UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Minggu, 30 Mei 2010

Percobaan Fisika Asyik: Termometer Sederhana

Kalian udah pada tau yang namanya termometer kan? Yup, termometer adalah alat untuk mengukur suhu. Biasanya termometer terdapat di rumah sakit atau di laboratorium, tetapi kalian bisa buat termometer sendiri dari bahan-bahan yang ada di sekitar rumah. Penasaran? ayo kita bikin yuk.

Alat dan Bahan
  1. Air atau alkohol
  2. Pewarna
  3. Botol
  4. Sedotan 
  5. Malam atau tanah liat
Langkah Pembuatan
  1. Tuangkan sedikit air yang diberi warna ke dalam botol.
  2. Masukkan sedotan minuman hingga menyentuh permukaan air dalam botol.
  3. Tutup dengan rapat-rapat sekeliling ujung lubang leher botol dengan tanah liat sehingga tidak ada udara yang bisa masuk.
  4. Gosok dengan tangan botol tersebut dan jika diperhatikan baik-baik air dalam sedotan akan mulai naik.
Penjelasan Konsep
Ketika kita menggosok-gosok botol tersebut dengan tangan, udara yang tertutup dalam botol memuai karena gaya gesekan antara tangan dan botol. Molekul-molekul bertabrakan makin cepat dan lebih keras. Udara menekan permukaan air dan air naik ke dalam pipa sedotan, sehingga kedudukan permukaan air dalam pipa sedotan menunjukkan derajat panas. Dalam termometer biasa yang memuai adalah raksa yang berada dalam pipa kapiler.

Sabtu, 29 Mei 2010

Daftar Isi Buku | JAVID NAMAH KITAB KEABADIAN

JAVID NAMAH KITAB KEABADIAN - IQBAL

Pengantar

ADA tiga buah karya Iqbal dalam bentuk puisi yang dipandang sebagai karyanya yang terpenting, karena di dalamnya ia memberikan bentuk pengucapan artistik pada gagasan-gagasan filsafatnya yang luhur. Yang pertama, Asrar-i Khudi, terbit pada 1915. R.A. Nicholson membuat versi prosa atas karya ini dalam bahasa Inggris, berjudul The Secrets of the Self (Macmillan, 1920). Yang kedua, Rumuz-i Bekhudi, terbit pada 1918. Terjemahan pertama dalam bahasa Inggris atas karya ini, berbentuk puisi tak bersajak (blank-verse), dikerjakan oleh A.J. Arberry dengan judul, The Mysteries of Selflessness (John Murray, 1953).

Seperti ditunjukkan oleh judulnya, tema pokok dari kedua karya itu ialah the Self (diri atau pribadi manusia), human ego, dalam hubungannya dengan masyarakat, khususnya masyarakat Islam, dan kedudukan masyarakat Islam di dunia seutuhnya. Seperti juga sekalian orang Islam yang sensitif di India dan wilayah-wilayah lainnya, Iqbal amat sedih melihat perbedaan yang menyolok antara Islam di zaman kejayaannya dengan Islam di zaman modern, ketika sebagian besar negeri Islam telah jatuh ke dalam status daerah jajahan. la melihat satu-satunya harapan untuk membalikkan proses kemerosotan ini terletak pada regenerasi setiap pribadi umat Islam dan kerja sama antara pribadi-pribadi yang telah bangkit kembali dalam suatu Masyarakat Mukmin yang bersatu. Pembeberan filosofis yang lebih lanjut tentang ajaran Iqbal yang berhubungan dengan the Self ini, dalam bentuknya yang paling matang, dapat dibaca dalam kumpulan ceramahnya yang diberi judul, Reconstruction of Religious Thought in Islam (Oxford University Press, 1934), terutama bab I[V "The Human Ego: his freedom and immortality".

Baik Asrar-i Khudi maupun Rumuz-i Bekhudi (yang ditulis dalam bahasa Parsi) disusun dalam bait-bait yang bersajak, mengikuti tradisi yang sudah amat lama dalam puisi didaktik Persia sejak kira-kira seribu tahun yang lampau. Matra yang dipilih Iqbal untuk kedua karyanya itu ialah ramal-i musaddas-i maqsur, sama dengan yang dipergunakan oleh penyair sufi Persia terbesar, Jalal-ud-Din Rumi (1207-1273) dalam karyanya yang terkenal, Masnawi. Satu hal yang patut mendapat perhatian dalam kelaziman bentuk puisi didaktik ini ialah bahwa untuk meringankan bobot pembeberan formal dalam karyanya, sang penyair sesekali memasukkan anekdot-anekdot yang ilustratif sifatnya. Iqbal pun menyesuaikan diri dengan kelaziman ini.

Namun karya ketiga di antara trilogi itu, Javid-namah, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di sini, amat menyimpang dari pola demikian. Javid-namah dimaksudkan sebagai sajak cerita (narrative poems) atau lebih tepat lagi drama bersajak (poetic drama), di mana amanat didaktiknya dituangkan dalam ucapan para pelakunya. Selain itu, sesuatu yang baru pula dalam karya ini ialah adanya penyisipan lirik-lirik dengan beragam matra dan dengan sajak tunggal (monorhyme) yang merupakan ciri khas ghazal Persia, dan dapat menimbulkan efek makin bertambah besarnya tegangan puitik keseluruhan lirik itu.

Javid-namah menggambarkan perlawatan rohani yang dilakukan sang penyair dari bumi lewat "daerah-daerah" Bulan, Mercurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus, hingga di luar segala "daerah" itu, dan di Hadirat Ilahi. Teladan uniuk itu, dalam Islam, dapat kita temukan dalam mi'raj Nabi Muhammad yang terkenal itu. Dalam mi'raj itu, dengan berkendaraan buraqsemacam kuda bersayap-dan ditemani )ibril sebagai penunjuk jalan, Nabi Muhammad menyinggahi ketujuh langit dan di sana bertemu dan bercakap-cakap dengan nabi-nabi yang terdahulu, mulai dari Adam di langit pertama hingga Ibrahim di langit ketujuh, sebelum menikmati kebahagiaan tertinggi, yakni percakapan dengan Tuhan. Mi'raj Nabi niscaya menjadi pokok renungan dan teladan untuk mengembangkan martabat kerohanian bagi setiap orang Islam yang saleh dan kaum sufi sepanjang abad-abad berikutnya. Demikianlah Iqbal pun tak kekurangan contoh dan teladan ketika ia mempergunakan wahana yang amat populer itu untuk mengungkapkan ajarannya tentang regenerasi umat Islam dan penginsafan kepribadian mereka dalam karya terakhir di antara triloginya itu. Sebagai penunjuk jalan dalam perlawatan itu dipilihnya Jalal-ud-Din Rumi, penyair sufi Persia yang amat ia kagumi bahasa, gaya bahasa dan pikiran-pikirannya. Sedang tokoh-tokoh yang ia jumpai dalam perlawatan itu tidak terambil dari para nabi menurut urutan zaman dan martabatnya, melainkan dari mereka yang telah memainkan peranan penting dalam sejarah Islam, terutama dalam periode-periode yang kemudian.

javid-namah yang ditulis Iqbal dalam bahasa Parsi seperti dua karyanya yang terdahulu di antara triloginya itu, terbit pada 1932. S.A. Vahid menilai karya itu sebagai "magnum opus" Iqbal. Ada pula yang menilainya setingkat dengan Shah Namah karya Firdausi, Masnawi karya Rumi, Gulistan karya Sa'di dan Diwan karya Hafiz. Karya Iqbal ini telah sering diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Terjemahan yang pertama ialah dalam bahasa Itali oleh Prof. Alessandro Busani dengan judul, II Poema Celeste (Roma,1952). Ada juga sebuah versi sajak dalam bahasa Jerman yang ditulis oleh Prof. Annemarie Schimel dengan judul, Buch der Ewigkeit (Munich, 1957). Di samping itu, terdapat pula sebuah versi dalam bahasa Prancis yang dikerjakan oleh E. Meyerovitch dan Mohammed Mokri dengan judul, Le Livre de l'Eternite (Paris, 1962). Sementara sebuah terjemahan dalam bahasa Inggris terbit di Lahore pada tahun 1961 oleh Shaikh Mahmud Ahmad dengan judul, The Pilgrimage of Eternity. Demikianlah karya itu telah mencapai kalangan pembaca internasional, dan telah menduduki tempat yang layak di antara karyakarya klasik modern dalam sastera dunia.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia yang disajikan di sini dikerjakan berdasarkan teks terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh A.J. Arberry dengan judul, Javid-narna, dan diterbitkan pertama kali pada 1966 oleh George Allen & Unwin Ltd, London. Arberry menerjemahkannya dari bahasa aslinya, Parsi, dan mengusahakannya untuk berpegang sedekat mungkin pada arti aslinya. Bagian-bagian yang tak segera dapat dipahami disebabkan oleh referensi-referensi yang sulit dijangkau dan lainlain dapat dijelaskan dalam catatan singkat yang terdapat pada halaman-halaman terakhir buku itu. Dalam teks Parsi dibubuhkan "Ucapan pada Javid", putera sang penyair yang namanya dipergunakan untuk judul karyanya itu. A.J. Arberry meniadakan bagian ini, karena bukan bagian dari keseluruhan karya itu, dan karena penerjemah-penerjemah lain yang terdahulu pun menghilangkan bagian itu pula.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia diusahakan sedekat mungkin dengan maksud yang terkandung dalam teks Inggris dari Arberry. Catatan yang diberikan pada halaman-halaman terakhir teks lnggris itu diberikan sebagai catatan kaki pada setiap halaman yang memerlukannya dalam terjemahan Indonesia ini, dengan maksud agar dapat dipergunakan lebih langsung.

Hartojo Andangdjaja


ISI BUKU


  • Doa
  • Prelude Di Langit
  • Prelude Di Bumi
  • Daerah Bulan
  • Daerah Mercurius
  • Daerah Venus
  • Daerah Mars
  • daerah Jupiter
  • Daerah Saturnus
  • Di Luar Segala Daerah
  • Lampiran : Perjalanan Hidup Allamah Iqbal

BUKU MUSYAWARAH BURUNG - FARIDU'D-DIN ATTAR

MUSYAWARAH BURUNG - FARIDU'D-DIN ATTAR

PENGANTAR

Karya Attar, yang dalam bahasa aslinya berjudul Mantiqu't-Thair dan berbentuk puisi yang berwatak mistis religius, agaknya ditulis dalam pertengahan kedua abad kedua belas Masehi. Sejak waktu itu, setiap selang beberapa tahun terbit edisi baru di negeri-negeri Timor Tengah dan Timur Dekat.

Terjemahan bahasa Indonesia atas karya itu dikerjakan dari teks terjemahan bahasa Inggris dari C. S. Nott, berjudul The Conference of the Birds.

Semula Nott mengerjakan terjemahan itu terutama untuk kepentingan sendiri dan beberapa sahabatnya; tetapi karena terjemahannya itu merupakan terjemahan paling utuh yang pernah terdapat dalam bahasa Inggris selama itu, maka agaknya telah menarik kalangan publik yang lebih luas. Maka diterbitkanlah The Conference of the Birds itu buat yang pertama kali pada tahun 1954 di London dan selanjutnya buku itu beberapa kali mengalami cetak ulang.

Dalam penterjemahan ke bahasa Inggris, buat sebagian besar Nott mempergunakan terjemahan

Garcin de Tassy dalam bahasa Perancis yang berbentuk prosa dan yang dikerjakan dari teks bahasa Parsi yang diperbandingkannya dengan teks dalam bahasa Arab, Hindu dan Turki (Paris, 1863). Di samping itu, Nott juga mempergunakan sumber penjelasan dari teks dalam bahasa Parsi lewat sahabatnya, seorang Sufi, di samping juga dari terjemahan-terjemahan dalam bahasa Inggris yang masih ada. Dari yang tersebut terakhir itu ia mempergunakan tiga buah terjemahan, yang semuanya kelewat diperingkas. Yang pertama terjemahan Edward Fitzgerald, bersajak dan agak sentimental; yang kedua terjemahan Ghulam Muhammad Abid Saikh, terlalu harfiah, berupa 1170 bait dari 4674 masnawi dalam bahasa aslinya (India, 1911); yang ketiga (dan yang terbaik dari semuanya itu) ialah terjemahan Masani, berbentuk prosa, meskipun hanya kira-kira setengah dari aslinya yang diterjemahkan (Mangalore, India,1924). Ketiga buah terjemahan itu sudah lama tidak dicetak lagi. Terjemahan Garcin de Tassy lengkap, dan, seperti dikatakannya, "seharfiah yang dapat saya usahakan untuk bisa dimengerti." Tassy juga mempertahankan keharuman, semangat dan ajaran puisi Attar itu.

Dalam terjemahan Inggris itu Nott tidak menyertakan paroh terakhir dari Madah Doa -- dalam teks Hindu bagian itu tidak terdapat, dan dalam teks Turki diperingkas. Tentang Akhirul Kalam yang mengakhiri karya Attar itu, Nott hanya menyertakan bagian pertamanya, karena selebihnya, oleh sebab terdiri dari cerita-cerita kecil (anekdot), akan merupakan antiklimaks. Dalam teks-teks Hindu dan Turki Akhirul Kalam itu dihilangkan sama sekali, sedang dalam manuskrip-manuskrip lain berbeda-beda adanya. Nott juga tidak menyertakan atau hanya menyarikan saja beberapa cerita kecil (anekdot) dalam karya Attar itu, baik karena cerita-cerita kecil itu terasa bersifat mengulangulang atau karena artinya "gelap". Tetapi segala yang berhubungan dengan "Sidang" atau "Musyawarah" Burung-burung itu, sebagaimana yang dituturkan dalam manuskrip aslinya, disajikan dalam terjemahan Nott itu.

Dalam penomoran bagian-bagian, Nott mengikuti terjemahan Tassy, yaitu menurut manuskrip aslinya.

Nott membubuhkan pula catatan-catatan tentang Attar dan Kaum Sufi. Untuk ini, di antara sumber-sumber lain, ia mempergunakan sumber keterangan dari The Dictionary of Islam dan Encyclopaedia of Islam.
Kecuali itu, ia pun membubuhkan pula Glossarium dengan maksud agar pembaca, dengan lebih dulu membaca keterangan-keterangan dalam Glossariurn itu, akan dapat menangkap lambang-lambang, kias dan sebagainya yang terdapat dalain karya Attar itu dengan lebih jelas.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia di sini sepenuhnya mengikuti terjemahan Inggris Nott. Hanya Glossarm itu tidak diberikan sebagai bagian yang tersendiri, melainkan diberikan di sana-sini sebagai catatan kaki, dan itu pun hanya diambil mana yang kiranya perlu dijelaskan bagi pembaca Indonesia.
Sementara itu, dalam menelaah karya Attar (dari terjemahan Nott), penterjemah Indonesia banyak menemukan bagian-bagian yang dapat dicari rujukannya dalam Al-Quran. Dan dengan menemukan rujukan-rujukannya dalam Al-Quran, bagian-bagian yang semula gelap baginya, dapat dicerahkan. Hal-hal demikian, dalam terjemahan Indonesia, dibubuhkan pula sebagai catatan kaki. dalam mencari rujukan-rujukan dalam Al-Quran itu penterjemah Indonesia mempergunakan The alcuning of the Glorious Koran dari Mohammed Marmaduke Pickthall, di samping The Holy Qur'an dari Maulawi Sher 'Ali.

Demikianlah catatan-catatan kaki itu, seperti juga Glossarium dalam terjemahan Nott, dimaksudkan untuk seberapa mungkin mencerahkan bagian-bagian yang gelap dalam karya Attar itu.

Hartojo Andangdjaja


ISI BUKU

  1. Madah Doa
  2. Burung-Burung Berkumpul
  3. Musyawarah Burung
  4. Akhirul Kalam
  5. Attar
  6. Catatan Tentang Kaum Sufi

Buku Kumpulan Puisi | KORRIE LAYUN RAMPAN

KORRIE LAYUN RAMPAN

BUKU I
SUARA KESUNYIAN

  1. Menunggu Malam di Sini
  2. Adakah Engkau Tetap di Sana
  3. Sepasang Burung
  4. Serenade Hampir Penghabisan
  5. Surat
  6. Dari Rimba Kehidupan
  7. Kutulis
  8. Dalam Kirai Sayap Waktu
  9. Doa Seorang Bocah Tuna
  10. 1973
  11. Tarakan
  12. Pintu
  13. Rahasia
  14. Kota Kita di Sini
  15. Puisi
  16. Engkau dan Aku
  17. Cermin
  18. Dari A-Z
  19. Kita
  20. Sang Waktu pun Terbangun
  21. Senja Di Parangtritis
  22. Kota
  23. Ketika Soli Deo Gloria Hampir Penghabisan
  24. Bunga-Bunga Daun Luruh
  25. Perjalanan Ini
  26. Di Tengah Galau Riuh Rendah Abad Ini
  27. Gerimis Pagi Ini
  28. Z
  29. Mahakam


BUKU II
LAGU BATIN

  1. Kutempuh Jalan-Jalan Lenggang
  2. Waktu-Mu pun Jatuh di Sungai
  3. Dalam Lumpur-Mu Tenggelam Aku
  4. Terapung-Apung Aku di Laut-Mu
  5. Pemburu
  6. Solitude
  7. Sesudah Sebuah Solitude
  8. Di Antara Kita Bumi pun Jadi Lain
  9. Bertahan Kita dalam Ayunan Waktu
  10. Kita Berjalan dalam Warna-Warna Semu
  11. Diri
  12. Sawan
  13. Aku Terseret Kekosongan di Tengah Galau
  14. Burung Hitam
  15. Lirik I
  16. Lirik II
  17. Nyanyian


BUKU III
WAJAH PUISI

  1. Sajak
  2. Epitaf
  3. Genesis
  4. Moneto Mori
  5. Satu April 1976
  6. Anak MAlam
  7. Dick yang Lagi Menyanyi di Jendela
  8. Kami
  9. Kita Bagai Tawanan Berbaris dalam Wujud
  10. Semula
  11. Pantun
  12. Tenggarong, Kota Tua Dalam Kabut Bergumpal-Gumpal
  13. Nocturno
  14. Firman pun Berdesakan Memburu Fajar Beribu Caya
  15. Kita Berpisah Dalam Kuyub Waktu
  16. Hidup Bagai Air Terus Mengalir
  17. Siluet
  18. Putih! Putih! Putih!
  19. Paradise Lost
  20. Kita Bagai Rimba Dijajah Prahara
  21. Terdampar Entah di Mana, Kekasihku
  22. Puisi Sore Hari
  23. Wajah
  24. Sebuah Kota Terpanggang di tengah Musim
  25. Ke Selatan, ya Ke Selatan Lagi
  26. Siang Bening
  27. Sungai Putih
  28. Aku Tenggelam Dalam Dunia Lepas Akar
  29. Au Revoir
  30. Katekisasi
  31. Aku Demam Berumah Dalam Diri

BOOK NATASHA JOSEFOWITZ | POEMS COLLECTION

TO WISE TO WANT TO BE YOUNG AGAIN

CHAPTER 1 (THE GOOG NEWS IS)

  1. You're Only As Old
  2. Yhe Best Is Yet To Come
  3. There's Always Something
  4. I Finally have Time
  5. These Are The Years
  6. That's Me!
  7. Why Should I Worry?


CHAPTER 2 (SOME THINGS NEVER CHNAGE)

  1. My Closet is Full of Nothing to Wear
  2. My Mother Still Tells Me What To Do
  3. Photo Albums
  4. Irrestible
  5. The Fear Never Stops
  6. I Had a Robbery While I Was Out
  7. Clutter

Sajak Sunda Etti RS | Buku Puisi Basa Sunda

Sajak Sunda Etti RS | Buku Puisi Basa Sunda
  1. Peuting Nuzulul Qur'an I
  2. Peuting Nuzulul Qur'an II
  3. Di Mumunggang Cikeruh
  4. Surat Keur Kenny G
  5. Surat Ti Palestina
  6. Surat Ti Batukaras
  7. Nu Balik Ngungsi
  8. Tandon
  9. Na Tetelar Taun Anyar
  10. Paneja
  11. Patanjala
  12. Ngageuri Dina Sujud Iedul Fitri
  13. Basa Panonpoe Manceran
  14. Basa Layung Tunggang Gunung
  15. Lagu Jalir Jangji
  16. Sinom Karumaosan
  17. Surat Tepung Taun ti Marsinah
  18. Dina Hiji Mangsa
  19. Cicalengka
  20. Cadas Pangeran
  21. Leuweung Tutupan
  22. Sapanjang Jalan Tol Padaleunyi
  23. Mun Bandung Nanjung
  24. Mipit kembang Milang Bentang
  25. Diskotik
  26. Di Lapang Golf
  27. Duraring Durang Durirang
  28. Lagu Simpe
  29. Dua Prasasti
  30. Pasosore Antara Karawang-Cikampek
  31. Lagu Hujan Silantang
  32. Mumunggang Ciptarasa
  33. Lebah Mumunggang Cikajang
  34. Perang
  35. Angin Basisir Cilauteureun
  36. Hiliwir Angin Bulan Mei
  37. Dulag
  38. Sarebu Bulan Keur Kuring
  39. Lagu Tungtung Taun
  40. Nyekar
  41. Ciganitri
  42. Karaton Kasepuhan
  43. Prabu Kean Santang
  44. Rakean Walangsungsang
  45. Sabot Ngangkleung
  46. Hiji Dunya
  47. Kado Keur Lemah Cai
  48. Lagu Anjang-Anjangan I
  49. Lagu Anjang-Anjangan II
  50. Sunda Sampeureun Jaga
  51. Lengkah
  52. Sabot Reureuh
  53. Lagu Paturay
  54. Repormasi
  55. Neuteup Bandung Ti Mumunggang Kaler
  56. Tonggoheun Isola
  57. Surat Sungkawa
  58. Keur presiden Amerika
  59. Kawali

BUKU KUMPULAN SAJAK - M HUSSEYN UMAR

KUMPULAN SAJAK - M HUSSEYN UMAR

LERENG

  1. Asap Pabrik
  2. Moment Sentimentalia
  3. Permintaan Pada Penyair
  4. pemimpi
  5. Balada Omi dan Bapaknya
  6. Senggolan
  7. Trirona
  8. orang Gila
  9. Hikayat Cindur Mata
  10. Orang Hitam
  11. Duka Cita
  12. Pinggir Jalan
  13. Panta Rei
  14. Souverein
  15. Elegi Keadaan
  16. Pelukan Pertama
  17. Lereng kehidupan
  18. Ilham
  19. Hampir Waktu
  20. Penerimaan
  21. Selamat Jalan
  22. Hymne I
  23. Hymne II
  24. Hymne III
  25. Pada Setangkai Narsis'
  26. Kehilangan
  27. Senja di Tanah Abang
  28. Tanah Air
  29. tentang Impian
  30. Kampung di Malam Hari
  31. Fragmen
  32. L'invitation au Voyage
  33. Lost
  34. Le Poete Al'Hopital
  35. Lost End
  36. Tinjauan
  37. Rawasari di Musim Hujan
  38. Weluku
  39. Tentang Tangis
  40. Fragmen Terakhir untuk G.A
  41. Vignet
  42. The Poet and His Dream
  43. Catatan di Pangkal Pinang
  44. Riwayat
  45. Padi Hanyut
  46. The Last Dictator
  47. Kerancuan


PERJALANAN

  1. Persimpangan
  2. Keberangkatan
  3. Zandvoort
  4. Demontrasi Setengah Hati
  5. K.M. Latuharhary
  6. Pantai Tiada Berlaut
  7. Moment Sentimentalia II
  8. Sinar
  9. Memoraria I
  10. Memoraria II
  11. To The World of Flowers
  12. Hongkong, Mon Amour!
  13. On Board Flight SQ 05
  14. The Rainy Dawn
  15. Di Antara Pasang dan Surut
  16. Renungan di Pantai Jepang Selatan
  17. Pada Sebuah Kapal Tua
  18. Matahari
  19. Tokyo
  20. Kenyataan
  21. Pasar Minggu, Adieu!
  22. Urban
  23. Pada Sebuah Lukisan
  24. Di Muka Kebesaran-Mu
  25. Pada Suatu Musibah di Laut
  26. Anak Kecil dan Dunianya
  27. Dunia Pencakar Langit
  28. Tonggak Perjalanan
  29. Amsterdam
  30. Catatan di Gromitz
  31. Pujaan Kepada Langit dan Laut
  32. Lagu Cinta Gadis Libanon
  33. Tanah Goyang di Waingapu
  34. Ibunda
  35. Mestinya
  36. Catatan di Reeperbahn, Hamburg
  37. Peluang
  38. Pada Gadis Remaja
  39. Arah
  40. Kaki Langit
  41. Ode Pada Pengabdian
  42. Manusia Perahu
  43. On The Wing of Mission
  44. Semalam di Barbados
  45. Renungan di Addis Ababa
  46. Baghdad 1987


REFLEKSI

  1. Pemandangan di Que-Lin
  2. Kepada Pemain Taichi
  3. Tao
  4. Masjid di Xi-An
  5. Pantai Bondi
  6. Lautan Domba di Kaikoura
  7. Tentang Pagar dan Pintu
  8. Bom di San Fransisco
  9. Doa Seorang Ibu di Hadapan Jenazah Putrinya
  10. Kegelisahan
  11. Balada Tanah Air
  12. Pada Sengketa
  13. Senandung Kecil
  14. Impromptu II
  15. Doa Di Awal Hari
  16. Perjalanan di Ujung Hari
  17. Lembah Dalam
  18. Di Ujung Malam
  19. Tentang Gelombang
  20. tentang Waktu
  21. Tentang Rakyat
  22. Matahri di Tanah Lot
  23. Narasi Akhir Tahun
  24. Perjalanan
  25. tirai
  26. Impromptu II
  27. Lego Jangkar
  28. In Memoriam, Pada Kepergian Ibunda Siti Anyar
  29. Kabut Pagi
  30. Schouwburg 1996
  31. San fransisco di Depan jendelaku
  32. Bunga Api di Atas Danau
  33. Kayutanam
  34. Bukittinggi Pagi Hari
  35. Burung-burung Danau Jenewa
  36. tentang Hukum
  37. Di Gedung Pengadilan
  38. Kehidupan I
  39. Kehidupan II
  40. O.B. Kambuna
  41. Alam Semplak
  42. Tentang Persoalan
  43. Kebun Anggur di Napa Valley
  44. Di Lereng Gunung Fuji
  45. Di Istana Kwon-Jong Yong
  46. Nyanyian Burung Gagak
  47. Pada Sebuah Faksimil
  48. Lex Mundi
  49. Pro Yustitia
  50. In Search of Law
  51. Salomon!
  52. Tragik II
  53. Potret Jakarta Dalam Banjir
  54. Tanah Ini
  55. Buku-Tali Bernama "Aceh"
  56. Di Simpang Jalan
  57. Surat Seorang Terpidana Kepada Majelis Hakim
  58. Hukum Rimba
  59. Dicari : Hukum

Jumat, 28 Mei 2010

BUKU TIGA KUMPULAN SAJAK YAYAT HENDAYANA

BUKU TIGA KUMPULAN SAJAK YAYAT HENDAYANA

DOA ANGKATAN KAMI (1963-1966)

  1. Malam Bersama Keluarga
  2. Penantian
  3. Sebaiknya Kita Hancurkan
  4. Kabar dari Kota
  5. Untuk Ibu
  6. Catatan Sisa Lebaran
  7. Rindu berguling sendiri
  8. Tempat Tinggal
  9. Desa
  10. Kalau Mati Esok Hari
  11. "Akulah Kuda, Kuda Gambir"
  12. Dari Lubuk Hati Kaum Tani
  13. Di Kaki Sebuah Gedung
  14. Mukjizat Sebuah Sajak
  15. Jalan-Jalan
  16. Tawanan
  17. Kehidupan
  18. Monumen
  19. "Berakhirlah di Sini, Mulailah dari Sini"
  20. Kepada Yth. Ibunda Julius Usman
  21. Doa Angkatan Kami
  22. Malam pun Semakin Kelam
  23. Perkawinan

BERILAH KAMI SUAKA (1970-1978)

  1. Langgensuara
  2. Mundinglaya Saba Langit
  3. Kerja
  4. Rapuh
  5. Rumput dan Kata
  6. Kata
  7. Sepenggal Percakapan
  8. Bernama Sajak
  9. Kepada Tuan-Tuan Pembikin Sajak
  10. Seseorang Berangkat Perang
  11. Gugur Senja
  12. Talkin
  13. Kelam Tengah Malam
  14. Berilah Kami Suaka
  15. "Bandung, Dari Pebukitan"
  16. "Baduy, Banten Selatan"
  17. Cimahi
  18. Tanah Air
  19. Dapatkah Kita
  20. Catatan Sentimentil
  21. Ada Wangimu
  22. Engkau Masih Juga Bertanya
  23. Cemburu
  24. Antonius dan Cleopatra
  25. Pacar yang Hilang
  26. Ilusi
  27. Kusebut Kau
  28. Dalam Sadar
  29. Doa

MENCARI UJUNG SEPI (1998-2004)

  1. Lereng
  2. Bergegaslah Anak-Anakku
  3. Xena dan Simbad
  4. Berhentilah Berkata-kata
  5. Mengapa Mesti Bertengkar
  6. Pengemis Itu, Tanah Airku
  7. Suatu Ketika Antarmanula
  8. Di Antara Kami, Kamu Abadi
  9. Ulangtahun Sonny Soeng
  10. Tak Sepatutnya Kita Menyerah
  11. Di Era Informasi Kita Benci Informasi
  12. Oemar Bakri Tak Tahan Lagi
  13. Mencari Ujung Sepi
  14. Nusa Belantara

Daftar Isi Buku Penunggu Makam | Beni R Budiman

Daftar Isi Buku Penunggu Makam | Beni R Budiman

PENUNGGU MAKAM

  1. Di Pelabuhan Cirebon
  2. Vacuite
  3. Reversibilite
  4. Rhinoceros
  5. Sepanjang Namamu
  6. Kadipaten
  7. Solitaire
  8. Karnaval
  9. Epilog Kamar
  10. Thespian
  11. Fantasi Siang
  12. Melankolia
  13. Kasmaran
  14. Camping
  15. Karamba
  16. Kota Angin
  17. Natura Morta
  18. Penunggu Makam
  19. Beruang
  20. Korsel
  21. Pesta Duka
  22. Montase Luka
  23. Api Unggun
  24. Standing Party
  25. Victoria
  26. Guenica
  27. Cemen
  28. Dinding Batu
  29. Lelatu
  30. Cendawan
  31. Ronda Malam
  32. Cangkul
  33. Pulau Api
  34. Lanskap Hitam
  35. Rumah Kita
  36. Pasanggrahan
  37. Tangkuban Perahu
  38. Hadiah
  39. Kuntul
  40. Terminal
  41. Rumah Pasir
  42. Kebun Kita
  43. Hujan
  44. Bukit

LAGU POHON PALA

  1. Madah Laut
  2. Phiton
  3. Prasasti
  4. Lagu Pohon Pala
  5. Prosa Anak
  6. Kuta 1985

BUKU KUMPULAN PUISI KUNTOWIJOYO

BUKU KUMPULAN PUISI KUNTOWIJOYO
  1. Isyarat
  2. Danau
  3. Angin Laut
  4. Laut
  5. Vagina
  6. "Bangun, Bangun"
  7. Batu Pualam
  8. Sepi
  9. Kabut
  10. Sesudah Perjalanan
  11. Waktu
  12. Musim Perjuangan
  13. Suara
  14. In Memoriam: Yang Terbunuh
  15. Kota
  16. Pejalan
  17. Musim Panen
  18. Mobil
  19. Pabrik
  20. Engkau Sukma
  21. Pada Hari yang Lain
  22. Pepohonan
  23. Pina
  24. Pemandangan senja
  25. Hari ke n
  26. Sang Utusan
  27. Menara
  28. Suasana 1
  29. Suasana 2
  30. Yang Terasing
  31. Lelaki
  32. Kelahiran
  33. Malam
  34. Perjalanan ke Langit
  35. Alam sedang Berdandan
  36. Mengubur Jenazah
  37. Darah
  38. New Haven
  39. Hari
  40. Duka Cita
  41. Akhirul Kalam dari Hayat
  42. Desa
  43. Perkawinan
  44. Perempuan Tak Setia
  45. Nasib
  46. Kenangan pada sebuah Taman
  47. Perlanggaran
  48. Jalan Terbuka
  49. Impian Penangkap Ikan
  50. Benda-Benda
  51. Tetapi Sesudah Itu
  52. Rahasia Tersingkap
  53. Tak Seorang Mengerti
  54. Api
  55. Bulan
  56. Pada Jam Enam Pagi
  57. Mimpi
  58. Persekutuan Baru
  59. Petuah
  60. Perkumpulan Orang Suci
  61. Hikayat
  62. Meja-Meja
  63. Zina
  64. Gelas
  65. Rakhmat
  66. Diam
  67. Nama-Nama
  68. Kupu-Kupu
  69. Susu
  70. Bencana
  71. Penyucian
  72. Kemenangan

DAFTAR ISI BUKU "UPS" | RIEKE DIAH PITALOKA

DAFTAR ISI BUKU "UPS" | RIEKE DIAH PITALOKA
  1. Tulang Rusuk
  2. Bagimu Negri Kami Berbagi
  3. Enam Manusia Ciptaan Tuhan
  4. Depan Rumah Jalan Gandaria
  5. Hari Kesepuluh
  6. Alun-alun Kota
  7. Di Beranda Baiturahman
  8. Londo Ireng
  9. Pancasila!
  10. Adam dan Hawa Tak Mungkin Bersama
  11. Marasmus
  12. Di antara Berkas Pembebasan
  13. Kupu Kecil Itu
  14. Note 2
  15. Note 3
  16. Kematian Dua Lelaki
  17. Kado Cinta
  18. Aku-Ramadhan-Ibu
  19. Janji Seorang Pekerja
  20. Interogasi Tahanan Terakhir
  21. Doa dari Palestina
  22. Hio Merah
  23. Hari Itu
  24. Sisa Indah Bulan Purnama
  25. Fatamorgana
  26. Seragam
  27. Santet Kuntet
  28. Puisi di Awal Hari
  29. Perempuan Berkerudung
  30. Surat untuk Pekerja
  31. Penjaga Tiang Gantung
  32. Pada Pesta Perayaan Kemenangan
  33. Meulaboh
  34. Situs
  35. Menu Pengantar Tidur
  36. Toko di Jalan Buncit
  37. Teror
  38. Tentang Aku dan Ayahmu
  39. Surat Wasiat
  40. Ups!

BUKU KUMPULAN PUISI DINA OKTAVIANI

BUKU KUMPULAN PUISI DINA OKTAVIANI
BANGKAI TANJUNGKARANG

  1. Kalender Sepi
  2. Gardu Tua
  3. Jendela Senja
  4. Lakon Tubuh
  5. Kado Buat Masa Kecil
  6. Dongeng Kelabu Sebuah Kafe
  7. Mencari-mu
  8. Dongeng Tentang Kesetiaan
  9. La Concubine
  10. Sepasang Orang Kalah
  11. Cinta yang Sengit
  12. L'acteur
  13. Silsilah
  14. Sebelum Kau Pergi
  15. Ritus Berahi
  16. Lukisan Sempurna
  17. Bangkai Tanjungkarang
  18. Memo Sebuah Kelahiran
  19. Dongeng untuk Bapa
  20. Empat Bait pergi
  21. Ciuman Judas
  22. "Sebuah Natal, Hujan, Penghancuran"

PROSA TAHUN BARU

  1. Prosa Tahun Baru
  2. Sakramen
  3. Pigura Sepasang Saudari
  4. Hujan
  5. Solitaire
  6. Sabbath
  7. Pertemuan di Pinggir Kali
  8. Bayangan
  9. Jalan Pulang
  10. Sebuah Tiada
  11. Agoni
  12. di Sebuah Musim Penghujan
  13. Agorafobia
  14. Film tentang Burung-burung
  15. Labirin

SONGS FOR DOG!

  1. Nyanyian untuk Anjing
  2. Kenangan pada sebuah Taman
  3. Di bawah sebuah Gang
  4. Seseorang dan Tengah Malam
  5. Kursi Tunggu
  6. Seberang Gereja Tanjungkarang
  7. Seberang Gereja Tanjungkarang (2)
  8. Orang Asing
  9. Aranku Sunya

BUKU ANTOLOGI PUISI UNTUK MUNIR

Munir adalah pejuang Hak Azasi manusia, yang diracun dalam perjalanan dengan pesawat terbang ke Belanda menjelang akhir 2004. Hal ini merupakan tragedi hak azasi manusia yang mampu menyeret penegakan hukum dan keadilan hak azasi manusia di Indonesia menuju pada masa-masa gelap seperti yang dialami banyak kekerasan dan tragedi kemanusiaan, diantaranya tragedi G30S 1965, Tragedi Kemanusiaan DOM Aceh, Tanjung Priok, Tragedi SemanggiLink 1998, dan serentetan pelanggaran hak azasi manusia yang tidak dituntaskan secara hukum dan berkeadilan. -
Berikut adalah kumpulan penulis puisi yang terkemas dalam buku NUBUAT LABIRIN LUKA "Antologi Puisi Untuk Munir" yang diterbitkan oleh Sayap Baru & Aceh Working Group - November 2005


  1. Aku Ingin Bercerita ( Aliyah Purwanti)
  2. Hanya Kata ( Anik Sulistya Wati)
  3. Dua Tiupan Angin di Awal Musim (Anik Sulistya Wati)
  4. Cak Munir di Awan ( Asep Sambodja)
  5. Tentang Kematian ( Azizah Hefni)
  6. Ruang Setelah Dunia ( Azizah Hefni)
  7. Hidup Saat Mati Basilius (Andreas Gas)
  8. Kemerdekaan Semu Basilius (Andreas Gas)
  9. Di Belakang Munir (Ben Abel)
  10. Omku Munir Sudah Pergi (Bima Dirgantara Putra)
  11. Pesta Bakar Ikan (Bima Dirgantara Putra)
  12. Kau Berhenti (David C. Naingolan)
  13. Di Langit (David C. Naingolan)
  14. Ibu Belum Pernah Jadi Janda (Denny Ardiansyah)
  15. Matinya Seorang Pejuang (Dino F. Umahuk)
  16. Kebenaran Itu Luka (Dino F. Umahuk)
  17. Kucium Aroma Setan (Djodi B. Sambodo)
  18. Kisah Pohon Munir (Djodi B. Sambodo)
  19. Tanpa Salam (Donny Anggoro)
  20. Boleh Saja Kau Menjauh (Donny Anggoro)
  21. Nyanyian Burung dan Bunga (Eka Budianta)
  22. Sejaman Bersama Munir (Eka Budianta)
  23. Munir - Bagaimana Bisa ( Emil Wahyudianto)
  24. Percakapam Dengan Dua Orang Kawan (Eko Sugiarto)
  25. Obituari (Eko Sugiarto)
  26. Waktu Beku ( Frigidanto Agung)
  27. Maha Rukhmi (Frigidanto Agung)
  28. Asasi Hadi (Eko Suwono)
  29. Pejuang Hadi (Eko Suwono)
  30. Sajak Terakhir untuk Munir (Hartono Beny Hidayat)
  31. Orang Hilang di Pesawat Terbang ( Hasan Aspahani)
  32. Tinggal Telanjang ( Henny Purnama Sari)
  33. Kidung September ( Indrian Koto)
  34. Bluess untuk Si Mati ( Indrian Koto)
  35. Subuh Ini Air Mataku Menziarahi Makammu ( Leo Kelana)
  36. Ode untuk Cak Munir ( Luka Muhamad)
  37. Ketika…. ( Luka Muhamad)
  38. Suatu Sore di TMP Kalibata ( dr. M. Amin)
  39. Munir : Sepertimu Aku Sedang Terbang Melayang ( Mega Vristian)
  40. Setangkai Mawar Putih Untuk Munir (Mega Vristian)
  41. Mataku Berdarah Penuh Asap dan Marah ( Mila Duchlun)
  42. Bagimu Pahlawan Orang Hilang (Muhammad Muhar)
  43. Selamat Jalan Cak Munir…. (Muhammad Muhar)
  44. Jalan Berbatu ke Rumah Damai ( Naldi Nazir)
  45. Di Stasiun Itu Kita Bertemu (Nanang Suryadi)
  46. Jejak (Nining Indarti)
  47. Suratku Buatmu (Rini Fardhiah)
  48. Sudah Sejak Dulu (Rini Fardhiah)
  49. Suara-Suara ( S. Yoga)
  50. Doa Dalam Kubur (S. Yoga)
  51. Cak Saeno (M. Abdi)
  52. Parabel (Saut Situmorang)
  53. Ziarah ( Seto Nur Cahyono)
  54. Kereta Terakhir ( Seto Nur Cahyono)
  55. Munir (Setiyo Bardono)
  56. Rencana yang terkepak (Setiyo Bardono)
  57. Nubuat Para Penyair (Sihar Ramses Situmorang)
  58. Buat dan Tentang Munir ( Sobron Aidit)
  59. Kunang-Kunang di Ujung Malam ( St. Fatimah)
  60. Kekasih Luka (St. Fatimah)
  61. Kaum Merdeka( Stevi Yean Marie)
  62. Hempas Gelombang (Stevi Yean Marie)
  63. Sajak untuk Munir ( Sutan Iwan Soekri Munaf)
  64. Catatan Tak Pernah Sudah ( Sutan Iwan Soekri Munaf)
  65. Bunga Apel di Atas Menara ( Titik Kartitiani)
  66. Negeri yang Kuharap Bukan Negeriku (Titik Kartitiani)
  67. Obat Arsenik (Ucup Al-Bandungi)
  68. Takut Terluka ( Ucup Al-Bandungi)
  69. Kepada Munir (Widzar Al-Ghifary)
  70. Malam di Ultimus (Widzar Al-Ghifary)
  71. Epitaph Munir (Viddy AD Daery)
  72. Di-Munir di Labirin-nya ( Yonathan Rahardjo)
  73. Korek Telingamu ( Yonathan Rahardjo)
  74. Kami Penerusmu Munir ( Widia Cahyani)

BUKU KUMPULAN SAJAK DADAN DANIA DK

BUKU KUMPULAN SAJAK DADAN DANIA DK

TIADA KULIHAT MATAMU MENGUCAP CINTA

  1. Selimut Cinta Merurub Kita
  2. Tiada Kulihat Matamu Mengucap Cinta
  3. Biarkan Hatimu Berbincang Padaku
  4. Tadinya Hendak Kupetik Angrek Buatmu Hetty
  5. Di tengah Labirin Yang Kubangun Sendiri
  6. Senandung Rindu Buat Mamma
  7. Seperti yang Kuduga Semula
  8. Tak Kujanjikan Kebahagiaan Padamu
  9. Kukenal
  10. Sebagai Diriku Sendiri
  11. Madah Ashabul Maimanah

PINTU DIKETUK

  1. Pintu Diketuk
  2. Plot yang Hilang
  3. Pagi-pagi di Binamuda
  4. Bara
  5. Pada Siang Padang Sia
  6. "Sssst…Jangan Ribut, Tuhan Lagi Rapat"
  7. Ya yang Tak Tiba bagi Pinta
  8. Nanti Kunanti Kau di Penantian Ini
  9. Rindu berguling sendiri
  10. Kuncup yang Kembang yang Gelinjang
  11. Tak Kau Geliatkan Aku dari Mimpi Menyandingimu
  12. Gigil
  13. Terjulurlah Kau Ya Allah
  14. Menelusuri Salah Satu Sisinya

MASIHKAH BUNGA 'KAN MEKAR

  1. Sekolahahahahah
  2. Terminal
  3. Statsion
  4. Ringis Bumi Yang Tak Lagi Gadis
  5. Priangan
  6. Wanaraja
  7. Seorang Kakek Suatu Sore
  8. Dinding-Dinding yang Bertaring
  9. Sebatang Puntung pada Sebuah Siang
  10. Balada Sang Garuda
  11. Masihkah Bunga 'kan Mekar

BUKU KUMPULAN SAJAK WING KARDJO

BUKU KUMPULAN SAJAK WING KARDJO

SUMBER

  1. Piknik55
  2. Kutuliskan
  3. Spleen
  4. Rien de Nouveau
  5. Bisikan
  6. Sajak Dalam Angin
  7. Endless tape
  8. Torehan
  9. Hutan
  10. Di sebrang tidur
  11. Dan Kau pun
  12. Catatan
  13. Karuhun
  14. Sumber
  15. Tafakur
  16. Baris antara
  17. Rumah Hidupku
  18. S.O.S

MUSIM-MUSIM

  1. Yang Jauh
  2. Musim Gugur
  3. Jardin de Luxembourg
  4. Salju
  5. Sarang
  6. Tamasya
  7. Musim Semi
  8. Au Revoir 1
  9. Au Revoir 2

SAJAK

  1. Pernyataan
  2. Keterangan
  3. Petualang
  4. Dia yang dilumpuhkan
  5. Point of no return
  6. Sajak atas Sajak
  7. Kalam
  8. Sajak Tigapuluhtiga
  9. Sajak sakit
  10. Sajak
  11. Abjad
  12. Sajak dalam Angin
  13. Surat pada Seorang Ibu
  14. Lagu
  15. Nyanyian
  16. Life as Litterature

LACHAIR, HELAS

  1. L'education Sentimentale
  2. Dukuh/Krakatau
  3. Surga
  4. "La chair, helas!"
  5. Roppongi
  6. Yapayukisan
  7. Requiem
  8. Setelah Pergi
  9. Kamar Hotel
  10. Hujan
  11. Mata
  12. Malam Bulan

TANAH ASING

  1. Place Danton/Tg. Priok
  2. La Nausee
  3. Schevenigen
  4. Menara 1
  5. Menara 2
  6. Orang Asing
  7. Bukit
  8. Kepada Pelukis Salim
  9. Kepada Pelukis Apin
  10. Le Lac Leman
  11. Sajak Akhir Tahun 1
  12. Pont de Arts
  13. Perjalanan
  14. "Ah, Ombak laut dan Darat"
  15. "Hamparkan hasrat, Biru, Kuning"
  16. Centraal Station
  17. Amsterdam
  18. Di Pelabuhan
  19. Peluru
  20. Place St. Michel
  21. Catatan 1988
  22. Gempabumi:Kobe

PERTEMUAN

  1. Sehabis Pertempuran
  2. Dongeng untuk Sinta
  3. St. Germain de Pres
  4. Café de Flore
  5. Slemmestad
  6. Impasse Chartiere
  7. Sulla Terra Nuda
  8. Via del Chiavari
  9. Pantai
  10. Penyeberangan
  11. Surat atas Bulan
  12. Lewat Tengah Malam
  13. Wanita Pilihan
  14. Seascape
  15. Momiji
  16. Seperti Mimpi
  17. Whisper in Agony
  18. Whisper in The Night
  19. Rawa Belantara
  20. Sangkar
  21. Pertemuan di Pinggir Kali
  22. Topeng I
  23. Penetration Pacifique
  24. Topeng 2
  25. S.O.S Deadend
  26. Memperkosa 1
  27. Memperkosa 2
  28. Selembar Daun

PERISTIWA

  1. Kumonosu-jo
  2. Pararaton 1
  3. Pararaton 2
  4. Pararaton 3
  5. L'Espoir
  6. L'Instant Fatal
  7. Elegi Bang Becak
  8. Fragmen Malam
  9. Mendua
  10. Gurun
  11. Kuburan
  12. Patung

WAKTU

  1. Waktu
  2. Always in the morning
  3. Potret Senja
  4. Versailes
  5. L'Epave
  6. Kursi Roda
  7. Adieu
  8. Bukan Jarum Jam
  9. Sebelum Hidup
  10. Perumahan
  11. Bila Malam Hujan
  12. Depan Pusara
  13. Perumahan untuk Ibu
  14. Sajak Akhir Tahun 2
  15. Memang Tak
  16. Lupa
  17. Titikapi
  18. Sementara Thawaf
  19. Kering
  20. Labyrinth
  21. Ya dan Tidak
  22. Perhitungan habis tahun
  23. Perjanjian
  24. Nyanyian Lelaki yang Lelah
  25. Pelangi
  26. Proses

PENUTUP

  1. Torehan Dalam Kelam

LAMPIRAN (MERAMPOK KATA/MEMPERKOSA SONETA)

  1. Pembukaan
  2. Penjelasan Pasal 33
  3. Hiroshima Kota itu namanya
  4. Mengenang para Pejuang Gerilya
  5. Thorm of Blood
  6. Mantan Presiden
  7. Maktub
  8. Dunia Berjalan Seperti Biasa
  9. Ectasy
  10. Potret Soekarno oleh Hatta
  11. Membuka Selubung Patung
  12. Di Perutku
  13. Keseharian
  14. Mesin dan Robot
  15. Postmantra
  16. Pasar
  17. Merampok Kata
  18. Memperkosa 3
  19. Memperkosa Soneta
  20. Epitaph
  21. Antara 45 dan 95
  22. Neo Nasionalisme

BUKU KUMPULAN SAJAK RAMADHAN KH

BUKU KUMPULAN SAJAK RAMADHAN KH

PRIANGAN SI JELITA (KUMPULAN SAJAK 1956)

  1. Tanah Kelahiram
  2. Dendang Sayang
  3. Pembakaran

BUKU KUMPULAN PANTUN AJIP ROSIDI

BUKU KUMPULAN PANTUN AJIP ROSIDI

DAFTAR ISI
  1. Pantun Anak Ayam
  2. Pantun Ombak
  3. Pantun Terang Bulan
  4. Pantun Osaka-Nara
  5. Pantun Angin Barat
  6. Pantun Burung Merpati
  7. Pantun Musim Rontok
  8. Pantun Musim Dingin
  9. Pantun Musim Bunga
  10. Pantun Musim Panas
  11. Pantun Hari Jum'at
  12. Pantun Dari Kyoto
  13. Pantun Hari Lebaran
  14. Pantun Hujan Gerimis
  15. Pantun Tanjung Katung
  16. pantun Bulan Purnama
  17. Pantun Kebun Bambu
  18. Pantun Pisang Emas
  19. Pantun Pulau Pandan
  20. Pantun ke Teluk Sudah
  21. Pantun Anak Ikan
  22. Pantun dari Mana
  23. Pantun Sumur di Ladang
  24. Pantun Burung Pipit
  25. Pantun Pergi ke Laut
  26. Pantun Kumbang Jati
  27. Pantun Pulau Seribu
  28. Pantun Air Mancur
  29. Pantun si Paku Gelang

BUKU TIGA KUMPULAN SAJAK AJIP ROSIDI

BUKU TIGA KUMPULAN SAJAK AJIP ROSIDI

DAFTAR ISI

SAJAK-SAJAK HIJAU

  1. Sebelum Padi Menguning
  2. Pejalan Sepi
  3. Rindu berguling sendiri
  4. Ia pun kini sunyi
  5. Malam Putih
  6. Angin berkesiur
  7. Nenek
  8. Lagu Kerinduan
  9. Mata Derita
  10. Bunda
  11. Dukaku yang risau
  12. Kematian
  13. Warna
  14. Penyair
  15. jalan Lempeng

KAKILANGIT LAIN

  1. Tiada yang lebih aman
  2. Jeram
  3. Episode
  4. Hari Lebaran
  5. Harituaku
  6. Kebenaran
  7. Ibunda
  8. Sajak Buat Tuhan I
  9. Sajak Buat Tuhan II
  10. Aku
  11. Tentang maut
  12. Diriku
  13. Cinta dan Kepercayaan
  14. Antara kita
  15. Bayangan
  16. Tretes malam Hari
  17. Hanya dalam puisi
  18. Kucari Musik
  19. Mimpi kita siang hari
  20. tamu

SATU SAAT DALAM SEJARAH

  1. Kepada Tuhan
  2. Panorama Tanah Air
  3. Aku terjaga tengah malam
  4. Kepada penyair
  5. Kau! Kau yang bicara
  6. Perhitungan habis tahun
  7. Satu saat dalam sejarah
  8. Sajak buat sebuah nama
  9. Memandang kehidupan
  10. Doa

BUKU PUISI INGAT AKU DALAM DOAMU | AJIP ROSIDI

INGAT AKU DALAM DO'AMU

  1. Pertemuan dua orang sufi
  2. Nisan
  3. Tandatanya
  4. Hidup
  5. Jarak
  6. Sembahyang Malam
  7. Ingat aku dalam do'amu
  8. "Aku datang, ya Tuhanku, aku datang"
  9. Sementara Thawaf
  10. Arafah dinihari
  11. Mina

SAJAK-SAJAK ANAK MATAHARI

  1. Di depan lukisan Sadali
  2. Matahari
  3. Sungai
  4. Kolam
  5. Wayang
  6. Pelangi
  7. Wajah
  8. Topeng
  9. Pertunjukan Noh
  10. Harajuku
  11. Malam Lebaran
  12. Mesjid Yoyogi
  13. Bambu Jepang
  14. Pilihan
  15. Cermin
  16. Yang Tercatat
  17. Kurosawa
  18. Laut Utara
  19. Halang bergelombang
  20. Yang berkelebat
  21. Rahasia
  22. Lagu Musim Gugur
  23. Do'a
  24. Hidup
  25. Tunas
  26. Ombak
  27. Kenangan

BUKU BLUES UNTUK BONNIE | WS RENDRA

BUKU BLUES UNTUK BONNIE | WS RENDRA

BLUES UNTUK BONNIE

  1. Kupanggil Namamu
  2. Kepada MG
  3. Nyanyian Duniawi
  4. Nyanyian Suto untuk Fatima
  5. Nyanyian Fatima untuk Suto
  6. Blues untuk Bonnie
  7. Rick dari Corona
  8. Kesaksian tahun 1967
  9. Pemandangan senjakala
  10. Bersatulah Pelacur-Pelacur kota Jakarta
  11. Pesan pencopet kepada pacarnya
  12. Nyanyian Angsa
  13. Khotbah

BUKU EMPAT KUMPULAN SAJAK WS RENDRA

BUKU EMPAT KUMPULAN SAJAK WS RENDRA

KAKAWIN-KAWIN

ROMANSA (Kakawin-Kawin)

  1. Surat Cinta
  2. Serenada Hijau
  3. Serenada Biru
  4. Episode
  5. Serenada Violet
  6. Di bawah Bulan
  7. Serenada Putih
  8. Serenada Hitam
  9. Serenada Kelabu
  10. Serenada Merah Padam
  11. Surat Kepada Bunda (ttg Calon Menantunya)

KE ALTAR DAN SEDUDAHNYA (Kakawin-Kawin)

  1. Undangan
  2. Malaikat di Gereja St. Josef
  3. Nyanyian Para Malaikat
  4. Kakawin kawin
  5. "Ranjang bulan, Ranjang Pengantin"
  6. Nina Bobok bagi Pengantin
  7. Wajah Dunia yang Pertama
  8. Serenada Merjan
  9. Nyanyian Pengantin

MALAM STANZA

  1. Kali Hitam
  2. Batu Hitam
  3. Mata Hitam
  4. Burung Hitam
  5. Lagu Duka
  6. Lagu Sangsi
  7. Lagu Angin
  8. Lagu Ibu
  9. Lagu Serdadu
  10. Stanza
  11. Tidurlah Intan
  12. Dongeng Pahlawan
  13. Ibunda
  14. Kangen
  15. Bumi Hangus
  16. Ia telah Pergi
  17. Waktu
  18. Tanpa Garam
  19. Setelah Pengakuan Dosa
  20. Perempuan yang Menunggu
  21. Spada
  22. Malam Jahat
  23. Terpisah
  24. Rumpun Alang-Alang
  25. Mata Anjing
  26. Burung Terbakar
  27. Tamu
  28. Remang-remang
  29. Tak bisa Kulupakan

NYANYIAN DARI JALANAN

JAKARTA (Nyanyian Dari Jalanan)

  1. Ciliwung
  2. Ciliwung yang Manis
  3. Bulan Kota Jakarta
  4. Kalangan Ronggeng

BUNDA (Nyanyian Dari Jalanan)

  1. Nyanyi Bunda yang Manis


LELAKI (Nyanyian Dari Jalanan)

  1. Perbuatan Serong
  2. Lelaki Sendirian
  3. Lelaki-lelaki yang Lewat
  4. Nyanyi Zubo
  5. Pisau di Jalan
  6. Penjaja
  7. Gugur

NYANYIAN MURNI (Nyanyian Dari Jalanan)

  1. Terompet
  2. Lagu Malam
  3. Malaikat-malaikat Kecil
  4. Bayi di dasar Kali
  5. Ia Bernyanyi dalam Hujan

WANITA (Nyanyian Dari Jalanan)

  1. Nyanyian Perempuan di Kali
  2. Perawan Tua
  3. Aminah

SAJAK-SAJAK DUA BELAS PERAK

  1. Kenangan dan Kesepian
  2. Ho Liang telah Pergi
  3. Nenek yang Tersia Bersunyi Diri
  4. Rmah Kelabu
  5. Pertemuan di Pinggir Kali
  6. Mega Putih
  7. Anggur Darah
  8. Penunggu Gunung Berapi
  9. Hari Hujan
  10. Tingkat Lebih
  11. Orang Tua dan Pemain Gitar
  12. Nenek Kebayan
  13. Pelarian Sia-sia
  14. Petualang
  15. Berpalinglah Kiranya
  16. Justru pada Akhir Tahun
  17. kandungan
  18. Kami Pergi Malam-malam
  19. Dengan Kasih Sayang
  20. Malam ini adalah Kulit merut Nenek Tua

Kamis, 27 Mei 2010

BUKU SAJAK REDNRA SEPATU TUA DAN MASMUR MAWAR

BUKU SAJAK REDNRA SEPATU TUA DAN MASMUR MAWAR

SAJAK-SAJAK SEPATU TUA

  1. Mancuria
  2. Hotel Internasional Pyongyang
  3. "Morambong, Pyongyang"
  4. "Sanatorium Chakhalinagara, Moskwa"
  5. Sungai Moskwa
  6. "Sebuah Restoran, Moskwa"
  7. Stretenski Boulevard
  8. "Gereja Ostankino, Moskwa"
  9. "Hotel Aichun, Canton"
  10. Hongkong
  11. "Jalan Unggaran 8, Yogya"
  12. "Pasarmalam Sriwedari, Solo"
  13. Rumah Pak Karto
  14. Kebun Belakang Rumah Tuan Suryo
  15. Jalan Bogor-Jasinga
  16. Sungai Musi
  17. Lautan
  18. A Landscape for Dear Victor
  19. "Sawojajar 5, Yogya"
  20. "Jalan Sagan 9, Yogya"
  21. Hutan Bogor
  22. Rumah Andreas
  23. Rumah Nyonya Abraham

MASMUR MAWAR

  1. Masmur Pagi
  2. Doa Malam
  3. Sebuah Dunia Yang Marah
  4. Amsal Seorang Santu
  5. Doa Orang Lapar
  6. Doa Seorang Serdadu Sebelum berperang
  7. "Ya, Bapa"
  8. Lonceng-lonceng Berkelenengan
  9. Tobat
  10. "Gereja St. Antonius, Solo"
  11. "Datanglah, ya Allah"
  12. Masmur Mawar
  13. Litani Domba Kudus
  14. Amsal Sebuah Perjalanan ke Golgotha
  15. Sajak Seorang Tua untuk Istrinya

Puisi Alam Pantai Yang Indah | Winda Purwanti

PANTAI
Winda Purwanti

saatku berjalan...
diatas butiran pasir putih
kuberdiri sejenak
dibawah pohon kelapa
terasa damai dan sejuk
saat anginpun menyambar...
tubuh yang kaku ini
menjadi segar kembali

kulihat indahnya...
lautan biru
tepat didepan mataku
melukiskan pesona alam
yang hidup dalam
panorama keindahan

deburan ombak...
bagai memanggil
sukma jiwa...
yang kelam kelabu
menjadi aurah yang ceria

pancaran sinar mentari
sungguh menyengat
bagai melepuhkan kulit
hingga hangus
ku coba tuk berlari
tuk tidak merasakannya
sambil berteriak
tuk melepas kejenuhan

sungguh pemandangan yang indah
terasa tuhan...
mengetuk lubuk hati
yang paling dalam ini
sedalam - dalamnya...
samudera dunia
untuk selalu ingat
akan kuasanya yang semesta.




Rabu, 26 Mei 2010

Puisi IBU - By : Winda Purwanti

IBU
Winda Purwanti

Niemlee ...
Itulah parasmu
Prudent ...
Itulah sifatmu
Dalam mendidikku
Warm ...
itulah dekapan kasih sayangmu

Oh... ibu...
Engkaulah tempat curhatku
Disaatku sendiri, sedih, resah
Kau selalu datang menghiburku

Tanpamu oh... ibu
hidupku hampa
Bagai tak punya gairah
Bagai tak punya cinta
Bagai tak punya kasih sayang

Ibu...
Engkau pahlawan sejatiku
Yang selalu ada dalam naunganku
cinta dan kasihmu ibu...
takkan pernah lekang
Dari benakku
Karena kau adalah
belahan jiwaku

Kiriman: winda purwanti - Semarang
Email: windapurwanti58@yahoo.co.id


Share


RINDUKU

ku rindu harum mu..
ku rindu udara mu..
ku rindu suara mu..
ku rindu nyanyian mu..
ku rindu bisikan denai mu..
ku rindu deruman arus sungai itu..
ku rindu segala alam tanah ku..

anak bangsa ku..
mampu kah menjaga mu..
atau hanya sekadar melihat kaku..
hanya lah merenung syahdu..
hancur nya tanah dan pusaka moyang ku..
ditarah dan ditarah terus ditarah..
rakus anak bangsa ku..
terlalu rakus..


Kiriman: BujangKenyalang (Sarawak, Malaysia)
Email: aaronbucking44@ymail.com

Share







BIOGRAFI - SULAIMAN JUNED

Soel J. Said Oesy dilahirkan di Usi Dayah Mutiara-Pidie, 11 Mei 1965, belakangan kembali menulis namanya Sulaiman Juned, mantan mahasiswa Unsyiah ini sekarang mengabdi sebagai Dosen di ASKI Padang Panjang - Sumbar. Dan saat ini sedang menempuh pendidikan lanjutan di Surakarta - Jawa Tengah.

BIOGRAFI - MEDY LOEKITO

Lahir di Surabaya, Jawa Tinlur 21 Juli 1962, mulai menulis dan mempublikasikan puisi-puisi, cerpen dan artikel sejak tahun 1978 diberhagai media massa. Saart ini menetap di Jakarta dan merupakan anggota Dewan Pendiri maupun Dewan Pengurus dari Komunitas Sastra Indonesia atau KSI dan juga anggota Dewan Pendiri/ Pengurus dari Organisasi Pembina Seni atau OPS. Puisi-puisinya tergabung dalam " In Solitude "(Antologi Tunggal, 1993), " Festival Puisi XIV " (PPIA-Surabaya, 1994), "Trotoar" (Penyair Jabotabek,1996), "Jakarta, Jangai lagi" (Kolong Budaya, 1997) lan diberhagai antologi lainnya yang terhit di Indonesia dan juga di luar Indonesia.

BIOGRAFI - YUNIMAR W. YUSUF

Pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh Barat ini dilahirkan di Meulaboh, 16 Januari 1964. Beberapa puisinya sempat dimuat dalam Antologi Sastra Aceh "Seulawah" (Yayasan Nusantara Jakarta/Pemerintah Daerah Aceh, 1995)

BIOGRAFI - ARAFAT NUR

Lahir di Lubuk Pakam (Deli Serdang - Sumut), 22 Desember 1974, berdarah Aceh asli, Arafat besar dan menempuh pendidikan di Aceh. Pernah jadi tenaga pengajar di Dayah Babussalam (1992- - 1999) dan menjadi pegawai honorer SMU Meureudu-Aceh Pidie (1994-1999). Lalu pindah ke Lhokseumawe bekerja sebagai jurnalis. Dia dipercaya sebagai Ketua Divisi Sastra pada Yayasan Komunitas Ranub Aceh (KRA). Menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa. la pernah mengikuti pertemuan Sastrawan se-Sumatera yang di selenggarakan DKA/Lempa di Banda Aceh (1999). Pernah mendapatkan hadiah terbaik lomba penulisan cerpen Taman Budaya Aceh (1999), Harapan I Lomba Cerpen Telkom Online 2005 menyambut hari Kartini, juara III Nasional lomba penulisan novel Forum Lingkar Pena (2005). Puisinya ikut dalam antologi "Keranda-keranda" (DKB,2000), "Aceh dalam puisi" (Assy-syaamil,2003), "Mahaduka Aceh" (PDSHB.Jassin,2005), sedang cerpennya dimuat dalam antologi cerpen "Remuk" (DKB,2000). Novelnya yang telah terbit adalah "Meutia Lon Sayang" (dar! Mizan,2005), "Cinta Mahasunyi" (dar! Mizan,2005) dan "Percikan Darah di Bunga" (Zikrul Hakim,2005). Beberapa novel lainnya sedang dalam proses penerbitan.

BIOGRAFI - AYI JUFRIDAR

Lahir di Bireun, 8 Agustus 1972. Bekerja sebagai wartawan di Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh) sejak tahun 1997 sampai 2004. Kini menjadi Stringer Koran Jepang Asahi Shimbun di Aceh. Aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) kota Lhokseumawe dan menjabat sebagai Ketua (2005-2007). Puisinya antara lain di muat dalam Kumpulan Puisi Bersama, "Aceh Dalam Puisi "(2004) dan " Maha Duka Aceh " (2005)

BIOGRAFI - RIDWAN AMRAN

Pensiunan pegawai negeri di Departemen Perhubungan ini, di lahirkan di Lama Inong (Aceh Selatan/sekarang Aceh Bast Daya-Abdya) tanpa pernah menuliskan tahunnya. Di besarkan di Meulaboh dan banyak menimba ilnu di Medan. Saat tinggal di Meulaboh, ia bersama beberapa rekannya mendirikan teater " Fajar Menyingsing ". Aktif menulis cerpen, puisi, bahkan novel di tahun 1970. Dua novelnya yang terpenting adalah " Catatan Seorang Hostess " (Majalah Mayapada Jakarta, 1971), " Berikan Aku Cinta " (Harian Palapa, 1974). Tahun 2002 ia di percaya sebagai Ketua Penyunting Antologi Puisi/Cerpen Penulis Acch " Putroe Phang " (Dewan Kesenian Aceh, 2002). Salah satu cerpenis terkemuka Aceh ini dalam musibah Tsunami lalu, kehilangan rumah dan seluruh harta benda.

Sajak Sunda Sangkuriang | Hasan Wahyu Atmakusumah

SANGKURIANG
Hasan Wahyu Atmakusumah

sangkuriang ngaran kuring
ti beurang_tukang caringcing
ti peuting tukang ngalinjing
neangan indung nu nundung
ah! kuring hirup nyingkahan kabingung
nyingkahan rurubed nu jolna ti aing
bongan kiwari geus taya wanci mustari
rea teuing sangkuriang
geus musna beurang
alam geus ilang dangiang
tinggal peuting anu panjang
cul hanca, ngadukduk acong-acongan
cul raga muru muru nu acan karuhan

sangkuriang ngaran kuring
nu dibapaan ku badega
da bongan indung nu linglung
ngucap jangji tanpa ungang-ungang
indung ! bongan saha medalkeun sangkuriang
kitu cek ajali
tangtu kaharti
tapi naha ? dayang sumbi ngudar ucap
apan cek tadi
sangkuriang baris mondong nyai putri
nu ninun puluh taun
tapa bari sewot kana barera
bongan geus nyieun carita
ngagurat di nu kiwari
alam ! anjeun musuh nu weduk ku teluh
nu ngayuga! ieu kuring geuwat ropea
ulah dijieun teundeun poho
bisi dunya ditangtang ka tengah kalang tanpa sisi

sangkuriang ngaran kuring ! prak raponan
samemeh dunya awut-awutan, panonpoe disosoeh
samemeh balebat ngan kari urut
bongan geus nyieun ebat
ka sangkuriang anu linglung
eh istijrad! nyata anjeun teu beunang dipisobat
tangtu ku aing ditenjrag
ieu kuring sangkuriang
menta hirup mangsa bulan mun geus kembar
najan napsu rek dikencar-diumbar.

Rakata, 20-11-1955
Tina Kanjutkundang

SAJAK SUNDA - EMBAT-EMBAT

EMBAT-EMBAT
Olla S. Sumarnaputra

(Katineung ti kuring ka kuring patali
mangkukna 6 Agustus ulang taun )

Rek ngeumbing-ngeumbing ka mendi
rek muntang-muntang ka mana
rek nete da sieun semplek
rek nincak da sieun semplak
mundur jurang maju jungkrang
sagala lampah kapahung
katineung samar kasorang

Hayang nyorang nyanding peuting
lugina ngawasa beurang
sugema kuma ceuk hate
da hate tara kabandang
najan raga dipanjara
dikerem tur ditalikung
mo kahalang kumelendang


Tina Kanjutkundang

Puisi Ulang Tahun Bahasa Sunda | Tini Kartini

ULANGTAUN
Tini Kartini

( keur mojang nu niup lilin)

Lilin hurung 17 siki
dibarung imut pangrungrum
dunya kiwari nu kami
ulang taun pinuh kembang

Lilin nungtut tambah hiji
diiring imut karisi
dunya kosong ngan dirina
ulang taun teu sangka nyiksa

Bandung, 29-10-'59
Tina Kanjutkundang

SAJAK SUNDA KIS WS - TEKAD

TEKAD
Kis. Ws.

nyoreang ka alam tukang jaman tandang ku pakarang
prang-pring bambu runcing; maju rampak ngabedah bentenq
maju... maju...! malar buru-buru cunduk ka peuntas ditu
ka taman endah nu marakbak tembong bangun teu anggang
panyileukan umat nu lapar ku kawibawaan jeung kaadilan

kiwari geus meh sapuluh taun kebat lumampah
nyorang jalan nu teu diamparan ku kembang
maju bari nahan kanyeri nincakan karikil seukeut
tapi itu taman panyileukan bet masih jauh, semet tembong
lapat lapat
ya robbi ! sihoreng bet tembong gelor ...

rombongan nu asal rempeg ngahiji sabilulungan
ayeuna aya nu misah ngadon leumpang sasamayan
sawareh geus robah kiblat, kabengbat ku nu ngalalar saliwat
tapi nu bedas tekadna, leuwih suka rubuh tengah jalan
tibatan mengkol elodan, atawa mulang ngaligincing lantaran
kecing
bari yakin yen mungguh tangkal ros rimbil ku cucuk
sarta nu jejerih kacugak, mo laksana bisa metik !

dalah ieu di saparat-parat jalan nu keur disorang
tembong getih ucrat acret tapak-lacak nu ti heula
mangrupa bukti sajarah perjoangan nu natrat tan kena pegat
ana kitu :
mun ieu jalan kiwari kudu dicirian deul ku cipanon jeung
getih '
taya basa geusan ngarasula
dapon percaya yen di ahir pasti bisa cunduk ka peuntas ditu
laksana bisa ngambah taman endah panyileukan beurang
peuting :
kawibawaan nu walatra amisna keur sarerea !


Tina Kanjutkundang

Contoh Sajak Sunda | Sareupna di Padesan Sunda

SAREUPNA DI PADESAN SUNDA
Kis. Ws.

layung kuning teu matak resmi
marakbak panas ngarerab
mojang desa geus teu bisaeun imut
ah ! ah! sareupna lawang siksaan

malakamaot ngabring marengan peuting
godogan timah ti naraka jahanam panas ngagolak
tapi geus taya umat ceurik jumerit
da rek ngajerit, taya tanaga
rek ceurik, cipanon garing

itu panon-panon surem carelong
waruga nu ngan tinggal kulit + tulang
hamo mampuh mareuman seuneu naraka

tapi mun ieu padesan
geus robah jadi rumahgila
endahna layung jeung imutna mojang desa
baris pulih sabihari.........


Tina Kanjutkundang

Kumpulan Sajak Sajak Sunda | AYEUNA MANGSANA

AYEUNA MANGSANA
Kis. Ws.

nyeri peurih
nyeueung keretas ngagebar
daptar kalaparan
nu ditulis
ku cipanon

waruga manusa
begang-regeng
tingkorondang
dipirig ku lengisna
budak yatim
umat nagara merdika !

eta leungeun deungeun
ngaragamang
rek maksa-pirusa
nyontang Irian
tempat cendrawasih midang

kanca ! sageuy rek dengdeng
reheng pagetreng
silih herengan
atawa basilat
ngeduk hak rayat

tur anjeun nyaksi
yen bangsa jeung nagara
kiwari
jeroning sangsara
jeung bahla
bosen ngagorowok
sing gulung-golong
sabilulungan
tapi mun teu kiwari
rek iraha deui ???


Tina Kanjutkundang


Percobaan Fisika Asyik: Baterai Buah

Wah ada-ada aja nih yang punya blog, masa buah dijadiin baterai dimana-mana enaknya juga dibikin rujak pasti seger. Believe it or not kita dapat menyalakan sebuah lampu kecil dengan menggunakan buah. Kalo begitu mari kita langsung buat saja.

Alat dan Bahan
  1. Kentang (disini kita pakai kentang, tapi kalian menggunakan lemon atau buah lainnya jika tertarik)
  2. Lampu LED (atau lampu bohlam kecil juga bisa)
  3. Kabel
  4. Penjepit buaya
  5. Lempengan tembaga
  6. Lempengan seng
  7. Untuk pengganti tembaga dan seng ini dapat digunakan isi dalam baterai yang biasanya berwarna hitam
Langkah Pembuatan
  1. Tusukkan lempengan tembaga dan seng ke dalam kawat mentah.
  2. Jepitkan kabel kepada lempengan tersebut dan hubungkan dengan lampu.
  3. Lihat nyala lampu yang terjadi.
  4. Jika nyala lampu belum kelihatan, maka tambah kentang tersebut  agar arus listrik yang dihasilkan bertambah besar (lihat pada gambar).

Penjelasan Konsep
Lampu tersebut dapat menyala karena adanya arus listrik yang mengalir. Seperti halnya baterai lampu senter, kentang dan lempengan-lempengan itu pun menghasilkan arus listrik walaupun sangat lemah. Getah kentang mempengaruhi logam-logam itu secara kimiawi layaknya larutan elektrolit dalam aki. Oleh akren aitu, susunan seperti ini disebur elemen galvani, karena yang pertama kali mengamati proses ini dalam eksperimen ialah seorang dokter Itali bernama Galvani.

Selasa, 25 Mei 2010

Why Should I Worry | Natasha Josefowitz

Why Should I Worry
Natasha Josefowitz

The young people don't worry when they..,

don't remember
their best friend's name,

lose their car keys twice a week,
can't find their wallets,
misplace their glasses,

walk into a room and don't know
what it was they were looking for,

forget their own phone number,

can't think of a common word
they use every day,

can't recall what they just read
or what someone just said,

lose the list they wrote of
things to remember.

The young people just shrug their shoulders,
but people my age
think they have Alzheimer's disease.


These Are the Years of Living Dangerously

These Are the Years of Living Dangerously
Natasha Josefowitz

I drank milk
the day after its expiration date

I talked to the bus driver
while the bus was in motion

I undid my safety belt
before the plane came to a complete stop

I did not brush my teeth
before going to bed

I went out without my umbrella
even though they predicted rain

I took off the tag on my pillow that says
"Do not remove"

I walked where it said
"Do not step on the grass"

I took my dog out
without a leash

I washed a garment that said
"Dry-clean only"

I picked a flower
in someone else's garden



That's Me ! | Natasha Josefowitz

That's Me !
Natasha Josefowitz

It's the crow's-feet
around my eyes
and the puffiness
below them.

It's the furrows
on my forehead
and the wrinkles
on my neck

that make me
place my hands
upon my temples,
pull back and say:
"See, this is how I would
look with a face-lift."

And a face
ten years younger appears,
but it's not mine. Then I let go
and smile at the familiar one,
knowing that's me
trying to grow older
gracefully.


I Finally Have Time

I Finally Have Time
Natasha Josefowitz

I now have time
for reading a newspaper
cover to cover instead of
skimming through it for the news

I can take a leisurely stroll
go to an afternoon movie
attend a lecture at the museum
enroll in a course
on something totally unrelated
to professional development

I have time to chat with a friend
about absolutely nothing
take the grandchildren for an outing
and be there for the children
when they need me

I read magazines
that are not educational
take time to shop
when I don't need anything
cook from scratch
instead of relying on take-out

I can wait at the light
without honking my horn
I don't cut people off
because I'm rushing somewhere
don't look at my watch
every minute and groan

I'm not afraid of wasting time
for I finally have time
to take... my time


The Best Is Yet to Come

The Best Is Yet to Come
Natasha Josefowitz

Don't have to climb
the corporate ladder
don't have to be upwardly mobile
don't have to move mountains
don't have to compete
or struggle with others
don't have to set my sights
upon some distant goal
don't have to prove anything
or cater to anyone
it's not uphill anymore
it's over that hill
with a lovely view
of the best years
yet to come


There's Always Something I Must Do First

There's Always Something I Must Do First
Natasha Josefowitz

I will start enjoying life
after I get myself organized

I will exercise more
after I have updated my filing system

I will take a vacation
after I clean out the attic

I will buy myself some nice clothes
after I lose some weight

I will spend more time with my family
after I finish pasting the pictures
in the photo albums

I will start enjoying life
after it is too late

NOT !!!


You're Only As Old As You Think You Are

You're Only As Old As You Think You Are
Natasha Josefowitz

This is a time in my life
that l don't want to miss -
old age is a privilege
denied to a lot o f people
and the best way to avoid
becoming an old dog
is to keep learning
new tricks

I always say that age
is only important
if you happen to be
wine or cheese
Yet when l get out of the shower
I am relieved that the mirror
is all fogged up
l have also noticed that
I'm beginning to decline a lot of offers -
preferring to stay home -
which is probably why they
call these the "declining years"

After middle-age spread
I look forward to old-age shrinkage
and I'm much too wise
to ever want to be young again


Natasha Josefowitz Biography

Natasha Josefowitz calls herself a late bloomer, having earned her master's degree at age 40 and her Ph.D. at age 50. She is an adjunct professor at the School of Social Work at San Diego state University, a noted columnist, and the author of three books on management, eight books of humorous verse, a book for children, and a book for couples.

Dr. Josefowitz is an internationally known speaker, having lived and worked abroad and in the U.S. Her efforts on behalf of women have earned her numerous awards, including The Living Legacy Award from the Women's International Center and The women Helping women Award from the Soroptimist International. She has been named woman of the Year eve times by various national and international organizations, including the women's management Association, and was also honored by California women in Government for her contributions to education.

Natasha is the mother and stepmother of five children and has seven grandchildren and step-grandchildren. She is grey-haired, wrinkled, and has a few extra pounds, but says she can celebrate life because she has PMZ (Post-menopausal zest).

Puisi Kesepian | Winda Purwanti

Kesepian
Winda Purwanti

Kembali ...
Aku di dera sepi
Kembali ...
Rasa getir terundang
Melodi duka menyalur
Menggores luka baru
Tiada bosan
Bagai mengiris hatiku ...
Yang sedang terluka
Memori cinta ...
Bagai tak bersemi kembali
Cintaku tlah kau bawa pergi
Kaupun bagai menghilang ...
Tanpa tinggalkan noda
Dalam jejak.
Kini kusendiri ...
Tanpa cinta dan harapan
Kini hanya rembulan
Dan bintang kejora
Menemaniku ... saat
Bersenandung ... sedih.


Kiriman: winda purwanti - Semarang
Email: windapurwanti58@yahoo.co.id


Share


Terdampar Dalam Lamunan - By Didi Supardi

terdiam terpaku di gelap malam
di temani oleh seberkas cahaya bulan
sambil mendengarkan suara merdu binatang malam
angin nakal meniup abu rokok yang ku hisap
angan melayang jauh ke negeri nirwana
mencari apa yang sebenarnya kurasa
rasa cemburu atau rasa egois dalam dada
hari makin malam suasana makin hening mencekan
cahaya bulan mulai kembali keperaduannya
namun sedikit cahaya masih menyinari jidat kinclongku
walau hanya seberkas bayangan


Kiriman: didi supardi
Email: supardid98@yahoo.com

Share






Senin, 24 Mei 2010

Puisi Perpisahan Cinta | Perpisahan - By Mira

Perpisahan
By Mira

Pertama kali, dalam hidupku
Ku merindui mu setakat ini
Tiada pengujungnya Perasaan ini
Hidupku bersempadankan kasihmu
Ku tidak mengerti pergolakan hati ini
Ku merindui tawa manismu
Merindui memori bersamamu
Tiap hari yang berlalu bagaikan api neraka
yang membakar kasih antara kita
Jiwaku meronta tidak mampu menahan baraan ini
hanya dirimu menjadi ubat penenang hati
hanya coretan ini menjadi saksi keperitan hati
tanpamu disisi, hidupku bagai langit tanpa rembulan
gelap gelita tanpa tawa manismu
ku mengerti perpisahan memang hukum alam
namun hatiku belum cukup kuat
untuk mengharungi hidup ini tanpamu disisi
tiap kali ku merenung wajahmu, kelopak mataku berat
tidak mampu menakung keperitan yang terpendam
pipiku sering kali basah bila mendengar suara lunakmu
Ku serahkan segalanya kepada yang Esa
ku bersyukur ke hadratmu
keranamu ku kenal erti teman dalam hidupku
sesunggunya pertalian ini bermula atas rahmatmu
ku harap pengujungnya sudah pun tercatit dalam kandunganmu
ku pasrah menanti dengan segala keputusanmu
dan mempersiapkan diri ini untuk mengadapinya….


Kiriman: Mira - Ukraine
Email: thaneswary_15@yahoo.com.my

Share


MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA

Taufiq Ismail


I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini


II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.


III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,


Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.


IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.


1998




KUTAHU KAU KEMBALI JUA ANAKKU

Taufik Ismail


Saudara-kandungku pulang perang, tangannya merah
Kedua pundak landai tiada tulang selangka
Dia tegak goyah, pandangnya pada kami satu-satu
Aku tahu kau kembali jua anakku

Tiba-tiba dia roboh di halaman dia kami papah
Ibu pun perlahanmengusapi dahinya tegar
Tanganku amis ibu, tanganku berdarah
Aku tahu kau kembali jua anakku

Siang itu dia tergolek ibu, lekah perutnya
Aku tak membidiknya, tapi tanganku bersimbah
Tunduk terbungkuk matanya sangat papa
Kami sama rebah, kupeluk dia di tanah

Kauketuk sendiri ambang dadamu anakku
Usapkan jemari sudah berdarah
Simpan laras bedil yang memerah
Kutahu kau kembali jua anakku


Mimbar Indonesia,
Th XII, No. 50
1958




Taufiq Ismail - KETIKA SEBAGAI KAKEK DI TAHUN 2040

KETIKA SEBAGAI KAKEK DI TAHUN 2040,
KAU MENJAWAB PERTANYAAN CUCUMU

Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersama beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru
Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru
Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu
Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu
Sampai kini sejak kau lahir dahulu
Inilah pengakuan generasi kami, katamu
Hasil penataan dan penataran yang kaku
Pandangan berbeda tak pernah diaku
Daun-daun hijau dan langit biru, katamu
Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu
Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu
Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu
Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu
Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu
Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu
Maka kami bergeraklah kini, katamu
Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju
Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu
Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu
Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu
Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu
Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu
Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu.


1998





KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG

KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG
Taufiq Ismail


Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku


Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan


Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan


Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri


Kukenangkan tahun ‘47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ‘98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri


Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?


Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang



1998


Puisi Taufiq Ismail - KEMBALIKAN INDONESIA PADAKU

KEMBALIKAN INDONESIA PADAKU
kepada Kang Ilen


Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,


Kembalikan
Indonesia
padaku


Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan
Indonesia
padaku


Paris, 1971