UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Arsyad Indradi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsyad Indradi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

Puisi Banjarmasin | Apa Nang Ikam Ungutakan Norsitah

Apa Nang Ikam Ungutakan Norsitah
Arsyad Indradi

Bakajutan hujan mandasau
jalanan takulipik atap rumah maingui
ari hilang latat
Danau Kota pantar kahilangan sumangat
Ikam pina kada tahutahu bacugutan di muhara
kaca lalungkang nang sabujurnya sudah
mangabur kana tampias
Apa nang ikam ungutakan Norsitah
Haratan hujan bamula taduh
Norsitah kadada lagi di situ
nang ada guratan jari di kaca :
Hujan dalam ragabadanku talanjur purun
manyapu ngaran nang ikan tulis
di hatiku dahulu hurufhurufnya nang suah
kuhapal bujur malahan tahija dalam igauanku

Danau Kota balangsar balajar mahija
humbayang diriku nang sasain jua mangabur

Kualalumpur, 2004

Puisi Banjar | Mambangkit Batang Tarandam

Mambangkit Batang Tarandam
Arsyad Indradi

Tarandam batang tarandam
Timbul tinggalam diarus banyu
Hilang jua di mata
Hilang jua di hati
Ingat kada jua diingat

Tarandam lawas tarandam
Tarandam lawas diarus banyu
Bangkitakanlah jua batang tarandam lawas
Pusaka paninggalan urang bahari

Mambangkit batang tarandam lawas tarandam
Pusaka bahari nang lawar pang tarandam
Tabangkit jua batang tarandam tabangkit
Barakat kita gawi sabumi

bbaru, 93

** Telah dinotasi menjadi lagu banjar
dimuat di Dendang Banua B.Post ‘93

Puisi Urang Banjar | Ngaran Tapuji

Ngaran Tapuji
Arsyad Indradi

Harum satanggi pudak malati barenteng di galungdua
Bagalang amas bakalung amas basusun batantangtiga
Barupa bungas baharta banyak apalah artinya
Apalah artinya lamunlah adat budi bahasa
kada dipakai kada dijaga
Banyak urang baparigal banyak batanam nyiur
Padahal handayangnya gugur mamparapas

Si Itai mangalangkang mananawaakan paninian
sawaktu sidin mamadahi jangan duduk dimuharalawang
wayah sanja kaina ngalih balaki
Tanda akhir zaman kalu
Banyak papadah urang tuha nang bangaran pamali
dianggap tahayul
Bujur jua banyu gugur ka daun kaladi
Baiingat lawan diri
Hidup di dunia ngaran tapuji
tabawa jua sampai kamati

bbaru, 93

** Telah dinotasi menjadi lagu banjar
dimuat di Dendang Banua B.Post ‘93

Minggu, 20 Maret 2011

Puisi Bertema Jatuh Cinta | Cinta Pertama

Jatuh Cinta (Cinta Pertama )
Arsyad Indradi

Jantungku selalu berdebar setiap ada ketukan
Lalu bergegas membuka pintu
Atau menyingkap gorden jendela dengan jemari bergetar
lalu melongok perlahan, duhai
Tidak seperti biasanya, berlamalama berdandan
dan tersenyumsenyum sendiri di muka cermin
Terkadang menangis tanpa sebab
menelungkupkan wajah di bantal, duhai
Atau bersenandung di kamar mandi
Suatu kali aku cemas mengharapkan ia kembali
setelah kuusir dari hadapanku
Ah hatiku berbungabunga jika ia kembali
Entah apa aku selalu ingin menang sendiri
Aku sekarang rajin menata ruang tamu
dan menatah bunga di vas sambil tersenyum
Tingkahku wahai tak luput dari perhatian ibuku :
Gadisku, kenalkan siapa gerangan jejaka itu
Aku malumalu, tapi ibuku sudah tahu jawabku.
Ia bernada enteng tapi sungguhsungguh :
Cinta banyak membawa perubahan sikap seseorang
Pesanku bijaklah terhadap cemburu dan rindu
Sebab ia terkadang membuat hati kita menjadi aneh
Mataku berkacakaca dalam pelukan ibu


Banjarbaru,2002

Kamis, 03 Maret 2011

Puisi Aku Tenggelam Dalam Cintamu

Aku Tenggelam Dalam Cintamu
Arsyad Indradi

Duhai jangan kau sembunyikan rembulan
sehingga mataku serba kelam
Aku akan berlari ke telaga hatimu
Biarkan aku menceburkan diri
Biar hanyut dan tenggelam biarkan
Kau kan melihat tibatiba menjerit
dan mencemaskan diriku
Wahai jangan kau selamatkan aku, kekasih
Biarkan aku tenggelam sampai ke dasar cintamu
Dan terdampar di taman bunga hatimu
Akan kupetik sekuntum saja ya sekuntum saja
Bunga kasihmu
Pengobat rintihan malammalam sepiku


Banjarbaru,2003

Puisi Tangis Sekuntum Bunga | Arsyad Indradi

Tangis Sekuntum Bunga
Arsyad Indradi

Akulah paling bahagia punya rupa yang elok dan aroma wangi
Beribu ungkapan dan pelambang puja dan puji tentang diriku
Hidupku di tamantaman di potpot mau pun di jambangan berukiran indah
Aku selalu di vasvas penghias pesta meriah
Akulah pilihan sebagai ganti diri sebuah hati ketika
jejaka mengutarakan cintanya kepada sang kekasih
Dan akulah suntingan rambut si jelita ketika
menuju pelaminan dan pengharum ranjang pengantin
Ah rasanya kehabisan bahasa aku mengutarakannya


Tetapi setelah tahu risalahku
Duhai ternyata akulah paling malang di dunia ini
Menjadikan aku murung dan menangis
Menyadari keadanku ketika layu
Satupersatu tubuhku rontok
Dan berserakan di bumi lalu membusuk
Tak ada lagi yang mau peduli
Ternyata aku lebih buruk dari pada sampah


Wahai maafkan aku, Kekasih


Banjarbaru, 2002

Puisi Rindu Dendam | Arsyad Indradi

Rindu Dendam
Arsyad Indradi

Wahai rindu tunjukkan di mana rahasiamu
Cinta menjadikan aku pejalan jauh
Beri aku pengobat dukalaraku
Perihperi membuat aku dendam


Wahai lunaskan aku dari pasungan dendamku
Agar aku dapat masuk ke dalam misterimu
Mengajalkan cinta bukanlah hakikat kebenaran
Sebab aku tidak akan mencemaskan diriku sendiri


Aku tidak akan pernah mencemaskan diriku
Mengeringkan sejumlah gelas anggur
Sebab hakikat rindu adalah inti dari cinta
Yang lahir dari getar jiwa


Banjarbaru,1998

Selasa, 22 Februari 2011

Gurindam Buat Sang Kekasih

Gurindam Buat Sang Kekasih
Arsyad Indradi

Aku adalah bahtera
Maka kau beri aku laut

Kau adalah pantai
Maka kuberi kau ombak

Aku adalah nakhoda
Maka kau beri aku kemudi

Kau adalah dermaga
Maka kuberi kau sauh

Tapi jika bahtera merapat ke dermaga
Pintaku jangan kau ajalkan rinduku


Banjarbaru,1981

Edisi 14-20
Kumpulan Puisi Romansa Setangkai Bunga

Inkarnasi Buat Sang Kekasih

Inkarnasi Buat Sang Kekasih
Arsyad Indradi

Dirakit tujuh batang pisang tujuh tiang tebu merah
Berlangitlangit kain kuning di ruh sungai mengalir
Lengkaplah sudah tapaku tujuh purnama
Dan dalam janji wangsit
Telah kutambatkan di ulak banyumu
Maka berbuihlah hai buih
Cahaya bulan pengiring setanggi


Tujuh kuntum nagasari di taman sukma sejati
Kupetik atas nama tutus candi
Maka berujudlah hai Putri Buih anak babangsa


Di kukus dupa bersemayam hati yang rindang
Akulah bujang pilihan titis ruh Sukmaraga dan
Patmaraga
Yang bangkit dari Lubuk Badangsanak
Dalam lemakmanis minyaklikatbaburih
Mari kekasih kita turaikan segala rindu


Banjarbaru,1979


Putri Buih ( Putri Junjung Buih ), Sukmaraga dan
Patmaraga dalam cerita kisah Kasih Legenda rakyat
Banjar ( Kalsel ).

Edisi 14-20
Kumpulan Puisi Romansa Setangkai Bunga

Jumat, 18 Februari 2011

Nyanyian Seribu Burung | Puisi Bertema Alam Lingkungan

Nyanyian Seribu Burung
Arsyad Indradi

Dalam padang rimba dunia
Di atas pohon bercabang lima
Ada nyanyian seribu burung
Lagu leluhur mengembang

Indahnya bumiku hijau
Meluncur keretapagi di atasnya
Putihnya putihmuda
Kami terbang di dalamnya

Adakah tetap saja jalannya kereta ini
Adakah tetap saja terbang kami bebas
Kami lihat kami lihat
Musim panas mengombak
Musim hujan mengepak

Mengapa engkau diam
Kubur saja mereka di sini
Di atas tumpukan kenangan
Sebelum petang tiba

Dalam padang rimba dunia
Di atas pohon bercabang lima
Ada nyanyian seribu burung
Ada bayi mati lemas dalam jantung

Banjarmasin, 1972

Kendati Hujan Gerimis | Puisi Hujan Gerimis

Kendati Hujan Gerimis
Arsyad Indradi

: r.sehan.w

kendati hujan gerimis
membenahi senja
kau masih juga memandang
lewat kaca jendela
mengeja bayangbayang

tapi tahukah kau
bahwa sungai telah merisalahkan
rumahrumah lanting
dalam sempurnanya senja
sebab gerimis mengekalkan
luruhnya cakrawala
pada sebuah pandang mata

maka tutuplah jendela
sungai dalam dirimu
akan mulai pasangpindua

Banjarmasin, 1972

Sabtu, 12 Februari 2011

Puisi Persahabatan | Mata Hati

Mata Hati
Arsyad Indradi

Apa yang kau harapkan pada kasatmatamu dalam gelap
selain merabaraba atau menghentikan langkahmu

Suatu kali aku menjadi tamu pada sahabatku, kuketuk pintu,
kuucapkan salam. " ( Ia membalas dan menyebut namaku ),
masuklah pintu tak berkunci ". Kami berbincangbincang
Aku menjadi tamu lagi, dengan langkah pelan, kuketuk pintu,
aku tak mengucapkan salam. " ( Ia menyebut namaku),
masuklah pintu tak berkunci ". Kami berbincangbincang
seperti biasanya.
Aku bertamu lagi kali ini kakiku tak beralas
sehingga tak bersuara sedikit pun dan sangat pelan pintu kuketuk.
" (Ia menyebut namaku ), masuklah pintu tak berkunci ".
Banyak yang kami percakapkan.
Lama kami tak bertemu, aku kangen padanya.
Ketika sampai di muka beranda belum lagi naik
( pintu tertutup ) dari dalam sudah ada suara : "
( Menyebut namaku ), kemana saja lama tak bertandang,
masuklah dorong saja pintunya ". Subhanallah
Sahabat tunanetraku duduk di ruang tamu siap dua cangkir kopi.

Banjarbaru,1987

Puisi Tentang Sekolah | Bangunan Sekolah

Bangunan Sekolah
Arsyad Indradi

setiap pagi minggu
anakanakku mengajak ke bangunan sekolahnya
yang baru dibangun
dengan sorot matamentari membias wajahwajah
patria
mereka berharap cepat selesai agar dapat belajar
untuk menyongsong masadepan
aku sangat bangga ketika mereka menyatakan
betapa besar cinta mereka terhadap negeri ini
tapi di balik itu aku bagai disayat sembilu
konstruksi bangunan, penyediaan sarana dan prasarana sekolah ini
apakah dapat mewujudkan citacita mereka
karena biaya pendidikan teramat mahal
dan pelaku pendidikan masih mencaricari sistem
anakanakku masih menatap bangunan sekolahnya
dengan matamentari dan wajahwajahpatria

banjarbaru,1979

Senin, 07 Februari 2011

Baturai Pantun | Pantun Bahasa Banjar

Baturai Pantun
Arsyad Indradi

Cuka laang di dalam cupak
Kulang kaling buah timbatu
Takurasam kurihing simpak
Handak bujang tapilih balu

Mun malala santan Birayang
Nyiur gading nyiur tundunan
Mun talihat si ading bujang
Liur baik liur baungan

Kaluang guring bagantung
Bagantung di puhun kupang
Mun nasib kada bauntung
Di tangan diambil urang

Banjarbaru, ‘93

Minggu, 06 Februari 2011

Seorang Gadis Di Muka Jendela | Arsyad Indradi

Seorang Gadis Di Muka Jendela
Arsyad Indradi

Wahai bagaimana aku bisa lari dari diriku sendiri
Airmataku tak keringkering menetesi rinduku
Jangan kau tipu lagi aku wahai langit khayalku
Kemana kau sembunyikan bulan dan bintang
Menjadikan hatiku lumpuh di padamnya malam
Kau mengusik pembaringanku tak hentihenti
Aku begitu tergesagesa berdandan menuju tidur
Wahai dusta mimpiku
Datang, o datanglah yang bersemayam di balik fajar
yang menjadikan aku merindu
Aku cemburu pada kicau burungburung
dalam pelukan cahya surya
Aku iri pada bungabunga bermandikan embun
O datang, datanglah padaku
Aku tak mampu lari dari diriku sendiri
Wahai


Banjarbaru,2001

Musafir Rindu | biarkan aku gila dalam cintamu

Musafir Rindu
Arsyad Indradi

Banyak orang mengira aku ini gila
Menertawai dan mencemoohku
Karena mereka tidak pernah menyelami risalahku
Wahai andai mereka tahu pasti mereka
Akan berdesakan ke pantai di mana kaki mereka
di pasir dengan mesra diciumi alunan ombak
takjub menyaksikan fenomena lautku
Dan mereka mengagumi karangku ketika dilanda ganasnya gelombang
Atau bersama camar bernyanyinyanyi di lubuk hatiku
Atau mereka akan menangisi dirinya sendiri karena
dahaga di gurungurun tandusku
Atau mereka tersedusedu ketinggalan kompas
ketika tersesat di rimbarimbamimpiku
Atau mereka menyesali diri tak mampu menyelamatkan
dirinya sendiri ketika terjatuh ke jurang hatiku
Ah tak habis risalahku ini kuutarakan walau matahari diurungkan ke barat
Tapi wahai andai pun aku ini gila
Pintaku biarkan aku gila dalam cintamu

Banjarbaru,2002

Puisi Bahasa Banjar | Kisah Satangkai Kambang

Kisah Satangkai Kambang
Arsyad Indradi

Sampurnaakan ingui satangkai kambang
Supaya mimpi daham galisah
Wayah baisukan dibasuh tangisan kacil
Tapi aku kada handak siapa haja
Maaur hujung kalupaknya
Sabab satiap titik ambun
Adalah suara rintihan riwayat
karinduan

Kada parlu jambangan
Sabab akulah jambangan satiap rintihan
Tuhan kutaruh kayakinan
Jangan angkau sambunyi di balik anganangan

Banjarbaru, 2001

Romansa Setangkai Bunga | Arsyad Indradi

Romansa Setangkai Bunga
Arsyad Indradi

Sempurnakan jerit setangkai bunga
Agar mimpi jangan gelisah
Waktu pagi dibasuh tangisan kecil
Tapi aku tak ingin siapa pun
Mengusik ujung kelopaknya
Sebab setiap tetes embun
Adalah suara rintihan riwayat
Kerinduan

Tak perlu jambangan
Sebab akulah jambangan setiap rintihan
Tuhan kutaruh keyakinan
Jangan kau sembunyi di balik angan-angan


Banjarbaru, 2001

Sabtu, 29 Januari 2011

Biografi Arsyad Indradi


Biografi Arsyad Indradi

Lahir di Barabai, 31 Desember 1949.
Menyenangi sastra khususnya puisi sejak duduk di SMP dan SMA. Pada tahun 1970 ketika menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin mulai menulis puisi. Puisi-puisinya banyak diterbitkan di berbagai media cetak di Banjarmasin seperti Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Gawi Manuntung , Bandarmasih dan lain-lain.

Sejak di SMA dan di Fakultas Hukum ikut bergabung di Lesbumi Banjarmasin dan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Tahun 1972 keluar dari Lesbumi dan mengaktifkan diri di Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Tahun 1972 bersama Bachtiar Sanderta,Ajamuddin Tifani, Abdullah SP dan lain - lain ( mantan anggota Lesbumi ) mendirikan Teater Banjarmasin khusus menggeluti teater tradisional Mamanda.

Tanggal 5 Juli 1972 Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni RRI Banjarmasin mengadakan diskusi puisi dipimpin oleh Bachtiar Sanderta. Puisi yang didiskusikan adalah " Dunia" karya Arsyad Indradi. Yang hadir dalam diskusi itu antara lain Yustan Azidin, Hijaz Yamani, Ajim Ariyadi, Samsul Suhud, Ajamuddin Tifani dan penyair muda Banjarmasin lainnya. Berita diskusi diexpos oleh Lembaran Kebudayaan Perspektif Banjarmasin Post tanggal 17 April 1972.

Sejak tahun 1970 - 1990 tergabung di Perpekindo ( Perintis Peradaban dan Kebudayaan ) Kalimantan Selatan yang berkedudukam di Banjarmasin.

Tanggal 8 - 9 Februari 1972, bersama 15 seniman Banjarmasin mengadakan Aksi Solidaritas turun ke jalan menyuarakan hatinurani karena ketidak pastian hukum di Indonesia, dikenakan pasal 510 KUHP, dijebloskan ke penjara dan dikenakan tahanan luar 3 bulan. Laksus Kopkamtibda Kalimantan Selatan melarang pemeberitaan ini di semua media cetak Banjarmasin. Namun Harian KAMI Jakarta mengexpos berita ini Selasa 15 Februari 1972.

Tahun 1992 menggagas dan mendirikan Dewan Kesenian Banjarbaru bersama seniman - seniman Banjarbaru.

Sejak 1980 an - 1990 an tidak begitu produktif lagi menulis puisi. Aktif menjadi juri lomba baca puisi, juri festival lagu dan menggeluti dunia tari di Balahindang Dance Group Banjarbaru. Pada tahun 2000 mendirikan Galuh Marikit Dance Group Banjarbaru. Tahun 2004 diundang Majelis Bandaraya Melaka Bersejarah pada acara Pesta Rampak Gendang Nusantara 7 Malaysia, Pesta Gendang Nusantara XII,2009 . Mendapat Penghargaan Seni Tari dari Walikota Banjarbaru (2004), Penghargaan Seni Sastra dari Walikota Banjarbaru dan Gubernur prov.Kalsel (2010).

Tahun 1996 - 2004 bergabung pada Komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru. Tahun 2004 mendirikan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ( KSSB ), sebagai ketua.

Selalu aktif menghadiri acara diskusi sastra di Banjarbaru maupun di Banjarmasin, acara tadarus puisi yang rutin tiap tahun di adakan di Banjarbaru, Aruh sastra 1 di Kandangan ( 2004 ), aruh sastra III di Kotabaru (2006), aruh sastra V di Paringin Balangan (2008), dan aruh sastra VI di Marabahan Barito Kuala (2009).

Dalam catatan Data-data Kesenian Daerah Kalimantan Selatan yang diterbitkan Proyek Pengembangan Kesenian Kalimantan Selatan 1975/1976 digolongkan Penyair/Sastrawan dalam priode menjelang/sesudah tahun 70-an. Di dalam Sketsa sastrawan Kalimantan Selatan yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa Balai Bahasa Banjarmasin 2001, oleh Jarkasi dan Tajuddin Nooor Ganie (Tim Penyusun) digolongkan Sastrawan generasi penerus Zaman Orde Baru (1970-1979). Dan termuat dalam dalam Leksikon Susastra Indonesia (LSI) yang disusun oleh Korrie Layun Rampan Penerbit PT Balai Pustaka Jakarta.

Antologi Puisi bersama antara lain :

Jejak Berlari ( Sanggar Budaya, 1970 ), Edisi Puisi Bandarmasih, 1972, Panorana ( Bandarmasih, 1972), Tamu Malam ( Dewan Kesenian Kalsel, 1992), Jendela Tanah Air ( Taman Budaya /DK Kalsel, 1995), Rumah Hutan Pinus ( Kilang Sastra, 1996), Gerbang Pemukiman ( Kilang Sastra, 1997 ), Bentang Bianglala ( Kilang Sastra, 1998), Cakrawala ( Kilang Sastra, 2000 ), Bahana ( Kilang Sastra, 2001 ), Tiga Kutub Senja ( Kilang Sastra, 2001 ), Bumi Ditelan Kutu ( Kilang Sastra, 2004 ), Baturai Sanja ( Kilang Sastra, 2004 ), Anak Jaman ( KSSB, 2004 ), Dimensi ( KSSB, 2005 ).

Awal tahun 2006 mendirikan percetakan KALALATU Press Banjarbaru Kalimantan Selatan dan penerbitan.
Semua puisi - puisi yang belum terdokumentasikan sejak tahun 1970 - 2006, dicetak dan diterbitkan berupa antologi tunggal secara swadana dan disebarluaskan ke seluruh Nusantara.

Antologi Puisi sendiri itu , yaitu :

Nyanyian Seribu Burung ( KSSB, 2006 ), Kalalatu Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan dlm.Bhs.Indonesia ( KSSB, 2006 ), Romansa Setangkai Bunga ( KSSB, 2006 ), Narasi Musafir Gila ( KSSB, 2006 ), Burinik Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bhs.Indonesia (KSSB.2009) dan Kumpulan Esai-Artikel " Risalah Penyair Gila " (KSSB,2009).

Semua antologi Puisi yang diterbitkan itu telah ber-ISBN dari Perpustakaan Nasional RI Jakarta.
Empat Antologi Puisi mendapat tanggapan berupa esai, dari :

1. Dr. Sudaryono M.Pd ( Staf Pengajar FKIP Universitas Jambi ) " Narasi Penyair Gila " Arsyad Indradi, terbit di Cakrawala Seni dan Budaya Radar Banjarmasin, minggu 28 Januari 2007.

2. Dr. Sudaryono M.Pd ( Staf Pengajar FKIP Universitas Jambi )
" Kalalatu " Balada atau Mantra ? terbit di Cakrawala Seni dan Budaya RadarBanjarmasin, Minggu 25 Februari 2007.

3. Diah Hadaning ( Pengelola Warung Sastra DIHA, Depok Bogor ) " Setangkai Bunga dalam Seribu Aroma Ekspresi Cinta Lelaki Banjar ", terbit di Cakrawala Seni dan Budaya Radar Banjarmasin, Minggu18 Maret 2007.

4. Yusri Fajar ( Penyair dan Staf Pengajar Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya Malang ) " Nyanyian Seribu Burung : Dari Relasi Manusia Hingga Narasi Indonesia ", terbit di Cakrawala Seni dan Budaya Radar Banjarmasin, Minggu 29 April 2007.

Dari bulan Oktober 2005 sampai akhir tahun 2005 menghimpun 142 Penyair se Nusantara ( hasil Seleksi dari 186 penyair ) dan jumlah puisi 426 puisi, dihimpun dalam Antologi Puisi Penyair Nusantara : " 142 Penyair Menuju Bulan ", 728 halaman, dicetak oleh Kalaltu Press Bjb Kalimantan Selatan dan diterbitkan oleh Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ( KSSB ) dengan biaya swadana, untuk cetakan pertama.

Pada cetakan kedua akhir tahun 2007, ada perbaikan dan suplemen berupa epilog - epilog, juga dengan swadana.

Tanggal 7 Desember 2006 duet baca puisi dengan Martin Jankowski pada acara Baca dan Diskusi Puisi "Detik - Detik Indonesia di Mata Penyair Jerman ", yang diselemggarakan Unlam Banjarmasin Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP Indonesian Arts and Cultural.

Tanggal 8 - 9 Mei 2006 silaturrahmi, baca dan diskusi puisi di Komunitas ASAS Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Komunitas Sastra Ganesa ITB, Komunitas Sastra Pojok Bandung dan Komunitas Rumah Sastra Bandung.

Tanggal 17 - 19 Juli 2007 baca puisi dan mengikuti seminar sastra internasional di TIM Jakarta. Pada tahun 2007 mengikuti Kongres Cerpen Indonesia V di Banjarmasin dan th. 2008 mengikuti Kongres Sastra Indonesia di Kudus (Jateng).

Hari/Tanggal : Senin, 13 Agustus 2007 pembacaan puisi " Riverside Poetry " di Tepi Sungai Martapura depan Kantor Gubernur Kalsel menyambut harijadi yang ke-57 Provensi Kalimantan Selatan dan HUT Proklamasi yang ke-62 yang diselenggarakan oleh Panitia harijadi/HUT Proklamasi dan Dewan Kesenian Kalsel.

Th.2009 menerima penghargaan dan hadiah Umroh juara Terbaik Pengawas Pendidikan Mata Pelajaran Seni Budaya SMP/SMA/SMK ,dari Bupati Kabupaten Banjar.