KADO PERNIKAHAN
Sajak: Doddy Moyank
: nanang suryadi & kunthi hastorini
ini kali senyum di wajah putri
jernih segar mewangi
mempersiap akad nikah
esok hari
ini kali tari bulanmu menyambut
selawat nabi
malaikat jadi saksi
menyatu jiwa menyatu hati
o, nanang!
gelisahmu dulu
tak lagi menjadi gelinjang
sajak terjemah hujan, bukan?
o, kunthi!
tak ada persenyawaan terbagi
dan lagi disini
senyap tak meraut wajah lelakimu
sampai habis pun ia akan
menjadi raja pada nafas dan jasadmu
maka selamatlah buat kalian
berangkat restu orang tua
dan doa dari langit
Tuhan Pencipta
Cinta!
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Tampilkan postingan dengan label Sajak Nanang Suryadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak Nanang Suryadi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 Juli 2010
KADO PERNIKAHAN | Puisi Kado Pernikahan
Sketsa Ke Berapa Tentang Kenangan
Sketsa Ke Berapa Tentang Kenangan
1.
masihkah kau putar lagu, dari masa lalu, sebagai bayang, ingatan tak
habis kikis, bersama waktu, bersama waktu.
2.
kuingat takikan pada pohon karet, mengucur, mengalir, menggumpal.
guratan pada batangnya seperti puisi yang menanda. luka
3.
bagaimana dibangun sebuah harap. pada puing. tak lagi dipercaya
puisi. juga kata. engkau menyeru: o, siapa yang dapat membebat ini
luka di dada!
4.
sebagai puisi. kenangan menuliskan airmata. duka dan bahagia.
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Kita Pasti Pulang, Sayang
Kita Pasti Pulang, Sayang
Nanang Suryadi
Suatu hari nanti entah kapan
kita kan pulang,
tapi harus sendirian
sayang
tak lagi tangan bergenggaman
tak lagi mata bertatapan
dan
tak lagi bermesraan
hanya
jiwa baur semburat kesepian
yang panjang
Sayang
Sebab
hanya kesemuan merajam
pinta bagi suatu kesejatian
Tuhan
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Apa Yang Harus Dikata
Apa Yang Harus Dikata
apa yang harus dikata, bila dunia terus berputar
seirama detak detik jiwa,bersuarapun tak lagi kuasa,
meratapi setiap ruang yang masih tersisa.
harapan akan selalu ada, meski tak selamanya
bergumul dengan cerita yang apa adanya
hanya apa adanya, disana kan kau jumpai cinta. mungkin begitu biasa,
mungkin begitu sederhana. mungkin juga begitu istimewa
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
apa yang harus dikata, bila dunia terus berputar
seirama detak detik jiwa,bersuarapun tak lagi kuasa,
meratapi setiap ruang yang masih tersisa.
harapan akan selalu ada, meski tak selamanya
bergumul dengan cerita yang apa adanya
hanya apa adanya, disana kan kau jumpai cinta. mungkin begitu biasa,
mungkin begitu sederhana. mungkin juga begitu istimewa
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Telaga Hatimu | Sajak Sajak Nanang Suryadi
Telaga Hatimu
Berlari melintas
tinggalkan kelam merajam
Sampai pada..
telaga ku temukan
Alangkah bening,
dan biarkan ku bercermin
menatap seberapa dalam ia
larutkan segala...
dalam bening
matamu
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Berlari melintas
tinggalkan kelam merajam
Sampai pada..
telaga ku temukan
Alangkah bening,
dan biarkan ku bercermin
menatap seberapa dalam ia
larutkan segala...
dalam bening
matamu
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Di Sebuah Senja
Di Sebuah Senja
cakrawala demikian jingga, merona
ketika kutatap, dia tertawa
(sayang, gerimis tak hadir menyapa)
cakrawala masihlah jingga, cahaya
menelusup di antara keping jiwa kita, bahagia
di sebuah senja
bersama kita puisikan, cinta
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Sketsa Dinihari
Sketsa Dinihari
Di bening hening, mengembun ingatan
Pada engkau, cintaku
Di manakah engkau, sayang?
Tak ada suara juga aksara
Kurindu kata menyapa
Di manakah engkau, sayang?
Kucari engkau
O, yang nyalakan Cinta
Di dada risau!
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Di bening hening, mengembun ingatan
Pada engkau, cintaku
Di manakah engkau, sayang?
Tak ada suara juga aksara
Kurindu kata menyapa
Di manakah engkau, sayang?
Kucari engkau
O, yang nyalakan Cinta
Di dada risau!
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Sajak Nanang Suryadi | Bening Danau
Bening Danau
Akulah angsa yang berenang di bening danau
Merentangkan sayap di hangat matahari
Bernyanyi riang. Bernyanyi riang
Sesekali kubenamkan kepala dalam-dalam
O, keteduhan, larutkan gundahku
Akulah angsa yang berenang di jernih tatap
matamu
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Akulah angsa yang berenang di bening danau
Merentangkan sayap di hangat matahari
Bernyanyi riang. Bernyanyi riang
Sesekali kubenamkan kepala dalam-dalam
O, keteduhan, larutkan gundahku
Akulah angsa yang berenang di jernih tatap
matamu
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Sebagai Doa - Puisi Nanang Suryadi
Sebagai Doa
Sebagai doa mengalir ke muara hatiku, o Cinta
Mengalirlah mengalir bersama waktu
Sebagai doa mengepak sayap ke langit jiwaku, o Cinta
Terbanglah terbang menembus langit Rindu
Sebagai doa, jejak menapak demikian ikhlas, O Cinta
Langkah kaki menuju:
Senyum-Nya yang dirindu
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Dimanakah Engkau, duhai cintaku | Contoh Puisi Cinta
Dimanakah Engkau, duhai cintaku
malam demikian gelap, meratap. ruh-ruh berkeliaran kesana-kemari, gelisah. dan, ada yang teriak dari balik kolong ranjang kerontang, mengerang.
"Betapa aku lelah ya Rob, dimanakah Engkau, duhai cintaku. Rindu aku ingin tatap wajah-Mu!"
wajah-wajah lantas berbaris, menyelinap diam-diam dari balik dinding pucat. alangkah rupawan, alangkah menggiurkan. ach. betapa bahagia cekikikan.
malam tak lagi gelap. cahaya berpendaran, menawan. tak ada ratap, tak. hanya tawa berderaian memabukkan. duhai inilah dunia kenikmatan! arak? mana arak biar terpuas nafsu memburu, ah!
tapi, plop!
demikian hening mengering, "tidak!, jangan pergi!". demikian teriak memekak. demikian haus tak terpuaskan!.
ruh-ruh sesegukan ketakutan. gigil memanggil kerdil. wajah-wajah bergantian, berputaran. haus. haus. haus. wajah kesejatian. dimana duhai kiranya Dia,
cinta?
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
TAWAMU PECAH
TAWAMU PECAH
: Nanang Suryadi
tawamu pecah membuncah gairah. pada titik-titik resah kau tampung malam menyimpan cerita. duka yang berkejaran di sebalik gelisah manusia.
apa yang dicari dalam malam?selain dirimu yang membaca guratan-guratan luka manusia. menelanjangi tiap detak jantung derita. merampas alur hujan yang jatuh dari mata-mata kelelahan.
dan, tawamu pecah. sebab, tak ada lagi mesti di tangisi, selain luka masih nganga sebatas mimpi saja!
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
: Nanang Suryadi
tawamu pecah membuncah gairah. pada titik-titik resah kau tampung malam menyimpan cerita. duka yang berkejaran di sebalik gelisah manusia.
apa yang dicari dalam malam?selain dirimu yang membaca guratan-guratan luka manusia. menelanjangi tiap detak jantung derita. merampas alur hujan yang jatuh dari mata-mata kelelahan.
dan, tawamu pecah. sebab, tak ada lagi mesti di tangisi, selain luka masih nganga sebatas mimpi saja!
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
HENING YANG KAU PUNGUT
HENING YANG KAU PUNGUT
kau pungut sekeping hening dalam kelambu jiwa meronta tiada. dan kau tanam ia dalam desah nafas memanas menderas. kau katakan padanya, bahwa kau akan menunggunya hingga ia tumbuh dan berbuah.
kau masih disana. memintal cerita dalam sajak-sajak jemari menari.dalam hujan dan terik yang menghardik jasadmu kegelisahan. tapi kau masih setia, menghitung hari dalam nyeri.
menyulam mimpi dari kejauhan yang merapuh. derita yang pecah. bahagia yang gerah. tak kau peduli. kau masih disana.
tak kau pahami bulan berotasi tujuh musim lamanya. mungkin, jenuh pun kan datang sebagai goda. atau bimbang jelang sebagai dentang.
hanya pada kedirian semua berawal. dan dari kedirian pula semua berakhir.
kau masih disana, dengan cinta!
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
kau pungut sekeping hening dalam kelambu jiwa meronta tiada. dan kau tanam ia dalam desah nafas memanas menderas. kau katakan padanya, bahwa kau akan menunggunya hingga ia tumbuh dan berbuah.
kau masih disana. memintal cerita dalam sajak-sajak jemari menari.dalam hujan dan terik yang menghardik jasadmu kegelisahan. tapi kau masih setia, menghitung hari dalam nyeri.
menyulam mimpi dari kejauhan yang merapuh. derita yang pecah. bahagia yang gerah. tak kau peduli. kau masih disana.
tak kau pahami bulan berotasi tujuh musim lamanya. mungkin, jenuh pun kan datang sebagai goda. atau bimbang jelang sebagai dentang.
hanya pada kedirian semua berawal. dan dari kedirian pula semua berakhir.
kau masih disana, dengan cinta!
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
AKU LUKIS SENYUMMU YANG MAWAR
AKU LUKIS SENYUMMU YANG MAWAR
Sajak Nanang Suryadi
Aku lukis senyummu yang mawar
Dalam ingatan yang merindu
Tatapmu memanja rayu
Nyelinap dalam kalbu
Angan harapku
Bahagia engkau
Bersamaku selalu
Menuju Satu
Depok, 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
DI PUSARAN WAKTU
DI PUSARAN WAKTU
telah dilabuh gelisah pada pusar waktu
hingga larung abu pada sarang angin
gelombang sunyi diri sendiri
tinggal beburung jiwa menemu
karang julang tegak menantang
demikian terjal jejalan hidup di tatap matahari
sekepak sayap sekepak sayap menempuh tempuh
disayat hayat disayatsayat hingga mayat hingga tamat
tapi akan dilabuh juga segala gelisah pada pusar waktu
hingga larung abu pada sarang angin
gelombang sunyi diri sendiri
menjelma beburung jiwa
terbang mengepak dari matamu
menempuh tempuh sekepak sayap sekepak sayap
hingga sampai mematuk patuk mengetuk
pintu langit membuka
bagi jerit perih kerinduan jiwa
menemu cinta menemu cintanya
Depok, 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
telah dilabuh gelisah pada pusar waktu
hingga larung abu pada sarang angin
gelombang sunyi diri sendiri
tinggal beburung jiwa menemu
karang julang tegak menantang
demikian terjal jejalan hidup di tatap matahari
sekepak sayap sekepak sayap menempuh tempuh
disayat hayat disayatsayat hingga mayat hingga tamat
tapi akan dilabuh juga segala gelisah pada pusar waktu
hingga larung abu pada sarang angin
gelombang sunyi diri sendiri
menjelma beburung jiwa
terbang mengepak dari matamu
menempuh tempuh sekepak sayap sekepak sayap
hingga sampai mematuk patuk mengetuk
pintu langit membuka
bagi jerit perih kerinduan jiwa
menemu cinta menemu cintanya
Depok, 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
DI DEDAHAN SAJAK
DI DEDAHAN SAJAK
Nanang Suryadi
di dedahan sajak beburung jiwa singgah
istirah melepas lelah
penempuhan adalah jejalan panjang
berliku dalam pusaran waktu
di dedahan sajak beburung jiwa menyanyi
nyanyi rindu kekasih diri
demikian cinta memanggil panggil
mendebarkan jejantung hati
di dedahan sajak beburung jiwa melagulagu
mengetuk paruh pada pepohon irama kata
pepohon hidup menari-nari
dipeluk dipagut sepoi hembus berangangin
di dedahan sajak beburung jiwaku singgah
istirah melepas lelah
Depok, 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Masih Kulihat Rembulan Di Antara Sihir Lampu Kota
MASIH KULIHAT REMBULAN DI ANTARA SIHIR LAMPU KOTA
buat: kunthi hastorini
masih kulihat rembulan, cahayanya yang kuning keemasan, menggoda ingatanku, kepadamu. di antara lampu-lampu merkuri dan sorot kendaraan, aku takjub memandang langit, rembulan yang terang cahayanya. aku ingat engkau sayangku, dan ribuan kata-kata berloncatan ingin menjelma puisi.
puisi menjelma dari sepotong film animasi. dunia kanak-kanak yang menjadi kenangan. bayangkan kita memandang rembulan dan mengaung, sebagai serigala, yang menggetarkan langit dengan jerit yang teramat sedih. mungkin rindu. pada kekasih di langit yang jauh. di negeri yang jauh. di angan yang rapuh.
malam ini, sayangku, aku ingin kau tatap rembulan, terang cahayanya. seterang cinta kita yang menerang langit. demikian purnama.
Guntur 18 Deseember 2002, Malabar 19 Desember 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
AKU INGIN MENJUMPAIMU
AKU INGIN MENJUMPAIMU
Aku ingin menjumpaimu. O mata, yang menerbitkan cahaya rindu dalam dadaku.
Seperti cahaya dan gerimis yang menggambar pelangi. Di lelangit harap saat
kau tunggu dengan rayu dan tatapmu.
Demikian manja gerimis menyapa. Cahaya disela-sela. Memendar pendar. Mewarna di udara. Lengkung mimpi kanak-kanak ke langit cintamu.
Biarkan bait-bait rindu menelusup dalam mimpimu. Huruf demi huruf yang beterbangan di buku hari-hari. Berdiam dalam dadamu. Dalam hangat pelukmu. O, yang merindu.
Aku ingin menjumpaimu. O mata, hingga tumpas rindu dendamku. Dalam tatap matamu.
Depok, 16 Desember 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
KARENA-MU - Nanang Suryadi
KARENA-MU
karena-Mu aku mencinta. bait-bait rindu yang kekal Kau hembus di dadaku. sebagai takdir yang tertera di kehendak-Mu. aku serahkan diri. juga cinta. kulewati abad-abad kepedihan meneguhkan syahadahku. menempuhi jalan terjal berbatu. menempuhi goda sepanjang usia dunia.
O Engkau, karena-Mu. atas kehendak-Mu semata. aku mencinta. kami saling mencinta. maka berkatilah cinta kami berdua.
hingga kerdip cahaya cinta menyatu dalam Cinta-Mu!
Depok, 14 Desember 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
karena-Mu aku mencinta. bait-bait rindu yang kekal Kau hembus di dadaku. sebagai takdir yang tertera di kehendak-Mu. aku serahkan diri. juga cinta. kulewati abad-abad kepedihan meneguhkan syahadahku. menempuhi jalan terjal berbatu. menempuhi goda sepanjang usia dunia.
O Engkau, karena-Mu. atas kehendak-Mu semata. aku mencinta. kami saling mencinta. maka berkatilah cinta kami berdua.
hingga kerdip cahaya cinta menyatu dalam Cinta-Mu!
Depok, 14 Desember 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
SKETSA PETA PADA TATAP MATA
SKETSA PETA PADA TATAP MATA
O mata. Sebagai bening rindu demikian hening. Ke dalam dadaku kau alirkan segala mimpi dan harap. Tatap yang tak henti menjelajah relung-relung terdalam rahasia waktu.
Pada sketsa peta. Sebagai tanda yang harus kubaca. Setulus cintaku. Gulir butir airmata. Menemu tuju. Menemu mula segala rindu. Di negeri yang jauh. Di langit yang jauh.
Demi pemilik segala rahasia waktu, kutemu cinta di tatapmu, o mata. Menerobos relung terdalam rahasia dalam dadaku!
Depok, 15 Desember 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
O mata. Sebagai bening rindu demikian hening. Ke dalam dadaku kau alirkan segala mimpi dan harap. Tatap yang tak henti menjelajah relung-relung terdalam rahasia waktu.
Pada sketsa peta. Sebagai tanda yang harus kubaca. Setulus cintaku. Gulir butir airmata. Menemu tuju. Menemu mula segala rindu. Di negeri yang jauh. Di langit yang jauh.
Demi pemilik segala rahasia waktu, kutemu cinta di tatapmu, o mata. Menerobos relung terdalam rahasia dalam dadaku!
Depok, 15 Desember 2002
Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi
Biografi Nanang Suryadi
Biografi Nanang Suryadi
Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak. Serang pada 8 Juli 1973. Penyuka semi budaya ini berinteraksi kreatif dengan rekan-rekan yang memiliki minat pada seni. antara lain dalam: HP3N (Himpunan Pengarang. Penulis Penyair Nusantara), Forum Pekerja Seni Malang. Komunitas Sastra Indonesia (KSl), LSMI (Lembaga Seni Mahasiswa Islam) serta Komunitas Belajar Sastra Malang iKBSMI. Masyarakat Sastra Internet (MSI). Yayasan Multimedia Sastra (YMS) serta di Cybersastra.net (sebagai Pemred dan Redaktur puisi).
Puisi-puisinya dimuat berbagai media massa di dalam dan luar negeri, antara lain: Suara Pembaruan, Kompas, Republika, Pikiran Rakyat, Korantempo, Lampung Post, Jurnal Puisi Bahana (Brunei) dan Perisa (Malaysia), serta disiarkan melalui Radio Jerman Deutsche Welle. situs cybersastra net dan bumimanusia.or.id . Buku-buku puisi yang menyimpan puisinya, antara lain:
Sketsa (HP3N, 1993). Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendirl Membaca Din (SiF. 1997), Siluet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) sebagai kumpulan puisi pribadi Sedangkan antologi puisi bersama rekan-rekan penyair, antara lain: Cermin Retak (Ego, 1993). Tanda (Ego- Indikator 1995), Kebangkitan Nusantara I (HP3N, 1994), Kebangkitan Nusantara II (HP3N. 1995), Bangkit ('HP3N, 1996). Getar (HP3N, 1995 ), Batu Beramal II (HP3N. 1995), Sempalan (FPSM, 1994). Pelataran (FPSM. 1995), tnterupsi (1994). Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997), Resonansi Indonesia (KSI, 2000). Graffiti Gratitude (Angkasa-YMS, 2001), Ini Sirkus Senyum (Komunitas Bumi Manusia, 2002) Dian Sastro for President ! Reloaded (AKY, 2003), Dian Sastro for President ! End of Trilogy (AKY, 2005).
Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak. Serang pada 8 Juli 1973. Penyuka semi budaya ini berinteraksi kreatif dengan rekan-rekan yang memiliki minat pada seni. antara lain dalam: HP3N (Himpunan Pengarang. Penulis Penyair Nusantara), Forum Pekerja Seni Malang. Komunitas Sastra Indonesia (KSl), LSMI (Lembaga Seni Mahasiswa Islam) serta Komunitas Belajar Sastra Malang iKBSMI. Masyarakat Sastra Internet (MSI). Yayasan Multimedia Sastra (YMS) serta di Cybersastra.net (sebagai Pemred dan Redaktur puisi).
Puisi-puisinya dimuat berbagai media massa di dalam dan luar negeri, antara lain: Suara Pembaruan, Kompas, Republika, Pikiran Rakyat, Korantempo, Lampung Post, Jurnal Puisi Bahana (Brunei) dan Perisa (Malaysia), serta disiarkan melalui Radio Jerman Deutsche Welle. situs cybersastra net dan bumimanusia.or.id . Buku-buku puisi yang menyimpan puisinya, antara lain:
Sketsa (HP3N, 1993). Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendirl Membaca Din (SiF. 1997), Siluet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) sebagai kumpulan puisi pribadi Sedangkan antologi puisi bersama rekan-rekan penyair, antara lain: Cermin Retak (Ego, 1993). Tanda (Ego- Indikator 1995), Kebangkitan Nusantara I (HP3N, 1994), Kebangkitan Nusantara II (HP3N. 1995), Bangkit ('HP3N, 1996). Getar (HP3N, 1995 ), Batu Beramal II (HP3N. 1995), Sempalan (FPSM, 1994). Pelataran (FPSM. 1995), tnterupsi (1994). Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997), Resonansi Indonesia (KSI, 2000). Graffiti Gratitude (Angkasa-YMS, 2001), Ini Sirkus Senyum (Komunitas Bumi Manusia, 2002) Dian Sastro for President ! Reloaded (AKY, 2003), Dian Sastro for President ! End of Trilogy (AKY, 2005).