Sajak Buruh
Faisal Muchtar Al Khaufi
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
anak – anak negeri berjalan pergi
menyisir waktu dan ruang
tubuhnya di beli hatinya terkunci
oleh singa-singa industri
seperti melacur….
seperti robot-robot bernyawa…
darahnya mengental keringat mengkristal
dalam panas yang menggumpal
deru mesin-mesin pecahkan telinga
bersama lapar yang menganga
memuja tembaga….
memuja mesin-mesin…..
seperti berhala….
kemanakah nasib buruh negeri ini
kalau upahnya dikebiri
kemanakah nasib buruh negeri ini
kalau hak-haknya dicuri
buruh…bersatulah
Karawang, 2008
Tampilkan postingan dengan label Faisal Muchtar Al Khaufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faisal Muchtar Al Khaufi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Juni 2010
Puisi Tentang Buruh | Sajak Buruh
Puisi Terang Bulan | Puisi Bertema Terang Bulan
Terang Bulan
Faisal Muhctar Al Khaufi
sesungguhnya lelaki itu berjalan antara pekatnya dupa, malam kian ramah
kerigatnya didinginkan angin lalu duduk menghitung sisa – sisa harapan
lantas bercumbu dengan nikotin karena tak ada lagi anggur yang bisa
menghangatkan dada
ajaib, ia pun berdiri “terima kasih tuhan” parau suaranya bergema antara
kesunyian dan lelapnya mimpi, di bawah lampu jalan yang setia, seperti
puisi yang ditukil dari kitab – kitab getir
aku menyaksikannya berasama salak anjing dan ringkik tawa parfum
kupu – kupu malam di sebrang jalan yang tak pernah mau jujur pada kenyataan
Karawang 2005
Temaram di Karawang
Temaram di Karawang
Faisal Muhctar Al Khaufi
selalu
ketika mega tenggelam kupaparkan segala keluhan
walau hanya sisa – sisa cahayanya saja
yang dapat kuajak bicara lalu hilag entah kemana
selalu
alunan adzan berdendang meski samar terdengar
di hati nanar, aku tetap menghampiri cahaya
selalu
dingin yang semakin runcing menyayat hari – hariku
dengan ribuan penat dibenak yang beranak pinak
selalu
meski ribuan tanya yang kubawa setelah sekian lama
aku mengembara di bumi yang sakit jiwa
mencari duniaku yang hilang, begitupun Tuhan
Karawang 2005
Faisal Muhctar Al Khaufi
selalu
ketika mega tenggelam kupaparkan segala keluhan
walau hanya sisa – sisa cahayanya saja
yang dapat kuajak bicara lalu hilag entah kemana
selalu
alunan adzan berdendang meski samar terdengar
di hati nanar, aku tetap menghampiri cahaya
selalu
dingin yang semakin runcing menyayat hari – hariku
dengan ribuan penat dibenak yang beranak pinak
selalu
meski ribuan tanya yang kubawa setelah sekian lama
aku mengembara di bumi yang sakit jiwa
mencari duniaku yang hilang, begitupun Tuhan
Karawang 2005
Syair Kepedihan | Faisal Muhctar Al Khaufi
Syair Kepedihan
Faisal Muhctar Al Khaufi
hasniah, ijinkan aku menutup rapat-rapat
buku harian ini dan mencoba melupakan kutukan
pada mantra garis tangan karena sebuah kata-kata
yang diiringi lapar dan memar telah memaksa aku
mencintai bisingnya suara mesin-mesin
bahkan aku tak pernah melihat matahari dan menghirup
wewangian musim, tak ada lagi bunga – bunga yang dapat
aku jadikan kata, tak ada lagi hujan yang dapat aku tafsirkan
pagi, siang, sore dan malam hanyalah hamparan lautan keringat
sungguh percikan bunga – bunga api dan kerasnya suara rimmer
pelan – pelan mengikis mata hati ini, betapa pedihya saban hari
mencintai sepatu boot, seragam, masker dan sarung tangan juga
memberi salam pada mata – mata sipit adalah keharusan
namun, jauh di dalam batin ini aku sudah menata rumah paling indah
untuk kita berdua.
Karawang 2005
Faisal Muhctar Al Khaufi
hasniah, ijinkan aku menutup rapat-rapat
buku harian ini dan mencoba melupakan kutukan
pada mantra garis tangan karena sebuah kata-kata
yang diiringi lapar dan memar telah memaksa aku
mencintai bisingnya suara mesin-mesin
bahkan aku tak pernah melihat matahari dan menghirup
wewangian musim, tak ada lagi bunga – bunga yang dapat
aku jadikan kata, tak ada lagi hujan yang dapat aku tafsirkan
pagi, siang, sore dan malam hanyalah hamparan lautan keringat
sungguh percikan bunga – bunga api dan kerasnya suara rimmer
pelan – pelan mengikis mata hati ini, betapa pedihya saban hari
mencintai sepatu boot, seragam, masker dan sarung tangan juga
memberi salam pada mata – mata sipit adalah keharusan
namun, jauh di dalam batin ini aku sudah menata rumah paling indah
untuk kita berdua.
Karawang 2005
Setelah Merenungi Kota
Setelah Merenungi Kota
Faisal Muhctar Al Khaufi
Sebuah perjalanan panjang
nadiku mengutuk setiap kata dan peristiwa
dalam kota yang kehilangan air mata
sebab Tuhan dan Dewa adalah pasangan
lesbian yang lucu pada setiap gedung – gedung
dalam kemandulan imaji para satria rela telanjang
demi pangkat dan kedudukan
hei arjuna ! matamu merah setelah menenggak darah
keringatmu bau sampah tubuhmu kekuning kuningan
ke ladang yang kering kerontang rumput-rumput
teraniaya langit, padi-padi terpaksa menguning tanpa isi
para petani mencangkul sawah dengan leher tergrok harga pupuk
daun-daun pucat penuh debu dan angin berhembus malu-malu
ternyata kemerdekaan hanya milik singa-singa industri
dan sejumlah orang-orang bertahta
memasuki lorong-lorong yang sempit para ibu
menyusui anaknya dengan puting yang berdarah
para bapak mengunyah aspal sambil menggaruk muka
dengan pecahan kaca seketika tikus-tikus mati besama
bau borok yang menyengat
di masjid besar anak-anak berlarian mencari tuhan
yang di sembunyikan tiang-tiang, azan dikumandangkan
dalam speaker yang batuk semntara sepatu dan sandal dicuri
malaikat maut yang miskin
pada pasar-pasar yang tak pernah tidur
ikan asin berbaris sambil menyumpahi iblis
sayur-sayur diikat kebohongan para pedagang
lalu tetesan keringat kuli panggul mengkristal
bersama bau pekat mentimun dan tomat busuk
Tuhan, selamatkanlah kotaku
Karawang 2007
Sebuah Keharusan | Faisal Muhctar Al Khaufi
Sebuah Keharusan
Faisal Muhctar Al Khaufi
kembali aku membaca buku yang halamannya berkisah
tentang keluhan para dewa – dewa penyair yang menenun kata-kata
kertas-kertas gelisah huruf-huruf bertuah membakar sejarah
antara kerumpilan kehidupan
kembali aku membaca diri, seribu kecewa berpusara di dada
bercengkrama dengan perih di bahu kananku, semestinya
kubalut luka ini dengan kain yang merindukan anyir darah
darah perawan yang hidup ditahun tujuh puluhan
kembali aku membaca kota, panorama memaksa sebuah belati untuk menghujam
ribuan sepanduk dan retorika buah dari manusia yang gemar berepolitisi
adalah sebuah paksaan ketika aku harus berlari menju puncak gunung
memikul senjata dan ribuan amunisi lalu menembaki langit, bulan,
bintang dan matahari
Karawang 2005
Faisal Muhctar Al Khaufi
kembali aku membaca buku yang halamannya berkisah
tentang keluhan para dewa – dewa penyair yang menenun kata-kata
kertas-kertas gelisah huruf-huruf bertuah membakar sejarah
antara kerumpilan kehidupan
kembali aku membaca diri, seribu kecewa berpusara di dada
bercengkrama dengan perih di bahu kananku, semestinya
kubalut luka ini dengan kain yang merindukan anyir darah
darah perawan yang hidup ditahun tujuh puluhan
kembali aku membaca kota, panorama memaksa sebuah belati untuk menghujam
ribuan sepanduk dan retorika buah dari manusia yang gemar berepolitisi
adalah sebuah paksaan ketika aku harus berlari menju puncak gunung
memikul senjata dan ribuan amunisi lalu menembaki langit, bulan,
bintang dan matahari
Karawang 2005
SARASKU | Faisal Muhctar Al Khaufi
SARASKU
Faisal Muhctar Al Khaufi
di matamu aku temukan puisi yang mengalir tak henti-henti
seperti telaga yang menyimpan mitos-mitos aneh yang lampau
di atas tikar ini aku meminjam keramat rimbun pohon kersen
dan bahasa riang burung-burung selagi malaikat senja menaburkan
serbuk asihan dan kasmaran yang digunakan sulaiman
mendekatlah sasasku dan pahamilah aku sebagai seniman kolokan
sebab meminangmu dengan sebotol air mineral dan shalat ashar
adalah parodi paling lucu sepanjang sore ini dan biarkan orang-orang
berjingkrak-jingkrakan sambil muntah-muntah menertawakan
peraduan kita, katakan kau takan pernah tidur sepanjang sore ini
daun-daun saling melempar cerita dan di selipkan di pelepah pohon
ranting-ranting menyalurkan bait-bait cinta yang di serap akar kerinduan
alismu sarasku menepis kalimat-kalimat yang mengalun seperti suara
biola tua
inilah aku
sepenggal sajak cinta murahan yang berserakan diantara butiran embun
bersama tubuh kikuk yang mematung dihadapanmu yang tampak bingung
lalu keringat dingin, bau rokok, dan selembar daun kering yang kuremukan
seakan mengesahkan bahwa aku tak karuan
karawang 2007
Faisal Muhctar Al Khaufi
di matamu aku temukan puisi yang mengalir tak henti-henti
seperti telaga yang menyimpan mitos-mitos aneh yang lampau
di atas tikar ini aku meminjam keramat rimbun pohon kersen
dan bahasa riang burung-burung selagi malaikat senja menaburkan
serbuk asihan dan kasmaran yang digunakan sulaiman
mendekatlah sasasku dan pahamilah aku sebagai seniman kolokan
sebab meminangmu dengan sebotol air mineral dan shalat ashar
adalah parodi paling lucu sepanjang sore ini dan biarkan orang-orang
berjingkrak-jingkrakan sambil muntah-muntah menertawakan
peraduan kita, katakan kau takan pernah tidur sepanjang sore ini
daun-daun saling melempar cerita dan di selipkan di pelepah pohon
ranting-ranting menyalurkan bait-bait cinta yang di serap akar kerinduan
alismu sarasku menepis kalimat-kalimat yang mengalun seperti suara
biola tua
inilah aku
sepenggal sajak cinta murahan yang berserakan diantara butiran embun
bersama tubuh kikuk yang mematung dihadapanmu yang tampak bingung
lalu keringat dingin, bau rokok, dan selembar daun kering yang kuremukan
seakan mengesahkan bahwa aku tak karuan
karawang 2007
Puisi Renungan Senja | Faisal Muchtar Al Khaufi
Renungan Senja
Faisal Muchtar Al Khaufi
datang dari sebuah bunyi
menuruni tangga – tangga mimpi
lalu datang kata – kata sadar
dari imaji raut wajah kota yang bingung
karang pawitan, tiang bendera yang miring
memaksa merah putih berkibar malu - malu
singaperbangsa, stadion geledeg yang mubajir
setiap pagi orang – orang berdatangan mencari kesegaran
dari udara bercampur busuk di tengah kota yang kikuk
mall besar dibangun bersama kepura - puraan
yang merubah peradaban seraya tuli akan jeritan warung kopi
ayo sarapan pagi di alun – alun bersama orang gila
yang selalu senyum setiap hari, aspal dingin yang retak
simpang siur jalur angkutan umum juga banjir yang setia
di musim hujan membuat benih - benih gelisah
muda mudi mencintai petualangan sementara
pengendara motor tak lagi bertelinga
seniman tradisional hanyalah kenangan
dalam kota yang lupa goyang
oh karawang
Karawang 2007
Reinkarnasi | Faisal Muhctar Al Khaufi
Reinkarnasi
Faisal Muhctar Al Khaufi
seputih bulan
kini aku melarutkan warna – warna kulitku ke cahaya
meraja jua kembali luka – luka yang lama menganga
memfosilkan rindu di puncak gunung hari
lalu bersumpah – sumpah
dari sini dapat ku lihat betapa bodohnya
orang – orang yang pasrah kepada nasib
sedang mereka tak mau merubahnya
atas nama seribu mata air
aku mengembara mencari kembali telagaku yang hilang
walau telapak kaki telah membatu
atas nama lagit seribu warna
aku memutihkan warna – warna ku, meski setiap titian
tangga yang ku daki tadi bersaksi bahwa aku hidup kembali
Karawang 2005
Faisal Muhctar Al Khaufi
seputih bulan
kini aku melarutkan warna – warna kulitku ke cahaya
meraja jua kembali luka – luka yang lama menganga
memfosilkan rindu di puncak gunung hari
lalu bersumpah – sumpah
dari sini dapat ku lihat betapa bodohnya
orang – orang yang pasrah kepada nasib
sedang mereka tak mau merubahnya
atas nama seribu mata air
aku mengembara mencari kembali telagaku yang hilang
walau telapak kaki telah membatu
atas nama lagit seribu warna
aku memutihkan warna – warna ku, meski setiap titian
tangga yang ku daki tadi bersaksi bahwa aku hidup kembali
Karawang 2005
Rengganis | Faisal Muhctar Al Khaufi
Rengganis
Faisal Muhctar Al Khaufi
sungguh, tak mungkin ku dustakan meditasi itu
seperti tidur degan mimpi indah yang panjang
suburkan murung di tubuhku mematung
menjalar hingga ke sum–sum dan balung
tetapi sebenarnya
aku sedag menunggu dibangunkan oleh lagu
yang dimainkan tangan dewi kecapi
yang lentik jarinya mematahkan ranting dan dedaunan
hari ini, kupinang kau rengganis untuk kujadikan mata air sebab hujan
tak mampu lagi membanjiri telaga yang dulu penuh cinta dan biarkan aku
mendayung perahu sambil menjala ikan di telaga itu
kaulah dewi itu, rengganis
segala cinta untukmu
Karawang 2005
Faisal Muhctar Al Khaufi
sungguh, tak mungkin ku dustakan meditasi itu
seperti tidur degan mimpi indah yang panjang
suburkan murung di tubuhku mematung
menjalar hingga ke sum–sum dan balung
tetapi sebenarnya
aku sedag menunggu dibangunkan oleh lagu
yang dimainkan tangan dewi kecapi
yang lentik jarinya mematahkan ranting dan dedaunan
hari ini, kupinang kau rengganis untuk kujadikan mata air sebab hujan
tak mampu lagi membanjiri telaga yang dulu penuh cinta dan biarkan aku
mendayung perahu sambil menjala ikan di telaga itu
kaulah dewi itu, rengganis
segala cinta untukmu
Karawang 2005
PULANG | Faisal Muchtar Al Khaufi
PULANG
Faisal Muchtar Al Khaufi
mungkin, sudah saatnya kita kembali kerumah masing-masing
untuk memahami jiwa yang tak pernah kita temukan sebelumnya
memahami tangis dan gelisah ibu, memahami bahasa diam ayah
juga senda gurau adik dan keponakan kita
ternyata hidup bukanlah pertunjukan semalam suntuk diatas
penggung atau pentas keliling kota, lintas pulau atau keliling dunia
sudah saatnya kita kembali untuk memebenahi kamar yang lama
kita tinggalkan , membenahi foto-foto kertas-kertas usang dan cermin
yang tak henti-hentinya berkata “keparat, kau sakit jiwa!”
perlu sedikit waktu untuk merenungkan perjalanan kita kemarin
merenungkan setiap peristiwa, percakapan, dan tindakan-tindakan
yang kadang tak masuk akal.
dan dirumah masing-masinglah kita akan mendapatkan kesejukan
juga makna dari sebuah pengembaraan, seperti jiwa-jiwa menuju keabadian
ayolah kawan, kembalilah ke rumah masing-masing agar kita sadari
betapa besar arti sebuah kehangatan berkeluarga, ambilah secerik kertas
dan tulisalah puisi sebanyak mungkin sambil menghargai bahasa dan
kesunyian yang memang tak lazim
mungkin, suatu saat nanti akan kita ledakan bom waktu itu besama-sama
Karawang 2008
PERJALANAN TERAKHIR | Faisal Muchtar Al Khaufi
PERJALANAN TERAKHIR
Faisal Muchtar Al Khaufi
akhirnya kepada puisi juga aku kembali
telah ku ungkap rahasia kegelisahan para pecinta ketakjuban
mereka yang mengerti segala isyarat dan hakikat kerinduan
juga pesan dan nasihat para pemuja keindahan
hingga tibalah saatnya waktu yang akan berbicara
akhirnya kepada puisi juga aku kembali
satu panggung dan seribu mata adalah rekayasa
tumpukan naskah telah ku telanjangi
bersama lakon-lakon yang menyesatkan
lampu-lampu yang tak kenal warnanya
musik yang mengalun tak terekendali
juga klimaks dan anding yang tak pernah usai
kini ku tutup rapat-rapat tirai panggung
akhirnya kepada puisi juga aku kembali
Karawang 2008
Perselingkuhan Malam | Faisal Muhctar Al Khaufi
Perselingkuhan Malam
Faisal Muhctar Al Khaufi
bahkan cahaya menghardik matahari
dan menawarkan perselingkuhan dengan malam
malam sepertinya menawarkan pesona di atas pesona
ada bisik yang tak tercatat dalam perjanjian di kemaluan malam
tentang jaman yang meronta ingin dinikahi
cipasung desa kecil itu pada titik sunyi
seorang tua di pojok perapian bersama gumam istrinya
menatap bugil pada langit yang angkuh
gemuruh api menyaksikan peraduan demi peraduan
merampungkan malam yang sempurna ditelan hati
sunyi pun hilang diterpa fajar
cahaya kembali datang mendamaikan
setiap perselingkuhan demi perselingkuhan
Tasikmalaya 2004
Menuju Rumahmu
Menuju Rumahmu
Sarabunis mubarok
Faisal Muchtar Al Khaufi
dalam cuaca buruk
langkah ku meniti setiap tikugan gelisah
kertas-kertas yang ku genggam bergetar
ketika air hujan menyentuh kepala
semantara darahku mengalir keselokan
Bun, menuju rumahmu
aku mengantungi tembakau
yang ku curi dari saku kiyai
seraya meninggalkan kitab-kitab juhud
untuk berguru imaji
sesungguhnya puisi terpanjang
adalah gelap itu saat cahaya lilin
menemani diskusi dan meditasi
dan aku tenggelam, bun
tenggelam bersama racikan
tembakau dan kata-kata
setelah bait-bait kita telanjangi
maka kutuklah aku menjadi penyair
Karawang 2007
Sarabunis mubarok
Faisal Muchtar Al Khaufi
dalam cuaca buruk
langkah ku meniti setiap tikugan gelisah
kertas-kertas yang ku genggam bergetar
ketika air hujan menyentuh kepala
semantara darahku mengalir keselokan
Bun, menuju rumahmu
aku mengantungi tembakau
yang ku curi dari saku kiyai
seraya meninggalkan kitab-kitab juhud
untuk berguru imaji
sesungguhnya puisi terpanjang
adalah gelap itu saat cahaya lilin
menemani diskusi dan meditasi
dan aku tenggelam, bun
tenggelam bersama racikan
tembakau dan kata-kata
setelah bait-bait kita telanjangi
maka kutuklah aku menjadi penyair
Karawang 2007
Ketika Meditasi | Faisal Muhctar Al Khaufi
Ketika Meditasi
Faisal Muhctar Al Khaufi
ternyata hari – hari itu pahit sejak mimpi – mimpi tiada berujung itu
Mengendap di pusara kemaluan hatiku, sedingin kota yang menjelma
Kematian dari ribuan sajak yang terpencil, kini darahku yang sedingin besi
Perang melawan jutaan kekecewaan bersama surat – surat lamaran yang tak
Pernah kunjung kembali.
Kutatar kembali segumpal daging yang ada dalam dadaku, sebab keringat
Ini telah mengering sekering kota yang tak mengijinkan aku memakai baju,
Wajahku semakin jelaga sejak udara dibubuhi mantra buhun para
Penyamun, tetapi masih saja mulut – mulut sesumbar itu meneriakkan yel – yel
Menyakitkan sedang mereka telah berikrar menjadi saudaraku
Inikah realita dari sebuah dongeng yang ditiupkan malaikat ketika aku
Masih semedi di rahim ibu, atau mungkin inikah rahasia buku iliyyin di bahu
Kananku, jika itu benar maka pantaslah sang penyair pernah berkata
“Manusia adalah mahluk yang diciptakan dari separuh dongeng
dan separuh kenyataan”
Akulah orang itu
Karawang 2005
Faisal Muhctar Al Khaufi
ternyata hari – hari itu pahit sejak mimpi – mimpi tiada berujung itu
Mengendap di pusara kemaluan hatiku, sedingin kota yang menjelma
Kematian dari ribuan sajak yang terpencil, kini darahku yang sedingin besi
Perang melawan jutaan kekecewaan bersama surat – surat lamaran yang tak
Pernah kunjung kembali.
Kutatar kembali segumpal daging yang ada dalam dadaku, sebab keringat
Ini telah mengering sekering kota yang tak mengijinkan aku memakai baju,
Wajahku semakin jelaga sejak udara dibubuhi mantra buhun para
Penyamun, tetapi masih saja mulut – mulut sesumbar itu meneriakkan yel – yel
Menyakitkan sedang mereka telah berikrar menjadi saudaraku
Inikah realita dari sebuah dongeng yang ditiupkan malaikat ketika aku
Masih semedi di rahim ibu, atau mungkin inikah rahasia buku iliyyin di bahu
Kananku, jika itu benar maka pantaslah sang penyair pernah berkata
“Manusia adalah mahluk yang diciptakan dari separuh dongeng
dan separuh kenyataan”
Akulah orang itu
Karawang 2005
SEPERTINYA | Faisal Muhctar Al Khaufi
SEPERTINYA
Faisal Muhctar Al Khaufi
sepertinya hujan magrib mewiridkan
kenangan lama yang penuh luka juga nanah
pohon-pohon sunyi hantu-hantu lucu
bercengkrama melalui sel-sel waktu
tepat pada serpihan bintang-bintang
azan menawarkan peraduan
di dasar batin memporak porandakan bisik
dan lagu siul itu bertautan bagai lonceng
masih ada yang menyajikan damai
selesai salam dan doa-doa berterbangan
layaknya kupu-kupu kecil menari-nari
selesai salam dan doa-doa berterbangan
di atas kubah berharap pintu langit terbuka
Karawang 2004
Faisal Muhctar Al Khaufi
sepertinya hujan magrib mewiridkan
kenangan lama yang penuh luka juga nanah
pohon-pohon sunyi hantu-hantu lucu
bercengkrama melalui sel-sel waktu
tepat pada serpihan bintang-bintang
azan menawarkan peraduan
di dasar batin memporak porandakan bisik
dan lagu siul itu bertautan bagai lonceng
masih ada yang menyajikan damai
selesai salam dan doa-doa berterbangan
layaknya kupu-kupu kecil menari-nari
selesai salam dan doa-doa berterbangan
di atas kubah berharap pintu langit terbuka
Karawang 2004
Sajak Tahun Tuhan | Faisal Muhctar Al Khaufi
Sajak Tahun Tuhan
Faisal Muhctar Al Khaufi
tahun-tahun bermunajat
saat doa-doa disepuh alim ulama
melulu batu-batu disepuh ayat suci
dan nafas para sifi mengetuk pintu langit
menguak tabir pada hati yang kecemasan
tahun-tahun menangis
di dasar hati yang terkikis
namun rindu tak terhapus
oleh cinta yang mulai pupus
tahun-tahun menelan dzikir
di sepertiga malam yang getir
dan rindu pun menyauh
di atas sajadah lusuh
orang-orang pun menari layaknya
mulana menari di depan tuhan
aku juga menari
ya disini
di dasar batin ini
Tasikmalaya 2003
Rindu Tasik | Puisi Kerinduan
Rindu Tasik
Faisal Muhctar Al Khaufi
aku merindukan riak air sawah
tajamnya udara gunung
serta cinta yang pernah kutinggalkan
saat-saat dimana kitab-kitab klasik kugauli
memburu paham-paham sufi dan kaidah yang tersirat
dzikir-dzikir sunyi bergema di dalam batin
jiwa yang tenang dalam pelukan Allah
pernah kudapati kebersamaan
bercanda ria berebut kerak nasi
sembunyi-sembunyi membacok ikan ajengan
lalu menikmati jamuan malaikat di atas daun pisang
ternyata kekuatan sebuah hidayah
telah menenggelamkan aku pada samudera ibadah
yang abadi
kini aku pulang cipasung membawa setumpuk nasihat dan amanah
seperti musa yang ditugaskan mengislamkan fir’aun
ke kota yang lupa Tuhan dan daratan
melulu aku perang melawan analogi sufistik yang sinting
paham-paham gila yang dibungkus ormas-ormas sakit
yang keluar dari mulut boneka-boneka sejarah
tapi aku masih tetap berdiri bersama kaidah masa lalu
syair, beri aku kekuatan!
Karawang 2004
Aku Tulis Sajak ini Dengan Air Mata
Aku Tulis Sajak ini Dengan Air Mata
Faisal Muhctar Al Khaufi
mengapa harus rumah itu
kenapa tidak kita saja yang dikorbankan
guci-guci tua, lukisa-lukisan tanpa nama
bantal guling yang bersaksi lahirnya kita
tali pusar yang terbungkus kapas putih
burung nuri yang riang setiap hari
foto-foto masa kecil yang jenaka
tak hanya itu yang kita punya
mengapa harus rumah itu
kenapa tidak kita saja yang dikorbankan
sungai ceotan yang mengalir dengan tenang
gagahnya gunung kapur di depan rumah
masjid tua warisan abah kita
dan taman kanak-kanak tempat kita sekolah dulu
terasa begitu berat meninggalkannya
bisingnya pabrik peleburan kapur
dentuman dinamit pemeceh karang
dan betapa riangnya bermain
di bawah rindang sang pohon jambu
sambil menunggu ayah pulang
semua itu masih melekat dalam ingatanku
wajah desa dipagi hari
betapa sejuknya udara gunung
hangatnya matahari menyentuh kepala
juga langit yang acap kali menaburkan
serbuk hujan adalah nyata
nyata bagi kita
mengapa harus rumah itu
kenapa tidak kita saja yang dikorbankan
duhai Allah yang maha bijaksana
begitu mulia ibu merawat tiga anaknya
hingga saat menjelang tidur pun
ibu menyanyikan lagu syahdu untuk kita
lagu yang membawa kesurga paling indah, milik kita
yang tak pernah terlupakan ketika mata kita terbuka
ibu sudah tiada
rambutnya tertata rapih dengan senyum di bibirnya
bahu yang penuh kehangatan memeluk kita bertiga
sementara matanya tertutup dengan damai
ingatlah sebuah nisan putih
bertuliskan nama yang tak asing
nama yang tak hancur di terpa jaman
meski ada yang menggantikannya
dan itu semua terjadi di rumahku
rumah mu rumah kita.
Karawang 2005
Aku Pun Tak Tahu ( I ) | Faisal Muhctar
Aku Pun Tak Tahu ( I )-Semi ikra anggara
Faisal Muhctar Al Khaufi
aku mabuk kata lalu memuisikan sakit di atas kertas
demi Tuhan para penyair
aku mabuk lagi dan melengkapkan orgasme
bersama kitab-kitab sastra
membentur masa laluku yang agamis
aku memang pengobral janji
tapi aku punya harga diri
kegilaan ku hanya respon gilanya dirimu
aku mabuk lagi dan terus menerus mabuk
membayangkan lembaran hari-hariku
masuk ke sajak-sajak atau rintihan malamku
menjadi judul, jalan pikiranku menjadi tifografi
yang tak kunjung menjadi antologi
Karawang 2005