DI SEBUAH HALTE BIS
Oleh : sapardi Djoko Damono
Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis
dan membaringkanmu di sana.
Kau memang tak pernah berumah,
dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak putih.
Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu
melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk.
Bis tak kunjung datang.
Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu.
Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok,
berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku
dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.
Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Februari 2011
Di Sebuah Halte Bis
Rabu, 16 Juni 2010
Puisi Dalam Bis | Sapardi Djoko Damono
DALAM BIS
Oleh : sapardi Djoko Damono
langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona
sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…
Puisi Buat Ning | Sapardi Djoko Damono
BUAT NING
Oleh : sapardi Djoko Damono
pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu
januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu
PUISI SAPARDI DJOKO >> DALAM DIRIKU
DALAM DIRIKU
Oleh : sapardi Djoko Damono
dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…
dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…
dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…
dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…
Puisi Tentang Gadis Kecil | Sapardi Djoko Damono
GADIS KECIL
Oleh : sapardi Djoko Damono
Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung…
Puisi Hutan Kelabu | Sapardi Djoko Damono
HUTAN KELABU
Oleh : sapardi Djoko Damono
kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian
KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA
KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA
Oleh : sapardi Djoko Damono
Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…
Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
PADA SUATU HARI NANTI
PADA SUATU HARI NANTI
Oleh : sapardi Djoko Damono
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
Sajak Kecil Tentang Cinta | Sapardi Djoko Damono
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
Oleh : sapardi Djoko Damono
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku
PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO >> AKU INGIN
AKU INGIN
Oleh : sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Puisi Tema Angin | Sapardi Djoko Damono
ANGIN 2
Oleh : sapardi Djoko Damono
Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api
yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua
yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu
tiba-tiba berair kembali.
Puisi Tentang Pesan | Puisi Pesan Sapardi
PESAN
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri,
bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta,
dan antara disengaja dan tidak disengaja
sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya,
tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya,
dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....
AKULAH SI TELAGA | Puisi Sapardi Djoko Damono
AKULAH SI TELAGA
Oleh :Sapardi Djoko Damono
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya
Puisi Angin | Puisi Tentang Angin : Sapardi Djoko Damono
ANGIN 1
Oleh : sapardi Djoko Damono
angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak
dari sudut ke sudut dunia ini
pernah pada suatu hari berhenti
ketika mendengar suara nabi kita Adam
menyapa istrinya untuk pertama kali,
"hei siapa ini yang mendadak di depanku?"
angin itu tersentak kembali
ketika kemudian terdengar jerit wanita
untuk pertama kali,
sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona
sebab tiba-tiba merasa scorang diri
di tengah bising-bising ini tanpa Hawa
PERISTIWA PAGI TADI | Puisi Tentang Peristiwa Pagi Tadi
PERISTIWA PAGI TADI
Oleh : sapardi Djoko Damono
Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor
tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung
tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang,
membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu
tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang,
membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan
dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans
dan meninggal sesampai di rumah sakit.
Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku
tentang peristiwa itu.
Puisi Tentang Air Selokan | Sapardi Djoko Damono
AIR SELOKAN
Oleh : sapardi Djoko Damono
"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,
"katamu pada suatu hari minggu pagi.
Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.
Dulu di selokan itu mengalir pula air
yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir:
campur darah dan amis baunya.
Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu,
salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan
hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.
TAJAM HUJANMU | Kumpulan Puisi Hujan Sapardi Djoko Damono
TAJAM HUJANMU
Oleh : sapardi Djoko Damono
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu
Puisi Tema Perahu Kertas
PERAHU KERTAS
Oleh : sapardi Djoko Damono
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas
dan kau layarkan di tepi kali;
alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar,"kata seorang lelaki tua.
Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu
kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit."
PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO >> TEKUKUR
TEKUKUR
Oleh : sapardi Djoko Damono
Kautembak tekukur itu.
Ia tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas;
mula-mula terpencar di sela-sela jari angin,
satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar,
lalu bersandar pada daun-daun rumput. "Kena!" serumu.
Selembar bulunya ingin sekali mencapai kali itu
agar bisa terbawa sampai jauh ke hilir,
namun angin hanya meletakkannya di tebing sungai.
"Tapi ke mana terbang burung luka itu?" gerutumu.
Tetes-tetes darahnya melayang :
ada yang sempat melewati berkas- berkas sinar matahari,
membiaskan wama merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.
"Merdu benar suara tekukur itu,
"kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana;
ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.
Oleh : sapardi Djoko Damono
Kautembak tekukur itu.
Ia tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas;
mula-mula terpencar di sela-sela jari angin,
satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar,
lalu bersandar pada daun-daun rumput. "Kena!" serumu.
Selembar bulunya ingin sekali mencapai kali itu
agar bisa terbawa sampai jauh ke hilir,
namun angin hanya meletakkannya di tebing sungai.
"Tapi ke mana terbang burung luka itu?" gerutumu.
Tetes-tetes darahnya melayang :
ada yang sempat melewati berkas- berkas sinar matahari,
membiaskan wama merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.
"Merdu benar suara tekukur itu,
"kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana;
ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.
Puisi Tentang Telinga | Puisi Tema Telinga
TELINGA
Oleh : sapardi Djoko Damono
"Masuklah ke telingaku," bujuknya.
Gila
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci -- setiap kata, setiap huruf,
bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
"Masuklah," bujuknya.
Gila ! Hanya agar bisa menafsirkan
sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya
kepada diri sendiri.