PILKADA
Cut Ayu
Pilkada, ya PILKADA!!
Satu singkatan kata tetapi penuh makna
Kita menyebutnya PILKADA
'Pemilihan Kepala Daerah'
Tetapi bagi sebagian rakyat pilkada itu. 'Pilihan Kami adalah Damai"
Namun,mengapa Pilkada menjadi momen yang sangat menakutkan?
Tidak ada damai dalam kenyataan
Karena Pilkada jadi 'Pilihan Kekerasan, Anarki, Dendam, dan Arogan."
Jadilah damai hanya sebuah impian yang entah sampai kapan
Luar biasa
Kandidat kebijakan seakan berubah dan berlomba menjadi pahlawan sekaligus korban dadakan
Sadarkah kita?
Iya, kita seolah sadar tetapi padahal pasrah dengan jantung berdebar
Warna-warni yang menjadi simbol perbedaan berubah indah menghias seluruh sudut wilayah daerah
Bukan berarti warna-warni tak bisa menyatu menjadi satu ikatan warna persahabatan
Wahai calon penguasa
Dengarlah kepasrahan pemujamu yang terus meneriakkan harapan kedamaian
Sudahi keegoisan akan api amarah dan senjata yang haus kekuasaan
Cukupkanlah derita yang tak berkesudahan
Tak inginkah kita duduk berdampingan
Menggenggam hari esok dengan kemenangan penuh rasa persaudaraan
Dalam makna 'PERDAMAIAN'
Alangkah indah bukan?
Jadikan Pilkada 'PemILihan Karena Akan DAmai" bukan
Pilkada 'PemILihan Karena Ada DendAm'
Apalagi menjadi 'PILlihan Kekerasan, Anarki, Dendam, dan Arogan'
*Saleum peACEHeart untuk semua yang ingin menang dengan kebajikan dan kebijaksanaan
*Cut Ayu adalah aktivis Gen-K
sumber : atjehpost.com
Tampilkan postingan dengan label Puisi Penyair Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Penyair Aceh. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 Juli 2012
Puisi PILKADA | Puisi Tentang PILKADA
Selasa, 01 Februari 2011
Puisi Selamat Jalan Anakku | Cut Januarita
Selamat Jalan Anakku
Cut Januarita
Selamat Jalan anakku
Hanya asa rindu kepiluan
Ku ucapkan pada mentari redup dan bulan tanpa purnama
Yang tak sudi dan tak akan menulis perputaran waktu
Pada derita jiwa ibu yang melahirkan
Dengan darah, air mata, kepedulian, harapan dan cita-cita
Selamat Jalan anakku
Sampaikan kabar gembira pada ibu
Bahwa kau sedang menari-nari indah
Di antara jiwa syahid dan hidup
Di antara jiwa mati dengan kotoran
Yang tak terampuni dalam derita meraung-raung
Selamat jalan anakku
Doakan ibu satu saat nanti
Berdiri tegak
Berlari mengejar langkahmu
Memiliki kertas putih tanpa angkara murka
Tuk mengikuti jemari surgawi
Menyusuri alam kemandirian yang abadi
Sumber : Lagu Kelu - Kumpulan Puisi Penyair Aceh
Kamis, 06 Mei 2010
PERCAKAPAN
Wina. SW1
(seperti juga pembicaraan kita tempo hari, Tuhan
tidak ada salahnya kalau aku memulai
karena toh kau memang lebih suka diam
membiarkan aku terus mengobral kata
dan mengadilinya diam-diam
terkadang aku jadi ragu
apakah diam juga kata
apakah diam cukup jadi jawaban
ataukah diam adalah diam
yang punya satu makna
“hukuman buat sang pengadu”
entahlah,
diamMu atau riuhku adalah percakapan kita
setiap waktu yang tercatat)
Tuhan (kalau masih boleh aku terus menyapaMU seperti itu)
kali ini aku tidak punya banyak kisah
cukup satu pertanyaan,
“mengapa kau biarkan mereka
mengotori tanahMu dan nafasku
dengan lukisan bertinta merah hitam
yang mereka beli dari setan?”
(dan kuharap kali ini
kita tidak bicara dalam diamMU
sambil menatap mereka melelangnya di kaki lima
kepada para kolektor atas namaMu”
dan memasang wajah tidak bersalah
ketika kau menyapanya
karena diam dan kata-kata pun
bukan lagi sebuah percakapan buat mereka)
Beurawe, 1988
(seperti juga pembicaraan kita tempo hari, Tuhan
tidak ada salahnya kalau aku memulai
karena toh kau memang lebih suka diam
membiarkan aku terus mengobral kata
dan mengadilinya diam-diam
terkadang aku jadi ragu
apakah diam juga kata
apakah diam cukup jadi jawaban
ataukah diam adalah diam
yang punya satu makna
“hukuman buat sang pengadu”
entahlah,
diamMu atau riuhku adalah percakapan kita
setiap waktu yang tercatat)
Tuhan (kalau masih boleh aku terus menyapaMU seperti itu)
kali ini aku tidak punya banyak kisah
cukup satu pertanyaan,
“mengapa kau biarkan mereka
mengotori tanahMu dan nafasku
dengan lukisan bertinta merah hitam
yang mereka beli dari setan?”
(dan kuharap kali ini
kita tidak bicara dalam diamMU
sambil menatap mereka melelangnya di kaki lima
kepada para kolektor atas namaMu”
dan memasang wajah tidak bersalah
ketika kau menyapanya
karena diam dan kata-kata pun
bukan lagi sebuah percakapan buat mereka)
Beurawe, 1988
SEANDAINYA BOLEH KU TAWAR
Wina. SW1
Seandainya boleh kutawar
Akan kubeli dunia
Kulukis wajah tanah kelahiran di tiap sudutnya
Di mana suara angin mendo-da-i-di-kan-ku*)
Gunung-gunung perkasa menjaga lelapku
Laut dan pantai berpasir putih menghiasi mimpiku
Seandainya boleh kutawar
Akan ku ubah dunia
Kualirkan krueng Aceh mengitarinya
Kuhadirkan lelaki-lelaki penabuh rapa’i*)
Mengoyak sepi
Kubiarkan anak-anak berkaki telanjang
Berkejaran waktu
Dan perempuan-perempuan berkerudung sarung
Yang tak hentinya bersujud dan mengagungkan Allah
Seandainya boleh kutawar
Akan kupentaskan beribu hikayat
Antara keperkasaan malahayati*), tjoet nyak dien, teuku umar
dan berjuta tubuh yang berbaring menjaga tanah ini
(duniapun terpana)
tapi sebelum sempat kutawar
Tuhan telah menawar hidupku
“cukup sampai di sini!”
duniapun terbahak, semakin erat menghimpitku
Agustus, 1988
*) rapa’I adalah music perkusi tradisional Aceh
*) seorang wanita yang memimpin armada laut kerajaan Aceh tempo dulu, berlevel laksamana
Seandainya boleh kutawar
Akan kubeli dunia
Kulukis wajah tanah kelahiran di tiap sudutnya
Di mana suara angin mendo-da-i-di-kan-ku*)
Gunung-gunung perkasa menjaga lelapku
Laut dan pantai berpasir putih menghiasi mimpiku
Seandainya boleh kutawar
Akan ku ubah dunia
Kualirkan krueng Aceh mengitarinya
Kuhadirkan lelaki-lelaki penabuh rapa’i*)
Mengoyak sepi
Kubiarkan anak-anak berkaki telanjang
Berkejaran waktu
Dan perempuan-perempuan berkerudung sarung
Yang tak hentinya bersujud dan mengagungkan Allah
Seandainya boleh kutawar
Akan kupentaskan beribu hikayat
Antara keperkasaan malahayati*), tjoet nyak dien, teuku umar
dan berjuta tubuh yang berbaring menjaga tanah ini
(duniapun terpana)
tapi sebelum sempat kutawar
Tuhan telah menawar hidupku
“cukup sampai di sini!”
duniapun terbahak, semakin erat menghimpitku
Agustus, 1988
*) rapa’I adalah music perkusi tradisional Aceh
*) seorang wanita yang memimpin armada laut kerajaan Aceh tempo dulu, berlevel laksamana
TENTANG “T”
Wina. SW1
Dia pernah minta aku mencuri bulan
Buat menghiasi malamnya
Dia juga pernah minta aku mengikat waktu
Agar hari tetap pagi
Dan sekarang,
Dia ingin aku mencuri matahari
Buat menghiasi dadanya
Jantho, Desember 1988
Dia pernah minta aku mencuri bulan
Buat menghiasi malamnya
Dia juga pernah minta aku mengikat waktu
Agar hari tetap pagi
Dan sekarang,
Dia ingin aku mencuri matahari
Buat menghiasi dadanya
Jantho, Desember 1988
DARUSSALAM*)
Wina. SW1
Masih ada seulawah*) yang kadang tegak
Dan kadang bersembunyi di antara awan
Juga masih ada krueng Aceh*) dengan riaknya
Hanya wajah telah sedikit terpoles
Disana,
tetesan keringat masih mengalir
Bersama bait-bait doa
Di antara langkah-langkah
Yang bergulat harap
Mengubah aksara menjadi masa depan
Rasanya,
Masih terdengar suara
Syech Abdurrauf*) dengan kata-kata panjangnya
Atau Majid Ibrahim*) dengan tatapnya
Gemeretak tulang para ayah di sawahnya
Untuk sebuah esok
Januari, 1991
*) kawasan kampus Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
*) nama gunung
*) sungai
*) ulama dan pujangga besar Aceh
*) tokoh pendidik dan mantan gubernur Aceh
Masih ada seulawah*) yang kadang tegak
Dan kadang bersembunyi di antara awan
Juga masih ada krueng Aceh*) dengan riaknya
Hanya wajah telah sedikit terpoles
Disana,
tetesan keringat masih mengalir
Bersama bait-bait doa
Di antara langkah-langkah
Yang bergulat harap
Mengubah aksara menjadi masa depan
Rasanya,
Masih terdengar suara
Syech Abdurrauf*) dengan kata-kata panjangnya
Atau Majid Ibrahim*) dengan tatapnya
Gemeretak tulang para ayah di sawahnya
Untuk sebuah esok
Januari, 1991
*) kawasan kampus Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
*) nama gunung
*) sungai
*) ulama dan pujangga besar Aceh
*) tokoh pendidik dan mantan gubernur Aceh
Puisi Kosong | Wina SW1
Kosong
Wina. SW1
telah kau menangkan waktu dari petaka
yang menantangmu pagi itu
Sang Khalik kembalikan sisa usia
dan, kau sesali takdir itu
telah Ia hembuskan hidup dan esok
agar kau terus melangkah
dan tahu memaknai hidup
tapi kau tepiskan anugerah itu
karena luka yang terus kau biarkan menganga
sepi menikam merantaimu
kehilangan merasuki urat nadimu
beban dan duka menghantui langkahmu
karena
ketidakrelaan melepas yang Ia titipkan sesaat padamu
tatap matamu tanpa cahaya
rindukan kemarin ada di sini
mimpikan mereka melangkah bersama
suaramu terbenam dalam putaran hari
mereka telah membawa pergi kata-kata
dan tawa milikmu
kau ciptakan batas, menepis bahagia
yang Ia kirimkan buatmu
sampai kapan kau biarkan
amarah merajai hatimu
suram memenjarakan harimu
nelangsa mematikan hidupmu
ketidakrelaan merenggut semua mimpi
dan cintaNya padamu
tanpa sadar, kau hakimi Ia
padahal Ia telah menganugerahkan yang tak ternilai bagimu
: sebuah kesempatan
Kyoto, 14 Januari 2005
PERADUAN PUTIH
Wina. SW1
selimut berajut doa dan kenangan
akan menghangati tidurmu
mimpi-mimpi yang tercecer
akan mengaliri darahku
: aku masih punya pagi dan matahari
Obaku, 6 Januari 2005
selimut berajut doa dan kenangan
akan menghangati tidurmu
mimpi-mimpi yang tercecer
akan mengaliri darahku
: aku masih punya pagi dan matahari
Obaku, 6 Januari 2005
RINDU | Puisi Puisi Rindu
RINDU
Wina. SW1
air menyentuh tiang-tiang titi
orang-orang berlari melintas sungai
aku duduk dalam hening
meneguk maccha terakhir
: mimpikan percakapan tak pernah berakhir
Kamogawa, 10 Januari 2005
EPILOG BULAN | Puisi Tentang Bulan
EPILOG BULAN
Wina. SW1
bulan, matahari, angin di atas satu meja
percakapan tanpa kata:
lautku,
izinkan kuterima tanda cintamu
Kyoto-Japan, 5 Januari 2005
PENGADUAN
T. Tjoet Soufjan
Tuhan,
Berapa lama iman ini di selamatkan
Berapa lama hati ini dalam cobaan
Belum juga sua ridhaMu di hidupkan
Masih seperti hari-hari itu juga
DI temani kefanaan
Tuhan,
Tiap pada waktu kusebut namaMu
Dalam tubuhku suci kusebut namaMu
Sami’allahuliman hamidah
Aku masih di situ, dalam padu
Di pacu oleh musyirikin-musyirikin
Tuhan, aku tak nampak memandangMu
Kulihat di hati dekatnya Engkau
Ku berbicara denganMu dalam sujudku
Tiap waktu, tiap aku mendekatiMu
Mengharap ridhaMu Tuhan
Watawal lani fiiman tawallaita
11 Juli 1978
Tuhan,
Berapa lama iman ini di selamatkan
Berapa lama hati ini dalam cobaan
Belum juga sua ridhaMu di hidupkan
Masih seperti hari-hari itu juga
DI temani kefanaan
Tuhan,
Tiap pada waktu kusebut namaMu
Dalam tubuhku suci kusebut namaMu
Sami’allahuliman hamidah
Aku masih di situ, dalam padu
Di pacu oleh musyirikin-musyirikin
Tuhan, aku tak nampak memandangMu
Kulihat di hati dekatnya Engkau
Ku berbicara denganMu dalam sujudku
Tiap waktu, tiap aku mendekatiMu
Mengharap ridhaMu Tuhan
Watawal lani fiiman tawallaita
11 Juli 1978
Puisi Sebuah Potret | T. Tjoet Soufjan
SEBUAH POTRET
T. Tjoet Soufjan
Kedip api itu masih jelas di buritan
Di zontal laut bulan tercampak di sapu riak
Getaran di dada masih bergejolak satu-satu
Di bawah bakaran lilin, imajinasi dan harapan
Seperti kirbi, rosin, husni dan hasyim ks mengukir diri*)
Meramu setumpuk pasir putih di tepian
Lalu ada gema azan turun dalam ilusi dan imajinasi
Insan-insan itu masih lena di subuh sahdu
Kereta-kereta harapan sudah lalu berjalan
Sesuatu yang tertinggal cuma khayalan di haluan
Sedang kedip api hampir mati di pandangan
Banda Aceh, 13 Juli 1980
*) adalah nama-nama penyair Aceh
MALAM TAKBIR | Puisi Menjelang Idul Fitri
MALAM TAKBIR
T. Tjoet Soufjan
Gema takbir semilir di angkasa
Kalbu ini menyayat sendu
Anak-anakku minta baju baru
Allahu Akbar, hati ini terbakar
Layu dan luluh
Lailaha Illallah, sendu seluruh rasa
Anak-anakku minta juadah*)
Allahu Akbar, bumi hangus terbakar
Mata berkedip tapi keliling kelam
Naluriku runtuh lebur dan kelu
Seharu gema Walila Ilham
Kembali diri ini dalam cobaan
Di lebur hancur dengan tangisan
Tangis bocah,tangis-tangis perawan lincah
Anak-anak ingin lebaran
Ini kisah diri yang paling perih
Juga kisah insan sebahagian
Menjelang Idul Fitri harus antri pikiran
Dan yang menyiksa kegembiraan
Kutaraja, 6 Agustus 1967
*) seperti perhiasan
FATWA PENYAIR
FATWA PENYAIR
T. Tjoet Soufjan
Terlalu sunyi jadi penyair
Seluruh kata terpantul dari sekali rasa
Kadang nada harus putus, pupus dan tandus
Kadang bicara ikut menangis
Lunturkan pupus muka enggan berkata
Terlalu sunyi dalam bersyair
Berkelana mencari nada dengan dada luka
Biasa terhempas, terkubur laju dengan irama
Berkeputihan mata, juga cari penawar
Tiada yang datang, tiada yang mau lagi
Di perlombaan ini, tertancap pedang
Satu-satunya guna tanda bagi orang-orang datang
Di depan tidak akan ada sebutir air
Cuma ada airmata pelepas dahaga, bawalah
Sehingga rintihan terputus di ujung tangis
Banda Aceh, 1993
MENARA BAITURRAHMAN
T. Tjoet Soufjan
Puncak ini menjelasi naluri insane
Antara pertemuan dia dengan Tuhannya
Tersimpul simbul iman ketakwaan
Bukan kemegahan
Hai walilullah katakanlah kepada mereka
Tentang insan yang merugi
Mencemari kota ini
Puncak menara ini bukan kemegahan
Dia bagaikan bukti emosi mencapai Tuhan
Bukan lambing keindahan kota ini
Pun bukan bukti kekuasaan
Bacalah kalimat dengan makrifat
Sebutlah Allah dalam dada
Tegakkan iman dan kebersihan
Lepaskan diri dari kejahilan
Agar menara itu punya arti
Sebagai puncak mengisi iman pribadi
Banda Aceh, 1992
Puncak ini menjelasi naluri insane
Antara pertemuan dia dengan Tuhannya
Tersimpul simbul iman ketakwaan
Bukan kemegahan
Hai walilullah katakanlah kepada mereka
Tentang insan yang merugi
Mencemari kota ini
Puncak menara ini bukan kemegahan
Dia bagaikan bukti emosi mencapai Tuhan
Bukan lambing keindahan kota ini
Pun bukan bukti kekuasaan
Bacalah kalimat dengan makrifat
Sebutlah Allah dalam dada
Tegakkan iman dan kebersihan
Lepaskan diri dari kejahilan
Agar menara itu punya arti
Sebagai puncak mengisi iman pribadi
Banda Aceh, 1992
BAITURRAHMAN*)
Ernita Kahar
Dalam kebisuan Baiturrahman
Lamat-lamat engkau bisikkan keragu-raguan
Pada waktu dan kenyataan
Yang telah mencabik-cabik hati nuanimu
Engkau yang sejuk mengalirkan damai
Terkepung api yang siap membakar
Mengangislah Baiturrahman
Sampai azab yang pedih diturunkan Tuhan
Kepada mereka yang telah membuat engkau berduka
Sampai seribu pedang Tuhan tertancap
Di jantung seribu iblis yang mengusik kesempurnaan cinta
Yang engkau sebarkan kesegenap jiwa orang-orang
Yang menitipkan hati mereka padamu
Duka yang kau miliki adalah luka yang mereka semaki
sambil menari
Baiturrahman
Yakinlah, mereka duri-duri itu akan melukai kaki mereka sendiri
*) masjid raya (agung) di tengah kota Banda Aceh yang menjadi landmark tanah Aceh
Dalam kebisuan Baiturrahman
Lamat-lamat engkau bisikkan keragu-raguan
Pada waktu dan kenyataan
Yang telah mencabik-cabik hati nuanimu
Engkau yang sejuk mengalirkan damai
Terkepung api yang siap membakar
Mengangislah Baiturrahman
Sampai azab yang pedih diturunkan Tuhan
Kepada mereka yang telah membuat engkau berduka
Sampai seribu pedang Tuhan tertancap
Di jantung seribu iblis yang mengusik kesempurnaan cinta
Yang engkau sebarkan kesegenap jiwa orang-orang
Yang menitipkan hati mereka padamu
Duka yang kau miliki adalah luka yang mereka semaki
sambil menari
Baiturrahman
Yakinlah, mereka duri-duri itu akan melukai kaki mereka sendiri
*) masjid raya (agung) di tengah kota Banda Aceh yang menjadi landmark tanah Aceh
ACEH DALAM KENANGAN | Puisi Ernita Kahar
ACEH DALAM KENANGAN
Ernita Kahar
Ketika kecipak air krueng daroy*) membuat kau terlena malam ini
Biarlah jiwamu hanyut bersamanya
Lalu impikan putroe phang*) bercengkerama
Berlarian sepanjang gunongan*)
Ketika nyaring suara muezzin*) membangunkan kau esok hari
Pandanglah kepada jantung tanah ini
Di mana awal nadi berdenyut dan dinamika hidup di mulai
Pandanglah kepada Baiturrahman*) yang memberimu damai
di segenap rasa dan indra
Pandanglah kepada rumah yang memberimu ketentraman
Bila rumpun padi engkau saksikan kuning-kemuning
Bayangkanlah semampai dara tanah ini
Meliukkan ranup lampuan*)
Gemulai lenggok serune kale*) sakral
Sampai keperaduan puteri bunsu*)
Bila engkau dengar derap rapa’i*)
Maka saksikanlah gelora seudati*)
Membakar semangat putra-putri tanah ini
Pergiatlah mengabdi
Kepada tanah di mana kita berasal dan telah menjadi besar
Lalu jika engkau lihat pantai-pantai berpasir emas
Bukit-bukit berjajar dan hutan-hutan perawan
Pujilah kebesaran Tuhan
Memberi kekayaan ruah milik putra-putri yang tegar
Dengan otak seruncing mata rencong
Maka dengarlah hikayat yang mereka lantunkan
Saksikan semarak serebak
Dan tawa para bocah yang menyimpan harap
Marilah memandang jauh merambah
Denyut kehidupan di sini
Maka janganlah malu mengakui
Engkau pasti akan merindukannya lagi
*) nama sungai yang melewati belakang pendopo gubernur Aceh sekarang
*) permaisuri raja Aceh, yang berasal dari Pahang Malaysia
*) tempat pemandian putra-putri raja tempo dulu
*) pengumandang azan di mesjid
*) mesjid raya Banda Aceh
*) nama tarian menyambut tamu
*) alat musiktiup khas Aceh
*) nama putrid dalam mitos
*) alat musikperkusi khas Aceh
*) tarian terkenal Aceh yang dimainkan kaum lelaki
Minggu, 02 Mei 2010
Puisi Debu dan Pacarku | Isnu Kembara
DEBU DAN PACARKU
Isnu Kembara
Siang berpacu dengan debu-debu di jalanan
Sekawan merpati tujuh
Mendadak terbang jauh
Di bawah sana tak ada suara
Lengang dan sepi
Dan dengus pacarku
Terngiang di ranjang pengantin
Setelah itu aku lelah di pangkuannya
SAJAK HUTAN BELUKAR
SAJAK HUTAN BELUKAR
Isnu Kembara
(gunung katik)*)
kujamah hutan belukar
meniti akar gunung katik
sepi bagaikan duka
lelah terhempas di padang sialang *)
(krueng tujoh) *)
di gunung katik kujentik tubuhmu
di penantian ada elang
pulang ke sarang
hutan kembali sepi
ketika langkahku menepi krueng tujoh
September, 1977
*) *) *) adalah nama-nama tempat di Aceh Barat Selatan
