Tahun Bung Hatta (KPSP, Padang, 2002), dan Les Cyberletress (YMS, 2005). Hasan Aspahani juga menjadi kartunis post metro yakni sebuah kartun strip komik dengan tokoh utama "si Jeko" tukang ojek dengan kelucuannya. lihat www.post-metro.blogspot.comSebagian besar puisinya dapat langsung dibaca di www.penyairpalsu.blogspot.comSumber : Wikipedia
Tampilkan postingan dengan label Hasan Aspahani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasan Aspahani. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Agustus 2010
Biografi Hasan Aspahani
Puisi Sia-sia, Airmata Sia-sia
Puisi Sia-sia, Airmata Sia-sia
Hasan Aspahani
: petisi menentang perang, make poems not war
aku melihat bicaramu di televisi (tak kutemu, mesti letih
mencari alasan untuk bersetuju dengan hujjahmu) aku menyimak
persiapan laskarmu (tapi tak dapat meyakinkan aku siapa
sebenarnya musuh yang pantas dimusnahkan) aku melihat
dendam menghitam di wajahmu (kenapa kami harus mencoreng
juga arang di wajah puisi? terbakar pawaka yang kau sulutkan)
aku mencatat adegan mereka memeluk anak isterinya (senjata
yang kau hunus entah berpamitan pada siapa?), aku mendengar
deru kapal peluru mengarung laut ke peluk teluk mauk (tuan, bahan
bakarnya ditambang dari negeri yang hendak kau hancurkan itu kan?)
aku melihat tanggal ancaman yang kau lingkar dengan jumawa
(patera luruh dari pohon almanak tua sejarah manusia)
aku membaca lagi puisi ini (lalu terasa sangat sia-sia menuliskannya)
aku mencari kata yang hendak kubisikkan ke hatimu (hanya lirih, pawana
yang ringkih berhembus tanpa sebisikpun kata, hanya sedih, basah mata
yang menitik kukira darah ternyata cuma air mata yang sebenarnya
kupersiapkan luruh kelak saat datang duka maha duka, lalu tiba-tiba aku
merasa sia-sia meneteskannya)
Mar 2003
Konversasi dengan Bayang-bayang, 1
Konversasi dengan Bayang-bayang, 1
Hasan Aspahani
apa yang mengeras di kepalamu, saudara? belulang
apa yang mengalir dari beku pikirmu, saudara? imaji
apa yang membeku dari deras jantungmu, saudara? tualang
apa yang melaju dari pendam diammu, saudara? emosi
gelegak
terkubur
mengabur
mengabu
mengabut
melumuti
waktu
baiklah, aku tak akan bertanya pada siapa-siapa lagi:
simpankanlah semua jawab, diamkanlah semua sebab
Mar 2003
Konversasi dengan Bayang-bayang, 2
Konversasi dengan Bayang-bayang, 2
Hasan Aspahani
ketika ada dia yang pamit diri,
yakinkah dia sungguh hendak pergi?
ketika senja pamit, yakinkah ia tak
lagi tenggelam bersama matahari?
aku tak tahu, sebab pagi terlalu lama,
dan siang seperti enggan lagi berkelana
episode rintik adalah tangis matahari,
adalah sinandung rindu rembulan ini
karena itu kubiarkan payung kuncup,
sebab tangis matahari, dan rindu rembulan
telah lama kunanti dalam ini perjalanan.
Mar 2003
Senjata yang Tak Lucu
Senjata yang Tak Lucu
Ada senapan menyeringai tak lucu,
cuh! meludahkan peluru ke wajahku.
Mar3003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Ada senapan menyeringai tak lucu,
cuh! meludahkan peluru ke wajahku.
Mar3003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
REPORTASE dari TELUK
REPORTASE dari TELUK
Hasan Aspahani
1
suatu hari di antara arus eftrat dan tigris
sekawanan lebah mengumpulkan nektar darah
amis madu bangkai-bangkai sejarah serdadu
2
dendam yang merecup subur di ladang-ladang
hitam mesopotamia, siapa yang menuainya?
eh, ada kupu-kupu bersayap besi dan peluru
3
dengung capung, "aku sisa evolusi berabad-abad
kusinggahi sudah samarra, ur, niniveh, baghdad
ada yang terlupa pada piktograf dan babad-babad"
4
lalu datanglah melayat berjuta-juta lalat
taman babilonia terkubur unggun mayat
wahai kitab suci, bisakah ayatmu diralat?
5
maka dikabarkan lewat dongeng semut-semut
penaklukan yang luput di padang-padang rumput
meninggalkan remah racun dan mesiu tak tersulut
6
dalam bahasa serangga, mari kita simpulkan
dalam rumah manusia bernama peradaban
perang adalah rayap yang riuh meruntuhkan
Mar 2003
Puisi Keranda di Kolong Rumah
Keranda di Kolong RumahAyo, mari kita bunuh diri!Jangan kau anggap serius ajakan ini,kita toh sudah berkali-kali mati?Saat itu kita belum siap dengan puisihanya sempat nulis janji saling ziarahi.Mari kuajak lagi: Ayo, main mayat-mayatan!Ada banyak keranda di kolong rumah,tempat favorit untuk sembunyi dari penagih cicilan umur.Di sana sering juga kita telanjur tertidur.Sampai terjaga, tiba-tiba, dibangunkan hidup yang ngelindur.Ayo, kita terus terang saja!Mana yang lebih OK: hidup pura-pura atau mati sebenarnya?"Ada pilihan ketiga," katamu, "yaitu pura-pura yang sebenarnya..."Kita ngakak, dan sejenak benar-benar jadi lupaini kuburan umum, ada tanda disana: dilarang pura-pura tertawa.Mar2003Hasan Aspahaniwww.sejuta-puisi.blogspot.com
Keroncong Pemakaman
Keroncong Pemakaman
Pulang dari pemakamanmu, aku
membawa sekepal lempung
bekas galian liang kuburmu.
Biar beginilah kukenang kesedihanku.
Dulu kita suka menempa mainan
bersama. Gumpal liat lalu jadi apa saja:
hiu, raksasa, huruf X, tentara, biji mata,
kaki kiri, apa saja (kecuali bunga-bunga).
Pulang dari pemakamanmu, aku
melihat langit, ada banyak
sekali julur bentang benang
tanpa layang-layang.
Mungkin beginilah cara engkau
menegur kemuramanku.
Ada sisa kertas minyak, buluh
belum dipotong sama panjang,
lem kanji mengering, eh ada
yang putus (tak sempat mengerang).
Pulang dari pemakamanmu, aku
pulang ke rumah pantai, rumah yang
mengasuh anak-anak imaji kita,
ombak kembali ke laut, pasir
menggambar sendiri: bentuk-bentuk
yang amat kukenal, tapi kini
tak lagi sepenuhnya kumengerti.
Jejakku jekakmu, di sana kejar mengejar.
Mar 2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Pulang dari pemakamanmu, aku
membawa sekepal lempung
bekas galian liang kuburmu.
Biar beginilah kukenang kesedihanku.
Dulu kita suka menempa mainan
bersama. Gumpal liat lalu jadi apa saja:
hiu, raksasa, huruf X, tentara, biji mata,
kaki kiri, apa saja (kecuali bunga-bunga).
Pulang dari pemakamanmu, aku
melihat langit, ada banyak
sekali julur bentang benang
tanpa layang-layang.
Mungkin beginilah cara engkau
menegur kemuramanku.
Ada sisa kertas minyak, buluh
belum dipotong sama panjang,
lem kanji mengering, eh ada
yang putus (tak sempat mengerang).
Pulang dari pemakamanmu, aku
pulang ke rumah pantai, rumah yang
mengasuh anak-anak imaji kita,
ombak kembali ke laut, pasir
menggambar sendiri: bentuk-bentuk
yang amat kukenal, tapi kini
tak lagi sepenuhnya kumengerti.
Jejakku jekakmu, di sana kejar mengejar.
Mar 2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Our 1'st Number Book, Shiela
Our 1'st Number Book, Shiela
- bersamamu, aku kembali belajar
cara-cara membaca-
angka 1
ya, ada sebuah ceri merah
di halaman pertama, di kebunku
dulu tak ada, karena di sana
cuma ada semak merambat
berbuah kuning, yang kalau kusebut
pun namanya kau tak akan tahu, yang pasti
buah itu bukan ceri, dan tak cuma sebuah,
dan warnanya bukan merah.
angka 2
ada kolam kecil di kebunku dulu
tempat dua kodok hijau
saling menghitung, "aku satu,
dan kau dua," kata kodok pertama.
"tidak, aku satu dan kau yang dua,"
kata kodok lain yang juga ingin
disebut sebagai kodok pertama.
angka 3
nah, satu sikat gigi ini untuk siapa?
"soalnya aku sudah punya, dan yang dua
untuk kodok hijau yang tadi ada
di halaman dua."
tunggu dulu!
tunggu dulu juga!
Kita kan cuma mau bilang, sikat
giginya ada: tiga ha ha ha!
angka 4
empat ekor bebek gemuk
empat ekor bebek gemuk jantan
(aku bisa ingat dari warna sayapnya)
apakah mereka perlu diberi nama?
tidak mereka perlu diberi bebek betina
supaya mereka bertelur, dan supaya
mereka tidak berkelahi, nanti kita
susah menghitungnya...
angka 5
apalah lima angka yang istimewa?
apakah tomat buah yang istimewa?
lima tomat
yang enak dibuat jus
tak perlu diberi nama
karena dia sudah punya
: jus tomat namanya!
angka 6
enam anak ayam
kita tak tahu jantan atau betina
semuanya berbulu lembut seperti sutra
di mana induknya?
kataku, "induknya mengeram empat telur lagi."
kau bertanya lagi, lalu aku jawab dengan nyanyi
"tek kotek kotek jambul...."
angka 7
bagaimana memomong tujuh kelinci?
gendong saja satu per satu, mereka
tak pernah saling iri
pangku saja satu per satu, karena
mereka tak pernah merajuk, karena
mereka tujuh ekor kelinci
angka 8
"delapan jeruk orange, bisa
jadi berapa gelas jus?"
kau kah yang bertanya? " maaf,
aku sedang mengenang jeruk nipis
yang tumbuh di antara pohon kelapa
burung keruang bersarang di salah satu
dahannya. aku tak pernah sempat
menghitung berapa telurnya. aku tak berkenalan
dengan angka delapan di sana. juga
tidak di buku pertama yang memang
tak pernah aku punya.
angka 9
delisi stroberi; sembilan biji
ah, terlalu banyak buah asing
di buku ini.
lalu angka nol ini, Abah?
dari mana datangnya bilangan
yang asing ini?
feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
- bersamamu, aku kembali belajar
cara-cara membaca-
angka 1
ya, ada sebuah ceri merah
di halaman pertama, di kebunku
dulu tak ada, karena di sana
cuma ada semak merambat
berbuah kuning, yang kalau kusebut
pun namanya kau tak akan tahu, yang pasti
buah itu bukan ceri, dan tak cuma sebuah,
dan warnanya bukan merah.
angka 2
ada kolam kecil di kebunku dulu
tempat dua kodok hijau
saling menghitung, "aku satu,
dan kau dua," kata kodok pertama.
"tidak, aku satu dan kau yang dua,"
kata kodok lain yang juga ingin
disebut sebagai kodok pertama.
angka 3
nah, satu sikat gigi ini untuk siapa?
"soalnya aku sudah punya, dan yang dua
untuk kodok hijau yang tadi ada
di halaman dua."
tunggu dulu!
tunggu dulu juga!
Kita kan cuma mau bilang, sikat
giginya ada: tiga ha ha ha!
angka 4
empat ekor bebek gemuk
empat ekor bebek gemuk jantan
(aku bisa ingat dari warna sayapnya)
apakah mereka perlu diberi nama?
tidak mereka perlu diberi bebek betina
supaya mereka bertelur, dan supaya
mereka tidak berkelahi, nanti kita
susah menghitungnya...
angka 5
apalah lima angka yang istimewa?
apakah tomat buah yang istimewa?
lima tomat
yang enak dibuat jus
tak perlu diberi nama
karena dia sudah punya
: jus tomat namanya!
angka 6
enam anak ayam
kita tak tahu jantan atau betina
semuanya berbulu lembut seperti sutra
di mana induknya?
kataku, "induknya mengeram empat telur lagi."
kau bertanya lagi, lalu aku jawab dengan nyanyi
"tek kotek kotek jambul...."
angka 7
bagaimana memomong tujuh kelinci?
gendong saja satu per satu, mereka
tak pernah saling iri
pangku saja satu per satu, karena
mereka tak pernah merajuk, karena
mereka tujuh ekor kelinci
angka 8
"delapan jeruk orange, bisa
jadi berapa gelas jus?"
kau kah yang bertanya? " maaf,
aku sedang mengenang jeruk nipis
yang tumbuh di antara pohon kelapa
burung keruang bersarang di salah satu
dahannya. aku tak pernah sempat
menghitung berapa telurnya. aku tak berkenalan
dengan angka delapan di sana. juga
tidak di buku pertama yang memang
tak pernah aku punya.
angka 9
delisi stroberi; sembilan biji
ah, terlalu banyak buah asing
di buku ini.
lalu angka nol ini, Abah?
dari mana datangnya bilangan
yang asing ini?
feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Klik Saja www.bukanpuisi.net!
Klik Saja www.bukanpuisi.net!
Hasan Aspahani
maaf, puisi ini sedang
dalam pembuatan
entah kapan selesainya
(sementara nikmati saja
puisi-puisi lainnya)
feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Penyair yang Tak Mencari Puisi
Penyair yang Tak Mencari Puisi
Hasan Aspahani
orang-orang pergi meninggalkan puisi,
hendak kemana? "kami mau berburu puisi!"
orang-orang rakus membongkar kamus
mencari apa? "kami sedang menjebak puisi!"
orang-orang lompat-lompat merenggut kalimat
mau dapat apa? "kami ingin meringkus puisi!"
wah! orang-orang menelanjangi tubuh sendiri!
ketemu apa? "sial, kami malah kehilanganpuisi!"
penyair itu, "oh, tolong janganlah aku disebut-sebut."
nah! lihat, di puisi ini pun dia tak mau terlibat.
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Penyair dan Tiga Puisi yang Tak Jadi
Penyair dan Tiga Puisi yang Tak Jadi
Hasan Aspahani
(dengan tiga bait puisi tak jadi, penyair itu diringkus
sepi. Sungguh ia tak bisa membela diri)
bait 1: kekasih yang pergi, salahkah bila kuratapi?
bait 2: rindu yang sunguh, bodohkan bila kukeluh?
bait 3: cinta yang gagal, bolehkah bila kusesal?
(dengan tiga bait puisi tak jadi, penyair itu ditelikung
sunyi. Sungguh ia tak bisa lagi menyelesaikan itu puisi.
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Sebuah Komputer, Takdimatikan
Sebuah Komputer, Takdimatikan
sebuah komputer
takdimatikan, dari
layarnya memancar
(seolah) sebuah puisi
: sayangku,
aku sungguh mencintaimu, dan
aku sungguh berbohong padamu
jadi, wahai sayangku,
buat apa kau percaya puisi ini?
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
sebuah komputer
takdimatikan, dari
layarnya memancar
(seolah) sebuah puisi
: sayangku,
aku sungguh mencintaimu, dan
aku sungguh berbohong padamu
jadi, wahai sayangku,
buat apa kau percaya puisi ini?
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Sajak Tipe 21
Sajak Tipe 21
Hasan Aspahani
1. Telah kusuling
seluruh kata
jadi sajak yang
sangat sederhana
hmm, kenapa masih juga
kau tanya: ini artinya apa?
2. Bunga yang mekar tadi pagi
akan begitu lekas layu, katamu
luruh, selembar demi selembar.
Begitulah, tak juga kau sadar
dalam sajak yang sederhana ini
telah diajarkan oleh mawar
membalas budi kepada tanah dan akar.
Feb 2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Translasi Jeritan Jembatan
Translasi Jeritan Jembatan
jurang dan tebing ini
sudah kubuat tak punya arti
kalah dengan makna kata tabah
yang kutanam di dada dua tebah
di sini, aku tak pernah putus berharap
: suatu saat kelak pasti ada
engkau yang mau singgah
lalu berbagi kisah rumah,
bukan sekadar meludah
atau menumpah sampah
yang tak pernah sempat kuajukan
padamu, adalah sebuah tanya: kapan
aku bisa ikut kau seberangkan?
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
jurang dan tebing ini
sudah kubuat tak punya arti
kalah dengan makna kata tabah
yang kutanam di dada dua tebah
di sini, aku tak pernah putus berharap
: suatu saat kelak pasti ada
engkau yang mau singgah
lalu berbagi kisah rumah,
bukan sekadar meludah
atau menumpah sampah
yang tak pernah sempat kuajukan
padamu, adalah sebuah tanya: kapan
aku bisa ikut kau seberangkan?
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Translasi Kesadaran Koran
Translasi Kesadaran Koran
Hasan Aspahani
kematianmu telah kukabarkan di halaman depan
di sebelah tawaran jasa pembesaran alat kelamin: sebuah iklan!
tak ada, tentu tak ada yang berduka, sebab di bawahnya
ada berita tentang pemerkosaan, dan TKW yang
jeritannya jadi kutipan: "ribuan aku terjaring pelacuran!"
Tuhan?
ah, setahuku, Ia tak pernah jadi langganan, tapi
kemarin Ia janji akan mengirim surat pembaca
(sama denganmu, Ia hanya mengajukan keberatan)
Feb2003
Translasi Pinta Pintu
Translasi Pinta Pintu
jangan rusakkan, biar saja jaring laba-laba
itu memerangkap angan inginku, sampai
kaudengar aku berkata: lihat! ada juga
yang berumah padaku yang sekadar pintu
biar saja bangkai cecak di celah engsel itu
mengeringkan lupa lalaiku, jangan lepaskan,
sampai kaudengar aku berucap: lihat! ada juga
yang mau berkubur padaku yang sekadar pintu
feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
jangan rusakkan, biar saja jaring laba-laba
itu memerangkap angan inginku, sampai
kaudengar aku berkata: lihat! ada juga
yang berumah padaku yang sekadar pintu
biar saja bangkai cecak di celah engsel itu
mengeringkan lupa lalaiku, jangan lepaskan,
sampai kaudengar aku berucap: lihat! ada juga
yang mau berkubur padaku yang sekadar pintu
feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Malam Imlek | Puisi Tentang Malam Imlek
Malam Imlek
Hasan Aspahani
merah
lampion,
segarnya
(sisa hujan)
masih
ada
basahnya
feb2003
Kenangan Berwarna Hijau Tua
Kenangan Berwarna Hijau Tua
Hasan Aspahani
ia datang serentak hujan, bunga mayang yang
luruh bersama setelah penyerbukan, dengung lebah
riuh bilah-bilah, rumput ditebas rebah, aih
rasanya tak cukup telinga mendengar dua belah.
(yang lebih megah dari konser sederhana ini, adakah?)
ia datang bersama arus sungai yang menuding ke wajah muara
kesanakah mengalir semuanya? dulu kutanyakan pada
anak-anak udang galah, jawabnya: tak perlu kau bertanya,
dulu kutanya juga pada angin lincah, jawabnya: tanyakan
saja pada akar kelapa, lalu kutanya pada tanah yang tabah,
jawabnya: sudahlah, nanti kau akan tahu juga.
(aku tidak bertanya pada laut jauh yang mengirim pasang waktu subuh)
masih saja, ia datang bersama hujan, bunga kenangan
yang tak mau luruh, menggenangkan aku ke tanya tak bermuara tak berhulu.
Feb 2003
Yang Kuhela, Yang Kupeluk
Yang Kuhela, Yang Kupeluk
dengan kaki bugil dada telanjang kuhela
gerobak kayu, tak sempat kuingat keringat
lampu badai latat, bulan pun kenapa pucat
tak ada rambu-rambu di setapak telapak
yang memberiku lalu dengan gerobak kayu
roda menyentuh batu, sentuh yang satu per satu
lepuh lengan lapah bahu gerobak kayu
di masjid terus tadarus aku kenang sisiphus
batang-batang bakau bukan bongkah batu
suara laut aih ya lirihnya: sudah lama surut
pasir pantai kering langit tanpa kelambu
aku tidur memelukmu, gerobak kayuku
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
dengan kaki bugil dada telanjang kuhela
gerobak kayu, tak sempat kuingat keringat
lampu badai latat, bulan pun kenapa pucat
tak ada rambu-rambu di setapak telapak
yang memberiku lalu dengan gerobak kayu
roda menyentuh batu, sentuh yang satu per satu
lepuh lengan lapah bahu gerobak kayu
di masjid terus tadarus aku kenang sisiphus
batang-batang bakau bukan bongkah batu
suara laut aih ya lirihnya: sudah lama surut
pasir pantai kering langit tanpa kelambu
aku tidur memelukmu, gerobak kayuku
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com