Jerit Tangis Anak JalananRizal Shidiq MuttaqinKetika fajar menyingsingku awali hari-hariku dengan senyuman,kumulai pekerjaanku,dengan ditemani gitar kecilku,lantunan lagu yang kunyanyikanhanya untuk mengumpulkan uang kertas lucahdan uang logam recehanuntuk membeli sebungkus nasitak peduli panas terik mataharitak kupikirkan hujan membasahikutak peduli perut ikut bernyanyijuga tak peduli orang-orang mencemoohikuyang ada dipikirankuhanyalah uang kertas lucah dan uang recehanApakah ini yang dinamakan Hidup?betapa pahit hidupkuyang tak memiliki tempat berteduhuntuk mencurahkan isi kalbukarena aku jauh dari kasih sayang ayah dan ibuDitengah keramaian kota Metropolitanselalu kesepian dalam keramaianaku tak pernah menyangkahidupku hanayalah sebatang karahidup dibawah kolong jembataninikah yang dinamakan hidup?EGOIS !dunia ini memaksaku untuk bekerjapadahal,dunia seusiaku adalah bermaintetapi,AKU!aku hanya seorang anak jalananyang hanya mengamen dengan ditemani gitar kecilkudipersimpangan lampu merahaku ingin seperti anak lainnyahidup serba ada,hidup serba mewahyang bisa bermain bersama teman disekolah,mendapat kasih sayang orang tua,mendapat pelukan hangat dari seorang ayah,dan belaian lembut seorang ibutetapi,aku tak kan pernah kesepiankarena aku mempunyai guru yang hebatdia adalah teman teman anak jalanyang selalu mengisi hari-hariku dengan keceriaan,canda dan tawa selalu menyertaikuselalu mengajarkankuuntuk selalu mensyukuri hidup ini,danmengajarkanku MAKNA HIDUPGarut,19 Januari 2013
Tampilkan postingan dengan label Tema Puisi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Puisi Anak. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Februari 2013
Puisi Jerit Tangis Anak Jalanan | Rizal Shidiq Muttaqin
Senin, 07 Januari 2013
Puisi Selamat Berpisah Guru | Ma'ruf Sarifddin
sumber gambar : edukasi.kompas.com Selamat Berpisah GuruMa'ruf Sarifddinserasa kemarin aku pakai seragam barumerah putih memakainya dengan rasa banggaserasa kemarin engkau ajari aku menulis, membaca,bahkan cara berbicaraenam tahun kau suapi segala ilmudari pelajaran sampai tingkah lakukini aku di penghujung kelasmuaku bangga punya guru sepertimutakkan kulupa pesan dan petuahmukan ku ingat sebagai bekal perjalanan dalam hidupku22 Juni 2009
Sabtu, 15 Desember 2012
Kumpulan Puisi Liburan Sekolah | Puisi Liburan Anak Sekolah
Liburan Sekolah adalah hal yang sangat ditunggu dan tentu saja mempunyai kesan tersendiri. Setiap orang pasti mempunyai pengalamannya masing-masing. Dibawah ini ada beberapa puisi tentang liburan sekolah yang dikutip dari berbagai sumber, mudah-mudahan bisa menginspirasi adik-adik untuk membuat pengalaman liburannya yang dibuat dalam bentuk puisi. Selamat membaca.LIBURAN SEKOLAHSyaiful BahriAkhir sekolah, buku-buku ditumpukbegitu saja di gudang di belakang rumahdan meja belajarku akan penuh buku-buku baru.Ibu, setahun ini aku telah belajar seni melipat kertassebentuk angsa, perahu, boneka sampai kembang.Buku-buku di gudang itu, aku ingin menjadikannyakembang mekar atau pun kembang kuncup.Teman-temanku mengajak bermain kelereng dan petak umpettunggu aku bilang, aku belum selesai melipat kembang kertas.Mereka bilang sekarang bukan waktu sekolah, tidak ada tugastidak tahu bahwa ini memang bukan tugas, tapi aku hanyaIngin memberi hadiah padamu, padamu Ibudan semua keindahannya cuma untukmu, hanya itu.Memang kembang ini tidak harum seperti melatitidak juga berwarna-warni seperti magnolia.Tapi terimalah kembang kertas ini, Ibu.Sebab kembang ini adalah ilmu pengetahuanyang tak akan pernah layu, jatuh lalu hilang.Pada akhir sekolah, buku-buku ditumpukbegitu saja di gudang di belakang rumahaku menjadikannya kembang mekar dan kembang kuncup.2011Liburan SekolahJoko Pinurbo(1)Liburan sekolah sudah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:“Besok ajak aku piknik ya bang. Aku jenuhtiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah.”Kuremas gagang stangnya yang kusam, kuberi ia sepotong janji:“Tentu aku akan akan mengantarmu tamasya ke tempatyang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.Tak boleh menabrak pantat orang.Tak boleh nyelonong ke jurang. Dan kalau belokharus pelan-pelan, jangan malah menambah kecepatan.”Ah sepeda merahku. Rodanya yang tak pernah barukadang menggelinding juga ke halaman tidurku.Kutepati janji. Di sebuah sore yang hangat dan menggemaskan,di bawah matahari yang gondrong rambutnya,aku dan sepedaku pergi melancong ke hutan.Sepedaku dan aku menyusuri lembah dan bebukitanseperti dua petualang yang tak peduli pada tujuan.Memasuki senja, kami tersesat di sebuah lorong cahayayang menuju ke cakrawala. Di ujung lorong cahaya munculsebuah tangga cahaya. Di atas tangga cahaya tampakseorang lelaki tua sedang bermain sulap. Oh ia sedang menyulapsegumpal awan menjadi selembar sapu tangan.Ia melambai dan memanggil: “Ayo lekaslah ke sini, nak.Mari kusulap sepeda bututmu menjadi sepeda baru.”Aku mendekat. Ya ampun, wajah tukang sulap itu miripwajah kakekku yang hanya pernah kulihat fotonya.Aku ingin sekali naik ke tangga itu, tapi sepedaku buru-burumencegahku: “Ayo pulang, bang. Aku sudah capek dan kedinginan.”Sampai di rumah, kudapatkan nenek sedang menggigildi depan tungku, ditemani kucingnya yang montok dan lucu.Kuhampiri ia dan kuraba keningnya: “Nenek sedang demam ya?”Dengan lirih dan agak gemetar ia menimpal: “Aku rindu kakekmu.”(2)Rencanaku menjenguk teman yang lagi sakit tertunda lagi.Hujan mengamuk tak henti-henti, wabah flu menyebarke seluruh penjuru kampung. Di mana-mana kutemukanorang berkerudung sarung, seakan-akan negara sedang berkabung.Sampah hujan menumpuk di sudut halaman, berangsur-angsurmengeras menjadi es batu. Aku membantu ayah memecah-mecahbongkahan es hujan. Ayah memasukkan beberapa bongkahke dalam kulkas, katanya: “Es batu ini, nak, sangat bagusuntuk bikin minuman. Bagus pula untuk obat.Nanti kubikinkan ya? Ayah jamin kamu tak akan mudahpusing, pilek dan demam bila kehujanan.”Malam itu kulihat ayah banyak minum es hujan. Setelah puas,ayah mengepalkan tangan dan mengacungkannya, serunya:“Tubuhku sehat, badanku kuat, walau nasibku semakin gawat.”Lalu ayah sempoyongan seperti orang mabuk.Sejurus kemudian ayah menggelosor dan tertidur di depan televisi.Dari dalam televisi penyiar mengucapkan salam:“Selamat tidur, penyair. Selamat mabuk es hujan.”(3)Malam-malam aku disuruh ibu membeli kerupuk di warung seberang.Kerupuk, kata ibu, bisa membuat meja makan yang dingin dan nestapajadi cerah ceria. Ibu suka kerupuk yang renyah dan seru bunyinya.Di jalan remang-remang menuju warung aku berpapasandengan seorang adik kelasku yang parasnya lebih dari lumayan.Kami beradu mata dan saling mengucapkan hai.Tatapannya telah mengobrak-abrik kesunyian mataku.Sejenak kami berbasa-basi. Lalu malam membimbing kamike sebuah bangku di bawah pohon rambutan di dekat warung.Kami berbincang hangat tentang seluk-beluk sekolah.Tentang pelajaran matematika yang membosankan.Tentang awalan ber- yang membingungkan. Juga tentang bu guruyang selalu bilang astaga bila ada muridnya yang pecicilan.Aku pulang sambil bersiul sepanjang jalan.Tidak dengan kerupuk, tapi dengan beberapa biji buah rambutanyang dipetik adik kelasku itu dan diberikannya kepadaku,katanya untuk kenang-kenangan.Malam berikutnya aku pura-pura mau beli kerupuk lagi,siapa tahu bisa bertemu kembali dengannya. Ah, terlambat.Kulihat ia keluar dari warung bersama entah siapa.Mereka jalan bersama dengan mesra sambil ketawa-ketawa.Aku bengong, terpana. Ia menoleh ke aku, matanya melirikdengan cemerlang, tapi tatapannya tak sanggup lagi menembus mataku,bahkan seyum manisnya telah mengubah hatiku menjadisebongkah bara. Lelaki sepantaran aku di sampingnyajuga menoleh, tersenyum, menganggukkan kepala, tapi aku keburubalik kanan, pulang. Pulang dalam bimbang.Aku tak tahu apakah itu yang namanya cinta monyet.Sedikit cintanya, lebih banyak nyometnya,dan akhirnya mungkin hanya tinggal nyemotnya.Menjelang tiba di rumah, kutemukan sajak Chairil bercecerandi pinggir jalan. Kupungut dan kemasukkan ke saku celana.Di atas meja belajarku ada gambar Chairil sedang merokokdengan mata disipit-sipitkan. Gayanya tampak agak dibuat-buat,tapi cukup keren juga. Aku segera mengambil kepingan-kepingansajaknya dari saku celanaku, membersihkannya,kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat, bunyinya:Ah hatiku yang tak mau memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi.(4)Bu guru memberiku tugas membuat laporan kegiatan seni.Sore itu kuminta ibu menemaniku melihat-lihat pameran lukisandi sebuah galeri di sudut alun-alun kota.Lukisan-lukisan besar berbaris di dinding dan dengan hormatmenyambut kedatangan aku dan ibu.Aku dan ibu terpikat pada sebuah lukisan yang tak jelassiapa pelukisnya. Lukisan itu sepenuhnya berlatar hitam.Di tengah hitam hanya ada sebuah rumah tua berpintu merahdengan cahaya lampu redup remang. Lama aku terpesonasampai terlambat sadar bahwa aku telah kehilangan ibu.Ibu tak ada lagi di sampingku. Pastilah ibu sedang ke toiletsebab tadi beberapa kali ibu menanyakan di mana toilet.Tanpa ibu aku terus terpana memandangi lukisan itu.Aku terkesiap ketika cahaya lampu di rumah itu makin lamamakin terang. Mungkin karena kupandangi terus,lambat laun meremang kembali. Tiba-tiba aku merindingdan merasa kesepian. Aku terhenyak ketika seseorang menepukbahuku, katanya: “Sedang melamun ya?” Ah, ternyata ibu.“Ke toilet kok lama sekali sih, bu?”“Ibu tidak dari toilet, anakku. Ibu habis memasuki rumah tuadalam lukisan itu. Ternyata itu perpustakaan. Ibu sempatmembuka-buka sekilas beberapa buku tua. Ibu senang bisa menemukansebuah kitab puisi yang ibu cari-cari. Judulnya lucu, Celana.”“Celana, ibu? Bukankah itu buku yang baru akan saya tulisdua puluh tahun yang akan datang?”Ibu segera menggandeng tanganku dan mengajakku makan bakso.(5)Malam Minggu. Aku duduk-duduk saja di ruang tamusambil menjahit baju seragamku yang koyak di bagian ketiak.Aku menjahitnya dengan benang hitam yang lembut dan liat.Tengah suntuk-suntuknya aku menjahit, adikku tersayangtiba-tiba nyelonong dari belakang: “Pantesan ibu merasa kepalanyaberdenyit-denyit. Ternyata kamu menjahit dengan rambut ibu.”(6)Ini malam terakhir liburanku. Rasanya sekolah sudah merindukanku.Kusempatkan membongkar tas sekolahku yang penuhdengan ribuan kata-kata pemberian ibu dan bapak guru.Kupilih dan kupilah mana yang harus kupersembahkankepada tempat sampah, mana yang mesti kuawetkan dalam ingatan.Di ruang tengah ibu lagi bersendiri bersama televisi.Aku mencoba melongok lewat celah pintu kamarku.Oh, ibu sedang minum es hujan. Ibu tersenyum riangsehabis meneguk es hujan. Teguk lagi, senyum lagi.Teguk lagi, senyum lagi. Tapi mengapa gelas ibuseperti tak berkurang isinya, malah terisi penuh kembali?Rupanya ada air mata tak kelihatan yang mengucur ke gelas ibu.Aku tahu ibu diam-diam sedang menangis terharu.Aku tak tahu apakah ibu terharu karena nilai ulanganku bagus semuaatau karena belum bisa membelikanku sepatu baru.Kututup rapat pintu kamarku, kukemasi buku-buku pelajaranku.(7)Pagi-pagi, berbekal kecupan hangat ibu,aku bersama sepeda merahku berangkat berjuang kembali ke sekolah.Di perjalanan aku dicegat oleh adik kelasku yang satu itu.“Hai, ada titipan salam untukmu dari kakakku.”“Siapa kakakmu?”“Itu... yang ke warung bersamaku malam itu.”Aku terdiam dan ia lanjut jalan. Senyum hebatnya tak bisa lagi kulawan.(2009/2010)Puisi LiburMaria Kiranabelajar..belajar...belajar!Akhirnya selesai jugasebelum libur pembagian raporAsyik,nilaiku tidak ada yang merah!libur tlah tibaenaknya kemana ya?ke rumah saudaraatau..mmm terserah dehLibur tlah usaiayo,kembali sekolahbertemu guru dan kawanberbagi cerita dan ilmu2011Dikutip dari berbagai sumber
Minggu, 04 November 2012
Puisi Anakku Sayang | Puisi Ibu Untuk Anak
Anakku SayangRosTahukah kau anakku….Bahwa bunda tak memiliki berlimpah hartaUntuk mencukupi semua kebutuhanmuDan keinginanmuTahukah kau anakku….Bahwa bunda pun tak memiliki seluruh waktuUntuk menemani sepanjang hidupmuDan merawatmuTahukah kau anakku….Bahwa bunda tak selamanya memiliki kekuatanUntuk menjagamuDan melindungimuMaka….Dengan sedikit harta yang bunda milikiIzinkan bundaUntuk membekali perjalananmuMaka….Dengan sedikit waktu yang bunda milikiIzinkan bundaUntuk mengasihi dan membimbingmuMaka….Dengan keterbatasan kekuatan bundaIzinkan bundaUntuk merawatmu dan melindungimu
Dengan kesungguhan do’aSemoga AllahSelalu menjaga dan melindungimuJika suatu saat nantiWaktu bunda telah usaiDedicated to my lovely sons.04 Nopember 2012www.kompasiana.com/dendim
Selasa, 30 Oktober 2012
Puisi Pendidikan Anak | Andai Aku Rajin Belajar
Andai Aku Rajin BelajarRusdi Ngarpan SuryapatiAku akan jadi orang pintarBegitu kata orang-orang terpelajarAku akan jadi guru bermutuItu kata orang-orang di sekelilingkuAku akan jadi pengarang lagu merduKata ibuku yang selalu menyanyi untukkuAndai aku rajin belajar….Aku tidak akan jadi orang bodohTak tahu apa itu benar atau salahTak mengerti serius atau hanya selorohAku tidak akan jadi pemungut sampahTak dimaki orang dengan sumpah serapahTak dihina anak-anak karena lusuhDikira maling barang rongsokan, sedihAndai aku rajin belajar….Aku akan jadi penulis tenarTak seperti air masuk mulut lalu keluarAku akan jadi pohon jati kekarTak seperti pohon pisangSekali berarti setelah itu matiTak berguna sama sekali bagai mimpiAndai aku rajin belajar….Aku tak akan tinggal kelasAku tak akan bodoh terus-menerusAku tak akan kena marah dari guruAku tak akan dapat nilai merahEntah apa lagi yang kudapatAndai aku rajin belajar….Aku akan jadi siswa pintarAku kaan jadi mahasiswa terpelajarAku akan jadi pemimpin negara besarAku akan jadi pemersatu negeri, bersinarSayang, aku hanya berandai-andaiSementara aku tetap malas belajarTak mau buka buku agar pintarTak mau membuka mata demi citaOrang pun terlanjaur percayaAku hanya orang-orang bodohTak tahu apa itu belajarTak tahu apa itu pintarTak mengerti apa itu terpelajarAku sudah tak tahu apa itu….BelajarAndai dulu aku rajin belajarmantingantengah-jakenan-pati, 5 Agustus 2010
Kamis, 13 September 2012
Puisi Anak Kecil | Elnino Gorontalo
Puisi Anak Kecil
Elnino Gorontalo
Wahai orang-orang dewasa
Biarkan hari ini kami bicara padamu
Kami hanya anak balita
Baru saja 1,2,3,4,5 tahun hadir di dunia
Tapi juga nanti kami seperti kamu, 30-40-50 tahun lagi
Kau, orang dewasa, selalu menyuruh ini-itu atas kami.
Tapi hari ini…hari ini kami ingin bicara padamu.
Kau, orang dewasa, selalu paksa kami untuk jujur
Kau sendiri terbiasa bohong sama temanmu
Kau, orang dewasa, takut-takuti kami dengan kebesaran Tuhan
Kau sendiri berani melawan perintah-Nya
Kau, orang dewasa, ajari kami supaya tak ambil punya orang
Eh…kau korupsi
Kau suruh kami rajin membaca
Tak satu pun buku ada di mejamu
Engkau paksa kami rajin belajar
Kau sendiri selalu hanya mengajar
Kau paksa kami terus mendengar
Kau sendiri hanya bisa bicara.
Sungguh, hari ini kami ingin bicara padamu, wahai orang-orang dewasa!
Jangan sakiti hati orang, katamu
Jangan ingkar janji, katamu
Meminta-minta itu tidak boleh, katamu
Jangan terlalu banyak mengeluh, katamu
Jangan begini, jangan begitu…
Semua itu kau yang melakukannya, bukan kami!
Lihatlah dirimu sendiri, wahai orang-orang dewasa
Engkau suka memaki, menyakiti hati orang
Kepada orang banyak engkau berjanji bikin ini bikin itu, lalu kau ingkari
Kau meminta uang, minta beras, minta pulsa kepada orang yang akan kau pilih jadi wakilmu
Kau selalu merasa miskin dan rajin berkata “Uh….pusing”.
Hari ini, kami sungguh ingin bicara padamu!
Never tell us what to do, just show it!
Sebab, kau tahu, kami akan mewarisi semua perilakumu.
13 Februari 2010
sumber : fiksi.kompasiana.com
Kamis, 21 Juni 2012
Puisi Anak Sekolah Dasar (SD) Tentang Guru | Aida Sevi Ivana
Guruku
Aida Sevi Ivana
Guru….
Kau bagaikan matahari yang slalu menyinari bumi
Tetapi kau matahari yang slalu menyinari hatiku
Dengan cara kau menyinari dengan ilmumu
Yang kau berikan untuk kami semua
Kau adalah pahlawan tanpa jasa
Kau memberikan ilmumu dengan penuh hati yang ikhlas
Kau tak pernah letih membimbing kami, memberikan ilmu kepada kami
Kau dibutuhkan oleh setiap orang yang butuh jasamu
Kau membimbing kami, memberikan ilmu dengan cara kau menyayangi kami
Oh, guru….
Kau benar-benar makhluk yang sempurna
Kau tak pernah berheti membimbing kami, memberikan kami ilmu
Kau memberikan semua ilmu yang baik bagi kami semua
Kau memberi kami ilmu agar kami mempunyai ilmumu
Setiap ilmu yang kau berikan kepada kami tidak pernah kami lupakan
Karna kami tahu kau memberikan ilmu ini dengan sungguh-sungguh,
Hati ikhlas, mulia
Kau memberikan jasa ini tak bisa dihitung
Oleh kami….
Oh,guru….
Kami akan slalu mengingat jasamu
Sampai akhir hayat kami
Walau satu jasapun tak akan kami lupakan
Pasti jasa yang kau berikan kepada kami
Menyangkut kehidupan kami nanti
Pasti ilmu yang kau berikan agar kami
Lebih baik menjalani hidup ini
Kami ucapkan terimakasih sebesar-besar
Atas ilmu yang tlah kau berikan kepada kami
21 Juni 2012
sumber : www.kompasiana.com/sevi
Aida Sevi Ivana
SD Aisyiyah Gemolong
Rabu, 14 Maret 2012
Puisi Anak Terlantar Versus Komodo | Fey Down
Anak Terlantar Versus Komodo
Fey Down
Sepanjang jalan di kota Jakarta, di tengah gedung pencakar langit nan megah
Setiap pagi ada joki berdiri menggendong bayi, ada gadis muda belia,
anak anak dan dewasa .
Mereka bukan joki kuda yang kaya raya,
tapi joki joki mobil yang pemiliknya akan melewati 3 in 1
Setiap sore dan malam hari, di sepanjang perempatan ,
jika lampu merah menyala
berlari anak anak kecil menghampiri pengendara yang berhenti.
Menadahkan tangan meminta sedikit rezeki
untuk mereka makan hari ini.
Berapa jumlah anak terlantar di negeri ini?
Berapa jumlah anak tak sekolah di negeri ini?
Berapa jumlah anak anak miskin yang butuh pengobatan?
Berapa jumlah pekerja anak anak di bawah umur?
Berapa jumlah gadis belia yang terpaksa menjual diri?
Ketika media ramai soal komodo, negara begitu peduli
Ternyata komodo lebih berharga dari anak anak kita
karena komodo membuat bangga negeri Indonesia di mata dunia ,
karena komodo membuat gengsi negeri semakin tinggi.
Anak anak terlantar? siapa peduli…
05 Nopember 2011
sumber: fiksi.kompasiana.com
Tag : Puisi Anak SD | Puisi Anak Sekolah | Puisi Perpisahan Anak SD
Jumat, 24 Februari 2012
Puisi Anak Tentang Alam | Gunung, Danau, Pantai
Puisi Anak Tentang Alam
Eka Nusa Putra
Gunung tinggi diatas tanah
Berkabut putih dan cerah
Udara sejuk di pagi hari
Sawah hijau nan luas
Air di danau sangat sejuk
Embun pagi jatuh di daun
Air terjun sangat dingin
Dan embun sore yang sejuk
Air biru mewarnai pantai
Udara pagi di pantai sangat sejuk
Di pantai ada tempat pelelangan penyu
Dan laut yang sangat luas
Matahari yang hangat
Menyinari lingkungan alam
Sinar matahari sangat baik bagi tubuh
Membuat hari tampak cerah
Sabtu, 07 Mei 2011
Puisi Anak Tentang Kesehatan | Aku Anak Sehat
Aku Anak Sehat
Oleh : N.N.
Aku anak sehat
Setiap pagi makanku banyak
Sayur dan buah tak pernah kulewatkan
Minum susu menjadi kesukaanku
Aku anak sehat
Tubuhku kekar dan kuat
Olah raga tak pernah kulewatkan
Lari pagi bersama teman-teman
Aku anak sehat
Karena ibuku rajin dan cermat
Sejak bayi selalu dijaga dan dirawat
Jika aku sakit segera diajak berobat
(dikutip dari “Bahasa Indonesia III” halaman 121)
Jumat, 06 Mei 2011
Puisi Perpisahan Anak SD | Puisi Anak Tentang Guru
Puisi Perpisahan Anak SD
GURUKU
Tangis sedih memilukan
Kini, saat berpisah datang
Segala lagu kudendangkan
Untuk mengenang jasamu
Hai…pahlawanku……..
Dari kelas ke kelas ku masuki
Dirasakan begitu risih dihati
Merasa tidak lama lagi
Kucurahkan segala rasaku
Segala waktumu kau curahkan
Segala kasih sucimu kau berikan
Dalam hati kubertanya
Berapa kali lagikah kita akan bertemu?
Guruku……
Terima kasih kuucapkan
Atas pengorbanan dan jasa-jasamu
Kau pahlawan tanpa tanda jasa
(medio : 2005)
sumber : riskaarniamantha.blogspot.com
Senin, 02 Mei 2011
Kumpulan Puisi Tentang Sungai | Karya Anak SD
Puisi Anak SD Tentang Sungai
NASIB Si SUNGAI
Karya : M. Daffa Triaputra
Sungai…
Kasihan sekali nasibmu
Di tubuhmu banyak sampah
Siapa gerangan yang merusakmu?
Tangan jahil manusialah yang membuatmu kotor
Padahal mereka itulah yang membutuhkanmu
Air milikmu menjadi tumpuan hidup mereka
Pekerjaan rumah semua mereka lakukan di tepimu
Anak cucu mereka juga tak pernah bosan bermain denganmu
Kau dapat menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik
Listrik itulah kemudian yang dipakai manusia untuk hidup
Mereka sepatutnya menjaga dan merawatmu
Mengasihi anugerah Tuhan
Sungai…
Bersabarlah menerima perlakuan mereka
Memang mereka tak tahu diri
SUNGAI
Karya : M. Farhan Haykal
Sungai…
Kau adalah tempat perahu kecil lewat
Tetapi…
Mengapa orang-orang membuang sampah ke tempatmu
Seharusnya orang-orang membersihkan tempatmu
kau bisa mengalir sampai ke laut
Nelayan yang jauh dari laut
Dapat melewati tempatmu
Ikan-ikan bisa tinggal di tempatmu
orang-orang bisa mandi di tempatmu
Kau mengalir terus menerus
Kau mempunyai banyak nama-nama
Airmu dapat menyuburkan tanah
Kumpulan Puisi Karya Anak 4D - An-Nisaa
Contoh Puisi Anak-Anak Tentang Pemandangan Alam
PEMANDANGAN ALAM
Karya : Salsabila Ramadhani
Oh.. pemandangan alam memang sangat indah
Tiada yang bisa menandingi indahnya pemandangan alam
Gunung menjulang tinggi di sana
Sawah hijau mengembang
Sungai tampak berliku
Laut biru terbentang luas indah sekali
Ombak pun tampak membasahi hamparan pasir putih
Pemandangan sunset di pantai melengkapi indahnya pemandangan alam
Dari bukit aku melihat itu semua
sungguh mataku tak bisa berkejap
Karena sudah tersihir oleh keindahan alam semesta ini
Siapakah yang telah menciptakan semua ini?
Allahlah pencipta segalanya
Pencipta alam semesta yang indah ini
Kita patut bersyukur kepadanya
Sebagai rasa terima kasih kita kepadanya
Atas semua rezeki yang telah di dapat
Oh pemandangan alam
Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darimu
Akan ku jaga engkau selalu
Agar engkau terus terawat dan tetap indah dipandang
Kumpulan Puisi Karya Anak 4D - An-Nisaa
Puisi Karya Anak SD Tentang Gunung
Puisi Karya Anak SD Tentang Gunung
Gunung
Karya : Afra
Gunung membuatku terpesona dalam keindahanmu
Keindahanmu ….
tidak menandingi dengan keindahan yang lain
Tapi, saat itu gunung meletus membawa banyak korban
Orang tidak lagi punya tempat tinggal
hewan pun juga kehilangan habitatnya
Tetapi…..
keindahanmu itu pasti tidak akan mengecewakan orang
Dia hanya inngin melihatmu selamanya
Dan pastiku akan menjaga mu setiap saat
GUNUNG
Karya : Kyra
Gunung engkau sangat tegar
Tenang penuh bijaksana
Engkau memuntahkan lahar dari mulutmu
tapi engkau bukan hanya merusak
Engkau juga menyuburkan tanaman
Engkau pun menguntungkan orang-orang
Engkau mengeluarkan barang tambang
Gunung…
Engkau sangatlah indah
Kami bisa melihatmu dari jarak jauh
Oh… gunung… engkau sangatlah kekar
JAHATNYA GUNUNG MELETUS
Karya : Zaki
Jahatnya kau gunung meletus
Kau telah membunuh manusia
Mengapa engkau membunuh banyak korban
Dengan laharmu yang panas
Kamu bisa membunuh manusia lebih dari satu juta orang
Karena laharmu pula binatang-binatang menjadi mati
Dan hutan pun menjadi gundul
Gunung merapi…
tolonglah kami
Janganlah engkau mengeluarkan lahar panasmu
Kumpulan Puisi Karya Anak 4D - An-Nisaa
Selasa, 22 Maret 2011
Kumpulan Puisi Anak Sekolah | Tentang Ibu dan Tepi Laut
IBU
Ita Permata Dewi
Oh Ibu kau segalanya bagiku
kau yang telah mendidik dan membesarkan aku.
jika aku melanggar perkataanmu
berdosalah aku
pepatah mengatakan
surga ada di telapak kaki ibu.
Di Tepi Laut
Du ujung musim yang bertiup angin
bagai dengus gurun pasir
cahaya melompat dalam lautan salju
di seret nya langkah di malam itu
dalam putih waktu
kutawarkan pada Mu
jenuh semesta ini ku penuhi isi
di hidup mu nasib dunia
bentangkan kedua tanggan mu
pohon-pohon kering di tepi laut padang pasir
menyanyi dalam gaib malam
kepada seluruh dunia
yan g menelan kan dipuncuk pantai
kuburlah hidup tanpa kesadaran
karya
Ita Permata Dewi
SMP N 03 Sui Ambawang
Kamis, 24 Februari 2011
Puisi Anak Anak | Kumpulan Puisi Anak SD
SAHABAT SEJATIKU
Annisa Sekar Salsabila
Aku sedih, kau menghibur
Aku kecewa, kau membuatku senang
Dan bila aku tak bisa
kau pun mengajari
Sahabat,
Kau bagai malaikat bagiku
Kau bagaikan bidadari untukku
Semua kebajikan ada padamu
Sahabat....
Satu pintaku untukmu
Yaitu janji selalu erat
Tak pernah terpisah,
seumur hidup kita.
Kelas 4 SD N 1 Kebumen
Jalan Pemuda 94 Kebumen
HIDUNG
Aldi Hairul
Aku bisa mencium bunga mawar
Aku bisa mencium kentut
Aku bisa mencium bau kaos kaki
Aku bisa mencium bau kotoran anjing
Aku bisa mencium bau badan
Aku bisa mencium bunga matahari
Semua karena kupunya hidung yang baik
Terima kasih hidung!
KELAS 2C SDN 34 PONSEL
MATA SAYA
Bagus Satrio
Saya mempunyai mata
Saya melihat menggunakan mata
Saya melihat apapun benda menggunakan mata
Karena mata, saya bisa melihat
Saya bisa melihat rumah,pohon dan buku
Karena mata,saya bisa membaca buku
Sehingga saya menjadi juara.
KELAS 2C SDN 34 PONSEL
Puisi Anak Anak | Kumpulan Puisi Anak SD
Jumat, 07 Januari 2011
Kumpulan Puisi Anak Anak | Koleksi Puisi Anak SD
Kumpulan Puisi Anak Anak
Karya : Wina
Buku
Oh buku
Kau teman sejati ku
Aku mencari ilmu dari mu
Kalau aku kesepian, ku slalu membaca mu
Oh buku ku
Kau sebagi sumber sumber ilmu
Ilmu untuk anak bangsa dan untuk mencerdaskan bangsa
Karena mu aanak bangsa menjadi pintar
Oh terima kasih buku
Guruku
Oh Guruku
Betapa besar jasamu
Walaupun semua orang bilang,kau pahlawan tanpa tanda jasa
Tanpa mengenal lelah mengajarkan ku
Membuat anak-anak menjadi pintar
Oh guruku
Kau memang pahlawan
Walaupun tanpa tanda jasa
Kau tetap mengajar kan kami
Demi masa depan kami untuk bangsa negara kami
Oh terima kasih guruku
Adiku
Oh adikku....
Kau sangat lucu
Rambutmu merah dan ikal
Wajahmu mungil
Lucu sekali....
Mulutmu kecil
Pipimu mungil
Ku inginmencium pipimu yang mungil
Ku akan selalu sayang padamu..
Kau bisa menghiburku saat ku sedih
Oh adikku, kau sangat lucu
Boneka
Kau sudah menemaniku tidurku yang lelap
Saat ku sedih ku pasti memelukmu..
Ku akan mengajakmu bermain ke mana saja
Oh bonekaku
Ku akan syang padamu
Ku takkan melupakan mu
Kau teman hidupku
Kau menjadi sahabatku
Terima kasih bonekaku
Ku takkan melupakan mu
Profil Wina
Bernama Asli Salsabila Syahira Adi, Siswi SD Kelas 5 SDN 29 Depok Tengah, Prestasi terbaru Juara Terbaik Kategori kelas V- Ke atas Lomba Menulis Cerita setelah mendengar dongeng di FLP Depok II TimurTingkat kota Depok.Desember 2007.
Sumber : http://rumahcahayadepok2.blogspot.com
Minggu, 12 September 2010
Puisi Anak-Anak | BAGI AYAH IBU YANG AKAN BERCERAI | Abdurahman Faiz
DARI SEORANG ANAK, BAGI AYAH IBU YANG AKAN BERCERAI
Abdurahman Faiz
Ayah, Ibu
tolong, jangan cerai
sebab bercerai selalu membuat kita runtuh
tak bisakah semua dibicarakan baik-baik
dengan kepala sedingin batu es
dan hati yang embun?
Tolong,
jangan bertengkar di hadapan kami
apalagi saling melempar perabotan
jangan menebar caci dan fitnah
apalagi sampai ke koran, majalah dan televisi
dan jangan jadikan rumah kita
bagai zona perang
Mengapa kalian saling menyakiti
dan mengabaikan kami?
Kami bukan lemari
yang kalian pajang di rumah
bisa digotong ke sana kemari
kami punya kebeningan hati
pendapat yang bisa dipertimbangkan
kamilah penggenggam erat semua cinta
yang kalian lempar sampai begitu jauh
Jangan bercerai,
kecuali hanya bila salah satu pergi menghadapNya
jangan bercerai,
kecuali hanya bila ada yang mengingkari ilahi
jangan bercerai, ayah ibu
sebab itu berarti meruntuhkan dunia indah
yang kita bangun sejak dulu
dari senyuman dan kenangan
yang kita kumpulkan setiap waktu
Ayah ibu,
bila kalian tetap bercerai
mungkin kami tak lagi kanak-kanak
diri kami akan menyusut, mengerut
menjelma gumpalan duka tanpa mata,
lalu mungkin akan kami asah
duri-duri hati menjadi taring
Pada suatu masa
kalian pun akan tergugu
menemukan kami yang berhati bolong
di sepanjang lorong
menuju rumah entah siapa
Sabtu, 28 Agustus 2010
Puisi Tema Anak-Anak | Puisi Tentang Anak
Anak-Anak
jika anak-anak bersama, gembirakanlah hatimu kerana mereka mewarnai kehidupan dan menghidupkan kebahagiaan. kau membentuk mereka dengan acuanmu sendiri. kasih sayang dan perhatian. kau sentiasa mendengar segala impian. suka dan duka mereka hanya kau memahami. betapa hatimu tersentuh mendengar derita mereka, diperbudak orang lain yang tidak berhak. dan jika anak-anak jauh dari sisi, gembirakan juga hatimu kerana mereka telah membesar dan memiliki kehidupan sendiri, berhadapan kemungkinan-kemungkinan di luar jangkaan masa lampaumu. di manapun beradanya mereka sentiasa memegang tali taat, memahami fitrah yang bertandang pada waktunya kelak.
Kumpulan Puisi:Kembali di Lahad Rahsia
HASYUDA ABADI
Pustaka Iqbal Nazim
Kota Kinabalu, Sabah.
8 Rabiulawal 1429H
Rabu, 16 Juni 2010
PUISI SAPARDI >> DI TANGAN ANAK-ANAK
DI TANGAN ANAK-ANAK
Oleh : sapardi Djoko Damono
Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad
yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung.
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
"Tuan, jangan kauganggu permainanku ini."






