UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Tema Puisi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Puisi Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2013

Puisi Jerit Tangis Anak Jalanan | Rizal Shidiq Muttaqin

Jerit Tangis Anak Jalanan
Rizal Shidiq Muttaqin

Ketika fajar menyingsing
ku awali hari-hariku dengan senyuman,
kumulai pekerjaanku,
dengan ditemani gitar kecilku,
lantunan lagu yang kunyanyikan
hanya untuk mengumpulkan uang kertas lucah
dan uang logam recehan
untuk membeli sebungkus nasi

tak peduli panas terik matahari
tak kupikirkan hujan membasahiku
tak peduli perut ikut bernyanyi
juga tak peduli orang-orang mencemoohiku
yang ada dipikiranku
hanyalah uang kertas lucah dan uang recehan

Apakah ini yang dinamakan Hidup?
betapa pahit hidupku
yang tak memiliki tempat berteduh
untuk mencurahkan isi kalbu
karena aku jauh dari kasih sayang ayah dan ibu

Ditengah keramaian kota Metropolitan
selalu kesepian dalam keramaian
aku tak pernah menyangka
hidupku hanayalah sebatang kara
hidup dibawah kolong jembatan

inikah yang dinamakan hidup?
EGOIS !
dunia ini memaksaku untuk bekerja
padahal,dunia seusiaku adalah bermain
tetapi,AKU!
aku hanya seorang anak jalanan
yang hanya mengamen dengan ditemani gitar kecilku
dipersimpangan lampu merah

aku ingin seperti anak lainnya
hidup serba ada,hidup serba mewah
yang bisa bermain bersama teman disekolah,
mendapat kasih sayang orang tua,
mendapat pelukan hangat dari seorang ayah,
dan belaian lembut seorang ibu

tetapi,aku tak kan pernah kesepian
karena aku mempunyai guru yang hebat
dia adalah teman teman anak jalanyang selalu mengisi hari-hariku dengan keceriaan,
canda dan tawa selalu menyertaiku
selalu mengajarkanku
untuk selalu mensyukuri hidup ini,dan
mengajarkanku MAKNA HIDUP

Garut,19 Januari 2013


Senin, 07 Januari 2013

Puisi Selamat Berpisah Guru | Ma'ruf Sarifddin

sumber gambar : edukasi.kompas.com

Selamat Berpisah  Guru
Ma'ruf Sarifddin

serasa kemarin aku pakai seragam baru
merah putih memakainya dengan rasa bangga
serasa kemarin engkau ajari aku menulis, membaca,
bahkan cara berbicara

enam tahun kau suapi segala ilmu
dari pelajaran sampai tingkah laku

kini aku di penghujung kelasmu
aku bangga punya guru sepertimu

takkan kulupa pesan dan petuahmu
kan ku ingat sebagai bekal perjalanan dalam hidupku

22 Juni 2009


Sabtu, 15 Desember 2012

Kumpulan Puisi Liburan Sekolah | Puisi Liburan Anak Sekolah


Liburan Sekolah adalah hal yang sangat ditunggu dan tentu saja mempunyai kesan tersendiri. Setiap orang pasti mempunyai pengalamannya masing-masing. Dibawah ini ada beberapa puisi tentang liburan sekolah yang dikutip dari berbagai sumber, mudah-mudahan bisa menginspirasi adik-adik untuk membuat pengalaman liburannya yang dibuat dalam bentuk puisi. Selamat membaca.



LIBURAN SEKOLAH
Syaiful Bahri

Akhir sekolah, buku-buku ditumpuk
begitu saja di gudang di belakang rumah
dan meja belajarku akan penuh buku-buku baru.

Ibu, setahun ini aku telah belajar seni melipat kertas
sebentuk angsa, perahu, boneka sampai kembang.

Buku-buku di gudang itu, aku ingin menjadikannya
kembang mekar atau pun kembang kuncup.

Teman-temanku mengajak bermain kelereng dan petak umpet
tunggu aku bilang, aku belum selesai melipat kembang kertas.

Mereka bilang sekarang bukan waktu sekolah, tidak ada tugas
tidak tahu bahwa ini memang bukan tugas, tapi aku hanya

Ingin memberi hadiah padamu, padamu Ibu
dan semua keindahannya cuma untukmu, hanya itu.

Memang kembang ini tidak harum seperti melati
tidak juga berwarna-warni seperti magnolia.

Tapi terimalah kembang kertas ini, Ibu.

Sebab kembang ini adalah ilmu pengetahuan
yang tak akan pernah layu, jatuh lalu hilang.

Pada akhir sekolah, buku-buku ditumpuk
begitu saja di gudang di belakang rumah
aku menjadikannya kembang mekar dan kembang kuncup.

2011



Liburan Sekolah
Joko Pinurbo

(1)

Liburan sekolah sudah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
“Besok ajak aku piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah.”

Kuremas gagang stangnya yang kusam, kuberi ia sepotong janji:
“Tentu aku akan akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ke jurang. Dan kalau belok
harus pelan-pelan, jangan malah menambah kecepatan.”

Ah sepeda merahku. Rodanya yang tak pernah baru
kadang menggelinding juga ke halaman tidurku.

Kutepati janji. Di sebuah sore yang hangat dan menggemaskan,
di bawah matahari yang gondrong rambutnya,
aku dan sepedaku pergi melancong ke hutan.
Sepedaku dan aku menyusuri lembah dan bebukitan
seperti dua petualang yang tak peduli pada tujuan.

Memasuki senja, kami tersesat di sebuah lorong cahaya
yang menuju ke cakrawala. Di ujung lorong cahaya muncul
sebuah tangga cahaya. Di atas tangga cahaya tampak
seorang lelaki tua sedang bermain sulap. Oh ia sedang menyulap
segumpal awan menjadi selembar sapu tangan.
Ia melambai dan memanggil: “Ayo lekaslah ke sini, nak.
Mari kusulap sepeda bututmu menjadi sepeda baru.”

Aku mendekat. Ya ampun, wajah tukang sulap itu mirip
wajah kakekku yang hanya pernah kulihat fotonya.
Aku ingin sekali naik ke tangga itu, tapi sepedaku buru-buru
mencegahku: “Ayo pulang, bang. Aku sudah capek dan kedinginan.”

Sampai di rumah, kudapatkan nenek sedang menggigil
di depan tungku, ditemani kucingnya yang montok dan lucu.
Kuhampiri ia dan kuraba keningnya: “Nenek sedang demam ya?”
Dengan lirih dan agak gemetar ia menimpal: “Aku rindu kakekmu.”

(2)

Rencanaku menjenguk teman yang lagi sakit tertunda lagi.
Hujan mengamuk tak henti-henti, wabah flu menyebar
ke seluruh penjuru kampung. Di mana-mana kutemukan
orang berkerudung sarung, seakan-akan negara sedang berkabung.

Sampah hujan menumpuk di sudut halaman, berangsur-angsur
mengeras menjadi es batu. Aku membantu ayah memecah-mecah
bongkahan es hujan. Ayah memasukkan beberapa bongkah
ke dalam kulkas, katanya: “Es batu ini, nak, sangat bagus
untuk bikin minuman. Bagus pula untuk obat.
Nanti kubikinkan ya? Ayah jamin kamu tak akan mudah
pusing, pilek dan demam bila kehujanan.”

Malam itu kulihat ayah banyak minum es hujan. Setelah puas,
ayah mengepalkan tangan dan mengacungkannya, serunya:
“Tubuhku sehat, badanku kuat, walau nasibku semakin gawat.”
Lalu ayah sempoyongan seperti orang mabuk.
Sejurus kemudian ayah menggelosor dan tertidur di depan televisi.
Dari dalam televisi penyiar mengucapkan salam:
“Selamat tidur, penyair. Selamat mabuk es hujan.”

(3)

Malam-malam aku disuruh ibu membeli kerupuk di warung seberang.
Kerupuk, kata ibu, bisa membuat meja makan yang dingin dan nestapa
jadi cerah ceria. Ibu suka kerupuk yang renyah dan seru bunyinya.

Di jalan remang-remang menuju warung aku berpapasan
dengan seorang adik kelasku yang parasnya lebih dari lumayan.
Kami beradu mata dan saling mengucapkan hai.
Tatapannya telah mengobrak-abrik kesunyian mataku.
Sejenak kami berbasa-basi. Lalu malam membimbing kami
ke sebuah bangku di bawah pohon rambutan di dekat warung.
Kami berbincang hangat tentang seluk-beluk sekolah.
Tentang pelajaran matematika yang membosankan.
Tentang awalan ber- yang membingungkan. Juga tentang bu guru
yang selalu bilang astaga bila ada muridnya yang pecicilan.

Aku pulang sambil bersiul sepanjang jalan.
Tidak dengan kerupuk, tapi dengan beberapa biji buah rambutan
yang dipetik adik kelasku itu dan diberikannya kepadaku,
katanya untuk kenang-kenangan.

Malam berikutnya aku pura-pura mau beli kerupuk lagi,
siapa tahu bisa bertemu kembali dengannya. Ah, terlambat.
Kulihat ia keluar dari warung bersama entah siapa.
Mereka jalan bersama dengan mesra sambil ketawa-ketawa.
Aku bengong, terpana. Ia menoleh ke aku, matanya melirik
dengan cemerlang, tapi tatapannya tak sanggup lagi menembus mataku,
bahkan seyum manisnya telah mengubah hatiku menjadi
sebongkah bara. Lelaki sepantaran aku di sampingnya
juga menoleh, tersenyum, menganggukkan kepala, tapi aku keburu
balik kanan, pulang. Pulang dalam bimbang.
Aku tak tahu apakah itu yang namanya cinta monyet.
Sedikit cintanya, lebih banyak nyometnya,
dan akhirnya mungkin hanya tinggal nyemotnya.

Menjelang tiba di rumah, kutemukan sajak Chairil berceceran
di pinggir jalan. Kupungut dan kemasukkan ke saku celana.

Di atas meja belajarku ada gambar Chairil sedang merokok
dengan mata disipit-sipitkan. Gayanya tampak agak dibuat-buat,
tapi cukup keren juga. Aku segera mengambil kepingan-kepingan
sajaknya dari saku celanaku, membersihkannya,
kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat, bunyinya:
Ah hatiku yang tak mau memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi.

(4)

Bu guru memberiku tugas membuat laporan kegiatan seni.
Sore itu kuminta ibu menemaniku melihat-lihat pameran lukisan
di sebuah galeri di sudut alun-alun kota.
Lukisan-lukisan besar berbaris di dinding dan dengan hormat
menyambut kedatangan aku dan ibu.

Aku dan ibu terpikat pada sebuah lukisan yang tak jelas
siapa pelukisnya. Lukisan itu sepenuhnya berlatar hitam.
Di tengah hitam hanya ada sebuah rumah tua berpintu merah
dengan cahaya lampu redup remang. Lama aku terpesona
sampai terlambat sadar bahwa aku telah kehilangan ibu.
Ibu tak ada lagi di sampingku. Pastilah ibu sedang ke toilet
sebab tadi beberapa kali ibu menanyakan di mana toilet.

Tanpa ibu aku terus terpana memandangi lukisan itu.
Aku terkesiap ketika cahaya lampu di rumah itu makin lama
makin terang. Mungkin karena kupandangi terus,
lambat laun meremang kembali. Tiba-tiba aku merinding
dan merasa kesepian. Aku terhenyak ketika seseorang menepuk
bahuku, katanya: “Sedang melamun ya?” Ah, ternyata ibu.

“Ke toilet kok lama sekali sih, bu?”
“Ibu tidak dari toilet, anakku. Ibu habis memasuki rumah tua
dalam lukisan itu. Ternyata itu perpustakaan. Ibu sempat
membuka-buka sekilas beberapa buku tua. Ibu senang bisa menemukan
sebuah kitab puisi yang ibu cari-cari. Judulnya lucu, Celana.”
“Celana, ibu? Bukankah itu buku yang baru akan saya tulis
dua puluh tahun yang akan datang?”
Ibu segera menggandeng tanganku dan mengajakku makan bakso.

(5)

Malam Minggu. Aku duduk-duduk saja di ruang tamu
sambil menjahit baju seragamku yang koyak di bagian ketiak.
Aku menjahitnya dengan benang hitam yang lembut dan liat.

Tengah suntuk-suntuknya aku menjahit, adikku tersayang
tiba-tiba nyelonong dari belakang: “Pantesan ibu merasa kepalanya
berdenyit-denyit. Ternyata kamu menjahit dengan rambut ibu.”

(6)

Ini malam terakhir liburanku. Rasanya sekolah sudah merindukanku.
Kusempatkan membongkar tas sekolahku yang penuh
dengan ribuan kata-kata pemberian ibu dan bapak guru.
Kupilih dan kupilah mana yang harus kupersembahkan
kepada tempat sampah, mana yang mesti kuawetkan dalam ingatan.

Di ruang tengah ibu lagi bersendiri bersama televisi.
Aku mencoba melongok lewat celah pintu kamarku.
Oh, ibu sedang minum es hujan. Ibu tersenyum riang
sehabis meneguk es hujan. Teguk lagi, senyum lagi.
Teguk lagi, senyum lagi. Tapi mengapa gelas ibu
seperti tak berkurang isinya, malah terisi penuh kembali?
Rupanya ada air mata tak kelihatan yang mengucur ke gelas ibu.

Aku tahu ibu diam-diam sedang menangis terharu.
Aku tak tahu apakah ibu terharu karena nilai ulanganku bagus semua
atau karena belum bisa membelikanku sepatu baru.
Kututup rapat pintu kamarku, kukemasi buku-buku pelajaranku.

(7)

Pagi-pagi, berbekal kecupan hangat ibu,
aku bersama sepeda merahku berangkat berjuang kembali ke sekolah.
Di perjalanan aku dicegat oleh adik kelasku yang satu itu.
“Hai, ada titipan salam untukmu dari kakakku.”
“Siapa kakakmu?”
“Itu... yang ke warung bersamaku malam itu.”
Aku terdiam dan ia lanjut jalan. Senyum hebatnya tak bisa lagi kulawan.


(2009/2010)


Puisi Libur
Maria Kirana

belajar..belajar...belajar!
Akhirnya selesai juga
sebelum libur pembagian rapor
Asyik,nilaiku tidak ada yang merah!

libur tlah tiba
enaknya kemana ya?
ke rumah saudara
atau..mmm terserah deh

Libur tlah usai
ayo,kembali sekolah
bertemu guru dan kawan
berbagi cerita dan ilmu

2011


Dikutip dari berbagai sumber


Minggu, 04 November 2012

Puisi Anakku Sayang | Puisi Ibu Untuk Anak



Anakku Sayang
Ros

Tahukah kau anakku….
Bahwa bunda tak memiliki berlimpah harta
Untuk mencukupi semua kebutuhanmu
Dan keinginanmu

Tahukah kau anakku….
Bahwa bunda pun tak memiliki seluruh waktu
Untuk menemani sepanjang hidupmu
Dan merawatmu

Tahukah kau anakku….
Bahwa bunda tak selamanya memiliki kekuatan
Untuk menjagamu
Dan melindungimu

Maka….
Dengan sedikit harta yang bunda miliki
Izinkan bunda
Untuk membekali perjalananmu

Maka….
Dengan sedikit waktu yang bunda miliki
Izinkan bunda
Untuk mengasihi dan membimbingmu

Maka….
Dengan keterbatasan kekuatan bunda
Izinkan bunda
Untuk merawatmu dan melindungimu

Dengan kesungguhan do’a
Semoga Allah
Selalu menjaga dan melindungimu
Jika suatu saat nanti
Waktu bunda telah usai

Dedicated to my lovely sons.

04 Nopember 2012
www.kompasiana.com/dendim

Selasa, 30 Oktober 2012

Puisi Pendidikan Anak | Andai Aku Rajin Belajar



Andai Aku Rajin Belajar
Rusdi Ngarpan Suryapati

Aku akan jadi orang pintar
Begitu kata orang-orang terpelajar
Aku akan jadi guru bermutu
Itu kata orang-orang di sekelilingku
Aku akan jadi pengarang lagu merdu
Kata ibuku yang selalu menyanyi untukku

Andai aku rajin belajar….
Aku tidak akan jadi orang bodoh
Tak tahu apa itu benar atau salah
Tak mengerti serius atau hanya seloroh
Aku tidak akan jadi pemungut sampah
Tak dimaki orang dengan sumpah serapah
Tak dihina anak-anak karena lusuh
Dikira maling barang rongsokan, sedih

Andai aku rajin belajar….
Aku akan jadi penulis tenar
Tak seperti air masuk mulut lalu keluar
Aku akan jadi pohon jati kekar
Tak seperti pohon pisang
Sekali berarti setelah itu mati
Tak berguna sama sekali bagai mimpi

Andai aku rajin belajar….
Aku tak akan tinggal kelas
Aku tak akan bodoh terus-menerus
Aku tak akan kena marah dari guru
Aku tak akan dapat nilai merah
Entah apa lagi yang kudapat

Andai aku rajin belajar….
Aku akan jadi siswa pintar
Aku kaan jadi mahasiswa terpelajar
Aku akan jadi pemimpin negara besar
Aku akan jadi pemersatu negeri, bersinar

Sayang, aku hanya berandai-andai
Sementara aku tetap malas belajar
Tak mau buka buku agar pintar
Tak mau membuka mata demi cita
Orang pun terlanjaur percaya

Aku hanya orang-orang bodoh
Tak tahu apa itu belajar
Tak tahu apa itu pintar
Tak mengerti apa itu terpelajar
Aku sudah tak tahu apa itu….
Belajar
Andai dulu aku rajin belajar

mantingantengah-jakenan-pati, 5 Agustus 2010

Kamis, 13 September 2012

Puisi Anak Kecil | Elnino Gorontalo


Puisi Anak Kecil
Elnino Gorontalo

Wahai orang-orang dewasa

Biarkan hari ini kami bicara padamu
Kami hanya anak balita
Baru saja 1,2,3,4,5 tahun hadir di dunia
Tapi juga nanti kami seperti kamu, 30-40-50 tahun lagi

Kau, orang dewasa, selalu menyuruh ini-itu atas kami.
Tapi hari ini…hari ini kami ingin bicara padamu.

Kau, orang dewasa, selalu paksa kami untuk jujur
Kau sendiri terbiasa bohong sama temanmu

Kau, orang dewasa, takut-takuti kami dengan kebesaran Tuhan
Kau sendiri berani melawan perintah-Nya

Kau, orang dewasa, ajari kami supaya tak ambil punya orang
Eh…kau korupsi
Kau suruh kami rajin membaca
Tak satu pun buku ada di mejamu
Engkau paksa kami rajin belajar
Kau sendiri selalu hanya mengajar
Kau paksa kami terus mendengar
Kau sendiri hanya bisa bicara.

Sungguh, hari ini kami ingin bicara padamu, wahai orang-orang dewasa!

Jangan sakiti hati orang, katamu
Jangan ingkar janji, katamu
Meminta-minta itu tidak boleh, katamu
Jangan terlalu banyak mengeluh, katamu
Jangan begini, jangan begitu…

Semua itu kau yang melakukannya, bukan kami!

Lihatlah dirimu sendiri, wahai orang-orang dewasa
Engkau suka memaki, menyakiti hati orang
Kepada orang banyak engkau berjanji bikin ini bikin itu, lalu kau ingkari
Kau meminta uang, minta beras, minta pulsa kepada orang yang akan kau pilih jadi wakilmu
Kau selalu merasa miskin dan rajin berkata “Uh….pusing”.

Hari ini, kami sungguh ingin bicara padamu!

Never tell us what to do, just show it!
Sebab, kau tahu, kami akan mewarisi semua perilakumu.

13 Februari 2010

sumber : fiksi.kompasiana.com

Kamis, 21 Juni 2012

Puisi Anak Sekolah Dasar (SD) Tentang Guru | Aida Sevi Ivana


Guruku
Aida Sevi Ivana

Guru….
Kau bagaikan matahari yang slalu menyinari bumi
Tetapi kau matahari yang slalu menyinari hatiku
Dengan cara kau menyinari dengan ilmumu
Yang kau berikan untuk kami semua

Kau adalah pahlawan tanpa jasa
Kau memberikan ilmumu dengan penuh hati yang ikhlas
Kau tak pernah letih membimbing kami, memberikan ilmu kepada kami
Kau dibutuhkan oleh setiap orang yang butuh jasamu
Kau membimbing kami, memberikan ilmu dengan cara kau menyayangi kami

Oh, guru….
Kau benar-benar makhluk yang sempurna
Kau tak pernah berheti membimbing kami, memberikan kami ilmu
Kau memberikan semua ilmu yang baik bagi kami semua
Kau memberi kami ilmu agar kami mempunyai ilmumu

Setiap ilmu yang kau berikan kepada kami tidak pernah kami lupakan
Karna kami tahu kau memberikan ilmu ini dengan sungguh-sungguh,
Hati ikhlas, mulia
Kau memberikan jasa ini tak bisa dihitung
Oleh kami….

Oh,guru….
Kami akan slalu mengingat jasamu
Sampai akhir hayat kami
Walau satu jasapun tak akan kami lupakan
Pasti jasa yang kau berikan kepada kami
Menyangkut kehidupan kami nanti

Pasti ilmu yang kau berikan agar kami
Lebih baik menjalani hidup ini
Kami ucapkan terimakasih sebesar-besar
Atas ilmu yang tlah kau berikan kepada kami

21 Juni 2012

sumber : www.kompasiana.com/sevi


Aida Sevi Ivana
SD Aisyiyah Gemolong

Rabu, 14 Maret 2012

Puisi Anak Terlantar Versus Komodo | Fey Down




Anak Terlantar Versus Komodo
Fey Down

Sepanjang jalan di kota Jakarta, di tengah gedung pencakar langit nan megah
Setiap pagi ada joki berdiri menggendong bayi, ada gadis muda belia,
anak anak dan dewasa .
Mereka bukan joki kuda yang kaya raya,
tapi joki joki mobil yang pemiliknya akan melewati 3 in 1

Setiap sore dan malam hari, di sepanjang perempatan ,
jika lampu merah menyala
berlari anak anak kecil menghampiri pengendara yang berhenti.
Menadahkan tangan meminta sedikit rezeki
untuk mereka makan hari ini.

Berapa jumlah anak terlantar di negeri ini?
Berapa jumlah anak tak sekolah di negeri ini?
Berapa jumlah anak anak miskin yang butuh pengobatan?
Berapa jumlah pekerja anak anak di bawah umur?
Berapa jumlah gadis belia yang terpaksa menjual diri?

Ketika media ramai soal komodo, negara begitu peduli
Ternyata komodo lebih berharga dari anak anak kita
karena komodo membuat bangga negeri Indonesia di mata dunia ,
karena komodo membuat gengsi negeri semakin tinggi.
Anak anak terlantar? siapa peduli…


05 Nopember 2011

sumber: fiksi.kompasiana.com

Tag : Puisi Anak SD | Puisi Anak Sekolah | Puisi Perpisahan Anak SD

Jumat, 24 Februari 2012

Puisi Anak Tentang Alam | Gunung, Danau, Pantai

Puisi Anak Tentang Alam
Eka Nusa Putra

Gunung tinggi diatas tanah
Berkabut putih dan cerah
Udara sejuk di pagi hari
Sawah hijau nan luas

Air di danau sangat sejuk
Embun pagi jatuh di daun
Air terjun sangat dingin
Dan embun sore yang sejuk

Air biru mewarnai pantai
Udara pagi di pantai sangat sejuk
Di pantai ada tempat pelelangan penyu
Dan laut yang sangat luas

Matahari yang hangat
Menyinari lingkungan alam
Sinar matahari sangat baik bagi tubuh
Membuat hari tampak cerah

Sabtu, 07 Mei 2011

Puisi Anak Tentang Kesehatan | Aku Anak Sehat

Aku Anak Sehat
Oleh : N.N.

Aku anak sehat
Setiap pagi makanku banyak
Sayur dan buah tak pernah kulewatkan
Minum susu menjadi kesukaanku

Aku anak sehat
Tubuhku kekar dan kuat
Olah raga tak pernah kulewatkan
Lari pagi bersama teman-teman

Aku anak sehat
Karena ibuku rajin dan cermat
Sejak bayi selalu dijaga dan dirawat
Jika aku sakit segera diajak berobat

(dikutip dari “Bahasa Indonesia III” halaman 121)

Jumat, 06 Mei 2011

Puisi Perpisahan Anak SD | Puisi Anak Tentang Guru

Puisi Perpisahan Anak SD

GURUKU

Tangis sedih memilukan
Kini, saat berpisah datang
Segala lagu kudendangkan
Untuk mengenang jasamu
Hai…pahlawanku……..

Dari kelas ke kelas ku masuki
Dirasakan begitu risih dihati
Merasa tidak lama lagi
Kucurahkan segala rasaku

Segala waktumu kau curahkan
Segala kasih sucimu kau berikan
Dalam hati kubertanya
Berapa kali lagikah kita akan bertemu?

Guruku……
Terima kasih kuucapkan
Atas pengorbanan dan jasa-jasamu
Kau pahlawan tanpa tanda jasa

(medio : 2005)
sumber : riskaarniamantha.blogspot.com


Senin, 02 Mei 2011

Kumpulan Puisi Tentang Sungai | Karya Anak SD

Puisi Anak SD Tentang Sungai

NASIB Si SUNGAI

Karya : M. Daffa Triaputra

Sungai…
Kasihan sekali nasibmu
Di tubuhmu banyak sampah
Siapa gerangan yang merusakmu?

Tangan jahil manusialah yang membuatmu kotor
Padahal mereka itulah yang membutuhkanmu
Air milikmu menjadi tumpuan hidup mereka

Pekerjaan rumah semua mereka lakukan di tepimu
Anak cucu mereka juga tak pernah bosan bermain denganmu

Kau dapat menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik
Listrik itulah kemudian yang dipakai manusia untuk hidup
Mereka sepatutnya menjaga dan merawatmu
Mengasihi anugerah Tuhan

Sungai…
Bersabarlah menerima perlakuan mereka
Memang mereka tak tahu diri


SUNGAI
Karya : M. Farhan Haykal

Sungai…
Kau adalah tempat perahu kecil lewat
Tetapi…
Mengapa orang-orang membuang sampah ke tempatmu

Seharusnya orang-orang membersihkan tempatmu
kau bisa mengalir sampai ke laut
Nelayan yang jauh dari laut
Dapat melewati tempatmu

Ikan-ikan bisa tinggal di tempatmu
orang-orang bisa mandi di tempatmu
Kau mengalir terus menerus
Kau mempunyai banyak nama-nama
Airmu dapat menyuburkan tanah

Kumpulan Puisi Karya Anak 4D - An-Nisaa


Contoh Puisi Anak-Anak Tentang Pemandangan Alam


PEMANDANGAN ALAM
Karya : Salsabila Ramadhani

Oh.. pemandangan alam memang sangat indah
Tiada yang bisa menandingi indahnya pemandangan alam
Gunung menjulang tinggi di sana
Sawah hijau mengembang
Sungai tampak berliku
Laut biru terbentang luas indah sekali
Ombak pun tampak membasahi hamparan pasir putih
Pemandangan sunset di pantai melengkapi indahnya pemandangan alam

Dari bukit aku melihat itu semua
sungguh mataku tak bisa berkejap
Karena sudah tersihir oleh keindahan alam semesta ini
Siapakah yang telah menciptakan semua ini?
Allahlah pencipta segalanya
Pencipta alam semesta yang indah ini
Kita patut bersyukur kepadanya
Sebagai rasa terima kasih kita kepadanya
Atas semua rezeki yang telah di dapat

Oh pemandangan alam
Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darimu
Akan ku jaga engkau selalu
Agar engkau terus terawat dan tetap indah dipandang


Kumpulan Puisi Karya Anak 4D - An-Nisaa


Puisi Karya Anak SD Tentang Gunung

Puisi Karya Anak SD Tentang Gunung

Gunung
Karya : Afra

Gunung membuatku terpesona dalam keindahanmu
Keindahanmu ….
tidak menandingi dengan keindahan yang lain
Tapi, saat itu gunung meletus membawa banyak korban
Orang tidak lagi punya tempat tinggal
hewan pun juga kehilangan habitatnya
Tetapi…..
keindahanmu itu pasti tidak akan mengecewakan orang
Dia hanya inngin melihatmu selamanya
Dan pastiku akan menjaga mu setiap saat


GUNUNG
Karya : Kyra

Gunung engkau sangat tegar
Tenang penuh bijaksana
Engkau memuntahkan lahar dari mulutmu
tapi engkau bukan hanya merusak
Engkau juga menyuburkan tanaman
Engkau pun menguntungkan orang-orang
Engkau mengeluarkan barang tambang

Gunung…
Engkau sangatlah indah
Kami bisa melihatmu dari jarak jauh
Oh… gunung… engkau sangatlah kekar


JAHATNYA GUNUNG MELETUS
Karya : Zaki

Jahatnya kau gunung meletus
Kau telah membunuh manusia
Mengapa engkau membunuh banyak korban
Dengan laharmu yang panas
Kamu bisa membunuh manusia lebih dari satu juta orang
Karena laharmu pula binatang-binatang menjadi mati
Dan hutan pun menjadi gundul

Gunung merapi…
tolonglah kami
Janganlah engkau mengeluarkan lahar panasmu


Kumpulan Puisi Karya Anak 4D - An-Nisaa


Selasa, 22 Maret 2011

Kumpulan Puisi Anak Sekolah | Tentang Ibu dan Tepi Laut

IBU
Ita Permata Dewi

Oh Ibu kau segalanya bagiku
kau yang telah mendidik dan membesarkan aku.
jika aku melanggar perkataanmu
berdosalah aku
pepatah mengatakan
surga ada di telapak kaki ibu.


Di Tepi Laut

Du ujung musim yang bertiup angin
bagai dengus gurun pasir
cahaya melompat dalam lautan salju
di seret nya langkah di malam itu
dalam putih waktu
kutawarkan pada Mu
jenuh semesta ini ku penuhi isi
di hidup mu nasib dunia
bentangkan kedua tanggan mu
pohon-pohon kering di tepi laut padang pasir
menyanyi dalam gaib malam
kepada seluruh dunia
yan g menelan kan dipuncuk pantai
kuburlah hidup tanpa kesadaran

karya
Ita Permata Dewi
SMP N 03 Sui Ambawang

Kamis, 24 Februari 2011

Puisi Anak Anak | Kumpulan Puisi Anak SD

SAHABAT SEJATIKU
Annisa Sekar Salsabila

Aku sedih, kau menghibur
Aku kecewa, kau membuatku senang
Dan bila aku tak bisa
kau pun mengajari

Sahabat,
Kau bagai malaikat bagiku
Kau bagaikan bidadari untukku
Semua kebajikan ada padamu

Sahabat....
Satu pintaku untukmu
Yaitu janji selalu erat
Tak pernah terpisah,
seumur hidup kita.

Kelas 4 SD N 1 Kebumen
Jalan Pemuda 94 Kebumen


HIDUNG
Aldi Hairul

Aku bisa mencium bunga mawar
Aku bisa mencium kentut
Aku bisa mencium bau kaos kaki
Aku bisa mencium bau kotoran anjing
Aku bisa mencium bau badan
Aku bisa mencium bunga matahari
Semua karena kupunya hidung yang baik
Terima kasih hidung!

KELAS 2C SDN 34 PONSEL

MATA SAYA
Bagus Satrio

Saya mempunyai mata
Saya melihat menggunakan mata
Saya melihat apapun benda menggunakan mata
Karena mata, saya bisa melihat
Saya bisa melihat rumah,pohon dan buku
Karena mata,saya bisa membaca buku
Sehingga saya menjadi juara.

KELAS 2C SDN 34 PONSEL

Puisi Anak Anak | Kumpulan Puisi Anak SD

Jumat, 07 Januari 2011

Kumpulan Puisi Anak Anak | Koleksi Puisi Anak SD

Link
Kumpulan Puisi Anak Anak
Karya : Wina

Buku

Oh buku
Kau teman sejati ku
Aku mencari ilmu dari mu
Kalau aku kesepian, ku slalu membaca mu

Oh buku ku
Kau sebagi sumber sumber ilmu
Ilmu untuk anak bangsa dan untuk mencerdaskan bangsa
Karena mu aanak bangsa menjadi pintar

Oh terima kasih buku


Guruku

Oh Guruku
Betapa besar jasamu
Walaupun semua orang bilang,kau pahlawan tanpa tanda jasa
Tanpa mengenal lelah mengajarkan ku
Membuat anak-anak menjadi pintar

Oh guruku
Kau memang pahlawan
Walaupun tanpa tanda jasa
Kau tetap mengajar kan kami
Demi masa depan kami untuk bangsa negara kami

Oh terima kasih guruku


Adiku

Oh adikku....
Kau sangat lucu
Rambutmu merah dan ikal
Wajahmu mungil
Lucu sekali....
Mulutmu kecil
Pipimu mungil
Ku inginmencium pipimu yang mungil
Ku akan selalu sayang padamu..
Kau bisa menghiburku saat ku sedih

Oh adikku, kau sangat lucu


Boneka

Kau sudah menemaniku tidurku yang lelap
Saat ku sedih ku pasti memelukmu..
Ku akan mengajakmu bermain ke mana saja
Oh bonekaku
Ku akan syang padamu
Ku takkan melupakan mu
Kau teman hidupku
Kau menjadi sahabatku
Terima kasih bonekaku

Ku takkan melupakan mu


Profil Wina
Bernama Asli Salsabila Syahira Adi, Siswi SD Kelas 5 SDN 29 Depok Tengah, Prestasi terbaru Juara Terbaik Kategori kelas V- Ke atas Lomba Menulis Cerita setelah mendengar dongeng di FLP Depok II TimurTingkat kota Depok.Desember 2007.

Sumber : http://rumahcahayadepok2.blogspot.com


Minggu, 12 September 2010

Puisi Anak-Anak | BAGI AYAH IBU YANG AKAN BERCERAI | Abdurahman Faiz

DARI SEORANG ANAK, BAGI AYAH IBU YANG AKAN BERCERAI
Abdurahman Faiz

Ayah, Ibu
tolong, jangan cerai
sebab bercerai selalu membuat kita runtuh
tak bisakah semua dibicarakan baik-baik
dengan kepala sedingin batu es
dan hati yang embun?

Tolong,
jangan bertengkar di hadapan kami
apalagi saling melempar perabotan
jangan menebar caci dan fitnah
apalagi sampai ke koran, majalah dan televisi
dan jangan jadikan rumah kita
bagai zona perang

Mengapa kalian saling menyakiti
dan mengabaikan kami?

Kami bukan lemari
yang kalian pajang di rumah
bisa digotong ke sana kemari
kami punya kebeningan hati
pendapat yang bisa dipertimbangkan
kamilah penggenggam erat semua cinta
yang kalian lempar sampai begitu jauh

Jangan bercerai,
kecuali hanya bila salah satu pergi menghadapNya
jangan bercerai,
kecuali hanya bila ada yang mengingkari ilahi
jangan bercerai, ayah ibu
sebab itu berarti meruntuhkan dunia indah
yang kita bangun sejak dulu
dari senyuman dan kenangan
yang kita kumpulkan setiap waktu

Ayah ibu,
bila kalian tetap bercerai
mungkin kami tak lagi kanak-kanak
diri kami akan menyusut, mengerut
menjelma gumpalan duka tanpa mata,
lalu mungkin akan kami asah
duri-duri hati menjadi taring

Pada suatu masa
kalian pun akan tergugu
menemukan kami yang berhati bolong
di sepanjang lorong
menuju rumah entah siapa

Sabtu, 28 Agustus 2010

Puisi Tema Anak-Anak | Puisi Tentang Anak

Anak-Anak

jika anak-anak bersama, gembirakanlah hatimu kerana mereka mewarnai kehidupan dan menghidupkan kebahagiaan. kau membentuk mereka dengan acuanmu sendiri. kasih sayang dan perhatian. kau sentiasa mendengar segala impian. suka dan duka mereka hanya kau memahami. betapa hatimu tersentuh mendengar derita mereka, diperbudak orang lain yang tidak berhak. dan jika anak-anak jauh dari sisi, gembirakan juga hatimu kerana mereka telah membesar dan memiliki kehidupan sendiri, berhadapan kemungkinan-kemungkinan di luar jangkaan masa lampaumu. di manapun beradanya mereka sentiasa memegang tali taat, memahami fitrah yang bertandang pada waktunya kelak.


Kumpulan Puisi:Kembali di Lahad Rahsia
HASYUDA ABADI
Pustaka Iqbal Nazim
Kota Kinabalu, Sabah.
8 Rabiulawal 1429H


Rabu, 16 Juni 2010

PUISI SAPARDI >> DI TANGAN ANAK-ANAK

DI TANGAN ANAK-ANAK
Oleh : sapardi Djoko Damono

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad
yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung.
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
"Tuan, jangan kauganggu permainanku ini."