UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Alex R Nainggolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alex R Nainggolan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2012

Puisi Banjir | Lautan Jakarta



Lautan Jakarta
Alex R.Nainggolan

jakarta jadi laut
memungut air hujan
ngalir menggapai tubuh
rumah dan kesedihan
orang-orang bertahan dalam getir
apakah takdir atau mimpi buruk?

lautan jakarta
mimpi-mimpi mengapung
coklat air yang ngalir
tak surut-surut
memasuki lorong-lorong derita

kini semuanya memanggul larat
merapal doa
semoga tak menjadi kaum nuh
yang durhaka

kapan lagi hujan turun?
langit mendung
puluhan ribu tatapan murung

di sisi jakarta
luka kembali pecah

semuanya tenggelam!

Jakarta, 3 Februari 2007

Puisi Kisah Sedih | Alex R Nainggolan



Kisah Sedih
Alex R.Nainggolan

barangkali ini sebuah kisah sedih
sebab sekian waktu aku abai pada suara tangis
membiarkan kau besar sendirian
menempuh kalut dalam laut hidup
yang acap dipenuhi dengan kecemasan

dan tahun kembali berganti
merobek segala pesakitan
sementara aku cuma berlalu
sudah jenuh untuk menunggu

maka bersama ransel yang lembap
aku lanjutkan perjalanan
semuanya cuma kisah sedih
yang kelak datang lagi

Jakarta, 26 Januari 2007

Puisi Bencana Alam Banjir | Terjebak Air Banjir

Terjebak Air Banjir
- Hammad Ramadhan
Alex R.Nainggolan

engkau terjebak air banjir
berdiri menunggu dua malam
di ketinggian
tapi langit tak lagi biru
cuma mendung yang menggantung
aroma dingin menebar
matahari mati suri

berapa lama lagi air akan surut?
sebelum segalanya menyisa
bersama tumpukan lelah dan lumpur

engkau terjebak air banjir
ditikam kesunyian
tanpa komunikasi
listrik yang mati
telepon genggam yang mati

hujan mengguyur lagi
entah apa yang sedang kauperbuat sekarang?
sementara nyeri dingin air melulu tumbuh
berenang ke tepian hatimu
menyumbat ingatanku yang panjang padamu

ah, mengapa belum juga ada kabar darimu?

Jakarta, 3 Februari 2007

Biografi Alex R. Nainggolan

Biografi Alex R. Nainggolan

Alex R. Nainggolan dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat nyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, On/Off, dll.

Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum...(Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005).

Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah terakhir di Radar Lampung (Juara III, 2003), Majalah Sagang-Riau (Juara I, 2003), Juara III Lomba Penulisan cerpen se-SumbagSel yang digelar ROIS FE Unila (2004), nominasi Festival Kreativitas Pemuda yang digelar CWI Jakarta(2004 & 2005).

Alamat: Komplek DKI Jalan Bina Serasih I Blok A No. 7 Rt. 005/05 Cengkareng Barat Cengkareng Jakarta Barat 11730.


Rabu, 09 Februari 2011

Mencari Ibu | Kumpulan Puisi Untuk Ibu

Mencari Ibu
Alex R. Nainggolan

berapa banyak ibu tumbuh jadi bayangan dalam hariku ?
maka aku pun mencarinya, di atas tanah, sepanjang jalan,
di bawah hujan., tapi selalu kutemukan bentuk ibu-ibu yang lain
menggendong matahari, menancapkan kesakitan di tubuhnya sendiri, atau menyusui bayi yang paling purba
aku kehilangan tanda mencarinya, cuaca kembali datang dengan bencana
yang tak mudah diterka

ibu, ibu, di mana kamu ? seperti masuk ke dalam sesat jalan langkahku
tak ada jawaban, cuma hening yang tak bergeming, menyimpan seluruh masa lalu yang bening

aku mencari ibu di dalam tubuh rempuan
tapi yang kutemukan hanya rahim-rahim yang kosong
kehilangan benih, di sudut-sudut kota berkerumun dengan darah aborsi

aku mencari ibu di tubuh istri-istri
tapi cuma kutukan nyali birahi yang ada
mendekap malam-malam yang penuh keranda

aku mencari ibu lagi, di antara getar suara ponsel
surat-surat yang kutumpuk di lemari pakaian, atau sisa uang untuk belanja
hari ini. tak ada ibu di sana, di pohon-pohon apel
yang ada cuma ulat-ulat, merakit sekarat
tempat adam belajar kata cinta pada hawa
dan menggapai dunia

ibu, di mana kamu ? seperti kundang, tak henti-henti kupanggul kutuk ini
tak kutemukan ibu. hanya patung-patungnya dibangun di penjuru kota

Jakarta, 2004

Kamis, 03 Februari 2011

Hujan Februari | Puisi Tentang Hujan Bulan Februari

Hujan Februari
Alex R. Nainggolan

hujan februari mengusik nyali langit hitam angin bergulung
aku menggambar mimpi mungkin masih ada tempat singgah
teduh dari hujan yang penuh raung
hujan februari
menyemai takuttak bisa kuriangkan hati
untuk sembunyi dari kalut
nyatanya air begitu semaput
membuat kulit kaki keriput
dingin yang tak bisa jadi selimut
sampai tubuh mengkerut
semoga bukan sengkarut!

Jakarta, 1 Februari 2008

Puisi Bayangan | Alex R. Nainggolan

Bayangan
Alex R. Nainggolan

ada yang mampu menipu di muka cermin bukan sejati
namun sunyi kembali
mengambil nyali terapung bagai masa
lalu berkabung
tetap saja menguntit
diam pada setiap sakit
hingga engkau menjerit
"pergilah engkau jauh.
aku sudah terlalu jenuh. untuk selalu memujimu.
dengan panorama senja yang membeku."
namun ia terus datang
semacam lonceng jam yang berdentang

Jakarta, Januari 2008

Engkau Duduk di Sudut

Engkau Duduk di Sudut
Alex R. Nainggolan

engkau duduk di sudut
seperti ingin merenggut segalanya
kejadian demi kejadian
yang membuat kita semaput
engkau duduk di sudut
seperti ingin menjemput
segala sunyi yang lama berdiam di dalam harilalu
kau bungkus kegelisahan itu
merebutnya dengan perlahan
agar tak sampai kepadaku
sebab cemas itu memang bukan buatku bukan milik kita

Jakarta, 29 Januari 2008

Puisi Sarapan Pagi | Alex R. Nainggolan


Sarapan Pagi
Alex R. Nainggolan

sarapan pagiku hanya gegas langkah orang-orang berangkat kerja
terkadang pula jeritan tetangga sebelah bertikai
pada kenyataan yang pahit dengan amarah yang kerap melilit
meski masih ada cahaya matahari mengusir sunyi
pada bekas-bekas embun di batang pohon
meski ada suara bayi yang tertawa menyambut pagi
berlarian di beranda sarapan pagiku hanya berita-berita ngeri
di layar televisi atau hamparan diksi dengan anyir darah
di halaman surat kabar meski masih ada senyum sang istri
sekadar mengantarku untuk
menjejakkan kaki terlibat dalam
keramaian tumpah-ruah dalam
jadwal rutin kehidupan

Jakarta, 29 Januari 2008


Seperti Pertama Kali | Puisi Alex R. Nainggolan

Seperti Pertama Kali
Alex R. Nainggolan

seperti pertama kali engkau kusentuh ada yang tertinggal
pembuluh dadaku juga getaran yang sama
saat kukecup kulitmu menepikan ketakutanku
lalu membesarkan nyaliku sebagai lelaki
betapa engkau ingin selalu kupuja tanpa jenuh
telah kau lecut setiap kesadaranku menyadarkan
dengan penuh sebagai lelaki di sampingmu
mendampingi meski tahun-tahun
terkelupas dipenuhi kejenuhan

Jakarta, 1 Januari 2008