UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label TS Pinang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TS Pinang. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Agustus 2010

Kami Melepasmu dengan Suka dan Rela

Kami Melepasmu dengan Suka dan Rela

: Gus Dur

kami berkabung tersebab cinta. cintamu pada manusia, pada semesta. kami ingin melepas perjalananmu dengan suka dan rela, tetapi lidah kami hampa rasa, gugur kata-kata.

kami ingin mengantarmu memasuki gerbang cahaya, pintu perjalananmu selanjutnya. tapi kami hanya kuasa tersedu, tak mampu menggandeng tanganmu.

kami berkabung tersebab cinta. kami melepasmu dengan suka dan rela, seperti tawamu yang lepas dan rela, seperti mata kami yang ikhlas menghujankan air mata.


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com




Dhandhang Gendhis Kagem Kinanthi

Dhandhang Gendhis Kagem Kinanthi

(macapat dhandhanggula)


duh yoganingsun laras kinanthi
catur purnami tinilar rama
dadi tambah lan manise
tansah sinandhing biyung
den pinayung kidung anjagi
tebih kabeh dhukita
lan pedhuting kalbu
tansah padhang kadya surya
hayunira cahya katresnan hyang widhi
kinanthi biyung bapa


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com


Kinanthi Sigaraning Ruh

Kinanthi Sigaraning Ruh*

(macapat kinanthi)


wanodyayu garwaningsun
pidhangetna kidung niki
sumedhot rasaning manah
sigar raga ruh nyawiji
tetepna patrap sumarah
mugi kinasih Hyang Widhi

sanadyan lampah sinandhung
tetegna tekading ati
sipating nepsu angkara
den kipatna jroning agni
awit sumarahing suksma
kuncining kabegjan jati


*Kaanggit kagem garwaningsun Rosalia Hening Wijayani

TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com


Sekar Pocung Kagem Kinanthi

Sekar Pocung Kagem Kinanthi

(sekar pocung)

ngger anakku, tansah santosa rahayu
bebingah jroning tyas
wus lampah panca purnami
cah ayu dadya suryanipun biyung bapa


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com


Puisi Maaf | Puisi Permintaan Maaf

Maafkan Kami

: Kinanthi

maafkan kami, anakku, bila kami tak mampu menahan cuaca yang berubah semena-mena yang mengantarkan demam padamu tanpa kau minta. maafkan kami bila kami tak paham doa-doa sunyimu, tak peka akan mimpi-mimpimu yang kau sampaikan lewat matamu yang bening, lewat halus keningmu yang hening. kami belum genap belajar saling mencintai, maka padamulah, anakku, kami tak henti mengaji.


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com



Di Taman Kota | Puisi Tentang Taman Kota

Di Taman Kota

1.
taman lapang mendada musim semi. burung-burung menebah hembus angin, seperti mengusir dingin rindu gigilkan hati. kanak-kanak dan orang-orang tua saling sapa dengan senyuman, kata-kata lenyap dalam ayun bunga-bunga. tulip kuning menyala di sela pokok-pokok magnolia.

siapa sangka di negeri senja ini, terpendam aroma derita nenek-moyang kami. air mata negeri laut tempat kami pulang nanti.


2.
burung berdada putih bersayap biru, ekornya hitam panjang. entah dari mana ia datang. mungkin singgah sebentar dari musim-musim gamang sebelum mentari hilang ramahnya, saat ia kembali terbang merunut jalur tualang, memeta garis bujur dan lintang.

burung dara dan gagak-gagak lewat saja, seperti hari-hari biasa.


3.
di tanah ini matahari sering menipu, berkhianat pada musim dan ramalan cuaca. dan angin selalu berubah arah dengan setia.


Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 01 Agustus 2010

TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com




Sajak 17 Mei

Sajak 17 Mei

: Rosalia Hening Wijayanti

satu lingkar tahun kembali tergores di penampang pohon jati yang kami semai. musim yang merontokkan daun-daun dari ranting pokok jati itu selalu mengingatkan kami untuk waspada: kemarau bisa lama, atau absen dari ramalan cuaca. batang jati kami tumbuh semakin kukuh dan besar, bertunas pula seperti menegaskan harapan kami yang kukuh dan besar. di usia yang begitu muda, pohon kami sering bertaruh dengan angin yang sering berubah haluan, sedangkan kami terlalu sibuk menebak arah buritan. kami berharap pohon kami semakin perkasa dan berwibawa dengan gurat lingkar tahun yang semakin berirama, dan galih menghitam di tengahnya semakin keras oleh usia, oleh cinta yang kian beraroma seperti anggur tua terperam ribuan lingkar cuaca.


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com



Kabar Usia

Kabar Usia

: Ompie HL

apa yang diharap dari riap rambut yang mengabarkan usia. selain bebutiran pasir doa terserak di pantai rindu, tanah ibu yang menunggu. kota tua dan berisik roda tram mengiris jalanan, semakin mengekalkan potret masa remaja yang meriah oleh kepalan tinju dan debu jakarta, kadang mengalirkan air dari lubuk matamu, berkelok seperti kanal-kanal amsterdam. mencoba menjaga bara dendam dan rindu yang berdentam memanggil-manggil dari ujung tanjung negeri laut. menggaungkan kutuk cinta ibunda yang sering engkau rapalkan dalam linting rokok dan kayuh sepeda tuamu.

apa yang diharap dari hembusan nafas yang memadamkan api lilin itu, selain serapah cinta pada tanah lahirmu yang kini kian terbenam pada lumpur magma yang bacin oleh bau mulut politisi. sedang engkau masih percaya pada tajamnya larik-larik puisi.


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com




Puisi Sembilan Putaran Rembulan | TS Pinang

Sembilan Putaran Rembulan

: Kidung Hayumatari Laras Kinanthi

sembilan putaran rembulan, o anak, menyempurnakan doa ibu-bapamu di setiap belai lembut dan titik airmata di sela tangis dan tawa dan kata-kata yang kau ciptakan dari dunia cahaya. kami masih tertatih mengeja huruf-hurufmu, sebab mata kami masih rabun tertabir kabut cuaca yang begitu gampang berubah. sebab itu ijinkanlah kami bercermin pada danau matamu yang kemilau sejuk dan dalam, dan menimba kebijaksanaan semesta yang dititipkan di dasar palungnya.

kami hanyalah kanak-kanak yang sembunyi di balik topeng usia. dan kepadamulah kami belajar memahami cinta, lebih dari sekedar yang terungkap oleh kata.

Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 01 Agustus 2010


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com




Kepada Kinanthi Anakku

Kepada Kinanthi Anakku

dhandhanggula
mengalun padamu, setiap malam menjelang dan ambang senja berlalu. ruh dan jiwa kami berbiak cemas-cinta dan tiupan doa di ubun-ubunmu. kami ingin redakan kata-kata menjadi bisikan lembut pengantar tidurmu, agar pupus isak tangis dalam lelapmu seiring pupuh-pupuh yang kami bacakan dalam lubuk dada. kami tak hafal tembang purba ini, hanya larik-larik kata yang kami kais dari ingatan usang. namun kami tahu engkau mengerti betapa kami tak mampu menanggung luh tangismu.

bacalah, seperti kau sibuk mengeja nama-nama benda, merabai tekstur dan ulir, memindai warna dan matra. bacalah mantra dalam kata-katamu sendiri yang kau pinjam dari bahasa langit, sebagaimana kami mengeja hujan yang mematuk-matuk jendela seperti morse isyarat rahasia. sebab kami tak ingin berhenti berguru padamu, mengaji setiap helai detik yang terjilid rapi dalam buku harianmu.


Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 01 Agustus 2010

TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com




Biografi TS Pinang

TS Pinang, lahir di desa Semirejo, Pati, 1971. Pernah belajar arsitektur di Jurusan Arsitektur UGM. Puisi dan eseinya dimuat di beberapa antologi bersama seperti Graffiti Gratitude: Sebuah Antologi Puisi Cyber (YMS, 2001), Filantropi (Divisi Sastra FKY XIII, 2001), antologi esei Cybergraffiti (YMS, 2001), Bumi Manusia 1: Ini Sirkus Senyum (Bumimanusia, 2002), Cyberpuitika (YMS, 2002), Dian Sastro for President! (AKY, 2002), Dian Sastro for President!#2: Reloaded (AKY, 2003), Les Cyberlettres (YMS, 2005), Antologi Bungamatahari (Avatar, 2005), Jogja 5,9 Skala Richter (KSI-Bentang, 2006), Tongue In Your Ears (FKY XIX-FKYPressPlus, 2007), 60 Puisi Indonesia Terbaik (Gramedia-Anugerah Pena Kencana, 2009), beberapa koran nasional seperti Republika, Kompas, Jurnal Nasional, Koran Tempo, jurnal BlockNot Poetry , majalah sastra Horison dan beberapa milis maupun situs sastra di internet. Beberapa puisinya juga pernah dibacakan di Radio Suara Jerman Deutsche Welle dan RRI Nusantara II Yogyakarta. Saat ini tinggal di Yogyakarta.