Mimpi, Beri Aku Puisi
alangkah mimpi
burung mematuk diri
kicaunya mati
kelamnya langit
angin memutar arah
hujan, marahkah?
kolam menggigil
selimut hitam lumut
memeluk riak
ikan berjaga
melompat sia-sia
batu tertawa
alangkah mimpi
aku minta puisi
minta puisi
Feb2003
Senin, 23 Agustus 2010
Mimpi, Beri Aku Puisi
Pecahkan Kaca, Lukakan Kata
Pecahkan Kaca, Lukakan Kata
(re: Mendung Rumah Penyair)
luka kata dan darah kita dan pecahan kaca, biar kubiar
kutebar di seluruh tubuhku: rumahku, biar terperangkap
pekik terlirih dunia, biar terjebak jerit tersakit manusia
debu mimpi pasti tak ramah padamu, yang datang ke: rumahku
dan badai mendung ini, wahai! jangan usir ia lalu berlalu saja
aku ingin terus punya alasan untuk mengabadikan duka, Saudara!
Feb 2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
(re: Mendung Rumah Penyair)
luka kata dan darah kita dan pecahan kaca, biar kubiar
kutebar di seluruh tubuhku: rumahku, biar terperangkap
pekik terlirih dunia, biar terjebak jerit tersakit manusia
debu mimpi pasti tak ramah padamu, yang datang ke: rumahku
dan badai mendung ini, wahai! jangan usir ia lalu berlalu saja
aku ingin terus punya alasan untuk mengabadikan duka, Saudara!
Feb 2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Reply Kenangan, 1978
Reply Kenangan, 1978
mayat, ini mayat budi, mayat budi!
aih, aku rindu kalimat itu, Pak Guru
kalimat yang dulu kubayangkan
kautulis dengan kapur yang membuat
kau seperti dikepung uban (baca: usia),
tahun 1978, diam-diam aku mengejakannya
di bukuku dan kemudian bangga sendiri
lihat! aku sudah cakap menulis, kan?
tentu tak pernah ada gambar dan warna darah
di buku inpres yang sampai juga ke kelas kita
lewat birokrasi kantor penilik sekolah kecamatan
(belajar tulis baca, tak sopan dengan tema kematian),
lalu dengan bakat menggambarku kubuat budi
dengan matanya kelam, senyumnya hitam: ini mayatnya
aih, kenapa tak diponten gambarku itu, Pak Guru?
Pak Guru, aku memang bukan murid yang bisa kau
banggakan, senam pagi, talkin indonesia raya, tak
lebih menarik bagiku daripada membayangkan:
prosedur kematian,
prosesi kehancuran!
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Kali Ini, di Sajakku Ada Ular
Kali Ini, di Sajakku Ada Ular
Hasan Aspahani
akulah telah belajar pada marah ular
melapis mengelupas lapar ngejar liar
rahangku perangkap, rahang gelap ular
kata kulahap, akh! maki kutuk kutebar
di darahku mengalir racun seribu ular
di setiap lukaku tumbuh taring ular
kuburu Entah pada semak paling belukar
kutemu Engkau pada mangsa menggelapar
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Money Back Guarantee
Money Back Guarantee
diskusi itu berakhir
setelah sembilan gelas kopi
dan dentang jam tak berarti lagi
tak ada apa-apa yang disimpulkan
kecuali bahwa Tuhan memang telah
mewahyukan kitap suci, dan di sana
tak ada ayat yang berbunyi:
kepuasan dijamin, atau
uang Anda kembali.
Feb 2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
diskusi itu berakhir
setelah sembilan gelas kopi
dan dentang jam tak berarti lagi
tak ada apa-apa yang disimpulkan
kecuali bahwa Tuhan memang telah
mewahyukan kitap suci, dan di sana
tak ada ayat yang berbunyi:
kepuasan dijamin, atau
uang Anda kembali.
Feb 2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Hari Sobek Lembar Demi Lembar
Hari Sobek Lembar Demi Lembar
segegas februari selekas januari, di ujung
kalender: desember nunggu teramat sabar
merayakan keusangan waktu, lembar demi
lembar (tanggal yang tak sempat tergambar)
ia tertibkan debar, ia rapikan gentar
ia benci kalender -- angka-angka tak terbagi --
yang angkuh sungguh mengulur-ulur umur
ia dengar gemetar sobek hari-hari, mengingatkan
dus merahasiakan bilangan hitung mundur
begitu ngantuk, ia tak ingin tidur
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
segegas februari selekas januari, di ujung
kalender: desember nunggu teramat sabar
merayakan keusangan waktu, lembar demi
lembar (tanggal yang tak sempat tergambar)
ia tertibkan debar, ia rapikan gentar
ia benci kalender -- angka-angka tak terbagi --
yang angkuh sungguh mengulur-ulur umur
ia dengar gemetar sobek hari-hari, mengingatkan
dus merahasiakan bilangan hitung mundur
begitu ngantuk, ia tak ingin tidur
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
Engkau yang Terlipat, Sepi yang Tersisip
Engkau yang Terlipat, Sepi yang Tersisip
ketika dilipatnya engkau, mungkin ada Sepi yang
tersisip (melapis kenangan yang kau kekalkan)
ah, dia memang tak cermat merapikan hati:
kertas kosong untuk menulis puisi, tak ada lagi
di amplop itu cuma namamu, seperti di hatinya
tanpa perekat, prangko bergambar vas dan gunung
siap mengantar sebuah kabar ke alamat-alamatmu
kabar yang masihkah kau tunggu dengan rindu?
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
ketika dilipatnya engkau, mungkin ada Sepi yang
tersisip (melapis kenangan yang kau kekalkan)
ah, dia memang tak cermat merapikan hati:
kertas kosong untuk menulis puisi, tak ada lagi
di amplop itu cuma namamu, seperti di hatinya
tanpa perekat, prangko bergambar vas dan gunung
siap mengantar sebuah kabar ke alamat-alamatmu
kabar yang masihkah kau tunggu dengan rindu?
Feb2003
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com