UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Pranita Dewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pranita Dewi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2010

Kau hanya debu waktu

Kau hanya debu waktu
Pranita Dewi

kau hanya debu waktu
pada temperatur di atas 16 derajat celcius
luluhkan jemariku yang ragu
lelehkan tubuhku jadi genangan kaldu
jadi zat yang siap kau reguk saat renta tubuhmu

lalu kau singgahi larik tubuhku
serupa lap yang siap kau lekuk
pada lantai dosaku

sengaja kubiarkan senja itu jadi raut ombak
sebab peraman resah telah jadi sajak
lumut bergelut pada kemelut jisim
mainkan pilahan musim

aku melumat setapak kerangka
yang kini menganyam rahimku
pada pasir dan ombakmu
jiwaku lenguh gapai keluhmu
namun kau masih gurati tubuhku
dengan tubuhmu yang debu

2003




Waktu luruh, kisah hijau

Waktu luruh, kisah hijau
Pranita Dewi

Waktu tubuhku luruh. Kau himpun jadi satu kelam malam. Lalu kau lumat-hempaskan bagai puisi tak selesai. Batinku ragu pada kisah hijau yang tak tamat. Apakah kau sungguh nuraniku? Berseteru dengan tarian takdir, aku lunglai bertahtakan ajal. Kau singgahi pelabuhanku, tubuhku, lantaran pelayaran tak berujung, tak menemu-Mu. Kini kisah hijau memekik ragu pada abad, pada nestapa ruh, pada semua yang berkelebat menggores senyap. Matamu menyita takdirku jadi sesal yang kekal.

2003



Tubuhmu-tubuhku, milik waktu

Tubuhmu-tubuhku, milik waktu
Pranita Dewi

Sloka yang terhampar di jiwamu, kini tak lagi kupetik dari dahan. Seandainya janin yang tergantung di rahimku bernama hawa, tak lagi kujalin percintaan. Alangkah pilu tangisku di hempasan gerimis. Pabila sudah tak cukup kata lagi menyimak kau di sini, aku tak berangan benihmu. Meski tubuhku yang lurus kau namai cinta. Di wajah bunga yang sendiri memejamkan kelopaknya, kau rangkum harum waktu yang melintasi tubuhku. Kuimpikan asa pada duka senja, pada luka bunga. Kau pejamkan dirimu, tertatih dan tertindih letih. Lantas kau berjalan bersama sunyi. Tapak atau jejak yang kutandai silang, hilang dalam remang. Tubuhmu-tubuhku, milik waktu!

2003



Sajak Puisi | Tuhan tenggelam dalam kelam

Tuhan tenggelam dalam kelam
Pranita Dewi

aku terkenang senja merah
gapai tangan suci malaikat darah
pasir hangus meniris tubuhku
pada remang waktu

"tuhan tenggelam dalam kelam!"
serumu

melulu lenguh
namamu digerus pilu
butir pasir menyisir sepi
riwayat janinku,
kubangan senja keruh
rapuh

kau tuturkan kisah 1000 langit
jatuh di tepi mimpi
yang hanya lumatan tangis

kau mamah perih
di lipatan bibirku
hingga jemari
selesai menari
ufuk meraih pagi
namun, mataku jadi riskan
saksikan jisim tuhan

2003



Parasmu kandas | Pranita Dewi

Parasmu kandas
Pranita Dewi

parasmu kandas
pada hamparan kertas
kenanganku tandas

larik-larik isak pada sajak
menggurat jejak
antara kita
selalu kutulis serupa
gerimis memeram tangis
tubuhmu beku dalam waktu

jiwaku larut
dalam lelehan lilin

senja mengulum kenangan
sunyikan parasmu
pada baris-baris sajakku

2003




Sajak | Benang waktu Pranita Dewi

Benang waktu
Pranita Dewi

kau rajut benang kusut
waktu,
langkah keruh
memilah takdir,
pasir yang tersingkir
lakoni senyap pantaimu

seribu kalbu syahdu
iringi patah-patah kata,
isak ombak
pada kilau awan
pahatan hujan

entah angan atau dingin angin
hiasi lirih mimpimu

kau berlalu
dirajut benang kusut waktu

2003




Puisi Ilusi Ilahi | Pranita Dewi

Ilusi ilahi
Pranita Dewi

kau lukis kelam
malam pada tubuhku
ragu lalui sajak kelabu

garis sunyi gurati
tatapan samar mata camar
jemarimu rapuh
sajak pun jemu
pada senyap jasadmu

kau hanya mainan senja

luka tuhan
jadi bunga singgahan waktu
ilusi ilahi,
ombak tak sampai di pantaimu

2003

Puisi Kenangan Masa Lalu | Kuukir syair akhir

Kuukir syair akhir
Pranita Dewi

kugurat bait sajakmu
di selaput hatiku
yang kelabu

perpisahan kita
entah!

kuukir syair akhir
saat tangis terkikis
menahan perih
saat sukma terdesak memeram malam
saat kata kaku mengukuh makna
suaramu hilang arah

tiga tahun
mengukur takdir
segala impian
lebur terkubur
beku berpadu debu

tak cukup sampai di situ
senandung lagu pun tak mampu
menahan rasa
jiwa tak kuasa merasa
sayat sakit yang diderita
kubaca sajakmu
kukenang cumbumu
ku tak rela angan sisa
lara melata

2003


Puisi Sajak | Menabur kubur

Menabur kubur
Pranita Dewi

awan menadah
tangis pilunya

dirimu amsal burung camar
menyeru,"peram sedihmu di sayapku!"
hingga aku harus mengejar
rentetan awan
dan kelabu hujan

kita 'kan sampai
akhir dari awan dan hujan

kita bersama menggapai
puncak rindu
bertahta bersama
di selat danau
di utara bayu
di timur lembayung gugur
menabur gemerlap kubur

2003




Cukup | Pranita Dewi

Cukup
Pranita Dewi

cukup kesabaranku
menatap matahari

cukup resah jiwaku
menanti jeritan alam
jeritan kata yang gagu

aku disalibkan cinta
dan lemah karenanya

cukup raguku
mengutuk-ngutuk kau
penyandang bulanku

cukup gemetar hatiku
tertegun
tak bisa kuberkata
sesak rabuku

cukup rasa
detik-detik penyiksaan
menglupas jiwaku
kini
yang sisa
hanya genggaman tanganmu
yang rapuh
senyummu tiba-tiba kelam

2003




Entah seletih apa sunyimu

Entah seletih apa sunyimu
Pranita Dewi

serambi diam dan bisu
pilar-pilar ragu
pada ranjang
suaramu jadi asing

musim demi musim
memahami takdirku hanya hawa
lemah terselubung arah jemari pada tali
lunglai menggurat syair di kertas merah
entah seletih apa sunyimu

kutulis parasmu di serambi pagi
entah kapan berarti
ilusi puisi menganga di awan
entah kapan jadi jalan

kelasi sendiri dalam badai
jadi sangsi
pada pilar ilahi

kunanti parasmu
di sunyi puisiku

2003




Aku mencintaimu, kelam | Pranita Dewi

Aku mencintaimu, kelam
Pranita Dewi

malam
menggantung purnama
kelam seketika

kau elang pemangsa
genggam tanganku
diantara rumput yang menepis pagi
di terpa angin
gemericik air menertawakan
debar jantungku yang berkata
malam berdenyut seketika

amsal petunjukan mencekam
di tengah hati sunyi menggapaimu

apakah malam tak berpaling ke bulan?
menandakan hatimu
hingga tersuruk aku
ke kubangan mimpi paling lubuk

entah bagaimana rasaku
tanah menyatu debu
pun darahmu mengalir ke arus mimpiku
bagai tusukan beribu sembilu
cahaya padam
dalam bola matamu yang malam
:aku mencintaimu, kelam!

2003

Kau Mengenang Sukmaku | Pranita Dewi

Kau Mengenang Sukmaku
Pranita Dewi

cinta kita
gemericik air
senandung angin
gerak pasir pantai
nyanyikan ribuan tari jiwa

bagai anak panah Rama
kau menyayatku
hingga jalan yang kulalui
bersinar kilauan cahaya binar

pegunungan tempat kita sama berpegangan
kini tak kedengaran lagi rintihnya
aku cemas kalau gunung yang kita huni
menyembur lahar panas
hati kita seketika pasti tumpas

tapi kau mengenang sukmaku
dengan senandungmu
yang melulu mendung
menanti esok tiba
di tengah rintih kita

2003


Sajak Kenangan tak tersisa | Pranita Dewi

Kenangan tak tersisa
Pranita Dewi

kenangan tak tersisa
di album lama
menyatu debu
di tengah hati padu

debu luka
kini tak lagi
dijangkau
tarianmu
hanya isyarat
pertemuan
tanpa kata
sepikan aku
pada remuk dunia
hanya akhir
akhir syair

angin mencat pohonan
palam bergumam
gamang
di tengah sesal terakhir
tangis pantai mengabur
kerang
tak menyatu
dengan pasir
langit tak terkikis

kelam
aku tak kan menangis
di tengah karam

2003


Parasnya tuturkan suka | Pranita Dewi

Parasnya tuturkan suka
Pranita Dewi

purnama jatuh di parasku
di pantaiku
di ombakku
sehening hening

kulihat perempuan tua
terbujuk mesra
menembang bisikan leluhur
tak lantas menghela nafas
hanya menyuarakan lebur
lewat keriput parasnya

pasir bernyanyi
debur ombak memecah sunyi

perempuan tua terbaring
kepergian hampa asa
namun aku merasa
parasnya tuturkan suka

2003




Aku baringkan tubuhku | Pranita Dewi

Aku baringkan tubuhku
Pranita Dewi

aku baringkan tubuhku
di pembaringan waktu
yang tak usai memungkiri
serentetan hari
dan ribuan bintang
yang melintang

aku baringkan tubuhku
yang tengah ada
akan ketiadaan yang memaksa

aku baringkan tubuhku
di pembaringan waktu
malam padam
di tepi unggunan mimpi

2003

Puisi Pasir hambur | Pranita Dewi

Pasir hambur
Pranita Dewi

pasir hambur
menunggu rintihan
menitis waktuku

jukung merambah
di tanah leluhur
di air asin
kita bergandengan
muram malam
mengaburkan mimpi

denganmu
tapak air di timpa angin di tepi
berlayar di naungan hati
damai suara pantai
hingga berat 'ku melepasmu

malaikat cinta
terjerat di jeritan tawa
terjaring di tangisan jiwa

cinta kita cahaya
bara api dalam nyata
mesti berapa purnama
kutunggu titisan senja
senantiasa jalan tanpa kata
ke haribaanNya
denganmu
pasir hambur
menunggu rintihan
menitis waktuku

angin mendawai
sehening hatimu
memetikku

2003


Biografi Pranita Dewi

Pranita Dewi, bernama lengkap Ni Wayan Eka, lahir di Denpasar, 19 Juni 1987. Menulis puisi, prosa kris dan cerita pendek. Sejumlah puisinya pernah dimuat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Bali Post, Majalah Sastra Horison, Jurnal Block-Not Poetry.

Agustus 2003, meraih Juara I Lomba Deklamasi Puisi dan Juara I Lomba Cipta Puisi Pelajar se-Bali yang digelar Teater Angin SMU 1 Denpasar. Tanggal 22-24 Agustus 2003 memperoleh beasiswa mengikuti 'A Weekend Creative Workshop: Sound Poetry from Different Faiths" dalam Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 di Kuta, Bali.

September 2003, meraih Juara Harapan I Lomba Menulis Cerpen Remaja se-Bali, NTB dan NTT yang digelar Balai Bahasa Denpasar; dibukukan dalam kumpulan cerpen Made Patih. Oktober 2003, meraih penghargaan "Sepuluh Resensi Terbaik" Lomba Menulis Resensi Cerpen tingkat Remaja se-Bali yang digelar Balai Bahasa Denpasar. November 2003, meraih penghargaan "Lima Puisi Terbaik" Lomba Cipta Puisi Pelajar se-Bali yang digelar Komunitas Jurnalis Buleleng (KJB), dibukukan dalam antologi Jendela.

April 2004, ia meraih Juara I Lomba Baca Puisi seDenpasar dalam Pesta Seni Remaja Kota Denpasar. Juli 2004, sebuah puisinya masuk nominasi "Krakatau Award" Lomba Menulis Puisi Nasional yang digelar Dewan Kesenian Lampung, dihimpun dalam antologi Narasi dari Pesisir (DKL, 2004). Agustus 2004, ia meraih Juara I Lomba Deklamasi Puisi se-Bali serta Juara II dan III Lomba Cipta Puisi Pelajar se-Bali yang digelar Teater Angin SMU 1 Denpasar.

Agustus 2004, ia meraih Juara I Sayembara Penulisan Puisi se-Bali yang digelar Balai Bahasa Denpasar, dihimpun dalam buku antologi puisi Tuhan, Langit Begitu Kosong; dan juga Juara Harapan III Sayembara Penulisan Cerpen se-Bali, dari lembaga yang sama, dihimpun dalam buku antologi cerpen Tower.

Puisinya juga dimuat dalam buku Maha DukaAceh (Pusdok. Sastra H.B. Jassin, Jakarta, Januari 2005), Dian Sastro for President! End of Trilogy (InsistPress, Yogya, Pebruari 2005), Negeri Terluka, Surat Putih 3 (Risalah Badai, Jakarta, 2005).

Pebruari 2005, ia diundang baca puisi pada pembukaan Paradox Literary Centre (komunitas sastra dan penulis Asia-Pasifik) di Ubud, Bali. la juga diundang mengikuti Ubud Writer & Reader International Festival 2005 di Ubud, Bali. Kini, ia bergiat dalam Komunitas KembangLalang dan Jurnal Sundih di Denpasar.

Senin, 05 Juli 2010

Sajak Gadis dan Kupu-kupu

Gadis dan Kupu-Kupu
Pranita Dewi

kupu-kupu
kaukah alamat buruk itu
saat petang merambati celah rumah
langkahku berhenti pada genangan warnamu

kupu-kupu
curilah waktu untukku
sebab begitu banyak simbol merah jambu
dari kartu tanpa warna ungu
tempat tanpa alamat yang kau kirimkan

seorang gadis pergi mandi malam-malam
seekor kalajengking datang diam-diam
mengapa harus mencoba malam?

kupu-kupu
kaukah alamat buruk itu
sebab semalam gadisku hilang
tubuhnya nyisakan luka yang dalam
kupu-kupukah yang membawanya terbang?

2005

Sumber : Kumpulan Puisi "Pelacur Para Dewa"


Sajak Cinta | Sajak Tentang Cinta Pranita Dewi

Sajak Cinta
: bagi kita

sempat pula kumerenung
jika suatu nanti angin mendung
tak lagi berkabung
kita bersuami-istri
di sisi kita ada cinta

rumah kecil kita
walau gubug reyot
tapi ada cinta
tempat tidur dipan kita
walau keras
namun ada cinta
lantai tanah kita
walau kasar
tetap ada cinta

kita tak punya tv berwarna
masih kita punya cinta
kita mewarna dalam cinta
sebab kita tumbuh dari cinta
cinta untuk bercinta
mawar sudah tak lagi dijamah
edelweis di sebelah kita merekah
di halaman cinta kita
hati kita diteduhi cinta
kita tak habis mencinta

2003

Sumber : Kumpulan Puisi "Pelacur Para Dewa"
Pranita Dewi