UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Tema Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Kenangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

Puisi Kenangan "Kenanglah Bahwa Kau Pernah Bersamaku" | Adi Nugroho

Kenangan
Adi Nugroho

Kenanglah
Bahwa kau pernah bersamaku, pada detik yang kita sebut kemarin, pada rentang yang kita namai masa lalu. Jika akhirnya kini, entah sejak dulu ataukah sebelum kau bersamaku, aku tak memainkan detak lagi, kenanglah, setidaknya aku pernah menyebut namamu, sesekali di lamunanmu. Sebab, mengenang adalah langkah puisi paling indah dalam mencatat masa depan. Dan kenanglah, sepuas kau ingat, sebab melupakan adalah siasia.

Secawan air hujan aku tadahkan, seluas wajah kita dulu, di antara rintihrintih genting terbentur rintikrintik hujan di horizon. Aku tertawa dan menangis dalam satu langit, bernyanyi perihal masa silam

Kenanglah
dari rahim rindu yang gembur
masa depan yang tersumbat
lalu hadir di ujung lorong, menyambutmu pada sebuah malam dingin

langit yang hampa, terang perlahan hilang, di antara matahari dan bulan
aku datang berayun di sudut lentik bulu matamu, bersiap berjalan lewat poripori kulitmu yang membuka dan menutup malu. Hendak aku berlari ke serambi hatimu, yang ingin aku bersemayam di dalamnya setelah lama kosong tak bertuan. Kenanglah sepuas kau mengenang, sebab aku telah bernisan bersemayam pada serambi kamar hatimu.

Bila kehilangan adalah keramat
Biarkan kita saling hilang dan menyilang
dari kehilanganlah aku belajar mengenang
dan mengenang membawaku pada arti memiliki

aku tak pernah tahu kau akan kemana,
dari nirwana aku hanya bisa tersenyum melihat kau memetik kenangan

Senin, 14 Januari 2013

Puisi Semusim | Sobih Adnan

witchesofthecraft.com

SEMUSIM
Sobih Adnan

Waktu adalah tempat paling basah untuk kugantungkan foto-fotomu yang lugu,
Berlayarlah di sana,
Temui hujan, lewati gersang, taklukkan badai,
Hingga kembalilah di sini, kekasih
Di pelukan tulusku,
Bersama waktu yang seolah-olah tak pernah melaju.

2012

Jumat, 04 Januari 2013

Puisi "Kenangan" | Kenangan Mengalir Lewat Sepi

Kenangan
Daman Surachman

Kenangan mengalir lewat sunyi
lewat hati, lewat sukma, lewat mimpi
lewat awan berarak lewat kepak sayap bidadari
diperaknya senja atau malam-malam senyap

lewat lagu atau lewat lintasan wajahmu

Berapa panjang jalanan yang kita lalui
dan istirahat kemudian bercengkrama di bangku
panjang taman ?

Berapa lama kita berciuman dengan angan-angan ?

O, dunia tak bertepi
musik abadi mengusik ngeri sesaki diri

dja, 24 Juni 1999

Minggu, 09 Desember 2012

Puisi Kenangan Perkuliahan...| Sumarto

sumber gbr : kfk.kompas.com

Kenangan Perkuliahan...
Sumarto

Kisah ini, kisah yang telah di ukir selama perkuliahan…
Kini kan menjadi kenangan…
Semua Kenangan… Kenangan manis … Kenangan pahit…

Semua berlalu begitu cepat,
Ku Berharap kita kan berkumpul kembali …
Kelak disuatu tempat,

Dimana kita tlah menjadi orang jaya,
Orang yang dapat membalas budi orang tua,
Orang yang berguna,
Berguna bagi semua orang di sekiling kita…

IF 2009, Politeknik Negri Batam
www.kabarindonesia.com

Minggu, 17 April 2011

Menguak Palung Kenangan | Mega Vristian

Menguak Palung Kenangan
Mega Vristian

jerit tangis bocah tak mampu menahan tekad kepergian ibunya
Di pintu pagar tanaman beruntas berjanji akan menunggu kepulangan
pagar tanaman beruntas yang tak pernah meranggas kering, walau tiap pagi dipetik nenek buat lauk makan selalu tumbuh lagi begitu berulang sekian musim
hingga si bocah tumbuh ditimang penantian didewasakan arus waktu

Kilatan petir sesekali membelah gelap ruang
seorang bocah berdiri di tepian jendela kamar
menengadah ke langit mencari tatapan kasih ibu
yang mungkin tersangkut di rembulan diantara derasnya hujan

Perlahan sang anak bernyanyi
Ibu sosokmu timbunan puisi / yang kubaca dengan segenap hati dan jiwaku/ yang tak pernah kubayangkan jika akan menjadi terkenang/ Letih penantian tak harus berakhir kematian/ Aku pun ingin sepertimu yang selalu tersenyum/ selayak puisi akan selalu hidup/ mesti raga kelak tergeletak tak berdaya dikeranda

(Causway Bay, Juli 2009)

Kamis, 30 Desember 2010

Puisi Faidil Akbar | Kenangan

Kenangan
Faidil Akbar

ada sebuah kenangan
hadir dalam mimpiku
sebuah janji yang pernah terucap
kini semua hilang
mungkinkah akan kembali
ada sebuah kerinduan di balik bola matamu
walau engkau dan aku telah berpisah
ada sebuah kesedihan
yang selalu mengikuti diri
saat kuteringat indah kenangan kita
segala yang kau ucap hanya sandiwara
lama aku menunggu bayangmu
semua hilang
melayang ditelan angin masa lalu
di sini kutetap menunggu
berharap dan menanti
menunggu bersama rinduku
untukmu

Oktober 2009

Selasa, 24 Agustus 2010

Kenangan Berwarna Hijau Tua

Kenangan Berwarna Hijau Tua
Hasan Aspahani

ia datang serentak hujan, bunga mayang yang
luruh bersama setelah penyerbukan, dengung lebah
riuh bilah-bilah, rumput ditebas rebah, aih
rasanya tak cukup telinga mendengar dua belah.

(yang lebih megah dari konser sederhana ini, adakah?)

ia datang bersama arus sungai yang menuding ke wajah muara
kesanakah mengalir semuanya? dulu kutanyakan pada
anak-anak udang galah, jawabnya: tak perlu kau bertanya,
dulu kutanya juga pada angin lincah, jawabnya: tanyakan
saja pada akar kelapa, lalu kutanya pada tanah yang tabah,
jawabnya: sudahlah, nanti kau akan tahu juga.

(aku tidak bertanya pada laut jauh yang mengirim pasang waktu subuh)

masih saja, ia datang bersama hujan, bunga kenangan
yang tak mau luruh, menggenangkan aku ke tanya tak bermuara tak berhulu.

Feb 2003




Senin, 23 Agustus 2010

Reply Kenangan, 1978

Reply Kenangan, 1978


mayat, ini mayat budi, mayat budi!
aih, aku rindu kalimat itu, Pak Guru
kalimat yang dulu kubayangkan
kautulis dengan kapur yang membuat
kau seperti dikepung uban (baca: usia),
tahun 1978, diam-diam aku mengejakannya
di bukuku dan kemudian bangga sendiri
lihat! aku sudah cakap menulis, kan?

tentu tak pernah ada gambar dan warna darah
di buku inpres yang sampai juga ke kelas kita
lewat birokrasi kantor penilik sekolah kecamatan
(belajar tulis baca, tak sopan dengan tema kematian),
lalu dengan bakat menggambarku kubuat budi
dengan matanya kelam, senyumnya hitam: ini mayatnya
aih, kenapa tak diponten gambarku itu, Pak Guru?

Pak Guru, aku memang bukan murid yang bisa kau
banggakan, senam pagi, talkin indonesia raya, tak
lebih menarik bagiku daripada membayangkan:

prosedur kematian,

prosesi kehancuran!

Feb2003

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com




Rabu, 28 Juli 2010

Sketsa Ke Berapa Tentang Kenangan

Sketsa Ke Berapa Tentang Kenangan

1.
masihkah kau putar lagu, dari masa lalu, sebagai bayang, ingatan tak
habis kikis, bersama waktu, bersama waktu.


2.
kuingat takikan pada pohon karet, mengucur, mengalir, menggumpal.
guratan pada batangnya seperti puisi yang menanda. luka

3.
bagaimana dibangun sebuah harap. pada puing. tak lagi dipercaya
puisi. juga kata. engkau menyeru: o, siapa yang dapat membebat ini
luka di dada!

4.
sebagai puisi. kenangan menuliskan airmata. duka dan bahagia.


Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi


Kamis, 08 Juli 2010

Sajak Kenangan tak tersisa | Pranita Dewi

Kenangan tak tersisa
Pranita Dewi

kenangan tak tersisa
di album lama
menyatu debu
di tengah hati padu

debu luka
kini tak lagi
dijangkau
tarianmu
hanya isyarat
pertemuan
tanpa kata
sepikan aku
pada remuk dunia
hanya akhir
akhir syair

angin mencat pohonan
palam bergumam
gamang
di tengah sesal terakhir
tangis pantai mengabur
kerang
tak menyatu
dengan pasir
langit tak terkikis

kelam
aku tak kan menangis
di tengah karam

2003


Kamis, 24 Juni 2010

Kenangan pada Juni | Isbedy Stiawan ZS

Kenangan pada Juni
Isbedy Stiawan ZS


sebuah hari pertengahan tahun
pada kalender merekah
kulingkarkan satu angka
yang mengingatkan
darah tumpah jadi sungai usia

lalu berpangkal di laut
mengayuhkan setiap kapal
melukis beribu peta
di mana aku pernah bersuara

hanya sesaat sebab hujan
kemudian menghapusnya
melenyapkan setiap peta
dan melempar kapal-kapal
ke batas kanal

di laut tiada yang abadi
betapapun aku bersikukuh
hendak mengekalkannya,
bisik setiap kapal
yang kini terdampar

tapi dulu aku selalu
membenci maut
menepis segala gaib
menghamba akal
dan kekal

dan setelah Juni berkabut
oleh hujan yang mengabut
hingga melepas lima
dalam kalender buram
tak lagi kudapati peta
yang dulu kaucipta untukku

selain setiap kapal
harus terdampar di kanal
jadi karat
dan sekarat

bahkan pantai suatu-waktu bisa surut
menggelaparkan lokan dan cumicumi
sehabis gelombang membuncah
ke dalam diri: mengelamkan usiaku

mengenang Juni
dan hujan menghapus
jejaknya di kalender
aku makin terbata
membaca peta sendiri

5 Juni 2006


Kenangan | Sajak Ulang Tahun Yunis Kartika

KENANGAN
(Sajak Ulang Tahun Buat Sobatku Santi)

Yunis Kartika


Mentari belum lagi bersinar
belum lagi panasnya membakar
bukan syarat tuk memulai

seperti keyakinan
seperti tangan kita berpegangan
seperti saat mata bertatapan
tidak diperlukan kata "mulai"

1998


Rabu, 19 Mei 2010

SILAM: KENANGAN LUKA

SILAM: KENANGAN LUKA
Isbedy Stiawan ZS

jalan akan berakhir
di ujung sembilu
selesai mengiris kelamin
darah pun mencair
menggenapkan tubuhmu
memanggil-manggil ruhku
ayo, siapa berani berdusta
kau pasti kawin, beranak,
dan melunta-lunta
di sepanjang jalan
yang jauh dari tepi
dan ke taman sepi itu
(taman yang pernah melontar
sepasang kekasih
sehabis bercinta)
kita mengulang percintaan
lalu terlontar lagi
memanggul batu
mengelilingi kota
telanjang…

kita mengadu ayam
sebagai perjudian
tergelincir atau meniti
rambut dibelah tujuh
dan ke taman sepi itu
barangkali kita tak
akan sampai
tiada tanda. Juga suara air
yang hadir setiap waktu
dalam angan-angan
: barangkali kita mesti bikin
kelamin lain biar mati
lelaki dan perempuan
di taman ini
dikubur di sini!

2002/2003

Minggu, 16 Mei 2010

Puisi Tinggal kenangan

Tinggal kenangan

Hujanpun turun di malam ini
Masih kurasa hangat tanganmu
Kemesraan yang ada
Takkan hadir disini

Semua telah lewat sudah...Melayang

Sekilas nampak bayangmu
Aku rindu ingin bertemu
Kenangan manis bersamamu
Takkan pernah kulupakan
Selalu dihatiku

Bekasi 23 April 1997

http://www.geocities.ws/cintaindah


Kamis, 06 Mei 2010

ACEH DALAM KENANGAN | Puisi Ernita Kahar

ACEH DALAM KENANGAN
Ernita Kahar

Ketika kecipak air krueng daroy*) membuat kau terlena malam ini
Biarlah jiwamu hanyut bersamanya
Lalu impikan putroe phang*) bercengkerama
Berlarian sepanjang gunongan*)

Ketika nyaring suara muezzin*) membangunkan kau esok hari
Pandanglah kepada jantung tanah ini
Di mana awal nadi berdenyut dan dinamika hidup di mulai
Pandanglah kepada Baiturrahman*) yang memberimu damai
di segenap rasa dan indra
Pandanglah kepada rumah yang memberimu ketentraman

Bila rumpun padi engkau saksikan kuning-kemuning
Bayangkanlah semampai dara tanah ini
Meliukkan ranup lampuan*)
Gemulai lenggok serune kale*) sakral
Sampai keperaduan puteri bunsu*)

Bila engkau dengar derap rapa’i*)
Maka saksikanlah gelora seudati*)
Membakar semangat putra-putri tanah ini
Pergiatlah mengabdi
Kepada tanah di mana kita berasal dan telah menjadi besar

Lalu jika engkau lihat pantai-pantai berpasir emas
Bukit-bukit berjajar dan hutan-hutan perawan
Pujilah kebesaran Tuhan
Memberi kekayaan ruah milik putra-putri yang tegar
Dengan otak seruncing mata rencong

Maka dengarlah hikayat yang mereka lantunkan
Saksikan semarak serebak
Dan tawa para bocah yang menyimpan harap

Marilah memandang jauh merambah
Denyut kehidupan di sini
Maka janganlah malu mengakui
Engkau pasti akan merindukannya lagi

*) nama sungai yang melewati belakang pendopo gubernur Aceh sekarang
*) permaisuri raja Aceh, yang berasal dari Pahang Malaysia
*) tempat pemandian putra-putri raja tempo dulu
*) pengumandang azan di mesjid
*) mesjid raya Banda Aceh
*) nama tarian menyambut tamu
*) alat musiktiup khas Aceh
*) nama putrid dalam mitos
*) alat musikperkusi khas Aceh
*) tarian terkenal Aceh yang dimainkan kaum lelaki