Marhaban Ya Ramadhan |Puisi Ramadhan
04/09/2008
Ya Allah Kau datangkan lagi Ramadhan buatku
Ketika aku masih saja tak mampu mensyukuri RamadhanMU yang lalu
Hari hari Mu masih saja kulalui
Tanpa isi
Tanpa makna
Tanpa syukur
Bahkan dengan sikap Takabur
Kadang kami masih saja lupa bahwa Engkaulah Penentu
Kadang kami masih saja merasa kebenaran itu hanya punyaku
Yang lain bukan makhlukMU,
Yang lain bukan UmatMU
Dalam Doaku......
Sering kusampaikan dengan memaksa
Seolah akulah yang lebih tahu,dariMU, Sang Mahatahu
Doaku bukan harapan , tapi itu keharusan
Dan ketika ada satu yang tak KAU kabulkan
Seolah hilang seluruh nikmat yang KAU limpahkan
ijar@ujecentre.com
Bulan Suci-Mu |Puisi Ramadhan
02/10/2007
yang suci Bulan ini
Bulan yang penuh rahmat-Mu
Ku bersujud dihadapan-Mu
Memohon segala ampunan dari-Mu
Di Bulan yang Kau muliakan
Ku Jalani dengan ke khusyukan hati
Bulan yang lebih mulia
Dibandingkan dengan semua yang ada dibumi ini
Terdengar seruan Asma-Mu
Di berbagai penjuru bumi
Menyadarkan ku untuk kembali
Menuju jalan lurus-Mu
Jalan Putih,diLorong Putih-Mu
Ku tempuh semua dengan pasti
Untuk mengharap Ridho-Mu
Walau menghadapi segala rintangan
Malam-Mu yang begitu indah
Malam LAILATUL QADAR
Memanggil kami para umat-Mu
Untuk berlomba-lomba mendapatkan malam-Mu
Pada bulan yang suci
Jalan Putih,diLorong Putih-Mu
Ku bersujud dihadapan-Mu
Memohon ampunan-Mu
Ya Robbi………….
Karya: Reriana I (SMAN41, X5)
RAMADHAN | Puisi Ramadhan
07/09/2007
Ramadhan....
Bulan yang penuh fitri
Bulan yang penuh ampunan
Pahala yang besar
Hatiku senang
Menyambut bulan yang suci
Ramadhan………
Sahutan Adzan terdengar riang
Lafaz Al-qur’an terdengar merdu
Suara takbir yang bergema
Ramadhan………
Bulan penuh pengampunan
Cahaya kemenangan selalu datang
Di bulan Ramadhan……..
by: Ijar_UJE Centre
Sumber: www.ujecentre.com & www.gen22.blogspot.com
Sabtu, 11 September 2010
Puisi Ramadhan Terbaru | Tentang Bulan Suci Ramadhan
PUISI RINDU BUAT KEKASIH | Puisi Tentang Kerinduan
PUISI RINDU BUAT KEKASIH
Menapaki Kerinduan
ketika sinar rembulan pucat
sesosok rindu tanpa sayap
terbang ke langit malam
gelap mata
gelap hati
membuat ia lupa dimana tempat bersinggah
gelap malam menghapuskan arah dan tujuan
sementara,
dingin sunyi menjadi saksi
jiwa-jiwa yang menggigil
terperosok ke ceruk jurang malam
dalam...
sedalam hatimu
debur ombak di Pantai Barat menghantam jiwaku
tapi tak mampu goyahkan sepi
sapaan angin mengajak kabut dingin
menyusupi pori-pori,
merontokkan tulang..,
tapi tak mampu runtuhkan sunyi
sepi tanpa keheningan
sunyi dalam kebisuan
disitu aku terdampar
sendiri
menapaki kerinduan
Pangandaran, 2009
Kunyanyikan Rindu
di sini
di antara kemeriahan dan bintang
aku memilih sunyi
di mana telah kutanam hektaran rindu untukmu
ketika malam berjatuhan
hingga terdampar di pagi
dan untuk kesekian kalinya
aku merasa kau begitu jauh
meski kita masih saling berteduh
di bawah langit yang sama
kekasihku...
jika kau percaya angin adalah satu
jika kau percaya samudera adalah biru
akan kunyanyikan rindu ini
lewat angin, lewat laut
lewat sunyi
dan denting malam
Ciamis, Agustus 2009
Cinta di Matamu
entahlah..,
berapa kali harus kuyakinkan dirimu
bahwa rindu yang mengalir dalam darahku adalah rindumu
mungkinkah..,
kau dengar
cerita yang tergelar lewat bisunya malam
itu cerita cinta
tentang kau dan aku
kau tahu
purnama ini begitu indah
walau tak seindah senyummu
yang terakhir kali
masih kuingat
kasih..,
aku lihat senyummu
di antara bintang dan bulan purnama
aku dengar suaramu
lewat hembusan angin dan gesekan daun-daun
tapi rinduku belum juga terobati
kasih..,
apakah hari ini kau simpan rindu
seperti rindu yang menggunung di hatiku..?
ah..,
bila saja mungkin
ingin kulihat cinta di matamu
sekali lagi..!
ciamis, 1 Februari 2004
Sumber : Gen22.Blogspot.com
Selasa, 22 Juni 2010
Puisi Kemerdekaan | Puisi Tentang Kemerdekaan
ATAS KEMERDEKAAN
Oleh : sapardi Djoko Damono
kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah
JAWABAN DARI POS TERDEPAN
Taufiq Ismail
Kami telah menerima surat saudara
Dan sangat paham akan isinya
Tetapi tentang pasal penyerahan
Itu adalah suatu penghinaan
Konvoi sejam lamanya menderu
Di kota. Api kavaleri memancar-mancar
Di roda-rantai dan aspal
Angin meniup dalam panas dan abu
Abu baja. Nyala yang menggeletar-geletar
Sepanjang suara
Kami yang bertahan
Beberapa ratus meter jauhnya
Bukanlah serdadu-serdadu bayaran
Atau terpaksa berperang karena pemerintahan
Kebebasan manusia di atas buminya
Adalah penyebab hadir pasukan ini
Dan pasukan-pasukan lainnya
Impian akan harga kemerdekaan manusia
mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur
gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT
sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran
dalam pasukan
di pos terdepan ini
Terik dan lengang dipandang tak bertuan
Abu naik perlahan dari bumi
Bumi yang telah diungsikan
Guruh dari jauh, konvoi menderu
Suara panser dan tank-tank kecil
Mengacukan senjata-senjata baru
Kami tidak punya batalion paratroop
Cadangan sulfa, apalagi mustang dan lapis-baja
Kami hanya memiliki karaben-karaben tua
Bahkan bambu pedesaan, ujungnya diruncingkan
Pasukan ini tak bicara dalam bahasa akademi militer
Tidak juga memiliki pengalaman perang dunia
Tetapi untuk kecintaan akan kebebasan manusia
Di atas buminya
Pasukan ini sudah menetapkan harganya
Sebentar lagi malampun akan turun
membawa kesepian ajal adalam gurun
Tidakkah engkau bisa menempatkan diri
sebentar, di tempat kami
Memikirkan bahwa ibumu tua diungsikan
tersaruk-saruk berjalan kaki
Setelah rumah-rumah di kampungmu dibakari
setelah adik kandungmu ditembak mati
Adakah demi lain, yang mengatasi
demi kemanusiaan ?
Adakah ?
Di seberang sini berjaga pengawalan
Tanpa gardu dan kemah, berbaju lusuh dalam semak
Dialah yang terdepan dengan sepucuk Lee & Field
Dialah huruf pertama dari Republik
Indonesia,
Th XV, No. 2
17 Agustus 1965
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
INGIN KUSUARAKAN
Isbedy Stiawan ZS
ingin kusuarakan apa saja di sini, tapi angin punya
telinga dan kata-kata. bahkan lampu-lampu taman ini
akan merekam dan menyuarakan kembali dengan bahasa
lain. lalu dinding memagar tubuhku,
kesepian yang mendekam!
ingin kumerdekakan apa saja di sini, tapi burung
tak punya lagi sarang yang tenteram. pohon-pohon telah
memburu kota demi kota, mengubah ketenteraman jadi
kegaduhan, dan asap yang dimuntahkan beribu
cerobong pabrik adalah oksigenku setiap detik. aku
merokok limbah serta mengunyah beton!
ingin kutulis apa saja di sini, tapi koran tak lagi
punya suara. seribu iklan memadati halaman
demi halamannya, seperti gula-gula yang dikunyah
anak-anakku. aku hanya membaca bahasa angin di sana
kemudian meliuk di balik bendera setengah tiang.
kemudian hening…
ingin kusuarakan kembali kemerdekaan di sini, tanpa
granat dan senapan. ingin kuteriakkan penderitaan
burung yang kehilangan kebebasan terbang. hingga
di udara yang terbuka tak akan ada lagi kecemasan-kecemasan
1994
PERNYATAAN
Wing Kardjo
Baris-baris sajak yang kutuliskan
ialah gema dari segala cinta
padamu, kata-kata mengalir
dari sayap penyair.
Garis keprcayaan yang kami peluk ialah
kemerdekaan yang tak kenal takluk,
senantiasa siap membendung bencana
menyelamatkan jembatan kencana.
Baris-baris kehormatan yang kami
jaga ialah keutuhan
harga manusia
di mana dusta dan mulut neraka
tak punya hak menyebut-
nyebut surga!
Kumpulan Puisi Wing Kardjo - Fragmen Malam Setumpuk Soneta "Sajak"
KEMERDEKAAN SEMU
Basilius Andreas Gas
Kemerdekaan semu menghinggap
Bukan diraih karena tetes perjuangan
Dengan motto "Sampai Titik Darah Penghabisan"
Atau gelora pembangkit semangat "Rawe-rawe
rantas, malang-malang putung"
Entah benar atau tidak ejaan pun ku tak tahu
Kemerdekaan semu dirasa
Bukan karena ingin bebas dari belenggu jajahan
Tapi karena merasa lebih bebas
Entah mengapa...
Bebaskah?
Kemerdekaan...
Yah, itulah istilah yang kuguna
Kemerdekaan yang sebenarnya memalukan
Kemerdekaan yang sebenarnya tak boleh kuulang
Kemerdekaan yang bisa keblabasan
2005
Puisi Perjumpaan dan Perpisahan
ESOK FAJAR KITA BERTEMU
Isbedy Stiawan ZS
tapi,
selain rindu aku ingin
pula jumpa. di paling
depan aku menunggu
berita yang lain
ihwal kembalinya adam
jumpa hawa setelah
bertahun-tahun
mengembara
sehabis perpisahan
usai perang itu
di sini,
kulihat kau jalan sendiri
menembus halaman sepi
usai hari kematian
di bawah guyur hujan
tanpa payung
dan,
aku berlari memburumu
cari perteduhan
tapi di halaman kosong ini
mana rumah singgah
kenapa tiada pohon rindang?
bagai merpati
hilang kekasih
kukepakkan sayapku
menuju belantara
mungkin esok fajar
kembali kita bertemu
dengan nama yang lain
juga asing
mungkin
Januari-Maret 2005
SEBARIS PANTAI
Isbedy Stiawan ZS
mungkin ini pertemuan terakhir
usai sebaris pantai kau jejaki
dalam lembar kertas itu
lalu ombak kembali
ke dalam dunianya
mungkin melepas
rahasia pertemuan
atau merayakan perpisahan
di tubuh mahalaut
bermahkota rumput
dan duduk di kursi
membayangkan sebagai
pengantin atau raja
yang menitah pantai
jadi barisbaris puisi
di sini aku membacanya
dengan lidah terpotong
2 November 2003
PUISI MALAM | Kumpulan Puisi Tentang Malam
MALAM
Chairil Anwar
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957
MALAM
Kuntowijoyo
Bayang-bayang bumi
Memalingkan tubuh
Memejam lelah
Meletakkan beban ke tanah
Maka malam pun turun
Memaksa kucing putih
Mengeong di pojok rumah
Memanggil pungguk
Yang sanggup mengundang bulan
Karena hari sedang istirahat
Di ladang angin mengendap
Tidur bersama ibu bumi
Dari kasih mereka
Ilalang berisik
Ditingkah suara jangkrik
Di sungai, air
Pelan-pelan
Melanda pasir
Justru pada tengah malam
Rahasia diungkapkan.
MALAM DI PEGUNUNGAN
Chairil Anwar
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
1947
MALAM JAHAT
Ws. Rendra
Malam dengan langit tanpa buahan
dan suara itu bukanlah angin puputan
tersebar ratapan perempuan sial
bagai merayap di atas jalan yang kekal.
Lelaki keluar ambang sendirian
burung hitam banyak hinggapan
sekali melangkah kakinya besi
dituruti jalan sangsi yang abadi.
Senin, 21 Juni 2010
PUISI PAGI | Kumpulan Puisi Bertema Pagi Hari
GERIMIS PAGI INI
Korrie Layun Rampan
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis zaman
Ketika sekawanan burung luka
Mencakar tangkai jantung derita
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis insani
Karena rahang-rahang kemerdekaan
Disekap moncong-moncong pertikaian
Dan tersumpal luka yang tak kunjung tersembuhkan
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis kita
Karena di tengah kelu dan borok dunia
Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh cinta
1974
Kumpulan Puisi Suara Kesunyian "Lagu Impian"
PAGI CERITA YANG LAIN
Isbedy Stiawan ZS
hendak pergi ke mana lagi pagi ini
dengan pakaianmu warna-warni?
hujan belum reda,
tanah basah,
cuaca kabut
dan anak-anak masih berselimut
mungkin masih ingin meneruskan
mimpinya. dengkurnya,
aduhai, seperti dalam
pelukan bunda…
rambutmu yang rapi
alismu bagai pelangi
dan bibirmu berwarna hati
seperti hendak menahan hujan
lalu langkahmu ingin mengayun
“hello…”
pintu mulai terkuak
anak-anak berdahak
(ah, tidak!
Mereka mendengkur
Memeluk kembali mimpi
yang sempat terhenti)
tapi,
tanah masih basah,
cuaca berkabut
dan rambutmu yang rapi
menggegas pagi…
hendak pergi ke mana lagi pagi ini
dengan pakaianmu warna-warni?
--lalu aku cuma menatapmu berlalu
seperti pagi tak berkabut,
tanah garing—dan
senja kelak kau pulang
hati berang:
pakaianmu basah
suaramu mendesah
“jangan tegur,
aku letih!”
ah,
anak-anak menutup rapat
tubuhnya dengan selimut
di luar cuaca makin berkabut
dan pohon sewarna lumut
Maret-April, 2005
PAGI-PAGI DI BINAMUDA
Dadan Dania DK
Masih pagi,
ketika datang dirimu di senggang fana
ujung kerudungmu melambai seiring gontai
tertunduk wajah mengeja langkah
tengadah di beranda kelas
anggun wajahmu mengayun tatap
terbata mataku di matamu.
Masih pagi,
ketika datang dirimu di luang rasa
kini kueja langkahmu pelan
hingga lumat ditelan lalang dan lolong.
Masih pagi,
ketika kau lewat dan aku terjerat.
Cicalengka, 1397H
PERISTIWA PAGI TADI
Oleh : sapardi Djoko Damono
Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor
tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung
tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang,
membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu
tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang,
membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan
dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans
dan meninggal sesampai di rumah sakit.
Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku
tentang peristiwa itu.
Puisi Tentang Pahlawan Perjuangan | MASIHKAH BUNGA 'KAN MEKAR
MASIHKAH BUNGA 'KAN MEKAR
Dadan Dania DK
Langit memerah darah manakala Yogya berpagar sangkur
pagi-pagi empat Mei empat tujuh
fajar memudarkan pijar belulang yang terbakar
kenyataan memanggilmu tampil
insyaf akan tanggung jawab
yakin akan kebenaran Islam
Yoesdi Ghazaii, Anton Timoer, Nursyaf, Ibrahim dkk
menuntunmu bangkit sebagai anak kandung revolusi.
Udara pertama yang kauhirup
wanginya mesiu
atas kerikil dan onak yang terserak
beranjak meniti hari yang bertaji
dada membusung punggung terpampang
menantang cambuk dan dera seterumu
bekalmu semata takwa,
takwa yang membinar jadi syukur
manakala pesona bertahta di beranda sukma
takwa yang berpijar jadi sabar
manakala petaka tersaji di serambi hati.
Bagai debu di garis horison,
tak orang balk-balk berpikir akan ujudmu
bagai punguk di balik awan
tak orang benar-benar mendengar akan cicitmu
Jalur yang terentang putus diranjah mereka
kauluruskan telunjuk dengan gemeletuk gigi
"setapak saja langkah meranjah sela hela
menjamah ranah membentang prana sengketa
gemerlap derapmu kurancap ...
tercapai atau tergapai", itu serumu.
Tekad yang terpahat, tombak mahaampuh meruntuhkan musuh
perisai tangguh menadah pongah punah,
kendati jiwa terpancang atas gelinjang lantang
t'lah kau perketat sekerat ikat.
Kumpulan Sajak Dadan Dania DK "Masihkah Bunga Kan Mekar"
Minggu, 20 Juni 2010
Puisi Romantis Cinta | Puisi Cinta Romantis
MEMORARIA I
M. Husseyn Umar
Benih telah tertanam di taman ini
Gunung indah melingkar di dadanya
Pantai berombak melandai di pangkuannya
Inilah perjalanan dan persinggahan kami
Seolah dunia di genggaman kami
Bulan purnama tersenyum di atasnya
Kuda telah kami lepaskan dari kekangnya
Kami berpacu ke padang-padang
Matahari terik menantang melihatnya
Ya, inilah langkah awal segala harapan
Telah tertanam di situ impian yang tiada batasnya
1978
Kumpulan sajak M. Husseyn Umar (Perjalanan)
MEMORARIA II
M. Husseyn Umar
Hari-hari telah bersatu di dalam mimpi
yang sekali-kali akan kembali berganti warna
maka
jika tanggal-tanggal bertanggalan
dan hari-hari pergi bersama sunyi
bagai daun berguguran di musim semi
maka
artinya adalah permulaan semua hari
yang tiada akhir
dan tiada sepi
tiada pena yang sanggup untuk mencatat
tatkala dua manusia hanyut dipacu mimpi
didekap malam yang hangat
terdampar lunglai di akhir pagi
dalam mencari tiada henti
1978
Kumpulan sajak M. Husseyn Umar (Perjalanan)
SURAT ATAS BULAN
Wing Kardjo
Katamu cintaku bagai bulan sabit, pelan-
pelan naik, tambah bundar meningkat,
menerangi mimpi, sementara di teras,
kau duduk menanti. Tiada harap
cahaya muram, pelan-pelan turun
makin kecil, makin dalam,
dalam usia tenggelam
hingga terpencil
Tidak! Tidak demikian, kasih
aku akan datang
setiap saat
menunggang nyanyian putih
doa selamat dari
niat khianat!
Kumpulan sajak Wing Kardjo (Pertemuan)
Rabu, 16 Juni 2010
Kumpulan Puisi Bencana Alam | Puisi Tentang Tsunami Aceh
TSUNAMI 1
Arafat Nur
Seharusnya kubuat kapal besar
di puncak gedung bertingkat itu
tapi sebelumnya tak ada pertanda
juga isyarat lainnya
badai gelombang itu datang tiba-tiba
bahkan sesudah gempa
tak ada senggang waktu untuk mengira
aku hanya bisa berharap
ada kapal besar yang lewat
tapi sudah lama sekali
kapal Nuh tidak berlayar lagi
Lhokseumawe, 07 Januari 2005
TSUNAMI 2
Arafat Nur
seusai badai gelombang
di pantai itu aku menemui
seorang lelaki tua
Khidir namanya
lantas kakek kurus itu bercerita
muatan perahu Nuh sudah penuh
ia hanya sebentar singgah di sini
membawa beberapa anak dan orang dewasa
berlabuh ke surga
sayang, jumlahnya sedikit saja
Lhokseumawe, 07 Januari 2005
Kumpulan Puisi Arafat Nur (Lagu Kelu - Puisi Penyair Aceh)
Minggu, 13 Juni 2010
Puisi Tentang Persahabatan | Kahlil Gibran
Puisi Tentang Persahabatan
Kahlil Gibran
Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
Jumat, 11 Juni 2010
PUISI DALAM DOA | Tentang Doa Kepada Allah
DEKATKAN DAKU PADAMU YA ALLAHYa Allah
Ampunilah Dosa-dosa ku
yang mendatangkan bencana
Ampunilah dosa-dosa ku
yang merusak karunia
Ampunilah dosa-dosa ku
yang menahan do'a
Ampunilah dosa-dosa ku
yang menurunkan bala
Ampunilah dosa-dosa ku
yang telah kulakukan
Ampunilah dosa-dosa ku
yang telah ku kerjakan
Ya Allah
Aku datang menghampiri -Mu
Aku memohon pertolongan -Mu
Aku bermohon pada-Mu dengan kemurahaan -Mu
Dekatkan daku keharibaan -Mu
Sempatkan daku untuk bersyukur kepada -Mu
Bimbinglah daku untuk selalu mengingat-Mu(Sumber : Perjalanan Ruhani Meraih Cinta Sejati - Oleh Hj. Farida Hanum)
TUHANKU LEPASKAN DAKU DARI BELENGGU KU
Ya Allah Ya Raab:
Dengan kemulyaan-Mu
Sayangilah daku dalam segala keadaan
Kasihi daku dalam segala perkara
Kepada siapa lagi selain Engkau
aku memohon di hilangkan kesengsaraanku
dan diperhatikan urusan ku.
Tuhanku, pelindungku
Aku tidak cukup waspada terhadap tipu daya musuhku.
Maka terkecoh daku lantaran nafsuku,
namun bagi-Mu segala pujiku atas semua itu.
Aku datang menghadap-Mu Ya Ilaahi,
dengan segala kekurangan ku, dengan segala
ke durhakaanku, dengan hati yang hancur luluh,
memohon ampun dan berserah
diri pada-Mu, terimalah pengakuan ku
kasihanilah beratnya kepedihan ku
lepaskan aku dari kekuatan belenggu ku
Ya Allah, Junjungan ku.
Pemelihara ku.
Apakah Engkau Akan menyiksa ku
dengan api-Mu
Setelah aku meng-Esakan-Mu
setelah hati ku tenggelam
Dalam ma'rifat-Mu
setelah lidah ku bergetar menyebut- Mu
setelah jantung ku terikat dengan cinta -Mu
setelah segala ketulusan pengakuan ku
dan permohonan ku
Tidak, Engkau terlalu mulia untuk
mencampakkan orang yang Engkau ayomi.
atau menyisihkan orang yang Engkau naungi
Tuhan ku, jujungan ku, Pelindung ku
Engkau mengetahui kelemahan ku
ampunilah segala dosa-dosaku
(DOA KUMAIL)
(Sumber : Perjalanan Ruhani Meraih Cinta Sejati - Oleh Hj. Farida Hanum)
DOA AGAR BERAKHLAK SEPERTI AKHLAK PARA NABI
Ya Allah Ya Raab,
jadikanlah kami yang berkumpul di sini perwujudan
cahaya-Mu dengan niat yang kuat ingin meneruskan
tugas para Nabi.
Beri kami bekal kesabaran
Beri kami bekal pengetahuan yang dalam tentang
Al Qur'an
Agar kami menjadi orang yang bijaksana dan tidak
terjadi perselisihan di negara Indonesia ini.
Beri kami petunjuk di dalam pendengaran,
penglihatan, kaki tangan dan kulit kami.
Jadikan kami dan anak cucu kami berakhlak seperti
akhlak para Nabi wabil khusus Nabi Ibrahim AS dan
Nabi Muhammad SAW.
(Sumber : Perjalanan Ruhani Meraih Cinta Sejati - Oleh Hj. Farida Hanum)
AKU INGIN MENJADI HAMBA-MU
Ya Allah, Ya Tuhan ku.
Ampunilah aku di malam ini, disaat ini semua dosa
yang pernah aku lakukan, semua kejelekan yang
pernah aku rahasiakan, semua kedunguan yang
pernah aku amalkan.
Yang aku sembunyikan dan aku tampakkan yang
aku tutupi atau aku tunjukan.
Ampuni semua kebusukkan ku, yang telah Engkau
suruhkan Malaikat yang mulia mencatatnya.
Dengan Rahmat-Mu Engkau sembunyikan kejelekan
itu dengan karunia -Mu Engkau menutupinya.
Wahai junjungan ku, Pelindung ku, Pemilik nyawa
ku, jadikanlah waktu-waktu malam dan siang ku di
penuhi dengan zikir kepada-Mu
Kokohkan anggota badanku untuk
berbakti pada-Mu
Teguhkan tulang-tulang ku untuk berbakti kepada
Mu. Teguhkan tulang-tulang ku untuk melaksanakan
niat ku. Karuniakan pada ku kesungguhan untuk
bertakwa kepada -Mu
(DOA KUMAIL)
(Sumber : Perjalanan Ruhani Meraih Cinta Sejati - Oleh Hj. Farida Hanum)
Puisi Singkat | Puisi Pendek Penyair Indonesia
Puisi Singkat / Puisi Pendek 2 Baris
WAYANG
Ajip Rosidi
Bayang-bayang yang digerakkan sang dalang
datang dan hilang, hanya jejaknya tinggal terkenang
KOLAM
Ajip Rosidi
Ikan-ikan berenangan dalam kolam yang bening-bening
Tak tepercik niat meloncat menerjang langit luas terbentang
SUNGAI
Ajip Rosidi
Dari hulu hingga ke muara, berapa kali ganti nama?
Air yang mengalir sama juga, hanya saja bertukar warna
MATAHARI
Ajip Rosidi
Kutembus mega yang putih, yang kelabu, yang hitam sekali
Di baliknya kucari yang terang : Sinar si matahari!
DIDEPAN LUKISAN SADALI
Ajip Rosidi
Dalam keindahan kutemukan keheningan
dan dalam keheningan kudapati kesalihan
Kumpulan sajak Ajip Rosidi "Sajak-Sajak Anak Matahari"
Puisi Patah Hati | Puisi Tentang Patah Hati
Semakin jauh
Sejuta malam rasanya menunggu
Hadirmu dalam hidupku
Dihatiku ada dirimu
Dihasratku ada dirimu
Namun kini kurasa
Jauh semakin jauh
Engkau telah pergi meninggalkanku
Kau biarkan aku sepi sendiri...tanpa dirimu
Tiada lagi tempat tuk bercerita
Membagi suka dan derita
Mengisakkan tangis bahagia
Dalam pelukan dalam belaian
http://www.geocities.ws/cintaindah
Kategori : Puisi Patah Hati
Minggu, 16 Mei 2010
Kumpulan Puisi Tentang Ibu | Puisi Untuk Ibu
UNTUK IBU
Yayat Hendayana
Doa Angkatan Kami (1963-1966)
dengan apa bisa kunilai cintamu, ibu
yang mengendap sampai ke dasar-dasar segara
karena aku sendiri adalah angin kemarau
yang tak pernah berhasil memberikan setitik cinta
kalau kauperhitungkan kasihmu, ibu
yang tertimbun sampai ke puncak-puncak menara
bagaimana aku sanggup membayarnya
karena aku sendiri belum lagi punya harga
selalu kudengar dari bisik-bisik hatimu
tiap kali kaugendong aku dan kautiup ubun-ubunku
cinta serta kasih sayang kaucurahkan
pada tiap-tiap kedip mata dan tetesan air susu
adalah restu meski akan dibalas empedu
tapi aku juga punya hati, ibu
yang kutahu takkan selebar hatimu
kuharapkan padanya kesabaran dekat padamu
sampai datang seorang pembawa rahmat
yang melepas kita dari duka dan melarat
Desember 1963
IBUNDA
Ajip Rosidi
Ia terbujur
Bumi subur
Lembah-lembah dan gunung
Telentang tenang
Tangannya mengusap sayang
Perut mengandung.
Matanya nyalang
Langit-langit pun hilang
Karena langit penuh bintang
Dan pahlawan menyandang pedang
Naik kuda hitam zanggi
Adalah masadepan si-jabang
yang dalam rahim
menggeliat geli.
la memejam
Menahan nyeri.
Lalu terbayang
Bundanya tersenyum di ambang
"Tidakkah dahulu
Kusakiti juga bundaku?"
Keringat bermanik bening
Atas jidat, kening.
Ia mengerang
Dan malam yang lengang
Mendengar lantang
Teriakan si-jabang.
1961
Jeram 3 Kumpulan Sajak
IBUNDA
WS Rendra (Malam Stanza)
Engkau adalah bumi, Mama
aku adalah angin yang kembara.
Engkau adalah kesuburan
atau restu atau kerbau bantaian.
Kuciumi wajahmu wangi kopi
dan juga kuinjaki sambil pergi
kerna wajah bunda adalah bumi.
Cinta dan korban tak bisa dibagi.
PUISI KESEDIHAN | Kumpulan Puisi Duka dan Kesedihan
UNTUK DUKA ACEH
Medy Loekito
Ombak sepi
Menggapai mesjid
Alpa mengucap salam
Januari, 2005
DUKA ITU
Medy Loekito
(1)
bibir ombak
menyayat tanah
melukai jiwa
(2)
berumah di doa
luka di basuh
misteri di cipta
(3)
yang pergi
terkasih
yang datang
airmata
Januari 2005
DUKAKU YANG RISAU
Ajip Rosidi -
JERAM - Tiga Kumpulan
berjalan, berjalan selagi di diri duka
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
1954
LAGU DUKA
Ws Rendra (Malam Stanza)
la datang tanpa mengetuk lalu merangkulku
adapun ia yang licik bernama duka.
Ia bulan jingga neraka langit dadaku
adapun ia yang laknat bernama duka.
Ia keranda cendana dan bunga-bunga sutra ungu
adapun ia yang manis bernama duka.
la tinggal lelucon setelah ciuman panjang
adapun ia yang malang bernama duka.
PUISI PERJALANAN | Puisi Tentang Perjalanan
PERJALANAN INI
Korrie Layun Rampan
Perjalanan ini
menyusuri langsai-langsai kehidupan
menyusuri luka demi luka
menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
menyusuri matahari
dan lautan abadi dahsyat sunyi
Perjalanan ini
menyusuri pantai sukma demi sukma
menyusuri geliat urat-urat hari
menyusuri dasar telaga lembah jiwa
dan tanah hitam coklat merah
sepanjang rentangan tali benang-benang nurani
Perjalanan ini
menyusuri perigi dunia terik kering
adalah jiwa kita yang lelah
Perjalanan ini
menyusuri bumi pahit manis dan langit asing
adalah kita yang sempoyongan menyandang berjuta beban
Perjalanan ini
menyusuri hutan bentangan sepi bentangan api
adalah kita yang menyandang luka dan seribu jalan
adalah kitayang mendukung senja dan sejuta salib
hitam
1974
SESUDAH PERJALANAN
Kuntowijoyo
Isyarat (Sajak-Sajak 1974)
Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung
Ayolah, Ruh
tiba saatnya
engkau menyerahkan diri
Sunyi mengantarmu ke kemah
di balik awang-uwung
di mana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh
Kumpulan Puisi Tentang Maut dan Kematian
TENTANG KEMATIAN
Azizah Hefni
(Antologi Puisi untuk Munir)
Tentang sebuah kematian
Tanpa tiang bendera
Atau tanda-tanda
Juga kabar-kabar
Hadir di celah pagi malam
Di sela tarik dan desah
Pada ujung-ujung waktu tanpa detak
Juga pangkal-pangkal sudut ruangan
Bahwa Tuhan memberi kertas
Dengan garis-garis tebal peringatan
Akan wicara kuasa yang takkan bisa tersentuh
Oleh sesuatu yang halus
atau sekecil apapun
Kemudian,
Untuk alam
Juga geliat-geliat nyawa yang dititipkan
Bersediakah bila
Tuhan memintamu untuk pulang?
Malang, 27 Oktober 2005
TENTANG MAUT
Ajip Rosidi
Kulihat manusia lahir, hidup, lalu mati
Menerima atau menolak, tak peduli
Dengan tangan dingin namun pasti
Sang Maut datang dan tiap hidup ia akhiri.
Kuperhatikan perempuan sedang mengandung
Wajahnya riang, mimpinya menimang si jabang
Namun kulihat Sang Maut aman berlindung
Dalam rahim sang ibu ia bersarang.
Kuperhatikan bayi lahir
Dan pertama kali udara dia hirup
Dalam tangisnya kudengar Sang Maut menyindir:
"Jangan nangis, kelak pun hidupmu kututup".
II
Yang kukandung sejak hidup kumulai
Takkan kutolak, meski ia kubenci
Tapi kalau hidupku nak dikunci
Datang Tuhan menawari:
"Sukakah kau hidup semenit lagi?"
Kujawab pasti: "Suka sekali!"
III
Seperti gelap bagi kanak-kanak, pernah pada Maut aku ngeri
Karena tak berketentuan, bisa nyergap sesuka hati
Membayangi langkah, mengintip menanti saat
Dan bagi kesadaran jadi beban paling berat.
Kupertentangkan ia dengan Hidup yang seolah 'kan dia rebut
Kupilih pihak: Karena pada siksa neraka aku takut;
Namun kini tiada lagi, karena selalu kudapati
Napasnya menghembus dalam tiap hidup yang fana ini.
1960
KEMATIAN
Ajip Rosidi
lelaki bernyanyi sepenuh hati
didorongnya beton ke puncak tinggi
di hari sebelum lebaran
di rumah anak menunggu baju baru
tapi tali putus beton terguling
lelaki tak lagi bernyanyi
ada isteri jadi janda
ada anak kehilangan bapak
di hari sebelum lebaran
pintu tak terbuka
ayah tak kembali
sia-sia menanti
sepanjang hari
ii
muka yang sudah remuk
anaknya menjerit yatim
ayah bisakah mati
muka yang tiada lagi bentuk
tepekur pengantar kubur
nyawa lepas tak tersangka
1954
MAUT
Yun Casalona
Datang maut panggil namaku
Tersentak aku dari lamunan
Ketika bisikan kata teringat akan dosa
Maut datang tanpa member salam
Apakah datang bukan dari pintu
Atau memang itu caramu bertamu
Maut pastikah itu alamat yang tertulis
Di daftarmu
Maut jangan dekati aku,aku malu bertemu
Aku kotor, jauhilah aku
Banda Aceh, 180793
PUISI ISLAMI | Puisi Bertema Islami
PERJALANAN KE LANGIT
Kuntowijoyo
Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
Kereta cahaya ke langit
Kata sudah membujuk
Bumi untuk menanti
Sudah disiapkan
Awan putih di bukit
Berikan tanda
Angin membawamu pergi
Dari pusat samudera
Tidak cepat atau lambat
Karena menit dan jam
Menggeletak di meja
Tangan gaib mengubah jarum-jarumnya
Berputar kembali ke-0
Waktu bagi salju
Membeku di rumputan
Selagi kaulakukan perjalanan.
PERTEMUAN DUA ORANG SUFI
Ajip Rosidi
Ketika keduanya berpapasan, tak sepatah pun kata teguran
Hanya dua pasang mata yang tajam bersitatapan
Suhrawardi atas kuda : "Betapa dalam kulihat
Samudra segala hakikat!"
Dan Muhyiddin di atas keledai: "Betapa fana dia
yang setia menjalani teladan Rasulnya."
Ketika keduanya bertemu, tak pun kata-kata salam
Tapi keduanya telah sefaham dalam diam.
KEPADA TUHAN
Ajip Rosidi
Tuhan. Kulihat tanganMu mengulur gemetar
Dalam mata anak yang lapar. Dan perutMu melilit
Dalam permainan licik bandit-bandit. TubuhMu telantar,
Terlupakan dalam onggokan bangkai membukit.
Tuhan. Kudengar suaraMu parau
Dalam riuh-rendah caci-maki para penipu
Yang saling tuduh, saling tinju
Tapi bersama-sama seia mengisap darahMu.
Tuhan. Kusaksikan diriMu diinjak kawanan kerbau
Yang liar, garang dan kejam. Memandang haus dunia
Yang Kauharamkan dalam kitabMu, tapi Kausediakan
Dalam dirinya. Tiada kendali.
1962
INGAT AKU DALAM DOAMU
Ajip Rosidi
Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim
akan dikabulkan Yang Maha Rahim
Hidupku di dunia ini, di alam akhir nanti
lindungi dengan rahmat, limpahi dengan kurnia Gusti
Ingat aku dalam do'amu: di depan makam Ibrahim
di dalam solatmu, dalam sadarmu, dalam mimpimu
Setiap tarikan nafasku, pun waktu menghembuskannya
jadilah berkah, semata limpahan rido Illahi
Ya Robbi!
Biarkan kasih-Mu mengalir abadi
Ingat aku dalam do'a-Mu
Ingat aku dalam firman-Mu
Ingat aku dalam diam-Mu
Ingat aku
Ingat
Amin
PUISI LEBARAN | Kumpulan Puisi Bertema Lebaran
CATATAN SISA LEBARAN
Yayat Hendayana
adikku,
lebaran yang lalu
engkau tidak berbaju baru
aku pun tahu
ayah kita tidak sanggup untuk itu
kerja sehari adalah sekilo ubi-kayu
mana ada uang sisa buat baju
adikku,
sembunyikan tangis dari matamu
seolah engkau tak pernah menyimpan duka
lebaran sudah lalu
ayah dan ibu tak boleh lagi berhati pilu
ayah kita adalah kerbau yang membajak tanah subur
yang tak pernah merasakan betapa nikmatnya kesuburan
ketahuilah olehmu, supaya kelak kauubah ini kehidupan
adikku,
doakan aku segera punya kerja
supaya lebaran depan
bisa kubelikan engkau seribu baju baru
Maret 1964
HARI LEBARAN
Ajip Rosidi
Hari ini hari hati percaya
Akan arti hidup dan mati, yang cuma sempat
Direnungkan setahun sekali. Sungguh besar maknanya
Jalan panjang menuju liang-lahat.
Hari ini hari kesadaran akan tradisi
Menyempatkan umat sejenak bersama-sama
Menghirup udara lega dalam kepungan derita
Sehari-hari yang bikin orang jauh-menjauhi.
Hari ini hariku pertama 'kan menjalani
Hidup antara manusia, sedangkan diriku sendiri
Makin sepi terasing, lantaran mengerti
Kelengangan elang di langit tinggi.
Jatiwangi, H. 1381
MALAM TAKBIR
T. Tjoet Sofjan
Gema takbir semilir di angkasa
Kalbu ini menyayat sendu
Anak-anakku minta baju baru
Allahu Akbar, hati ini terbakar
Layu dan luluh
Lailaha Illallah, sendu seluruh rasa
Anak-anakku minta juadah*)
Allahu Akbar, bumi hangus terbakar
Mata berkedip tapi keliling kelam
Naluriku runtuh lebur dan kelu
Seharu gema Walila Ilham
Kembali diri ini dalam cobaan
Di lebur hancur dengan tangisan
Tangis bocah,tangis-tangis perawan lincah
Anak-anak ingin lebaran
Ini kisah diri yang paling perih
Juga kisah insan sebahagian
Menjelang Idul Fitri harus antri pikiran
Dan yang menyiksa kegembiraan
Kutaraja, 6 Agustus 1967
*) seperti perhiasan
Puisi Alam | Kumpulan Puisi Tentang Alam
Puisi Alam atau puisi tentang Alam, ini diambil dari judul-judul puisi yang berhubungan dengan puisi bertema Alam. Masih banyak puisi-puisi lainnya di Blog ini yang bertemakan Puisi tentang alam. Sahabat bisa mencari di kategori Judul/Tema Puisi. Berikut ini adalah beberapa puisi yang bertemakan alam, antara lain. Cikuray, Mount Rhapsodia, Angin Laut, Laut, Laut Yang Ramai dan Pemandangan di Que-Lin.CIKURAY, MOUNT RHAPSODIAJun NizamiMelewati dadamu, jalan setapak penuh debu. puncak bayangan, dan hutan-hutan yang kupuja menjelma rahasia-rahasia suram. Tiada mata air, meski dingin terus mengalir, ke jantungku.Sampai di puncakmu, kabut terurai. Edelweis barangkali penawar, bagi sehimpun kelelahan. Dan kepuasan pendaki, barangkali tersimpan, pada sunrise atau sekerat bulan yang manis.Sampai di puncakmu, cikuray, aku yang gelisah tak henti membaca bintang untuk menentu arah. Sebab jurang-jurang terus menganga, seperti dari dunia dalam hidup yang terluka. Di mana cinta menjelma satu-satunya pelita, juga unggun, atau perapian-perapian yang menyakitkan bagi seseorang dalam kembara.Cikuray, kediaman di atas awan. Nestapa terbuka, dan bumi seolah-olah tenggelam. Lantas aku, merasa menjadi seorang penumpang:dari kapal nuh yang diturunkandan ditugaskandan dibangunkan,untuk membangun sebuah peradaban.2011http://www.kabar-priangan.com/news/detail/1255ANGIN LAUTKuntowijoyoPerahu yang membawamutelah kembalientah ke manaangin laut mendorongnya ke ujung duniaEngkau tidak mengerti jugaDuduklahOmbak yang selalupulang dan pergi.Seperti engkaumereka berdiri di pantaimenantikanbarangkaliseseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.LAUTKuntowijoyoSiapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.Tidak. Di pagi hari kautemukan bahwa engkaudi sini. Segar bugar. Kita punya tangandari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadipemenang. Dan engkau berjalan ke sana.Menerjang ombak yang memukul dadamu.Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.Sang kerdil yang berdiri di atas buih ituadalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu.Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kitayang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.Sebentar kemudian, sebuah deburgelombang yang jauh menghiburmu.Saksikanlah.Tidak ada batasnya bukan?LAUT YANG RAMAIAyi JufridarLaut mendadak ramaideburan ombak terseret anginke tengah samudera itusedang di bibir pantaiorang saja menari-nariLaut mengundang sehamparan gunung samuderadatanglah dari penjuru segalamelihat kami menarimenjelang akhir sodorkan airketika tubuh bermandi peluhtapi jangan suguhkan seudati*)sebab ia sudah matiDatang,datanglah dari penjuru segalaramaikan laut kami yang sepidengan lagumu yang sarat cintaLhokseumawe, Juni 2005*) nama tarian terkenal AcehPEMANDANGAN DI QUE-LINHusseyn Umargunung-gunung dan bukit-bukit hitamtinggi dan tajammenjulang menusuk-nusuk awanair sungai Li berkelok-kelokbermain-main di celah kaki-kakinyabilakah sebenarnyadewa-dewa telah turun dari langitsempat-sempatnya membuatpahatan alam yang begini cantik!1994Tag : Puisi Sunda Tentang Alam

