UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Isbedy Stiawan ZS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isbedy Stiawan ZS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juni 2010

Sajak Hujan Pertama | Isbedy Stiawan

Hujan Pertama
Isbedy Stiawan ZS

hujan yang pertama luruh
setelah berbulan-bulan kemarau - panjang –
tak juga membuat kota ini basah
seperti bibirmu berwarna gincu
merayu ia untuk berenang - sejenak –
melupakan letih, menarikan musafir

kota yang dikelilingi laut
perahu-perahu sandar
di mana pula bandar?
rumah-rumah malam terang
namun sepanjang trotoar tetap remang

dan kau turun sebagai hujan
dari rambutmu memancur air
dari bibirmu tercipta anaksungai
agar ia berteduh
melepas lenguh

- di sini tak perlu keluh -
hanya dengan 200 ribu
kau dapat berlabuh
sekadar menyegarkan pembuluh
di dalam kota tumpah angin
laut, - layar kapal mengembang –

jika takut masuk angin
merapatlah semakin ingin
hanya dengan 200 ribu,
katamu, ia akan berlayar
menembus laut hitam

kota-kota legam
dalam waktu yang diam
meninggalkan riuh
melambai pada sepi!
(kota ini kembali membawa
padanya ingatan
tentang persahabatan
dan perpisahan
tahun-tahun silam)

dan kini ia susuri
setiap nama jalan, gang,
ataupun lorong: mengingat
nomor-nomor rumah
yang kiranya sudah banyak berubah
dan lenyap oleh cuaca
kemarau tahun ini lebih lama

hujan yang pertama luruh
tak membuat kota ini basah
terdengar desah
ia makin gelisah!

makasar 9/2006


Beri Aku Cinta | Kata Kata Puisi Cinta

Beri Aku Cinta
Isbedy Stiawan ZS

beri aku cinta
akan kujadikan pedang
untuk mengasihimu
walau di ruang ini
kau ganas sekali
mencabik tubuhku
dengan sayapsayapmu

habis gairahku
hilang cintaku
: kukutuk diri
yang tak bisa balas
segala ganasmu

maka kuminta cinta
akan kujadikan pedang
untuk mengelus dirimu
sampai lenyap bayang
di benakku dari mana
para kasih tiba

2003-2005

Impian Siang | Isbedy Stiawan ZS

Impian Siang
Isbedy Stiawan ZS

akan ke mana siang ini
selagi matahari menyelinap
dan jalan terlihat berair,
keringat cair?

ke tempat itu lagikah
sepasang burung bersarang
atau mengitari luas kota
memilih tempat naung

melepas sayap murung
kota ini sudah terlalu riuh
tak lagi punya waktu
membangun sarang

atau sekadar canda
(apalagi mendaratkan
ciuman. Sayap-sayap luluh
udara kota melepuh
di seluas igau)

burung tak selamanya mengepak
udara sesekali meremang
jalan akan pula membentang
seperti waktu menyediakan jarak
: apakah diam di sini

mengeram masa datang?

09 Agustus 2005

Kenangan pada Juni | Isbedy Stiawan ZS

Kenangan pada Juni
Isbedy Stiawan ZS


sebuah hari pertengahan tahun
pada kalender merekah
kulingkarkan satu angka
yang mengingatkan
darah tumpah jadi sungai usia

lalu berpangkal di laut
mengayuhkan setiap kapal
melukis beribu peta
di mana aku pernah bersuara

hanya sesaat sebab hujan
kemudian menghapusnya
melenyapkan setiap peta
dan melempar kapal-kapal
ke batas kanal

di laut tiada yang abadi
betapapun aku bersikukuh
hendak mengekalkannya,
bisik setiap kapal
yang kini terdampar

tapi dulu aku selalu
membenci maut
menepis segala gaib
menghamba akal
dan kekal

dan setelah Juni berkabut
oleh hujan yang mengabut
hingga melepas lima
dalam kalender buram
tak lagi kudapati peta
yang dulu kaucipta untukku

selain setiap kapal
harus terdampar di kanal
jadi karat
dan sekarat

bahkan pantai suatu-waktu bisa surut
menggelaparkan lokan dan cumicumi
sehabis gelombang membuncah
ke dalam diri: mengelamkan usiaku

mengenang Juni
dan hujan menghapus
jejaknya di kalender
aku makin terbata
membaca peta sendiri

5 Juni 2006


Sajak Isbedy Stiawan ZS | Laut Akhir

Laut Akhir
Isbedy Stiawan ZS

sebagaimana laut punya akhir: pantai atau muara
dan pada selangkangan bakau,
segala pusat risau
resah dan gelisah di sematkan
tapi bulan ini, yang katamu,
lebih mulia dari seribu purnama
akankah memiliki akhir
mengalahkan umur?
sudah 48 kali purnama!
getar doa
malam-malam ganjil
iktikaf yang gigil
halaman lambung
yang selalu kosong
(ada juga dahaga
yang selalu dijaga)
sepanjang siang
akankah punya akhir?
tapi orang-orang dari jauh
mengenakan pakaian lusuh
membikin kota penuh
berdatangan dengan
kedua tangan selalu menadah
seperti ia faham
di bulan, yang katamu,
lebih mulia dari seribu purnama
banyak orang murah tangan
melemparkan sedekah
dari setiap tubuhnya
mengalirkan laut
langit merestui
penghuni langit turun
bersama sayap-sayap berkilau
hendak meminangmu
dan getar doa
juga tangan yang menadah
akan pula dibawa terbang
kau tahu ke mana akhir
segala pengembaraan
kalau tak ke taman-taman
yang dulu sekali ditinggalkan?
beri salam pada malaikat
sebelum laut sampai ke tepian
akhir segala perjalanan:
pantai atau muara,
juga pada selangkangan bakau:
segala pusat risau
untuk dilelapkan….
lalu pantai atau muara
akan membuka halaman
bagi sujudmu selepas subuh
sebelum matahari di kepalamu
benar-benar meluruhkan ubanmu
demikian laut punya akhir
bulan yang memancarkan
kemuliaan seribu purnama
tak henti pada pantai atau muara,
bahkan di selangkangan bakau
kau akan mekar
cahayamu menguar
melebihi tahun-tahun usia
getar doa
selalu memanggil-manggil

september-oktober 2006




Puisi Pagi Mekar | Isbedy Stiawan ZS

Pagi Mekar
Isbedy Stiawan ZS

PAGI mekar di kelopak matamu bagai ombak
selalu riang melepas rindu pada pantai
kenanglah perjalanan semalam yang membuatmu
tak mau pisah dari detak. dari kisah-kisah yang retak
lalu kau merapikan dan kembali merekatkan
jadi bangunan cinta: rumah bersama

KARENA rindu kautempuh pulau-pulau,
berjuta-juta mil yang terlipat dalam genggamanmu
lalu kauledakkan di dadanya

SETIAP waktu..

denpasar-yogya, juni 1998


Puisi Isbedy Stiawan ZS | Pantai Kuta

Pantai Kuta
Isbedy Stiawan ZS

mungkin kau akan tenggelam dan hanyut
ombak yang deras ini akan memagut
menghitung hari-hari
dengan jemari legam
sebelum selancar melarung
ke laut paling ulung
kecuplah pasir-pasir pantai
tubuh-tubuh yang telentang
mabuk yang tak kepalang
masuk ke dalam ingatan
entah pada hitungan ke berapa
kau akan kembali ke tepi pantai
atau tenggelam di dalam gulungan pasir
yang tiba-tiba meledak
lantakkan seluruh kota-surga
yang diimpikan dunia
dan ledakan itu
akan sampai ke tubuhmu
dan aku tak bisa pulang

kuta 1998/2002. lampung 2002


Rabu, 19 Mei 2010

HUJAN: DARI CERITA YANG LAIN | Puisi Bertema Hujan

HUJAN: DARI CERITA YANG LAIN
Isbedy Stiawan ZS

satu

langkahmu menjauh
ingin menanam hujan
di dalam akar pepohon
lalu menulis dingin di dahan
“kau tahu hari sudah
amat jauh dari rembulan, tapi
warna perak rambutmu
masih melambai…”
aduhai, jangan lupakan
ciuman sebelum pagi datang
ketika kau merapat di bantal
ketiak pagi meruap amis
dari keringat waktu
saat hujan bercampur garam
dan tenggelam di bawah pohon
Tapi, beri aku parit
untuk mengalirkan bau tubuhmu,
ketiak yang dipenuhi keringat
saat siang pekat
dan usah ulangi perjalanan
hujan telah menanam usiamu
di akar, di batang, di dahan
yang akan tumbuh esok
sebelum terbit matahari
kini diamlah
selagi hujan menanam waktu
dari cerita lain
rahasia


dua

demikianlah. hujan berwarna putih
pagi ini ke pelukku; di matamu cuaca
berkabut, dan jalan menyusut
kususuri lorong yang terasa jauh
--alangkah jauh—
di pipimu kulihat bentangan hujan
seperti sayap-sayap burung
yang menanti pemurung
meluruh sebagai sepi…
ah! aku tenggelam

24 April-15 Mei 2005; 23.25


SEBELUM INGATAN LEBUR

Isbedy Stiawan ZS

sebelum ingatan
tentang masa kecil
lebur dalam mesin-waktu
baiknya tulis di dalam
matamu,
mulutmu,
juga di rambutmu
yang tak lama lagi memutih
sebelum ingatan
melarung
masa kecil yang murung
baiknya jadikan hutan
yang tumbuh
di alismu,
dagumu,
juga dalam kelaminmu
biar jadi rimba
tak lenyap
oleh gempa!

20 April 2005



DI PANTAI BERPASIR MAUT BERDESIR

DI PANTAI BERPASIR MAUT BERDESIR
Isbedy Stiawan ZS

ke pulau mana lagi
perahu menuju
setelah kayuh patah
badai yang datang
dari pulau seberang
tenggelamkan pulau
batas antara laut
di manakah maut?

di pulau bersumur minyak
nafsu berbiak
tangan mencakar
dendam mengancam
di pantai berpasir
maut berdesir
tak cukup mercusuar
jadikan tanda

jika memancar kematian
setiap waktu
sebab itu,
jangan lengah
sepicing abai
angin pun kering
setelah dua pulau
semayam di putingmu
hilang, akankah
bukit-bukitmu
runtuh
lalu, mau menari
di mana jemariku?
di pantai berpasir
maut berdesir

12 Maret-20 April 2005


KOTA PENUH SARANG LABALABA

KOTA PENUH SARANG LABALABA
Isbedy Stiawan ZS

peduli apa pada nama
tanganmu merangkai
sarang laba: pekat
di setiap panggil
hingga hilang gema
aku buru tanda
(tapi lelaki itu selamat
dari rencana pembunuhan
oleh sulaman liur labalaba
sebelum masuk, setelah
mereka kehilangan jejak)

mengintip berbagai goa
tak juga jumpa bunda
menimang buah kasih
-Kekasih Tuhan-
terlunta di setiap dinding
mengabarkan para hewan
hilang di hutan-hutan
peduli apa pada nama
kau hanyalah pecundang
pulang dengan gamang
untuk mengenali kota
penuh sarang
labalaba: lengang
setiap kau panggil
andai kau pulang
tanpa pongah
lampulampu kota
bercahaya di wajahmu,
kata bunda
yang kini kehilangan
Cinta…

28 Februari 2005


MENJAUHI AMBANG

MENJAUHI AMBANG
Isbedy Stiawan ZS

“jangan datang
selagi aku belum
berbenah.”
aku terpana lalu
melupakan jalan
menuju rumahmu
kertas alamat
kubuang di parit
tak jauh dari rumahmu
tiada lagi kalam
aku telah lupa
membaca harapan
wajahmu memburam
bergoyang di daunan
seperti perjaka
yang lupa merias
rambutku kusut
dipenuhi uban
: hilang cahaya…
“jangan datang
sebelum aku berbenah
dan meninggalkan
kamar pengantin ini.”
aku bimbang
menjauhi ambang…

05 Maret 2005

PERJAMUAN SENJA

Isbedy Stiawan ZS

“selamat malam lalu tidurlah
sambil mengingat perjamuan senja,”
katamu sebelum ke peraduan

meski kau lupa atau sengaja
pergi tanpa lepas kecupan

di pipi waktu yang kian beku

setelah itu,“selamat malam dan tidurlah
sambil mengingat perjamuan senja
di altar sepi.”

hanya lambai mungkin abai
tak melepas kecupan sebelum
ia berlalu
ke dalam lengang
makin ragu…

28 Februari 2005



ESOK FAJAR KITA BERTEMU

Isbedy Stiawan ZS

tapi,
selain rindu aku ingin
pula jumpa. di paling
depan aku menunggu
berita yang lain
ihwal kembalinya adam
jumpa hawa setelah
bertahun-tahun
mengembara

sehabis perpisahan
usai perang itu
di sini,
kulihat kau jalan sendiri
menembus halaman sepi
usai hari kematian
di bawah guyur hujan
tanpa payung
dan,
aku berlari memburumu
cari perteduhan
tapi di halaman kosong ini
mana rumah singgah
kenapa tiada pohon rindang?
bagai merpati
hilang kekasih
kukepakkan sayapku
menuju belantara
mungkin esok fajar
kembali kita bertemu
dengan nama yang lain
juga asing
mungkin

Januari-Maret 2005




BAGAI SEPASANG KEKASIH

Isbedy Stiawan ZS

selepas gemuruh di pagi benderang itu
semua kenangan tentang lelaki suci
dan perempuan binal yang kaukisahkan
kembali menggayut di benakku:
bagai sepasang kekasih berenang
melawan gelombang; tanpa perahu,
tiada dermaga sebab telah runtuh
beberapa detik lalu…

mungkin kau adalah sisa
dari silsilah manusia
yang menulis tahilalat
di sejarah yang pekat
sebelum kota menjadi punah
menenggelamkan segala seranah
aku seperti sudah membaca sejarah
tentang orang-orang jadi ikan
dihanyutkan oleh bandang

selepas gaduh di pagi benderang itu
aku benar-benar kehilangan sejarah
tentang kota yang memendam seranah
kecuali tentang orang-orang
yang telah menjadi ikan
bergelimpang dalam bandang…

2004/2005




KAU MERETAS DALAM PEKAT

Isbedy Stiawan ZS

sudahkah kauturun gunung
sebelum kabut lenyap oleh
matahari pagi ini?
sebab kutahu semalam kau kembali
susuri leher pebukitan itu menuju
vila kecil di puncaknya, dan
kubiarkan punggungmu meretas
di dalam pekat;
hitam waktu
selalu kauburu kesunyian
seperti tak ingin disergap riuh

lalu rumah sunyi itu didirikan
di puncak paling sepi! menyulang
lengang
selalu kau memburu sepi
seperti tak ingin dilumat gaduh
lalu leher gunung itu pula
kaususuri sambil menugal silam
sudahkah bayangan lelaki itu
tertinggal di dalam senyap?
sebab semalam kulihat kau kembali
bangunkan kenangan-kenangan
yang sempat singgah tapi tak pernah
meninggalkan anganmu. padahal
waktu selalu berubah
dan meretas karena gerah,
tak berujud
tersebab dibalut kabut:
seperti vila itu
akan kembali sunyi

2005




RISALAH INI…

serampung sore, matahari keperekan,
kau pun datang. ragu-ragu…
lancip dagu
setajam garpu
menujah senja!
Lagi ada yang luka
sore ini saat matahari
keperakan. dan kau
datang berwajah malu-malu
tapi, diam-diam
mengalungkan belati
ke lambung hari
apakah ini petaka? tak cuma bencana
yang datang berkali-kali: selepas pagi
atau serampung sore, saat
matahari berwarna perak
dan aku dengan maut tak lagi berjarak
seperti buih dengan air,
“ah tidak, sebagaimana ombak
dan pantai….”
minggu pagi,
gereja belum kembali sepi
atau kau belum melipat sajadah
sehabis duha
ada kudengar serapah
dari ceruk lautan
tiba-tiba datang
: geram?
selepas pagi ini
usai satu risalah

2004/2005



DI DALAM SAJAK

DI DALAM SAJAK
Isbedy Stiawan ZS

kuberikan selampir tangan
kauterima sedepa angan…
maka apa lagi yang bisa kutulis
tentang kampung
yang beranjak dan berbiak?
di dalam sajak-sajak
angan selalu berbiak
langkah selalu hendak
beranjak,
tapi ke mana?
ohoi…
kampung kian mutung
ditandangi para pemurung
masuk dengan sembunyi-
sembunyi
saat malam kehilangan waktu
baiknya bawakan api
dari diri yang dengki
sebab yang datang
berawal malu-malu
lalu menanam tipu
--ah, tidak!-- tiada
lagi perdu di sini
kebun telah jadi halaman
juga taman-taman…
melepas sajak-sajak
seperti mengulur layangan,
angan terus berbiak
--benih dari kelaminmu--
lalu menebar rayu
: hutan sasar

17 April 2005


PAGI: CERITA YANG LAIN

PAGI: CERITA YANG LAIN
Isbedy Stiawan ZS

hendak pergi ke mana lagi pagi ini
dengan pakaianmu warna-warni?
hujan belum reda,
tanah basah,
cuaca kabut
dan anak-anak masih berselimut
mungkin masih ingin meneruskan
mimpinya. dengkurnya,
aduhai, seperti dalam
pelukan bunda…
rambutmu yang rapi
alismu bagai pelangi
dan bibirmu berwarna hati
seperti hendak menahan hujan

lalu langkahmu ingin mengayun
“hello…”
pintu mulai terkuak
anak-anak berdahak
(ah, tidak!
Mereka mendengkur
Memeluk kembali mimpi
yang sempat terhenti)
tapi,
tanah masih basah,
cuaca berkabut
dan rambutmu yang rapi
menggegas pagi…
hendak pergi ke mana lagi pagi ini
dengan pakaianmu warna-warni?
--lalu aku cuma menatapmu berlalu
seperti pagi tak berkabut,
tanah garing—dan
senja kelak kau pulang
hati berang:
pakaianmu basah
suaramu mendesah
“jangan tegur,
aku letih!”
ah,
anak-anak menutup rapat
tubuhnya dengan selimut
di luar cuaca makin berkabut
dan pohon sewarna lumut

Maret-April, 2005


SEPERTI KEMATIAN

SEPERTI KEMATIAN
Isbedy Stiawan ZS

aku dapati kematian
tiap gali rahasia perempuan
serupa mendung
di wajahmu
aku hanya rasakan
aroma peluhmu
lalu mata,
bibir yang anggur
sebagai kanal dingin:
sesunyi pelataran ini
buatku mendesah
kugotong berwaktu-waktu
mencapai pendakian
dan membongkarnya
di kanal ini
tapi, sudah berapa jauh
aku ngembara,
berapa lubang kugali
mencari temu rahasia?

engkau, perempuan, rahasia
yang sulit diselami
seperti kematian
yang kurasakan
setiap petang…

2004