Depan Pusara
Wing Kardjo
Selama ini mungkinkah sasar jalan
memuja hidup, mengejar
bayang-bayang
Memang ajal urusan masing-masing
bisakah kau bicara setelah
begitu terbaring
Kutinggalkan jalan sederhana, benang
kusut rumit kuurai dengan waktu
Hari tak kunjung terang, benang
tak lagi bisa kurentang.
Telah kutinggalkan jalan sederhana, setapak
jelas menuju dirimu. Ajal memang urusan
masing-masing. Masih juga bicara
setelah begitu terbaring.
Sumber : Kumpulan Puisi Wing Kardjo
"Fragmen Malam Setumpuk Soneta"
Tampilkan postingan dengan label Wing Kardjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wing Kardjo. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 Januari 2011
Puisi Depan Pusara | Wing Kardjo
Sabtu, 22 Januari 2011
Puisi Malam Bulan | Wing Kardjo
Malam Bulan
Wing Kardjo
Ketika bangun sudah bertahun-tahun tahu
bahwa kembara tak kan pernah jauh
berkelana di bawah bulan dua-dua
makin larut malam, makin
dingin untuk cinta, di urat-urat tubuh,
ditulang sumsum, di jari-jari, di tiap
kecup dan cium. Telah retak-retak
bulan, tahun jernih tak kan pulih.
Jiwa merasuk dalam rimba kelam, jasmani
tersesat di pintu hotel tua, memandang
perempuan bagai barang sewaan
Berlomba-lomba hawa penasaran menggapai lagi
angan-angan hilang dalam musim terlambat
matang, matahari terlalu cepat datang.
Sumber :
La chair, helas
Fragmen Malam Setumpuk Soneta (Pustaka Jaya)
Tag : Biografi Wing Kardjo, Surat atas Bulan, Sajak dalam Angin
Minggu, 20 Juni 2010
SURAT ATAS BULAN - Wing Kardjo
SURAT ATAS BULAN
Wing Kardjo
Katamu cintaku bagai bulan sabit, pelan-
pelan naik, tambah bundar meningkat,
menerangi mimpi, sementara di teras,
kau duduk menanti. Tiada harap
cahaya muram, pelan-pelan turun
makin kecil, makin dalam,
dalam usia tenggelam
hingga terpencil
Tidak! Tidak demikian, kasih
aku akan datang
setiap saat
menunggang nyanyian putih
doa selamat dari
niat khianat!
Kumpulan sajak Wing Kardjo (Pertemuan)
Minggu, 09 Mei 2010
Rumah hidupku | Puisi Bertema Kehidupan
Rumah hidupku
Wing Kardjo
Kubangun rumah hidupku dari batu, bata, kayu, bambu, tanah air,
tumpah darah, merah putih, biru, kuning, hijau, semua warna. Ada
dana pemerintah, ada bantuan luar negri, juga barang tentu modal
pertama orangtua. Hidup ini kubangun sendiri, kubentuk coraknya.
Sekaligus majikan dan pembantu, istana dan gudang. Ada botol kosong
dan separuh penuh. Ada gelas jatuh, piring pecah, pena patah.Tak
terhitung kutu dan debu, pakaian, majalah, "an berserakan. Makanan
sembarangan. Suara, bunyi, dari tiap sudut, meledak, berteriak,
mengeluh, mengaduh atau nyanyi mendambakan waktu. Ada dipan
lusuh tempat kerja dan istirah. Buku yang tengah dan setengah kubaca
dan yang tak pernah terbuka halaman-halamannya. Tetap gelap, tak
tertangkap sebab jendela pikiran terbuka ke segala arah sedang lampu
menyala, membakar umur. Yang tidur tak bangun karena adzan dan
ayam berkokok. Bikin rumah harus pasang tiang iman yang pokok.
Kumpulan Puisi Wing Kardjo - Fragmen Malam Setumpuk Soneta "Sumber"
Baris antara | Puisi Bertema Kehidupan
Baris antara
Wing Kardjo
Hidupkukah itu, yang menolak
membuka, menolak menutup, masih juga
kamar-kamar lusuh, kaki lelaki siapa saja
telanjang masuk, lantas pergi lagi, bersepatu
meninggalkan tempat itu. Tidak sanggupkah
doa merasuki sanubari, menggerogoti
yang hitam, membrontak, menyusun
tatahidup yang baru?
Sejak dulu dunia begini, katamu
yang salah tentunya bukan kami
tetapi kamu sendiri
memilih hidup yang gelisah
antara pintu tertutup
dan terbuka.
Kumpulan Puisi Wing Kardjo - Fragmen Malam Setumpuk Soneta "Sumber"
Tafakur | Kumpulan Puisi Wing Kardjo
Tafakur
Wing Kardjo
7-7-7 itu saja tiap malam yang kuharapkan turun 7-7-7
itu saja doaku pada tuhan. Gambar-gambar berputar,
bar-bar-bar tak mau keluar. Bintang- bintang juga tak
mau herhenti beredar dalam garis horisontal/diagonal.
Kupanggili nenek-moyang dari istirahatnya yang
tenang agar menolongku menang bar-bar-bar
hati berdebar-debar. Walau bintang-bintang
berjatuhan dan 7-7-7 berbaris beraturan,
besok babak, baru berulang lagi di sini. Doa-doaku
kembali masuk putaran neraka. Panas nafsu
menang. Dingin takut kalah, berulang-ulang.
7-7-7 itu saja tafakurku 7-7-7
tiap malam penuh bintang
malang-melintang.
Kumpulan Puisi Wing Kardjo - Fragmen Malam Setumpuk Soneta "Sumber"
S u m b e r | Puisi Puisi Wing Kardjo
S u m b e r
Wing Kardjo
Selalu kureguk sinar matamu,
keyakinan menghargai hari
Tak sangka helai demi
helai daun turun
mengubur tubuhmu dengan
kelam. Begitulah matahari
terbaring, membakar
rumput kuning.
Langit bernafas sunyi,
meniupkan lagu
kering. Kala
bel berdering, kukira kau
pulang, kubuka pintu,
angin melengos bisu.
Karuhun
Karuhun
Wing Kardjo
1.
Rumput. Ombakkah yang
di laut. Hiu, ikan cucut, kau
lupa siapa cucumu. Di hulu sungai
badak. Salak srigala di belantara kota.
Kamarku di sana, beratap pengap,
berdinding kaca, langit-langit undian,
tujuhpuluhlima juta. Mari bergadang,
main kartu, minum arak, makan sajak,
bicara mahasiswi, jingkrak
jingkrak, berteriak! Kaset pusing
merintihkan daging. Hiburan murahan.
Sedang dulu karuhun
nayuban sampai pagi, minum sopi
merangkul penari, hidup dalam gamelan mimpi.
2.
Itu zaman penjajahan
Kami jauh lebih dewasa, begitu
sederhana dalam alam merdeka. Antara
gubuk-gubuk dan rumah mewah, barang berlimpah.
Sarapan menganga: kopisusu, rotibakar dan
matasapi. Airjeruk ekstra. Ayam apa pula
bertelur tanpa berkelamin makan vitamin dalam
bumbung janin? Cinta memerlukan dapur, tempat tidur.
Rumput. Ombakkah yang
di laut. Hiu, ikan cucut, kau lupa
siapa cucumu.Dulu kau mengira bahagia.
Kami, dari hari
ke hari memupuk diri
dengan pinjaman mimpi.
Catatan | Kumpulan Puisi Fragmen Malam Setumpuk Soneta
Catatan
Wing Kardjo
1.
Mencatat dengan alat-alat rongsokan, itulah
hidupku. Aku mesti mulai lagi. Ibu, dari
mana? Dari bayi yang mau dilarikan
perempuan Belanda tetangga itu?
Kau ketakutan sampai mesti pindah kota
hingga jadinya aku lari dari kota yang
satu ke kota yang lain. Ibu, siapakah
aku? Aku lahir dari rahimmu. Itu
pasti. Lantas sekolah, kemudian bekerja.
Dan mestinya aku guru yang jelek.
Ilmu apa yang kuajarkan?
Kebaikan? Kemanusiaan?
Alat perdagangan?
Alat berhubungan?
2.
Mestinya aku puas dengan mengajar bahasa.
Tapi tidak. Aku belajar lagi bicara, juga
dengan a, b, c, yang artinya tidak pasti.
Aku tidak mau mengajarkan
bahwa kursi itu hanya kursi, tapi misalnya
kedudukan, kekuasaan. Pengetahuanku
akhirnya tidak lain dari bayangan
kenyataan sehari-hari.
Apakah yang penting? Hidup? Juga
mungkin bukan, sehab itu fana
kata orang Jawa. Uang?
Juga tentunya bukan, sebab itu juga
hanya alat. Dan kita semua maklum
kecuali kalau kita ( ... )
Dan kau pun
Dan kau pun
Wing Kardjo
Dan kau pun bertanya
adakah yang indah
dari hidupku?
Tentu,
tentu, tapi sudah tenggelam
dalam waktu. Lantas kau
pun bertanya: Adakah
yang baik dari diriku?
Tentu, tentu tapi masih
tersembunyi, dalam
mimpi
hingga kau tetap saja
sendiri, asing dari
jatidiri yang sejati.
Di sebrang tidur
Di sebrang tidur
Sementara rasa lelah
menidurkan mimpi
walau yang
terindah
masih juga kita berdiri di pantai
pasir, tak lalai melambai
lambaikan nyiur, tangan-
tangan tanah air.
Tetapi masih juga
rindu menuliskan
kata-katanya
yang ingin berjaga
di sebrang tidur
yang gelisah.
Hutan | Wing Kardjo
HUTAN
Wing Kardjo
Dengung sunyi
terbit dengan pagi
mengisi langit
pahit.
Di dasar hutan
kerangka bulan
hitam.
Gaung lengang
merayap dengan siang
membakar padang
gersang.
Di dasar malam
kerangka perahu
karam.
Torehan | Puisi Karya Wing Kardjo
Torehan
Wing Kardjo
Jari jari dalam diri
bagai akar tak pernah
berhenti menggali bumi,
makin dalam, dalam kelam.
Jari-jari yang menulis
kata, makin keras, makin
keras bagai pisau tajam,
mengoyak-ngoyak badan.
Mimpi dalam
urat-urat diri
berdebur dan berdebur
bagai ombak, bagai
gelombang, tak
tahu pulang.
Endless tape
Endless tape
Wing Kardjo
Seperti sekian lagu yang
berulang-ulang, seperti
sekian mimpi kembali
mengganggu.
Hidup lebih balk apakah itu?
Hidup lebih baik apakah
itu ketaatan mesin
pada program?
Kau tak lebih
dari musik kamar
yang gemetar, telantar.
Menggelepar lapar
hidup, atau jadi
sekrup.
Kamis, 06 Mei 2010
SAJAK DALAM ANGIN
SAJAK DALAM ANGIN
Wing Kardjo
Beri aku mimpi
bagai seribu lilin,
tak putus-putus nyala
dalam malam-malam dingin
hingga kelam
tak mau lagi berbenah
di kamarku, ruang yang
tak kenal istirah, Maka kami
pun tak habis nyalang,
membuka mata menyanyikan
lagu-lagu riang tentang beribu-ribu
kenangan
tentang rindu yang
tak kenal bayang-bayang
BISIKAN
BISIKAN
Wing Kardjo
Aku pun tahu
hidup yang itu
tapi ada suara
yang berkata, Yang
ini saja
lebih rapat
ke hati, lebih
akrab dan berarti
dari terang
lampu di ruang
tivi dan itu-ini
duniamu yang gemerlapan.
Sekiranya kuindahkan
tentunya bukan pelarian.
RIEN DE NOUVEAU
RIEN DE NOUVEAU
Wing Kardjo
Kaulah yang hidup
terlambat seabad, terlalu
cepat sewindu. Hidup hanya
ulangan, kau pun tahu. Sekian
mimpi berulang lagi di sini
sekian hidup hanya imitasi
dari sekian imitasi. Tak ada
yang baru di bawah matahari
Hidup kerdil, hidup besar
terlantar di dasar sejarah,
tapi karena hidup hanya sekali
terpaksa diraihnya juga
yang ini, yang itu, bagian
yang kaukira bukan pilihan?
SPLEEN
SPLEEN
Wing Kardjo
Lidah-lidah dukanya
menjilati khayal
semacam sesal
semacam duka
dalam nyala
lilin-lilin harap
terbakar melelehkan
nanah atas kebinasaan
Dua daya luluh
meluluhkan tubuh
hingga lumpuh. Matahari
terbaring, meneteskan peluh
dari langit-langit mimpi
atap-atap luka
Kumpulan Puisi Wing Kardjo - Fragmen Malam Setumpuk Soneta "Sumber"
KUTULISKAN | Puisi Wing Kardjo
KUTULISKAN
Wing Kardjo
Kutuliskan lagi
kata-kata sepi
kutuliskan tak henti-henti
hingga mengandung arti
Kutuliskan lagi
kenangan-kenangan
mati, hingga bagai api
membara dalam mimpi.
Kutuliskan lagi
harapan-harapan
abadi, hingga bagai duri
melindungi sekeping
hati, Kala angin lirih
menghibur alam sedih.
Selasa, 04 Mei 2010
Puisi Pernyataan | Puisi Tentang Pernyataan
Pernyataan
Wing Kardjo
Baris-baris sajak yang kutuliskan
ialah gema dari segala cinta
padamu, kata-kata mengalir
dari sayap penyair.
Garis kepercayaan yang kami peluk ialah
kemerdekaan yang tak kenal takluk,
senantiasa siap membendung bencana
menyelamatkan jembatan kencana.
Baris-baris kehormatan yang kami
jaga ialah keutuhan
harga manusia
di mana dusta dan mulut neraka
tak punya hak menyebut-
nyebut surga!