UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Selasa, 24 Agustus 2010

Our 1'st Number Book, Shiela

Our 1'st Number Book, Shiela

- bersamamu, aku kembali belajar
cara-cara membaca-



angka 1

ya, ada sebuah ceri merah
di halaman pertama, di kebunku
dulu tak ada, karena di sana
cuma ada semak merambat
berbuah kuning, yang kalau kusebut
pun namanya kau tak akan tahu, yang pasti
buah itu bukan ceri, dan tak cuma sebuah,
dan warnanya bukan merah.

angka 2

ada kolam kecil di kebunku dulu
tempat dua kodok hijau
saling menghitung, "aku satu,
dan kau dua," kata kodok pertama.
"tidak, aku satu dan kau yang dua,"
kata kodok lain yang juga ingin
disebut sebagai kodok pertama.

angka 3

nah, satu sikat gigi ini untuk siapa?
"soalnya aku sudah punya, dan yang dua
untuk kodok hijau yang tadi ada
di halaman dua."

tunggu dulu!

tunggu dulu juga!

Kita kan cuma mau bilang, sikat
giginya ada: tiga ha ha ha!


angka 4

empat ekor bebek gemuk
empat ekor bebek gemuk jantan
(aku bisa ingat dari warna sayapnya)

apakah mereka perlu diberi nama?
tidak mereka perlu diberi bebek betina
supaya mereka bertelur, dan supaya
mereka tidak berkelahi, nanti kita
susah menghitungnya...

angka 5

apalah lima angka yang istimewa?
apakah tomat buah yang istimewa?

lima tomat
yang enak dibuat jus
tak perlu diberi nama
karena dia sudah punya

: jus tomat namanya!


angka 6

enam anak ayam
kita tak tahu jantan atau betina
semuanya berbulu lembut seperti sutra
di mana induknya?

kataku, "induknya mengeram empat telur lagi."
kau bertanya lagi, lalu aku jawab dengan nyanyi

"tek kotek kotek jambul...."


angka 7

bagaimana memomong tujuh kelinci?

gendong saja satu per satu, mereka
tak pernah saling iri

pangku saja satu per satu, karena
mereka tak pernah merajuk, karena
mereka tujuh ekor kelinci


angka 8

"delapan jeruk orange, bisa
jadi berapa gelas jus?"

kau kah yang bertanya? " maaf,
aku sedang mengenang jeruk nipis
yang tumbuh di antara pohon kelapa

burung keruang bersarang di salah satu
dahannya. aku tak pernah sempat
menghitung berapa telurnya. aku tak berkenalan
dengan angka delapan di sana. juga
tidak di buku pertama yang memang
tak pernah aku punya.


angka 9

delisi stroberi; sembilan biji
ah, terlalu banyak buah asing
di buku ini.

lalu angka nol ini, Abah?
dari mana datangnya bilangan
yang asing ini?


feb2003

Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar