UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label T Tjoet Sofjan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label T Tjoet Sofjan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Mei 2010

PENGADUAN

T. Tjoet Soufjan

Tuhan,
Berapa lama iman ini di selamatkan
Berapa lama hati ini dalam cobaan
Belum juga sua ridhaMu di hidupkan
Masih seperti hari-hari itu juga
DI temani kefanaan

Tuhan,
Tiap pada waktu kusebut namaMu
Dalam tubuhku suci kusebut namaMu
Sami’allahuliman hamidah
Aku masih di situ, dalam padu
Di pacu oleh musyirikin-musyirikin

Tuhan, aku tak nampak memandangMu
Kulihat di hati dekatnya Engkau
Ku berbicara denganMu dalam sujudku
Tiap waktu, tiap aku mendekatiMu
Mengharap ridhaMu Tuhan
Watawal lani fiiman tawallaita

11 Juli 1978



Puisi Sebuah Potret | T. Tjoet Soufjan

SEBUAH POTRET
T. Tjoet Soufjan

Kedip api itu masih jelas di buritan
Di zontal laut bulan tercampak di sapu riak
Getaran di dada masih bergejolak satu-satu
Di bawah bakaran lilin, imajinasi dan harapan
Seperti kirbi, rosin, husni dan hasyim ks mengukir diri*)
Meramu setumpuk pasir putih di tepian

Lalu ada gema azan turun dalam ilusi dan imajinasi
Insan-insan itu masih lena di subuh sahdu
Kereta-kereta harapan sudah lalu berjalan
Sesuatu yang tertinggal cuma khayalan di haluan
Sedang kedip api hampir mati di pandangan

Banda Aceh, 13 Juli 1980

*) adalah nama-nama penyair Aceh




MALAM TAKBIR | Puisi Menjelang Idul Fitri

MALAM TAKBIR
T. Tjoet Soufjan

Gema takbir semilir di angkasa
Kalbu ini menyayat sendu
Anak-anakku minta baju baru

Allahu Akbar, hati ini terbakar
Layu dan luluh
Lailaha Illallah, sendu seluruh rasa
Anak-anakku minta juadah*)

Allahu Akbar, bumi hangus terbakar
Mata berkedip tapi keliling kelam
Naluriku runtuh lebur dan kelu
Seharu gema Walila Ilham

Kembali diri ini dalam cobaan
Di lebur hancur dengan tangisan
Tangis bocah,tangis-tangis perawan lincah
Anak-anak ingin lebaran

Ini kisah diri yang paling perih
Juga kisah insan sebahagian
Menjelang Idul Fitri harus antri pikiran
Dan yang menyiksa kegembiraan

Kutaraja, 6 Agustus 1967

*) seperti perhiasan

FATWA PENYAIR

FATWA PENYAIR
T. Tjoet Soufjan

Terlalu sunyi jadi penyair
Seluruh kata terpantul dari sekali rasa
Kadang nada harus putus, pupus dan tandus
Kadang bicara ikut menangis
Lunturkan pupus muka enggan berkata

Terlalu sunyi dalam bersyair
Berkelana mencari nada dengan dada luka
Biasa terhempas, terkubur laju dengan irama
Berkeputihan mata, juga cari penawar
Tiada yang datang, tiada yang mau lagi

Di perlombaan ini, tertancap pedang
Satu-satunya guna tanda bagi orang-orang datang
Di depan tidak akan ada sebutir air
Cuma ada airmata pelepas dahaga, bawalah
Sehingga rintihan terputus di ujung tangis

Banda Aceh, 1993


MENARA BAITURRAHMAN

T. Tjoet Soufjan

Puncak ini menjelasi naluri insane
Antara pertemuan dia dengan Tuhannya
Tersimpul simbul iman ketakwaan
Bukan kemegahan

Hai walilullah katakanlah kepada mereka
Tentang insan yang merugi
Mencemari kota ini

Puncak menara ini bukan kemegahan
Dia bagaikan bukti emosi mencapai Tuhan
Bukan lambing keindahan kota ini
Pun bukan bukti kekuasaan

Bacalah kalimat dengan makrifat
Sebutlah Allah dalam dada
Tegakkan iman dan kebersihan
Lepaskan diri dari kejahilan
Agar menara itu punya arti
Sebagai puncak mengisi iman pribadi

Banda Aceh, 1992




BIOGRAFI - T. TJOET SOUFJAN

Almarhum lahir di Meulaboh 15 Juli 1935, masa kanaknya di Padang Seurahet sering dia ocehkan sebagai kenangan, karena pemukiman tepi laut kota Meulaboh itu, pada akhirnya bukan lagi menjadi milik leluhurnya. Padang Seurahet telah menjadi sebuah desa yang dihuni banyak kepala keluarga pendatang. Anak tunggal perwira militer yang bertempur di front medan area, Letkol Tjoet Rahman dan ibu Tjoet di Anjong ini sempat menamatkan sekolah menengah di Medan, kemudian melalangbuana di Jakarta dengan banyak pengalaman di bidang rekaman dan film. Kemudian kembali ke Banda Aceh dan dikenal sebagai pelawak beken era 70-an. Ia juga kerap tampil melawak bersama istrinya Kak Butet di TVRI Banda Aceh. Tjoet Sofjan yang dikalangan pekerja seni Aceh di gelar “Empu” banyak memberi “pengalaman” bagi generasi muda seniman Aceh, ia sering menyutradarai naskah teater dan salah satunya adalah naskah asing “Granada” yang sempat menggebrak Banda Aceh di tahun 1973. Banyak dari turunannya menjadi seniman dan terakhir ia bergabung dengan tetaer Improvisasi (I). Puisinya dapat di jumpai dalam antologi bersama, “Nuansa Pantai Barat” (Lempa, 1993), “Banda Aceh” (DCP. Production, 1993), dll.